Senin, 21 Agustus 2017

"SENYAP'" TAMAN BUDAYA BENGKULU

“Apakah nasib sudah berubah menjadi suatu takdir?” Seketika pertanyaan itu terlintas menohok dalam pikiran nakalku, setelah melewati pintu gapura dan memasuki halaman Taman Budaya Bengkulu.




Pertamakali datang ke Taman Budaya Bengkulu sekitar tahun 1992 silam, memenuhi undangan seniman teater Ilhamdi Sulaiman atau juga dikenal sebagai Boyke Sulaiman.

Bagi kami yang beraktifitas berkesenian di Taman Budaya Sumbar, nama Ilhamdi bukanlah nama yang asing. Beliau jebolan Bumi Teater asuhan teaterawan Wisran Hadi. Semasa kuliah adalah salah seorang pendiri kelompok teater Proklamator di Universitas Bung Hatta, Padang. Kemudian membentuk Bojo Group di Taman Budaya. Lalu hijrah ke Bengkulu. Bekerja sebagai pegawai di Taman Budaya Bengkulu. Mendirikan kelompok Teater Alam. Beberapa tahun terakhir ini, dia bersolo karier. Ilhamdi memilih jalan sebagai Monologer setelah menetap di Jakarta.




Kedatanganku ke Bengkulu pertamakali itu bersama teaterawan Sumatera Barat (Sumbar) A. Alin De. Kami berdua diundang untuk menyaksikan pementasan Teater Alam Bengkulu, yang disutradarai Ilhamdi Sulaiman. Dipentaskan di Taman Budaya Bengkulu. Dimana kelompok teater ini beranggotakan orang-orang muda berbakat, berstatus pelajar di sekolah menengah. Malam pementasan, gedung pertunjukan ramai penonton. Tidak mengecewakan.

Yang kuingat waktu itu, pada waktu siang esoknya, berkesempatan sendirian mencapai beberapa titik lokasi dalam areal taman. Arena teater terbuka yang tak terawat. Ada tumbuhan ilalang di sana sini. Lalu lingkungan yang sangat minim dengan tumbuhan. Dalam hatiku saat itu, memang inilah ciri khas yang benar pada Taman Budaya kita dan sarana-sarana kesenian pada umumnya. Tidak terawat dan tidak terurus.

Entah hanya bercanda atau memang begitu adanya, ada seseorang waktu itu yang mengatakan padaku, pada waktu malam hari, di semak belukar di arena Teater Terbuka itu, terlihat serombongan babi liar. Aku menjawabnya dengan bercanda, “Jangan-jangan babi itu juga ingin berbudaya.”

Sudah demikian, ketersediaan lampu penerang pusat kebudayaan itu sudah dapat diterka. Pada malam hari lebih banyak gelap gulita. Apalagi kalau kegiatan kesenian tidak pernah dilangsungkan setiap saat. Kita pun tahu, pada umumnya, pertunjukan-pertunjukan kesenian diselenggarakan pada malam hari.

Untuk Taman Budaya Bengkulu, menurutku saja pada situasi di tahun 1992 itu, hanya Gedung Pertunjukan yang terletak di bahagian depan itu sajalah yang menjadi “harta” sebagai fasilitas bagi mereka yang ingin menyelenggarakan pertunjukan kesenian. Gedung itu mungkin masih belum terlalu lama dibangun, sehingga kelihatannya masih baik-baik saja. Walaupun ada di beberapa bahagian mengalami kerusakan.


KUNJUNGAN TAHUN 2013


Pada beberapa petang hari, kami yang menginap di salahsatu rumah di Tanah Tumbuh, berjalan kaki ke Jalan Padang Harapan dimana Taman Budaya Bengkulu berada. Maksud kami waktu itu, ingin ada suasana seperti biasanya seniman di Taman Budaya Padang, bersantai pada satu tempat dalam kompleks Taman Budaya. Berkumpul dan bercakap-cakap apa saja sesama seniman, baik senior maupun junior.

Lokasi yang kami pilih yakni tak jauh dari (kini) pintu gapura, sebelah kanan.  Ada tanah ditumbuhi rumput, tampaknya sengaja ditinggikan semacam tanggul pembatas dengan tanah kosong. Sebelahnya lagi halaman Gedung Pertunjukan. Di atas berupa tanggul tanah itu, ditanam beberapa batang pohon bunga tanjung. Kelihatannya antara hidup dan mati. Tingginya kurang dari 3 meter. Di sanalah kami bercengkrama dan berdiskusi lepas bersama keluarga Teater Alam.

Pada kesempatan berkunjung ke Kota Bengkulu tahun 2013, suatu siang, aku sengaja untuk “menjenguk” Taman Budaya Bengkulu. Hanya sekadar melihat-lihat saja. Suasananya tidak jauh beda. Dalam Gedung Pertunjukan terlihat ada kegiatan persiapan acara kesenian. Aku berjalan-jalan melewati jalan yang ada hingga mampir ke bangunan berupa kantor.

Ada 2 pegawai sedang bercakap-cakap. Aku perkenalkan diri. Serta merta, aku melihat sebuah foto terpajang di dinding. Maka aku katakan bahwa orang yang sedang bermain alat music keyboard di foto itu, adalah temanku. “Namanya Iskandar.” Semasa di Taman Budaya Padang, Iskandar adalah seorang pemain teater, merupakan actor pada pementasan Teater Padang pimpinan Hardian Radjab. Kedua pegawai itu membenarkan orang yang kumaksudkan. Menjelaskan bahwa temanku itu sudah wafat. “Ya,” kataku, “Aku sudah mengetahuinya.”

Sewaktu akan meninggalkan Taman Budaya, dalam kunjungan yang singkat itu, aku seperti awal kedatangan tadi sejenak menatap tanaman bunga tanjung tak jauh dari gapura, sudah membentuk diri menjadi pohon.

Daunnya rapat dan hijau. Tanggul yang dulu itu tak terlihat di bawahnya. Tidak berapa beda tingginya dibandingkan dengan halaman Gedung Pertunjukan. Sejumlah daun-daun keringnya, berserakan di sana-sini.
Dalam kesempatan berada di Kota Bengkulu tahun ini (2017), salah satu agendaku berkunjung ke Taman Budaya Bengkulu. Tidak salah kemudian, yang pertama ingin kulihat yakni barisan pohon bunga tanjung. Kini pohon itu sudah besar, daunnya sangat rindang kala panas terik kedatanganku menjelang waktu sholat Zhuhur.

Yang kudapati Taman Budaya dalam keadaan senyap. Pintu gapura tertutup. Hanya pintu kecil yang terbuka. Di depan gapura berdiri dua pedagang gerobak. Penjual air tebu dan pedagang rokok. Aku minta izin untuk masuk. Berjalan ke dalam. Tidak ada siapa-siapa. Mulanya, aku berharap ada seniman-seniman terlihat latihan atau tengah bersantai bercakap-cakap di salah satu sudutnya. Tidak ada.

Selain senyap, kondisi Gedung Pertunjukan semakin terlihat bagaikan sebuah gudang yang tak terpakai. Halamannya tidak bersih. Nun di ujung sana, bangunan kosong. Tak terlihat ada orang. Semula aku akan melangkah lebih jauh ke dalam. Akan tetapi sesampai di tengah halaman, aku berbalik. Lalu sejenak melangkah berteduh di bawah pohon bunga tanjung.




Di bawah pohon itu kini, ada dibuat bangku yang dilekatkan dengan lingkar pohon. Tidak dalam keadaan bersih, seakan tempat itu merindukan sapu lidi. Daun-daun kering berserakan di sana sini.

Mungkinkah keadaan serupa ini adalah sudah nasib Taman Budaya kita di daerah-daerah di seluruh Indonesia, yang ditakdirkan semakin mengalami kehancuran karena otonomi yang “diagungkan” ?. Karena silih berganti Kepala Daerah dan pemimpin-pemimpin yang tak memiliki “perhatian” dan latar belakang budaya ? Apalagi Taman Budaya tidaklah sebuah instansi pemerintah “pencetak uang” seperti instansi lain yang menghasilkan “proyek.”


Kemanakah para seniman ? Sungguh sayang, di bawah kerindangan pohon bunga tanjung yang semakin membesar ini tanpa seniman! (*) copyright: abrar khairul ikhirma, agt.2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar