Minggu, 20 Agustus 2017

SYARIFUDDIN ARIFIN: BANDARA SATU TUJUAN

18 tahun tak pernah bertemu, berkomunikasi pun tidak. 2 tahun terakhirnya terhubung dengan fb, media social. Setelah delapanbelas tahun yang berlalu, akhirnya kami bertemu pertamakali di Bandara Internasional Minangkabau, satu flight menuju satu tujuan: Kuala Lumpur, Malaysia.


BANDARA INTERNASIONAL MINANGKABAU


Yang kuingat di tahun 1980-an silam, dalam situasi Sanggar Pasamayan Padang, berserakan suratkabar, majalah, buku, brosur dan kertas di sana sini. Spanduk-spanduk bekas. Sampah. Puntung-puntung rokok. Pemandangan sehari-hari, kumuh, lembab, nyamuk bergentayangan. Tidak hanya malam, juga siang hari. Makanan kami sehari-hari di sanggar itu dengan selera sama, membaca dan mengumpulkan berbagai bahan bacaan.

Sanggar itu memanfaatkan bangunan bekas stand pameran industry, sisa dari areal Padang Fair tahun 1970-an, terletak di bahagian depan sudut arah utara Taman Budaya Padang, membelakang Jalan Diponegoro, berdampingan dengan Jalan Pancasila. Itulah rumahku Sanggar Pasamayan, rumah kami berlima; actor dan penggiat seni Asbon Budinan Haza,teaterawan dan penyair Muhammad Ibrahim Ilyas, pelukis dan penyair Asri Rosdi,penyiar Fuaddy Chaidir Rosha dan aku.

Diantara harta di rumah (sanggar) kami yang berserakan itulah, aku menemukan buku tipis “Ngarai,” kumpulan puisi Syarifuddin Arifin. Kumpulan yang diterbitkan Kolase Kliq Jakarta tersebut, memuat sejumlah puisi pendek-pendek. Tepatnya puisi-puisi spontan, lugas dan dengan kata pilihan.

Mungkin itulah pertamakali, aku benar-benar membaca karyanya dengan intens. Karena berdasarkan puisi-puisi pada kumpulan Ngarai itu pula, aku dapat menyimpulkan bahwa style kepenulisan puisinya adalah pada puisi pendek. Sehingga ketika menemukan sejumlah puisinya sekarang, yang sempat kubaca, terasa tidak menemukan “dirinya.” Kekuatannya pada puisi pendek, karenanya menurutku ia “gagap” pada puisi naratif dan balada.

Syarifuddin Arifin. Aku dan sebahagian besar mereka yang mengenalnya di tahun 1980-an memanggilnya dengan Da If.  Tidak asing bagiku. Mula mengenal namanya di halaman Remaja Minggu Ini (RMI) asuhan penyair Rusli Marzuki Saria, suratkabar Harian Haluan. Koran tertua di Sumatera yang didirikan A. Kasoema. Berkantor di Jalan Damar, Kota Padang, Sumatera Barat.  

Syarifuddin Arifin pada masa tahun 1980-an salah seorang penulis RMI yang aktif. Dimasa itu suhu kreatifitas di Sumatera Barat mempublikasikan karya di media cetak sangat kompetitif. Satu halaman suratkabar disediakan satu kali sepekan, terasa sesak menampung karya penulis. Tumpukan naskah cerpen, puisi dan artikel memenuhi meja redaktur di kantor redaksi. Suatu kebanggaan, kalau tulisan berhasil “mengalahkan” karya yang lainnya belum diterbitkan. Aku pun pernah tercatat sebagai salah seorang penulis di RMI tersebut.

Sejak aku “bermukim” di Taman Budaya Padang ---kemudian berubah nama menjadi Taman Budaya Sumatera Barat--- setahuku, meskipun Syarifuddin Arifin pernah menerbitkan kumpulan puisinya, pada masa itu terbilang langka penulis bukunya diterbitkan, namanya malah lebih dikenal sebagai cerpenis, tidak sebagai penyair.

Dia memang rajin untuk menulis cerita pendek dan mempublikasikannya ke suratkabar. Bahkan beberapa cerpennya pernah memenangkan sayembara. Diantara cerpen-cerpen itu, dikumpulkan  dalam buku dan sudah diterbitkan. Kumpulan cerita pendeknya, Bermula Dari Debu, diterbitkan pada tahun 1986. Kemudian di tahun 1989, buku kumpulan cerpen keduanya berjudul Gamang, diterbitkan. Seingatku, buku kumpulan cerpen Gamang ini, pernah dihadiahkannya untukku. Aku pun sempat menulis sedikit catatan perihal bukunya ini, untuk dipublikasikan di suratkabar terbitan Padang.

Di tahun 1980-an sampai separuh awal tahun 1990-an, kami sering bertemu walau pun tidak dalam kegiatan berkesenian. Aku bermukim di Taman Budaya Padang dan Syarifuddin Arifin sehari-hari bekerja sebagai pegawai di instansi pemerintah tersebut. Walau pun tidak rutin, namun diantara hari-hari kehidupan di pusat kesenian itu, ada saja momen yang membuat kami bertemu. Tentu saja kalau tidak saat sama-sama menikmati kopi di kedai kopi, sudah pasti lagi duduk-duduk di bawah batang flamboyant tua, dimana hampir setiap hari aku menjadi “penghuni” setia bawah pohon itu. Ada atau tidak ada teman. Tidak dihitung siang atau pun malam. Bertahun-tahun lamanya.

Aku mengenal Syarifuddin Arifin dengan saudara-saudaranya. Untuk satu masa, kemudian aku pernah sangat dekat dengan kakak sulungnya, wartawan, penyair dan penggiat teater, Sjafrial Arifin. Kurang dari satu tahun, aku bersamanya “berumah” di kamar 116 Inna Muara Hotel Padang. Tetapi hubunganku dengan kakak sulungnya “berjarak” kemudian hari, tersebab aku tak berminat untuk bergabung dengan kegiatannya di kesenian. Juga dengan kakaknya yang lain, Bachrum Rony Arifin, pernah sama-sama bekerja di perusahaan suratkabar yang sama. Saat aku “merantau” hidup di Jakarta, aku pun pernah “bermukim” satu masa di rumah adiknya, Zulkarnaini Arifin, yang juga seorang wartawan.

Syarifuddin Arifin, lahir di Jakarta, 1 Juni 1956. Berpendidikan STKIP Sumbar, Akademi Ilmu Komunikasi (AIK) Padang. Mengikuti Lokakarya Penulisan Cerpen (1981) oleh Majalah Sastra Horison & Majalah Kebudayaan Basis. Tulisannya dipublikasikan di berbagai media cetak (majalah dan Koran) Jakarta dan Padang. Salah seorang penggiat Bengkel Sastra Indonesia (BSI) Jakarta, 1980-an. Pernah di kelompok Bumi Padang, asuhan Wisran Hadi. Mengasuh dan menjadi sutradara di Teater Jenjang dan Teater Flamboyan, Padang. Mendirikan Sanggar Penulisan MASA Padang (1984).


AHMAD TAUFIQ, A'YAT KHALILI, TERATAI ABADI
SYARIFUDDIN ARIFIN, POUL NANGGANG & AKU.
PENYAIR INDONESIA DAN MALAYSIA
2014


21 Maret 2014 perjumpaan kami setelah 18 tahun di pintu masuk chek-in Bandara Internasional Minangkabau, Sumatera Barat, Indonesia. Aku dan Syarifuddin Arifin akan terbang dengan pesawat yang sama menuju Kuala Lumpur, dengan tujuan yang sama, menghadiri Anugerah Puisi Dunia Numera, 21-24 Maret 2014 di Dewan Bahasa Pustaka Kuala Lumpur. Kami berdua “terpilih” menerima anugerah diantara sejumlah penyair Malaysia, Indonesia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam, Belgia, Swedia dan Rusia.

“Mana puisi Arkhi, Padang Sepanjang Jalan itu,” tiba-tiba saja Syarifuddin Arifin bertanya padaku, saat berjalan menuju pintu boardingpass. Padahal, kami tidak sedang bercakap-cakap mengenai puisi. Mengapa dia menanyakan tiba-tiba ? Mengapa dia menanyakan puisi panjangku itu ? “Puisi itu kan sudah wak bukukan dalam kumpulan puisi, Sajak Penyair 15 Ribu,” kataku, “Kenapa memang?” kataku balik bertanya. “Ambo sukolah jo puisi Arkhi tu…,” aku Syarifuddin, dia menyukai karya puisiku yang ditanyakannya itu. Aku hanya merasa aneh saja, tidak tahu apa maksud di balik semua hal itu.

Di pesawat terbang, kami duduk berdampingan. Dalam penerbangan menuju Kuala Lumpur, aku berikan kepada Syarifuddin Arifin, dua eks buku sederhanaku. Satu buku kumpulan puisi berjudul, Antara Bukik Punai. Satu lagi, berjudul Izinkan Aku Bicara, buku berkait dengan penerimaan Anugerah Puisi Dunia Numera 2014 yang sengaja aku tulis, susun dan diterbitkan.

Selama berada di Kuala Lumpur, kami menginap di Jeumpa d’Ramo di kawasan Bangsar. Sekamar bertiga, aku, Syarifuddin Arifin dan Ahmad Taufiq. Syarifuddin menghadiahkan aku buku kumpulan puisinya, Maling Kondang, terbitan Teras Budaya Jakarta tahun 2012.

Selama berada di Kuala Lumpur, aku dan Syarifuddin Arifin seperti mengulang kembali kebiasaanku “berteater spontan.” Apalagi dengan kehadiran penyair Ahmad Taufiq dari Jember dan A’yat Khalili dari Madura, Jawa Timur, Indonesia, yang kemudian kukenal. Keduanya “segera” saja menjadi “media” sebagai pengantar “celotehanku” berolok-olok seputar kurenah orang sastra dan karya sastra. Tak kusadari apakah orang suka mendengarnya atau tidak. Aku tiada sadar, keasyikan saja dengan dunia ekspresiku, meluapkan “cimeehku” dengan suaraku yang keras, macam orang bertengkar.

Bisa jadi, hal semacam itu bangkit kembali dalam suasana yang tepat. Bagi Syarifuddin Arifin styleku demikian tidaklah hal baru. Ketika semua orang (seniman) sudah meninggalkan Taman Budaya Padang, dimana hampir sepanjang hari pusat kesenian di tengah kota itu, seakan berubah menjadi komplek pekuburan. Aku tetap “bertahan” sendirian hidup di sanggar, di sepetak bangunan lapuk sudut bahagian depan Taman Budaya. Kesendirian diantara kesunyian dan rasa lapar.

Di masa-masa situasi Taman Budaya itu, setiap petang hari aku selalu dikunjungi uni Nita Indrawati Arifin, seorang penulis dan kemudian menjadi wartawati. Terkadang Nita datang bersama penulis Indrawati In. Di depan sanggar, di bawah langit terbuka, ada saja yang menjadi topic percakapan kami. Biasanya yang selalu datang adalah Syarifuddin Arifin. Tekhnik munculnya, dengan nada berseloroh berhiba-hiba agar Nita bersedia membelikan minuman kopi setengah (cangkir kecil) dan setengah bungkus rokok. Setelah itu ada saja olok-olok dan kata-kata satire diantara kami.


DI LCCT KINI KLIA2 KUALA LUMPUR, MALAYSIA


Petang hari di depan “sarangku” itu adalah hari-hari keakrabanku dengan Syarifuddin Arifin. Aku selalu menyebut dia, orang-orang yang “mengintai” kedatangan Nita ke tempatku. Nita sendiri memang “dewa penyelamat” bagi sejumlah orang pada masa itu. Dia selalu luluh hatinya, jika kami belum makan, minum dan merokok. Seringkali dia menjadi donator bagi kami serupa itu. Tidak terbalas jasanya sampai kini.

Sekali-kali turut bergabung teaterawan Muhammad Ibrahim Ilyas, penyair Ade Soekma dan Zal Lambok ---Rizal Buyung. Yang jelas, hampir setiap petang ada-ada saja yang “menjenguk” ke sarangku. Tak terbilang apakah seniman junior atau seniman senior. Seakan-akan aku “penjaga kuburan” yang harus ditemui. Jika aku tak ada di bawah pohon flamboyant ---tak jauh dari pintu gerbang--- duduk bertapa, mereka pasti menuju bahagian sudut Taman Budaya, menemukan dimana sarangku.

Jika sampai kini banyak orang mengenal Syarifuddin Arifin tapi dapat dipastikan hanya kami bertiga ---aku, Muhammad Ibrahim Ilyas dan Nita Indrawati Arifin--- saja yang tetap mengingat hal spesifik darinya. Kami memanggilnya dengan “Da If” tapi jika sudah berseloroh terkadang dengan panggilan akrab kami sebut dengan “Pudin.” Sebab kenapa ??? Ada saja di masa lalu itu, saat di hadapan kami sewaktu-waktu ia akan berkata sendiri dengan keluguannya, “Pudin…. Pudin…., kajadialah ang ko.”


Entah bermaksud mengatakan kepada kami atau hanya  gumamannya pada dirinya sendiri, akan jadi apakah dia (*) copyright: abrar khairul ikhirma, agustus 2017

1 komentar:

  1. Ondeh mandeh, takana awak Jo maso lalu.
    Padiah, sadiah, mamiliah, tapiliah, antahlah.
    Ka jadi apo waang Puding....
    Hahahaha

    BalasHapus