Senin, 28 November 2016

DI PEKAN MERBOK, SERASA HIDUP KEMBALI ZAMAN PAK MAGEK


Sepulang dari Lembah Bujang, dimana kami mengunjungi Museum Arkeologi, kami mampir sejenak di Pekan Merbok. Tempat kami singgah petanghari ini, mengingatkan aku akan “balai” di daerahku. Balai yang dimaksud ialah lokasi pasar yang diselenggarakan satu hari dalam sepekan. Jika datang tidak di hari pekan, suasananya sepi. Yang ada satu dua kedai saja setia berjualan tiap hari. Begitu juga suasana itu aku temui di Merbok.




Di kiri kanan terlihat berdiri bangunan rumah toko, sebagaimana biasanya kawasan pasar. Banyak pintu dan jendelanya tertutup. Di daerahku, pemandangan ini biasanya dapat ditemui pada balai-balai yang ada di ibukota kecamatan. Kami masuk agak bahagian ke dalam, bertemu sebuah kedai minuman. Di sini tampaknya disebut sebagai gerai. Aku melihat di papan kecil dalam kedai tertulis, “Gerai Pak Haji Leh.”
Merbok ternyata memang merupakan sebuah pekan di Kedah, Malaysia. Beberapa kilometer dari pekan Merbok terdapat Lembah Bujang. Dimana kini di lembah tersebut terdapat kawasan Museum Arkeologi. Merbok berada dalam wilayah Sungai Petani, Kedah.

Konon nama Pekan Merbok berasal dari bahasa Langkasuka, dimana “merbok” berarti tempat “pernyataan disampaikan.” Sesuai dengan Hikayat Merong Mahawangsa, pernyataan agama Islam sebagai agama resmi Negeri Kedah, dilakukan di Merbok yakni tepatnya di pelabuhan Kuala Merbok, berdekatan daerahnya dengan ibu negeri Kedah masa itu, berada di Bukit Meriam. Keterangan ini menjelaskan bahwa nama Merbok sama sekali tidak berkait dengan nama burung Merbok yang dikenal dalam bahasa Melayu.




Aku memesan mie kuah, di Indonesia dikenal sebagai mie rebus. Lalu secangkir teh tarik hangat. Lumayan lah sebagai penyangga isi perut kala haus dan dahaga dalam perjalanan. Aku sudah beberapa hari ini selama berada di Malaysia kehabisan bekal rokok. Sebelum berangkat dari Padang, Indonesia, aku hanya menyiapkan beberapa bungkus rokok saja. Karena tidak tahu pasti, berapa boleh dibawa masuk ke Malaysia untuk kebutuhan peribadi. Sampai saat ini masih menjadi tanda tanya bagiku. Semoga suatu saat aku dapat informasi resmi akurat mengenai hal ini. Tentu saja ingin tahu pasti akan hakku sebagai pelancong.

Ada memang kutemui di beberapa tempat tertentu, gerai menjual rokok kretek mesin. Rokok-rokok itu produksi brand Amerika. Harganya kuanggap mahal. Untung saja aku seorang yang tidak berminat untuk membelinya. Untuk perihal itu, aku termasuk berbangga dengan negaraku Indonesia. Pilihan akan jenis dan merk produksi rokok tersedia berlimpah-limpah. Mudah diperdapat di berbagai kedai. Semoga saja negaraku tetap mempertahankannya sebagai produk asli Indonesia. Aset Indonesia, menampung banyak tenaga kerja, memberi pergerakan ekonomi dan menghasilkan pendapatan besar bagi pajak Negara.



Ketika berada di Gerai Pak Haji Leh di Pekan Merbok, 09 September 2016 itu, ada dua meja terlihat terisi sejumlah orang asyik bersantai. Di salah satu mejanya, senang juga melihat dan mendengar semangat “berbual” mereka. Dikampungku di kedai-kedai para lelaki dikatakan “sadang mahota lamak.”  Sebagai pendatang yang singgah di Merbok, mendengar bahasa dan gaya bercakapnya menarik juga bagiku. Diselang seling dengan ketawa. Para lelaki itu terlihat juga merokok. Rokoknya adalah rokok daun dengan diisi tembakau. Aku suka suasana seperti ini. Suasana merdeka sebagai orang apa adanya. 

Aku menyempatkan diri keluar dari kedai minum Pak Haji Leh sejenak, melihat situasi lingkungan sekeliling. Di salah satu bangunan, terlihat sebuah kedai kecil. Tidak berapa jarak dari kedai tempat kami menikmati makanan dan minuman. Aku mendekat ke kedai kecil yang menjual rokok daun dan tembakau. Selain menjual rokok dan daun tembakau, di meja kecil di depan kedai terpajang juga daun untuk membuat sarang ketupat. 

Selama berada di utara Malaysia ini, beberapakali aku melihat di beberapa tempat orang-orang merokok daun. Termasuk saat berada di Pekan Merbok. Dalam hatiku, “Wah…, aku serasa kembali ke zaman Pak Magek.” Ketika zaman industry rokok pabrikan belum melimpah-limpah memenuhi pasaran rokok di Indonesia, kaum lelaki perokok, banyak yang merokok rokok daun. Rokok tradisionil. 




Di kota kelahiranku Pariaman, kawasan pantai pesisir barat Pulau Sumatera, Indonesia, aku sempat menemui zaman banyak orang merokok rokok daun. Masa anak-anak sampai masa remajaku. Kemudian dari tahun ke tahun kian berkurang hingga menyisakan perokok daun adalah orang yang sudah berusia tua. Itupun dapat ditemui di kampung-kampung. Sehingga ada istilah, jika ada orang muda merokok daun dicimeeh, “Lah gaek waang” atau dengan memanggilnya dengan “Pak Uwo.”
 
Di zaman masa tahun itu, di kota kami kota kecil Pasa (r) Pariaman, ada beberapa kedai menjual tembakau dan rokok daun, selain menyediakan rokok produksi pabrikan. Salah satunya adalah Kedai Pak Magek. Jika ada orang dari pelosok hendak ke Pasar Pariaman, ketika transportasi belum semudah sekarang ini, seringkali para suami atau lelaki berkirim rokok daun, yang bagi orang kampung kami disebut sebagai rokok nipah. Karena daun penggulung tembakau berasal dari pohon nipah.  “Tolong balikan okok nipah jo timbakau di kadai Magek!” perkataan yang lazim diucap si peminta tolong.

Pak Magek di zamannya dikenal namanya sampai ke pelosok. Ketika berada di Pekan Merbok ini, aku teringat akan beliau yang sudah wafat bertahun silam. Menemu para lelaki merokok nipah di tahun-tahun ini, seperti di Merbok, Kedah, Malaysia, serasa aku kembali ke zaman masa lalu. (*)

abrar khairul ikhirma
Malaysia-Indonesia 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar