Minggu, 12 Februari 2017

SYAIR DALAM SEKAM, MUHAMMAD IBRAHIM ILYAS



Sejak pertengahan tahun 1970-an sebenarnya Muhammad Ibrahim Ilyas sudah mulai menulis puisi, diantara semangatnya yang “menggebu-gebu” bermain teater, semasa pada tahun-tahun tersebut semangat berkesenian dan dunia kepenulisan di media suratkabar daerah, di Sumatera Barat “memulai” era suasana kejayaan di kalangan orang muda yang luarbiasa.




Dimana pada masa ini (1970-an) sampai era tahun 1980-an telah melahirkan banyak nama-nama pengkarya dan penggiat dunia kesenian di daerah. Saling berkompetitif dan sangat kreatif. Masing-masing memiliki style dan “garapan” berbeda, sehingga masing-masing memiliki identitasnya. Hampir tak terlihat epigone dan berkarya “asal-asalan.”

Hal tersebut dimungkinkan, adanya “kehidupan” berkesenian yang kondusif di Pusat Kesenian Padang (PKP), kemudian dikenal sebagai Taman Budaya Padang, lalu kini bernama Taman Budaya Provinsi Sumatera Barat. Namun sepertinya kekal dilafazkan hanya dengan Taman Budaya Padang.

Lalu tersedianya sarana media suratkabar terbitan daerah, Harian Haluan, Singgalang dan Semangat, yang mempublikasikan karya-karya penulis dan membackup kegiatan kesenian yang diselenggarakan. Hal ini dimungkinkan, pada masa itu, tenaga redaksi, redaktur dan wartawan pada ketiga suratkabar tersebut adalah mereka-mereka yang berlatar kesenian dan kebudayaan. Mempunyai visi idealisme jurnalistik media dan idealisme seni dan kebudayaan tak diragukan. 

Walau pun sudah memulai menulis puisi dari rentang masa itu, Muhammad Ibrahim Ilyas yang dipanggil akrab lingkungannya sebagai Bram, lebih dikenali sebagai orang teater. Karena memang Bram lebih intens menjadi pemain teater, menjadi sutradara teater dan mengurus group teater.

Pada beberapa tahun terakhir ini, semenjak Bram mulai aktif memanfaatkan sarana media social fesbook, Bram muncul bergiat mempublikasikan karya-karya puisinya ke public yang lebih luas. Hingga akhirnya ia pun menerbitkan kumpulan puisinya yang pertama, “Ziarah Kemerdekaan” pada tahun 2015. Pada tahun 2016, menerbitkan buku kumpulan puisinya kedua, “Syair dalam Sekam.”




Judul: Syair Dalam Sekam
Sub Judul: Sejumlah Catatan
Penulis: Muhammad Ibrahim Ilyas
Penata Letak & Rancang Sampul: Kartakusumah
Halaman: 104
Penerbit: Arifha, Padang
Cetakan Pertama: 2016
ISBN: 978-602-14947-8-3

“Syair dalam Sekam,” memuat 63 judul puisi.
Buku ini dapat dikatakan tampil dengan “berani” karena “murni” menampilkan karya penulisnya tanpa mengikuti trend yang biasanya di banyak buku puisi selalu dilengkapi dengan kata pengantar dari ahli sastra dan endorsemen dari sejumlah orang yang memberikan advisnya.

abrar khairul ikhirma
abrarkhairul2014@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar