Kamis, 19 Oktober 2017

DI BATAM KITA KE BARELANG

Jembatan yang dibangun semasa Habibie “memancang kawasan bebas” Otorita Batam, kini telah menjadi icon. Tak berbilang lagi, setiap hari terus saja mengalir orang-orang mendatangi Jembatan Barelang. Ada banyak ragam cerita terukir perihalnya.




“Di Batam kita ke Barelang,” mungkin hampir senada begitu yang akan diucapkan orang-orang yang berkesempatan pertamakali mendatangi Pulau Batam.

Pulau Batam dirintis BJ Habibie di era Orde Baru dengan konsep sebagai kawasan perdagangan bebas. Kawasan internasional yang dimiliki Indonesia. Karenanya saat itu kawasan ini dikenali sebagai Otorita Batam yang dibawah kendali suatu badan khusus. Dalam wilayah Provinsi Riau.

Kini Pulau Batam termasuk di dalam wilayah Provinsi Riau Kepulauan. Kawasan yang mencakup pulau-pulau di Selat Melaka dan Samudera Cina Selatan. Namun nasibnya, sejak Habibie menjadi menteri dan kemudian terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia, konsep yang sudah dipancangkan Habibie tidak dilihat sebagai suatu yang “menjanjikan.”




Banyak orang yang pernah mengandalkan hidup dalam pesatnya perdagangan di semasa berstatus otorita, kini mengatakan bahwa Batam kehilangan cahayanya yang bersinar terang. 

Tidak lagi menjadi titik tujuan sebahagian besar bagi banyak tenaga kerja. Tidak lagi menjadi kiblat transaksi perdagangan.

Pun sepertinya kini permukaan pulau menjadi rebutan untuk dibangun ini dan itu, terkesan mencabik-cabik konsep yang diimpikan Habibie sebagai kawasan industry dan perdagangan. Dan memang dibutuhkan bagi Indonesia dalam menyamai peranan Singapura. Apalagi Kepulauan Batam jauh lebih memungkinkan memiliki ketersediaan untuk pelabuhan dan aktifitas industry perdagangan.




Kedatanganku pertamakali di Batam, kuakui saja, salah satunya aku ingin mencapai Jembatan Barelang. Rasanya ke Batam tak mencapai jembatan itu, serasa tak diakui bahwa pernah ke Batam.

Apalagi di zaman penuh selfie, penuh kemudahan teknologi untuk berfoto, merekam tempat-tempat pernah dikunjungi. Tak sesulit di masa lalu. Dimana berfoto suatu hal yang “mahal.”

Jembatan Barelang adalah singkatan dari BAtam, REmpang dan gaLANG. Jembatan ini menghubungkan pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang dan Pulau Galang Baru. Ada yang menyebutnya dengan nama Jembatan Habibie atau Jembatan Satu.

Tetapi nama Jembatan Barelang lebih popular bagi masyarakat daripada nama jembatan yang sebenarnya bernama Jembatan Fisabilillah.




Aku sudah lebih dari tiga kali mendatangi Jembatan Barelang sejak tahun 2013 silam pertamakali mendatangi Pulau Batam. 

Bagiku sarana jembatan ini memang luarbiasa besar manfaatnya. Tidak hanya sekadar menjadi icon Batam. 

Namun dapat menyatukan sejumlah pulau lain selain Pulau Batam sendiri.

Pemandangan yang didapat bila berada di atas jembatan ini, dimanapun titik berdiri, alam yang luas seakan kita merasa menjadi kecil. Tidak berarti apa-apa. Bahkan kecemasan dan rasa gamang sangat terasa, pabila memandangkan pandangan ke sekeliling. Terutama ke bawah. Pada laut yang menjadi perantara pulau dengan pulau.

Jembatan Barelang dibangun Habibie adalah jembatan berteknologi tinggi. Konon melibatkan ratusan insinyur Indonesia tanpa adanya campur tangan dari luar negeri. Menjadi satu bahagian terpenting adanya Trans Barelang sepanjang 54 kilometer. Memakan biaya anggaran Otorita Batam tak kurang dari Rp 400 miliar. Pembangunannya berlangsung selama enam tahun. Dari tahun 1992 sampai tahun 1998. Jembatan Barelang atau Jembatan I selesai pembangunannya tahun 1997.




Tidak hanya waktu siang bahkan pada malam hari ramai dikunjungi jembatan ini. 

Menurut cerita-cerita, ada banyak kisah hal-hal mistis yang terjadi pada pengunjung saat berada di jembatan. 

Bahkan ada pula yang menjadikannya lokasi taruhan yang dapat mengorbankan nyawa. Tapi entahlah. 

Jembatan Barelang tidak hanya satu. Rangkaian Trans Barelang ini terdiri dari enam buah jembatan. Keenamnya telah memiliki nama sendiri. Jembatan Tengku Fisabilillah (Jembatan I), jembatan yang panjang. Jembatan Nara Singa (Jembatan II). Jembatan Raja Ali Haji (Jembatan III). Jembatan Sultan Zainal Abidin (Jembatan IV). Jembatan Tuanku Tambusai (Jembatan V) dan Jembatan Raja Kecik (Jembatan VI).

Pabila datang ke Batam, walaupun sudah berkali-kali mendatangi Jembatan Barelang, aku sampai hari ini tetap merasa kawasan ini masih tetap menjadi daya tarik untukku. Karenanya, aku masih tetap ingin mendatangi. Menikmati pemandangan alam yang luas terbentang (*) copyright: abrar khairul ikhirma

1 komentar:

  1. Terimakasih Arkhi, baru tau jembatannya banyak. Inilah jasa penulis

    BalasHapus