Sabtu, 11 Februari 2017

NASI “ORANG PIAMAN” DI MELAKA



Kalau berada di berbagai daerah di Indonesia, aku bertemu rumah (kedai) makan masakan “kampungku” tidaklah mengherankan. Sebab mulai dari kota-kota besar sampai ke pelosok-pelosok daerah dari Sabang sampai Merauke, hampir mudah ditemui “Rumah Makan Padang.” Tapi di Melaka, negeri jiran ?




Rumah Makan Padang sudah menjadi salah satu brand diantara “masakan” yang ada di Indonesia sejak lama. Tentu saja seiring dengan tradisi merantau Orang Minang dari kampong halamannya ke berbagai daerah, untuk berusaha “mengubah nasib, peruntungan.”

Sebutan Orang Padang adalah sebutan lain dari Orang Minang. Kedua-dua sebutan itu, entah mana terkenalnya. Sebahagian besar perantau yang membuka usaha kedai nasi atau rumah makan diluar Provinsi Sumatera Barat, adalah mereka yang berasal dari Pariaman dan Kapau, kemudian orang yang berasal dari Kabupaten Tanah Datar dan Solok.

Masakan Pariaman, terkenal dengan masakan ikan lautnya. Gulai kepala ikan dan ikan panggang. Sedangkan masakan Kapau, terkenal dengan spesifiknya gulai sayur kacang panjang, lobak (kol) dengan nenas muda, sampai ke gulai itik. Pariaman merupakan daerah pesisiran pantai barat Pulau Sumatera. Sementara Kapau, berada di daerah “darek” yakni daerah yang terletak di “pegunungan,” tidak jauh dari Kota Bukittinggi.


BERSAMA HAJI CHAIRULSYAH BIN HAJI ABDULWASLI


Satu hari diantara beberapa hari berada di negeri jiran Malaysia, tepatnya saat berada di Negeri Melaka, setelah bersholat Zhuhur di Masjid Selat Melaka, bersama Pak Haji Chairulsyah bin AbdulWasli, orang Kampuang Pondok, Pariaman – Indonesia, yang mengajar di Melaka, kami akhirnya memasuki kawasan pusat perbelanjaan tak jauh dari Dataran Pahlawan yakni Parade Mahkota.

Setelah berkeliling sejenak, kemudian kami sampai ke salah satu lantai dimana pada lantai tersebut tersedia counter-counter makanan dan minuman. Tersedia berbagai jenis masakan. Tidak hanya masakan Melayu tapi masakan sejumlah etnik/Negara. Tentu saja diperuntukan kepada berbagai selera yang bersifat antarbangsa.

Pada salah satu tiang beton depan counter yang berjejer meja-meja makan, dengan pengunjung silih berganti dan ramai itu, aku melihat terpajang tulisan “Nasi Padang Pariaman” dan gambar foto menu masakan yang tersedia.

Begitulah. Pabila terlihat yang berkait dengan tanah kelahiran kita saat berada jauh di rantau, ada rasa yang tak mungkin dapat dijelaskan ke dalam tulisan. Walaupun kota kelahiranku sudah menjadi Kota Pariaman dan terpisah secara administrative wilayah Kabupaten “Padang Pariaman,” namun kami tetaplah “Orang Piaman.”




Memperhatikan tulisan itu, ada mengandung 2 maksud menurutku. Dimana antara tulisan “Nasi Padang” dengan “Pariaman” dibuat terpisah dan dijadikan 2 baris. Bagi kami Orang Minang otomatis mengetahui bahwa tempat itu merupakan tempat berjualan, “Nasi Padang,” dimana masakan dan pemiliknya adalah orang “Pariaman.”

Sebagai makan siangku, walau pun sudah beberapa hari jauh dari kampong halaman, aku tidak makan nasi dengan lauk berupa masakan “orang kampungku” itu. Aku hanya memesan nasi sup, agar hangat dan menerbitkan selera. Nasi sup, pada umumnya selalu tersedia di rumah-rumah makan Padang di berbagai tempat di Indonesia. (*)

1 komentar: