Kamis, 31 Agustus 2017

EKSOTIKA BENGKULU

Pada awal abad ke-17, daerah Bengkulu berada di bawah pengaruh kerajaan Banten dan penguasa dari Minangkabau.



KOTA BENGKULU DI MASA LALU


Inggris menduduki Bengkulu selama 140 tahun. Di samping Fort Marlborough, Company juga membangun Fort York di Bengkulu dan Fort Anne di Mukomuko..

Tahun 1719 Inggris dipaksa meninggalkan Bengkulu. Inggris kemudian kembali. Namun tahun 1760 Fort Marlborough menyerah.

Di bawah perjanjian Inggris-Belanda yang ditandatangani tahun 1824, Inggris menyerahkan Bengkulu ke Belanda, dan Belanda menyerahkan Melaka ke Inggris. Namun, Belanda baru sungguh-sungguh mendirikan administrasi kolonialnya di Bengkulu tahun 1868.

Belanda mendirikan  VOC atau Verenigde Oost Indië Compagnie atau "maskapai serikat untuk Hindia Timur". Inggris mendirikan East India Company atau "maskapai untuk Hindia Timur"

Setelah keluarnya Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1967 Pemerintah Republik Indonesia tentang pembentukan Provinsi Bengkulu, Kotamadya Bengkulu sekaligus menjadi ibukota bagi provinsi tersebut. Namun UU tersebut baru mulai berlaku sejak tanggal 1 Juni 1968 setelah keluarnya Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1968.




K E T A H U N

Aku tak pernah merasa bosan menelusuri jalur lintas Pantai Barat. Jalan yang menghubungkan Kota Padang (Provinsi Sumatera Barat) dengan Kota Bengkulu (Provinsi Bengkulu). Dari utara ke selatan.

Pemandangan laut, lekak liku kontur Pulau Sumatera, berpantai dan berteluk. Termasuk jalur jalannya sungguh menyenangkanku. Bukan tersebab aku penyuka avonturier tapi aku menyukai melakukan kunjungan ke berbagai tempat.

Ketahun dan Lais, dua daerah dalam wilayah Bengkulu Utara merupakan tempat favouriteku sepanjang pantainya. Meskipun setiap menatapnya, hatiku kecut. Samudera Hindia demikian luas dan ganas ke daerah ini.

Tak berbilang meter lagi, daratan dihancurkannya. Abrasi gelombang laut tak henti mendera daratan. Pada waktu sebelumnya aku memotretnya dan di kali berikutnya, semua sudah hilang lenyap. Yang tersisa hanya kenangan kala menatap gulungan gelombang dan serpihan ombak menghantam daratan (*) copyright: abrar khairul ikhirma





PONDOK BESI

Menatap tertegak di pantai di kaki perbukitan kecil Tapak Paderi, Kota Bengkulu. Memandang ke arah setentang kawasan dermaga pelabuhan ikan Pondok Besi.

Betapa keras perjuangan nelayan setempat kala pergi dan pulang. Gelombang selalu tak pernah beramah hati. Bila pasang pun menyusut pantai menjauh ke tengah. Biduk dan kapal tak dapat merapat mendekati pantai.

Aku melihat hantaman itu membuat tak berdaya. Cadik biduk berderak dan patah. Ikanpun hasil tangkap tak sesuai dengan perjuangan yang dilakukan dan dihadapi taruhannya.

Hidup memang ada tantangan. Ada pula rasa tolong menolong dan persaudaraan. Tak bisa sendiri menghadapi perjuangan hidup (*) copyright: abrar khairul ikhirma




TIGA GADIS – TIGA MERIAM – TIGA RUMPUN BUNGA

Tiga gadis pengunjung benteng sisa penjajahan Inggris di Bengkulu, Fort Marlborough, melintasi ruang terbuka berumput dalam benteng ketika pagi menjelang siang.

Ketiganya masuk ke dalam frame pandanganku untuk mendapatkan suatu komposisi yang artistic. Tak sekadar bertemu keindahan. Aku memerlukan suatu cerita yang tidak hanya sebuah gambar. Karenanya kulihat tiga moncong meriam tua itu tepat mengarah pada tiga gadis yang melangkah dan sebuah pemberi keindahan tak jauh dari objek tiga rumpun bunga.

Begitulah aku menatap ke bawah. ketika aku tengah berada di bagian salahsatu puncak sisi benteng tua, dibangun sebelum Indonesia merdeka. Di Kota Bengkulu, aku seperti merindu (*) copyright: abrar khairul ikhirma




BOOM BARU PAGI-PAGI

Memasuki awal tahun 2013 silam, aku bertemu dengan genangan air laut yang dikurung membentuk danau kecil. Dulunya merupakan laut, menurut cerita orang-orangtua. Tapi ketika berdiri di atas benteng Fort Marlborough di tahun 1992 aku masih melihat kawasan arah laut di kaki benteng, ketika pasang laut susut, terbentang hamparan karang. Mendekati kaki benteng.

Kini laut sudah lama susut, daratan sudah terbentuk dan ditimbun. Kaki benteng sudah berjarak jauh dengan laut. Tiada lagi ombak mendekati benteng seperti dulu dikenal kawasan ini sebagai pelabuhan Boom. Kawasan laut dengan membuat kungkungan batu-batu yang didatangkan. Pelabuhan namanya.

Ada sebuah bangunan bulat, ada jalan dua jalur, ada bangunan café juga deretan tenda pedagang kaki lima membatasi pandangan sebelum mencapai danau kecil, membendung air laut.

Tapi ini hanya di tahun yang lalu.

Pada pagi-pagi di tahun 2017 ini, aku hampir tak menemukan seperti ini lagi. Maka itu artinya ia menjadikan sebuah kenangan dalam ingatanku (*) copyright: abrar khairul ikhirma




BOOM BARU WAKTU SIANG

Aku berjalan di tanggul beton penahan ombak setentang dari Benteng Marlborough memanjang setentang bukit kecil Tapak Paderi, Kota Bengkulu. Saat siang mulai menancapkan pisau cahayanya terang dengan udara terik. Membuat keringat dari tubuh dan kulitpun menjadi legam.

Air laut yang dibendung ke dalam suatu danau kecil itu tidak bertahan lagi, seiring pasang susut. Kalau pun pasang naik, kedalamannya tidaklah begitu dalam. Sepertinya impian untuk menjadikannya sebagai tempat bersantai berkayuh perahu, hilang pupus.

Yang kusaksikan terbentuknya bentangan pasir, lalu tanaman tapak kuda merambati di pinggir beton berusaha menutupi permukaan pasir di dalam “danau kecil” kawasan Boom Baru ini.

Dari arah laut sesiang ini, aku menatap arah daratan yang berjarak sepemandangan mata, nun Benteng Marlborough terlihat disela tanaman, juga bukit Tapak Paderi yang dikepung bangunan (*) copyright: abrar khairul ikhirma




PANTAI LAIS

5 tahun lalu, aku berhenti pada salahsatu titik. Beristirahat dalam perjalanan menyusuri jalur Lintas Barat pesisir pantai.

Mendekati pantai. Berdiri di atas daratan yang bertebing. Laut berada di bawahnya. Aku melihat sudah dibuat batu dalam ikatan kawat. Bukan batu-batu kecil yang didatangkan, agar ombak tak lagi merampas daratan.

Gelombang sambung menyambung mengakali agar tebing menjadi runtuh. Kiranya abrasi itu memang tak dapat dihentikan. Titik yang 5 tahun silam aku pandang, kini tempat yang sama itu sudah menjadi laut. Terjangan Samudera Hindia yang terus menerus membuat pertahanan daratan runtuh.

Pantai Lais, Bengkulu Utara tak jauh berbeda dengan nasib sepanjang Ketahun. Abrasi terus saja menggila.
Kukira ilmu juga demikian. Semakin kita pelajari dan pahami, kita akan tahu bagaimana semestinya hidup dimaknai (*) copyright: abrar khairul ikhirma




PULAU BAI

Kawasan pelabuhan Pulau Bai, Kota Bengkulu adalah pelabuhan alam yang aman dan indah. Terjangan Samudera Hindia kala musim cuaca tak bersahabat, merupakan tempat bersembunyi kapal-kapal adalah Pulau Bai. Indah, karena sekelilingnya ada view di kejauhan, hutan bakau mangrove yang kini masih dapat ditemukan. Entah ditahun-tahun mendatang.

Hutan bakau adalah salah satu lokasi aman bagi satwa atau pun ikan-ikan. Terletak di salah satu sisi Pulau Sumatera membentuk teluk yang luas. Dapat dimasuki kapal bertonase. Meskipun selalu dibayangi ancaman sendimentasi (*) copyright: abrar khairul ikhirma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar