Senin, 14 Agustus 2017

MATAHARI TERBENAM DI LAUT MERAH

Tibalah waktunya meninggalkan Madinah dan Mekkah. Karena sudah menyelesaikan ibadah Umroh yang diniatkan dari tanah air. Bus yang membawa rombongan menembus waktu siang menuju Jedah.




Aku sudah merasa lega. Lebih merasa santai. Keinginanku untuk memotret objek datang kembali. Tidak seperti waktu-waktu sebelumnya di Tanah Suci. Aku “berpuasa” untuk melakukan hobiku. Karena tidak ingin mengurangi nilai kekhusu’kan ibadahku.  Tujuanku beribadah. Tidak untuk melancong. Karenanya kini tibalah gilirannya, sebuah camera digital pocket 16.1 mp, selalu berada dalam genggamanku. Siap seketika untuk memotret.

Posisi dudukku dalam bus sudah posisi untuk memotret. Namun sayang, ada banyak objek-objek lepas dari tangkapanku begitu saja. Memang situasinya tidak memungkinkan. Bus berlari dalam kecepatan tidak untuk memotret. Pun bus tertutup kaca tak bisa dibuka karena tak ada jendela. Kaca bus dilapisi peredam cahaya. Sangat menyulitkan untuk mendapatkan hasil potret yang baik. Apalagi dengan hanya mengandalkan sebuah camera dengan kemampuan terbatas.




Sebelum mencapai Jedah Airpot, rombongan akan bersantai di pusat perbelanjaan dan dilanjutkan perjalanan ke Laut Merah mengunjungi Masjid Terapung. Aku sudah berimajinasi, tentu aku akan dapat mengabadikan suasana matahari terbenam di Laut Merah. Nama Laut Merah sudah demikian lekat dalam ingatanku semenjak masih sekolah dasar, ketika usiaku masih terbilang anak-anak. Kini, tanpa terbayangkan, aku dapat menjejak Laut Merah. Sungguh diluar yang pernah aku perkirakan.




Kiranya…, lewat jendela bus, aku lihat bola matahari petang bersaput kabut. Mengingatkan suasana kabut asap kebakaran hutan di Sumatera. Memang matahari belum terbenam, namun segera akan terbenam. Bus yang membawa perjalanan ini, seakan bergegas untuk mencapai Masjid Terapung. Diantara cahaya petang yang memburam di Jedah, aku hanya berdo’a untuk segera mencapai tujuan. Tentu penuh kesabaran.




Menikmati tempat-tempat yang dilintasi. Bagiku hanya menarik pohon-pohon kurma ditanam di sana sini.
Sampai di Masjid Terapung Laut Merah, matahari sudah terbenam. Yang tersisa hanya bias cahaya yang ditinggalkannya. Memang benar, baru saja turun dari bus, aku segera bergegas mengabadikan yang tersisa itu, sebelum kegelapan mengusir cahaya siang. Memang itulah waktu yang disediakan untukku, untuk kesempatan yang berharga.

Aku tak kesampaian untuk memotret Laut Merah di waktu petang hari. Saat cahaya matahari masih tersisa yang kurindukan. Aku tak memiliki kesempatan, menyaksikan matahari turun perlahan ke peraduannya. Aku menghirup nafas. Perasaanku menerawang bagaikan lautan gurun pasir.




Selesai sholat Maghrib di Masjid Terapung Laut Merah, aku gunakan waktu sebaik mungkin untuk memotret suasana sekitar di waktu malam. Diantara siraman cahaya lampu penerang yang gemerlapan. Sebelum pada akhirnya kami harus menuju Jedah Airport untuk di waktu malam terbang kembali ke tanah air, dengan titik tujuan bandara Kuala Namu Airport, Medan, Sumatera Utara, Indonesia (*)


[abrar khairul ikhirma]   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar