Sabtu, 29 Oktober 2016

IEDHUL ADHA 2016 DI SINTOK KEDAH MALAYSIA



Pada hari raya tahun ini, 12 September 2016, adalah pertamakali aku alami, tidak di Negara sendiri. Jauh dari kampong halaman, jauh dari handai taulan. Aku berada di Negeri Kedah, Negeri di utara Kerajaan Malaysia. Dalam perjalanan budaya. Kelanjutan setelah mengikuti “Temu Penyair Asean 2016” di Kuala Lumpur, ibukota Malaysia.




Suatu anugerah bagiku, dapat melaksanakan sholat Iedhul Adha di masjid yang besar dan megah. Masjid yang terletak dalam kawasan Universitas Utara Malaysia (UUM), di Sintok, Kedah. Berbaur dengan mahasiswa antar bangsa dan masyarakat setempat. Bertemu dan berkenalan dengan mahasiswa dari Indonesia.

Seusai sholat, di bahagian salah satu sisi masjid, sudah disediakan makanan dan minuman untuk semua yang bersholat. Alhamdulillah… aku ikut menikmatinya dalam suasana kebersamaan dan kekeluargaan. Tak tersedia satu kursi pun. Semuanya dengan santai menikmati duduk di lantai masjid yang bersih di sana-sini. 



Jauh beda dengan di daerahku. Hanya sesaat seusai sholat, masjid segera menjadi senyap. Tapi di sini, untuk waktu yang lama, tetap ramai. Seperti terasa sekali momen ini adalah kesempatan untuk berkumpul, bersilaturahmi. Semua orang ingin memanfaatkan dan menikmatinya dengan baik.

Setelah menikmati makanan dan minuman diantara para mahasiswa itu, aku berjalan keluar. Posisi bangunan masjid terletak di ketinggian kontur tanah. Memiliki halaman dirawat dengan baik. Ada tanaman pohon yang rindang pada salah satu sudut. Ada terdapat gazebo, juga bangku-bangku permanen disediakan tanpa merusak kenyamanan keindahan.

Aku turut bergabung dengan Andhyka, mahasiswa UUM asal Palembang, Indonesia, mengambil Program Phd di UUM. Andhyka baru beberapa hari kedatangan isterinya dari Jakarta. Juga Erik, putera Minang asal Bukittinggi. Dan seorang teman mahasiswa lagi, aku lupa namanya. Kami menikmati udara terbuka di halaman masjid, di bangku beton di bawah siraman cahaya matahari yang lembut.




Sebelumnya, sebelum bergabung dengan teman-teman itu, aku sempat bertemu seorang mahasiswa di salahsatu sisi masjid, ternyata orang Bukittinggi. Cucu dari pemilik Bioskop Eri Bukittinggi. Beliau juga tengah kuliah dan tak sempat untuk dapat pulang kampong.

Tak berapa jarak dari lokasi kami berkumpul, ada dua gazebo. Dari sana kegembiraan tak berkurang. Suara keakraban terasa sangat kental. Mereka adalah para mahasiswa yang berasal dari Indonesia. Begitulah…, dengan demikian, mereka masih dapat menikmati mengobat rindu dari orangtua, sanak family dan handai taulan yang berada di tanah air.

Dari halaman depan masjid, bersama-sama, kami menuju halaman belakang masjid. Lumayan juga ditempuh dengan berjalan kaki. Suasana keramaian belum berkurang. Dalam perjalanan, kami berpapasan mahasiswa berbagai bangsa. Suasana keakraban Islami.




Kami menuju lokasi pelaksanaan qurban. Pada saat ini, saya pun berkesempatan untuk menyaksikan pelaksanaan qurban, yang disaksikan para mahasiswa dari berbagai bangsa. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar