Rabu, 30 Agustus 2017

JEJAK VIETNAM DI PULAU GALANG

Tiga kali sudah aku mengunjungi bekas kamp pengungsi Vietnam di Pulau Galang, Riau Kepulauan. Dengan tahun yang berbeda. Dengan kesenyapan yang sama.




Dibandingkan dengan nama-nama pulau di Riau Kepulauan, Pulau Galang adalah nama pulau yang paling melekat dalam ingatanku. Karena pada paruh akhir tahun 1970-an berita Perang Vietnam dan pengungsi Vietnam hampir selalu menjadi berita utama Koran-koran daerah maupun nasional di Indonesia. Sebagai “penggila” pembaca berita suratkabar daerah dan nasional masa itu, berita “hangat” itupun sendirinya tak terlewatkan untuk kubaca.

Sungguh pun punya perhatian pada berita yang “mengharu-biru” itu, aku sendiri sejak masa itu tak pernah “bermimpi” untuk suatu hari dapat menjejak Pulau Galang. Namun perjalanan hidup memang sulit diduga dan diperkirakan. Tahun 2013 aku menjejak pertamakali Pulau Batam. Pulau Batam pernah popular sebagai kawasan perdagangan bebas dan industri semasa berstatus otorita. Dimasa-masa itu dari berbagai daerah di Indonesia, banyak orang berdatangan ke Pulau Batam “mengadu nasib” bekerja dan berdagang.

Pulau Batam di “tangan” BJ Habibie, yang menjadi Kepala Otorita Batam, sekaligus dikenal sebagai konseptornya, telah menyatukan tiga pulau berdekatan Pulau Batam, Pulau Rempang dan Pulau Galang hingga, menjadi satu kesatuan. Ditandai dengan dibangunnya Jembatan Barelang (Batam-Rempang-Galang). Sampai kini merupakan icon. Tempat “wajib” dikunjungi bagi mereka yang pertamakali menjejak Pulau Batam.



KAPAL YANG  DIGUNAKAN PENGUNGSI VIETNAM KE INDONESIA


Selama berada di Kota Batam, aku mengunjungi sejumlah tempat. Salahsatunya berkesempatan mendatangi “Kampung Vietnam,” sebutan masyarakat Batam untuk menyebut nama lokasi bekas camp pengungsi dari Negara Vietnam.

Memang jaraknya dari Kota Batam terasa sangat jauh dan melelahkan. Namun bagi yang menyukai perjalanan keluar kota, adalah suatu mengasyikkan. Dalam perjalanan kita akan disuguhkan pemandangan teluk dari ketiga pulau, lalu perbukitan batu dan tanah merah. Pepohonan tidak banyak tumbuh di sana sini, sehingga udara terasa panas.

Dari jalan raya yang menghubungkan Kota Batam sampai ke ujung Pulau Galang, Kampung Vietnam  hanya sejarak lebih kurang sekitar 60 meter. Dari pintu gerbang kita sudah disambut dengan kerindangan pepohonan. Udara pun terasa sejuk.

19 April 1975 pecah perang saudara di Vietnam. Perang berlangsung panjang dan kejam. Ribuan warganegara Vietnam berusaha menyelamatkan diri dari keadaan yang terjadi di negaranya. Sejak itu ribuan pengungsi meninggalkan negaranya, menuju Negara-negara yang dapat menerima “pengungsiannya.”
Pengungsi Vietnam menyelamatkan diri dari kekejaman tentara komunis Vietkong, banyak memilih keluar negaranya melalui jalan laut. Dengan kapal dan perahu mengharungi Lautan Cina Selatan, dengan berisi pengungsi melebihi kapasitas kapal dan perahu.




Tidak sedikit kapal dan perahu pengungsi dalam pelayaran mereka mengalami kerusakan, bahkan hilang tenggelam begitu saja. Ada jatuh sakit dan mati kelaparan, kehabisan air dan makanan. Diantaranya yang selamat setelah mengharungi samudera selama satu bulan, gelombang pertama pengungsi Vietnam mencapai Pulau Natuna, Kepulauan Riau, Indonesia, 21 Mei 1975. Berjumlah 75 orang menggunakan satu buah perahu kayu.

Gelombang pengungsi Vietnam ini semakin lama semakin banyak, tersebab Perang Vietnam kian berkecamuk. Kehadiran pengungsi Vietnam ini akhirnya menjadi “masalah” di sejumlah negara tetangga Vietnam, yaitu Malaysia, Thailand dan Indonesia. Perserikatan Bangsa-Bangsapun kemudian turun tangan. Organisasi PBB yang mengurusi pengungsi UNHCR mengadakan rapat beberapa negara di Bangkok. Menetapkan satu pulau di Indonesia dijadikan tempat pengungsian.

Pulau Galang seluas 250 ha di tahun 1970-an relative kosong. 80 ha digunakan sebagai camp pengungsi. Pengungsi Vietnam ini disebut juga sebagai “Manusia Perahu,” sudah tersebar di berbagai lokasi, akhirnya disatukan di Pulau Galang, hingga tercatat sebanyak 250 ribu jiwa. Biaya makan pengungsi, pendidikan dan kesehatan dibiayai oleh PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa).

Memasuki kawasan bekas camp Pengungsi Vietnam, seperti melakukan safary alam. Tidak banyak lagi bangunan yang dapat dilihat. Banyak yang sudah terlanjur hancur. Yang ada kini semak belukar dan pohon-pohon tanaman tumbuh subur. Konon tanaman tersebut, dulunya ditanam oleh para pengungsi, selama berada di pengungsian.



DI DEPAN VIHARA DI KAMPUNG VIETNAM MASIH TERAWAT
BERSAMA RAFQI CHANIAGO YANG MENETAP DI KOTA BATAM
KAMI PERNAH SAMA-SAMA BEKERJA DULU DI SURATKABAR
HARIAN SINGGALANG PADANG


Mungkin agak terlambat keputusan pemerintah untuk menjadikan Kampung Vietnam ini sebagai satu destinasi yang dibuka untuk wisatawan. Ketika asset yang ditinggal satu persatu “hilang lenyap” barulah keinginan datang. Sejumlah bangunan yang letaknya terpisah-pisah segera “diselamatkan.”

Sebuah museum yang dapat “menuntun” pengunjung ke masa pengungsian di camp ini pun didirikan. Dilengkapi sebuah kandang rusa tak seberapa jarak dari lokasi museum, sebagai daya tarik didirikan. Rusa-rusa ini sudah berkembang biak. Berdampingan dengan sebuah kapal yang digunakan pengungsi dari negaranya masuk ke Indonesia.

Kampung Vietnam ini dulunya cukup lengkap fasilitasnya. Selain fasilitas barak-barak pengungsi, terdapat juga rumah sakit, sekolah, rumah ibadah berbagai agama, pemakaman umum, termasuk sebuah penjara untuk yang melakukan kejahatan.

Kawasan ini dulunya tertutup bagi orang luar, kecuali fasilitas rumah sakit di mana masyarakat umum bisa menggunakan fasilitas tersebut secara gratis. Tempat ini dalam penjagaan TNI Polri, diawasi secara ketat oleh PBB.

Camp Pengungsi Vietnam tahun 1996 akhirnya ditutup. Setelah 16 tahun sejak mula kedatangan mereka di Pulau Galang. PBB memulangkan pengungsi ke tanah air mereka setelah perang berakhir.

Tiga tahun berturut-turut, aku berkesempatan mendatangi Kampung Vietnam bekas camp pengungsi Vietnam ini, 2013-2014-2015, hanya terlihat bangunan ibadah yang cukup terawat sampai kini, karena pemeluk agamanya ada yang memanfaatkan sebagai tempat ibadah.

Sedangkan bangunan-bangunan lainnya, sungguh menyedihkan. Semestinya bangunan tersebut harus tetap dirawat, apalagi sudah dijadikan suatu destinasi bagi wisatawan ke Kota Batam. Terutama bagi warga Vietnam yang ingin melihat jejak “kelam” sejarah bangsanya di masa lalu (*) copyright: abrar khairul ikhirma.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar