Rabu, 16 Agustus 2017

BUNKER JEPANG DI BENGKULU

Jepang pernah memasuki Bengkulu di masa sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia, selain Inggris dan Belanda. Sejumlah jejak sejarah kehadirannya di daerah ini, sampai sekarang masih dapat dijumpai bunker-bunker pertahanan dalam menghadang musuh.




Beberapakali datang ke Kota Bengkulu, senantiasa tak pernah bosan mengelilingi kawasan sekitar Benteng Marlborough. Mulanya dulu di tahun 1992, lebih banyak sekadar melihat-lihat saja. Tak obahnya seorang pelancong biasa, melihat sesuatu tidaklah begitu mendalam dan jelimet.

Pada tahun 1992 pertamakali menjejak Kota Bengkulu, terutama kawasan Kampong, sebutan daerah sekitar kawasan benteng, yang masih kuingat yakni, air laut mulai menyusut mendekati kaki bukit dimana Benteng Marlborough dibangun Inggris, saat menguasai Bengkulu.

Setelah waktu berlalu, beberapakali aku berkesempatan mendatangi Bengkulu. Daerah kaki benteng arah ke laut Samudera Hindia sudah semakin menjadi daratan. Terakhir di tahun 2013 pemerintah daerah telah melakukan pembangunan berbagai fasilitas.

Kini di kaki benteng terdapat area ruang public yang sangat luas, disertai dengan dua jalur jalan kendaraan. Di waktu petang hari sampai waktu malam, kawasan ini kini sudah menjadi objek warga kota bersantai. Dengan sejumlah pedagang kaki lima menyediakan minuman dan makanan ringan.

Di dalam kawasan ruang public ini, semula dulunya, aku hanya menduga-duga saja, ada satu bangunan beton berbentuk sebuah peti besar. Kedatangan kali ini ke Bengkulu, di depan bangunan berbentuk peti besar itu sudah terpancang papan nama, menyatakan bahwa bangunan itu merupakan Bunker Jepang.




Walau pun tidak menjadi daya tarik banyak orang setempat, namun keberadaan jejak sejarah ini penting untuk tetap dipelihara. Terutama pemerintah setempat harus memberikan porsi lebih, agar tidak terhalang pandangan setiap orang di kawasan ini kepada bunker ini oleh kehadiran tenda-tenda pedagang.

Konon selain bunker Jepang di kaki Benteng Marlborough ini, bunker-bunker ini sampai kini masih dapat ditemui di Desa Malakoni dan Desa Apoho. Bunker-bunker ini dibangun tentara Jepang sekitar tahun 1935.
Bunker-bunker dibangun Jepang pada umumnya berada di daerah pesisir pantai. Diperkirakan bunker-bunker ini sudah banyak yang lenyap ditelan abrasi yang mengancam daratan pesisir pantai daerah Bengkulu.


Sudah sepatutnya pemerintah “mengamankan” bunker-bunker ini, karena merupakan salah satu asset sejarah dan budaya daerah Bengkulu (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar