Rabu, 11 Oktober 2017

TOKOH PATRIA NUMERA 2017 (1)

Aku adalah “Pangeran Kegelapan.” Selalu menempatkan diriku jauh di belakang layar. Aku merasa tentram karenanya. Biarlah apa-apa yang kuhasilkan (karya) saja, terlihat dan diketahui orang, kalau memang patut dilihat dan diketahui.




Menjadi Pangeran Kegelapan, berarti aku harus menemukan resiko dianggap tidak seorang yang penting dan sudah biasa untuk dilupakan. Tidak dikenal atau terkenal (populer). Tetapi aku tak pernah berkecil hati setentang perihal itu. Tidak juga merasa jauh tertinggal dengan yang lainnya, walau tidak mendapat tempat dan menjadi topik pembicaraan.

Aku tidak tertarik mengikutsertakan karyaku pada berbagai penilaian yang diadakan selama ini. Tidak pula hendak mengirimkan identitas ketika ada yang melakukan penyusunan daftar, leksikon, direktori atau apalah namanya, mencantumkan nama dan karya, atas nama skala daerah, regional maupun nasional.

Jadi jangan berharap akan menemukan namaku dalam buku-buku semacam itu. Atau keterangan mengenai karyaku. Kalau kemudian ada juga tersua, berarti adalah hal luarbiasa. Diluar dugaanku sendiri.

Yang dilakukan perorangan, kelompok atau institusi itu selama ini adalah pekerjaan baik. Pendataan itu diperlukan dalam memetakan. Aku sangat menyetujuinya. Karena dapat menjadikannya sebagai bahan rujukan bagi suatu zaman yang membutuhkannya. 

Setuju tapi bukan berarti aku harus ada di dalamnya.




Apa sebab?

Kita senantiasa telah memiliki budaya “berkarat” yang tidak boleh diganggugugat. Kebudayaan itu ialah kebanggaan dan kegembiraan. Sehingga dua hal itu telah menyatu di berbagai kegiatan dan keputusan. Membutakan pandangan terhadap selektifitas, akurasi dan mendekatkan diri kepada “kepentingan-kepentingan” personal dan kelompok pada hampir setiap penyusunannya. Itulah “penyakit” yang dipelihara sampai kini turun temurun dalam “nilai-menilai” menyatakan “ukuran” pada seseorang dan karya. 

Biarlah mereka saja berlari ke tengah dunia terang benderang “berebutan.” Memperlihatkan dirinya. Aku tetap dengan caraku sendiri, mengukir kegelapan tanpa harus berdiri di depan. Menempatkan diriku pada tempat yang seukuranku saja, tiada harus “menggadaikan” martabat dunia dan diri di tempat yang tidak tepat.

Tidak pula harus memenangkan berbagai perlombaan, mendapatkan berbagai penghargaan atau ikut kepada rombongan yang “mengkultuskan” dirinya tanpa objektifitas. Hanya untuk dapat dikatakan seniman, sasterawan, penyair atau label-label kesenian yang agung itu.

Ukuran yang seringkali dijadikan sebagai ukuran, seakan kata terakhir bagi banyak orang sebagai pencapaian. Sedang bagiku, ukuran tersebut adalah sesuatu yang relative. Tulisan dimuat di Majalah Horison, di media-media nasional, buku diterbitkan oleh penerbit ini itu, atau serba luar negeri, serba internasional, tidaklah bagiku suatu yang obsesif selama ini. 

Kalau memang sastra akan tetap saja sastra. Tidak perlu pula semua orang harus mengakuinya, karena tidak semua orang pula membacanya.




Boleh jadi orang beranggapan, aku seorang yang tak memiliki keberanian untuk membuktikan apakah karyaku dapat lolos dari media semacam itu. Tidak apa-apa dikatakan tidak berani. Aku tidak merasa terhina oleh hal itu. Andaikan semua orang hanya berani, siapa pula yang akan merasa sebaliknya?

Tantangan bagiku bukanlah yang demikian. Tantangan yang lebih realistis ialah, apakah karya yang ditulis memang benar-benar dibaca oleh banyak orang, lalu menghasilkan uang dalam memperbaiki hidup karenanya? Atau dapatkah memberikan pencerahan kepada orang lain, selain hanya sekadar bahan bacaan belaka?

Kalau hanya sekadar gagah-gagahan, sekadar keberhasilan semacam itu, sekadar mendapat nama, sekadar dapat uang, lebih baik aku memilih jalan, “sekadar pekerjaan perintang-rintang hari, sambil berdiang nasi masak.” Tidak masuk dalam percaturan “tabir gelap” pertemanan, mengemis-ngemis atau menjadi bahagian dari kelompok agar mendapatkan “kesempatan” supaya dibesar-besarkan.




Aku tidak memilih jalan, memperkenalkan diriku sendiri kepada orang ramai. Karena aku tidaklah seorang yang istimewa. Hanya orang biasa-biasa saja. Sejak lama aku lebih menyukai, orang mengenalku terlebih dahulu oleh sebab karyaku sendiri. Sebab itu, aku berusaha untuk dapat kreatif. Tanpa kreatif bagaimana suatu karya akan dapat “dilirik” oleh banyak orang agar dikenali orang. Karenanya, aku tidak menyukai “meniru-niru” karya orang lain atau “menciplaknya,” apalagi “mengekor-ekor” orang “ternama” supaya mendapatkan pengakuan.

Aku percaya bahwa suatu karya yang baik, bersikap yang baik, dengan pemikiran yang baik, konsisten dan bertanggungjawab moral, jauh lebih mulia di hatiku, dibandingkan diriku dikenal oleh banyak orang karena “berusaha” berkenalan dengan setiap orang dan namaku berkibar-kibar setiap angin bertiup, oleh sebab aku selalu rajin memasangkan bendera di setiap tiang yang ada.

Kegigihan dalam mendapatkan eksistensi di tengah zaman serba ingin terkemuka ini, kalau kita mau jujur, betapa ramai yang tersuka berkejaran dan berebut peluang, di berbagai kesempatan, hanya “memperkenalkan” dirinya tapi tidak “karyanya.” Sebab meyakini adab zaman serupa itu, jika tidak berlaku demikian, tidak diperhitungkan orang atau tidak dikenal orang.

Dengan berkejaran, berebut, satu tujuan untuk mendapatkan “pengakuan” sebagai seorang “special.” Dengan pengakuan yang diperoleh, diri akan mendapatkan “label” di lingkungan mereka hidup, di komunitas tempat mereka tumbuh. Karena itu diri merasa “ada,” merasa dengan hal itu beranggapan tidak lagi hanya menjadi “manusia biasa.” Padahal, realitasnya hanya biasa-biasa saja.




Betapa banyak kini “kehadiran” seseorang lebih tersebab karena “keterhubungan” personal, tidak karena kapasitas yang dimiliki. Itulah di balik tabir kehidupan “berkesenian” yang tak pernah dibuka “boroknya.” Bahkan mencari jalan untuk dapat (meminta) diundang atau diabsahkan. Kemudian “membentuk” keberkesanan bahwa ia “diminta” untuk hadir. Ia “diagungkan” karena dipilih. Seakan-akan ia seorang yang patut “diperhitungkan.” Padahal meminta dan diminta berbeda artinya.

Sampai kapankah sisi “gelap” yang sudah tidak rahasia lagi tapi sudah menjadi “rahasia umum” itu terkalahkan oleh mereka yang benar-benar memilih “mereka ada” karena memang “ada” ? Namun sayang, ada banyak hal jika ditelusuri ternyata di banyak peristiwa, unsure “pertemanan” jauh lebih terbaca ketimbang “apa yang diperbuatnya.”

Semasa aku menempatkan diriku sebagai seorang penulis freelance di suratkabar terbitan daerahku, dimana nyaris mulai dari cleaning service sampai owner suratkabar itu sendiri saling kenal dan akrab secara pribadi denganku tapi aku tak hendak tulisanku dimuat suratkabar karena memanfaatkan hubungan pribadi. 

Setiap memberikan tulisan ke redaksi, aku selalu berkata kepada redakturnya“kalau sesuai” silahkan diterbitkan tapi kalau tidak, jangan dimuat. Namun kenyataannya tulisan-tulisanku hampir tak pernah untuk ditolak (*) copyright: abrar khairul ikhirma - foto-foto:ahmad taufiq - jember

BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar