Jumat, 27 Oktober 2017

RUMAH KAPITAN DARI MEDAN

Tjong A Fie adalah seorang pengusaha, bankir dan kapitan, berasal dari Tiongkok. Sukses membangun bisnis besar dalam bidang perkebunan di Sumatera, Indonesia.




Aku orang yang tak banyak menghabiskan waktuku, membuka-buka google pabila sedang memakai jaringan internet. Aku hanya akan membukanya, pabila ada suatu data ingin kucari saja. Jadi banyak hal sebenarnya aku tidak banyak tahu.

Saat berjalan-jalan dari Masjid Al-Mashun atau dikenali juga sebagai Masjid Raya Medan, menuju arah Medan Walk, aku membaca papan penunjuk jalan, “Rumah Tjong A Fie. Aku bertanya-tanya sendiri, siapakah Tjong A. Fie. Bagiku, nama itu terasa baru. Tapi aku memahami, kalau tidak suatu hal yang penting, tentu tidak akan ada nama itu tercantum dijadikan sebagai petunjuk jalan.

Selama ini yang kutahu hanyalah, cerita-cerita banyak teman bahwa di Kota Medan, ada sebuah jalan ketika sore hari ditutup. Lalu jalan itu dijadikan tempat orang bersantai menikmati makanan dan minuman. Pengelolaannya dinilai sangat baik. Tidak ada iri hati sesame pedagang, ketika di tempatnya orang duduk tapi memesan makanan dari pedagang di sebelahnya.

Jalan itu Jalan Kesawan. Jalan yang tak jauh dari Lapangan Merdeka. Tapi masa aku berkesempatan mendatangi Kota Medan, kisah bersantai di Jalan Kesawan tak kutemui lagi. Kegiatan serupa itu sudah dipindah ke Lapangan Merdeka. Ada yang menamakan Merdeka Walk dan ada banyak orang menyebutnya Medan Walk.

Jalan Kesawan itu mengingatkanku akan nama sebuah bank. Kawasan ini dan sekitarnya sampai kini masih terdapat bangunan tua. Peninggalan dari masa silam Kota Medan yang memang sudah mengalami masa kemajuan sejak lama. Bagiku berada di dalam suatu kawasan kota lama, memberikan suatu kepuasan tersendiri. Aku menyukai arsitekturnya dan suasana zaman lama.

Dilain waktu, barulah aku mengetahui bahwa Tjong A Fie, kelahiran Guangdong 1860. Tjong berhasil membangun bisnis besar dalam bidang perkebunan di Sumatera. Konon lebih dari 10.000 orang dipekerjakannya sebagai karyawan. Karena hal itu, ia dekat dengan para kaum terpandang di Medan, diantara Sultan Deli, Ma’moen Al Rasyid serta penjabat-penjabat colonial Belanda.




Tjong seorang Tionghoa perantauan. Ia datang ke Medan, Hindia Belanda, dalam usia 18 tahun, mengikuti jejak saudaranya. Mereka terlahir dari keluarga sederhana. Ia cerdas dan pandai bergaul tidak hanya di kalangan Tionghoa tapi juga dengan Melayu, Arab, India dan orang Belanda. Tjong menguasai bidang ekonomi dan politik. Dia telah memiliki kerajaan bisnis, perkebunan, pabrik minyak kelapa sawit, pabrik gula, bank dan perusahaan kereta api.

Tjong A Fie belajar berbicara dengan bahasa Melayu yang menjadi bahasa perantara masyarakat di tanah Deli. Tjong A Fie tumbuh menjadi sosok yang tangguh, menjauhi candu, judi, mabuk-mabukan dan pelacuran. Ia menjadi teladan dan menampilkan watak kepemimpinan yang sangat menonjol.

Berjalan kaki disiang hari, di tengah kesibukan Kota Medan terasa suasana menggembirakan. Berjalan di depan pertokoan dan perkantoran. Menelisik bangunan-bangunan tua. Hingga akhirnya, aku menemukan sebuah bangunan dengan memiliki gapura di bahagian depan. Rumah Cina lama. Rumah besar. Inilah yang dimaksudkan dengan Rumah Tjong A Fie.

Segera saja aku menyeberang jalan. Pintu gapuranya terbuka. Halaman yang bersih. Tidak ada yang menjaga pintu masuk. Tempat itu jauh terbalik dengan suasana kesibukan kota. Tempat yang boleh dikatakan senyap. Bangunan besar itu dengan halaman terbilang luas, membuat nyaman untuk bersantai di tempat ini.

Kiranya setelah di dalam, setelah berada di bahagian teras depan yang panjang, tahulah aku bahwa tempat itu merupakan sebuah museum yang terbuka untuk umum. Ada dua orang petugasnya, dua orang perempuan lagi bercakap-cakap di bahagian sudut. Keduanya ramah menyambut kedatanganku. Aku menanyakan beberapa hal. Jawabannya memuaskan.

Kedatanganku tidak untuk sepenuhnya menelusuri bahagian apa saja yang dipamerkan kepada pengunjung. Karenanya, aku sampaikan bahwa kapan-kapan nanti, aku baru akan masuk. Setiap pengunjung dikenakan biaya masuk untuk menanggulangi biaya perawatan yang tinggi oleh pengelolanya.

Walau pun aku berada di Rumah Tjong A Fie berjam-jam, aku hanya duduk-duduk di bangku lama yang ditempatkan di teras bangunan besar itu. Udara siang Kota Medan mulai meniupkan rasa panas, di tempat ini aku merasa sejuk dan tenang.

Tjong A Fie sangat berjasa dalam membangun kota Medan, dimana masih bernama Deli Tua. Beberapa jasanya dalam usaha mengembangkan kota Medan adalah menyumbangkan menara lonceng untuk Gedung Balai Kota Medan yang lama, pembangunan Istana Maimoon, Gereja Uskup Agung Sugiopranoto, Kuil Budha di Brayan, Kuil Hindu untuk warga India, Batavia Bank, Deli Bank, Jembatan Kebajikan yang terletak di Jalan Zainul Arifin serta mendirikan rumah sakit Tionghoa pertama di Medan bernama Tjie On Jie Jan.  Menjadi pelopor industri perkebunan dan transportasi kereta api pertama di Sumatera Utara yakni Deli Spoorweg Maatschappi (DSM), menghubungkan kota Medan dengan pelabuhan Belawan.

Tjong A Fie dikenal dermawan dan sangat dekat dengan masyarakat pribumi dan Tionghoa. Sebagai dermawan, ia banyak menyumbang untuk warga yang kurang mampu. Sangat menghormati warga Muslim, bahkan berperan serta dalam mendirikan tempat ibadah yakni Masjid Raya Al-Mashum dan Masjid Gang Bengkok serta ikut merayakan hari-hari besar keagamaan bersama mereka.

Dalam suasana bersantai di kursi di teras Rumah Tjong A Fie, datanglah serombongan pelancong asing. Ada sekitar 20 orang. Mereka memasuki halaman rumah dengan dipandu guide biro perjalanannya. Hampir semuanya terkagum-kagum menatap dan mendokumentasikan arsitektur bangunan Rumah Tjong A Fie. Rumah ini merupakan bangunan yang didesain multicultural. Memiliki corak gaya arsitektur Tionghoa, Eropa, Melayu dan art-deco saling berpadu.

Bangunan kediaman Tjong A Fie ini terletak di Jalan Ahmad Yani, Kesawan, Medan, yang dibangun pada tahun 1900, saat ini dijadikan sebagai Tjong A Fie Memorial Institute dan dikenal juga dengan nama Rumah Tjong A Fie. Rumah ini dibuka untuk umum pada 18 Juni 2009 untuk memperingati ulang tahun Tjong A Fie yang ke-150.

Di rumah ini, pengunjung bisa mengetahui sejarah kehidupan Tjong A Fie lewat foto-foto, lukisan serta perabotan rumah yang digunakan oleh keluarganya serta mempelajari budaya Melayu-Tionghoa.

Nama Tjong A Fie pernah akan dijadikan sebagai nama sebuah jalan di kota Medan, tapi dibatalkan dan jalan itu menjadi Jalan K.H. Ahmad Dahlan. Karena sifatnya yang dermawan dan toleran tanpa membeda-bedakan bangsa, ras, agama dan asal usul.



Tjong A Fie tidak sekadar pebisnis, diapun diangkat pemerintahan colonial tahun 1911 sebagai "Kapitan Tionghoa" (Majoor der Chineezen) untuk memimpin komunitas Tionghoa di Medan, menggantikan kakaknya, Tjong Yong Hian yang wafat. Dengan rekomendasi Sultan Deli, Tjong A Fie menjadi anggota gemeenteraad (dewan kota) dan cultuurraad (dewan kebudayaan) selain menjabat sebagai penasihat pemerintah Hindia Belanda untuk urusan Tiongkok.

Empat bulan sebelum menghembuskan napas terakhir, Tjong A Fie mewasiatkan seluruh kekayaannya di Sumatera maupun di luar Sumatera kepada Yayasan Toen Moek Tong yang harus didirikan di Medan dan Sungkow pada saat ia wafat. Ia menuliskan permintaanya agar yayasan tersebut memberikan bantuan keuangan kepada pemuda berbakat dan berkelakuan baik dan ingin menyelesaikan pendidikannya, tanpa membedakan kebangsaan. Membantu yang tidak mampu bekerja dengan baik karena cacat serta  para korban bencana alam tanpa memandang kebangsaan dan etnis.

Tjong A Fie tutup usia pada tanggal 4 Februari 1921 karena menderita apopleksia atau pendarahan otak. Seluruh kota Medan turut berduka. Ribuan orang pelayat berdatangan, dari kota Medan, Sumatera Timur, Aceh, Padang, Penang, Malaya, Singapura dan Pulau Jawa. Prosesi Pemakaman Tjong A Fie berlangsung dengan megah sesuai dengan tradisi dan jabatannya (*) bahan dari Rumah Tjong A Fie dan Wikipedia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar