Selasa, 07 Februari 2017

PUISI WADAH SUARA KEMANUSIAAN



Menjadikan sebuah buku dari sekumpulan kertas kerja, makalah atau pengembangan pokok-pokok pikiran, adalah salah satu langkah upaya mendokumentasikan dan memperkaya literasi. Memudahkan pencarian jejak rekam dan memberikan alternative dunia bacaan.




Kertas kerja dan makalah yang dihadirkan para pembicara dari narasumber, pada Temu Penulis Asean 2016 dirangkum ke dalam sebentuk buku, dengan judul “Puisi Wadah Suara Kemanusiaan.”
 
Pada umumnya selama ini, kertas kerja dan makalah pada berbagai acara diperbanyak secara terpisah-pisah dan dibagikan kepada para peserta. Setelah acara berakhir, ada yang memang menyimpan setiap makalah tapi lebih banyak nasibnya berakhir hancur dan hilang begitu saja.

Setelah acara berlalu, ada satu dua penyelenggara acara yang berinisiatif membukukan. Tetapi hal tersebut tergantung inisiatif penyelenggara dan tergantung aktualitas dan relevansi atas apa-apa yang dibukukan. Tentu saja perwujudan itu dimungkinkan pada pertimbangan adanya program yang mendanai penerbitan dan kemungkinan bisnis sebagai latar pendukungnya.

Buku Puisi Wadah Suara Kemanusiaan, diterbitkan ITBM-Pena, sebagai penyelenggara Temu Penyair Asean 2016, Kuala Lumpur – Malaysia pada 2 – 3 September 2016, bertempat dua lokasi acara, Rumah Pena dan Auditorium Dewan Bahasa Pustaka, Kuala Lumpur. 




Judul Buku: Buku Wadah Suara Kemanusiaan
Editor: Mohamad Saleeh Rahamad
Penerbit: Institut Terjemahan & Buku Malaysia, Berhad
Halaman: 340
Cetakan Pertama: 2016
ISBN 978-967-460-391-5

Senarai Kandungan buku Wadah Suara Kemanusiaan:

Prakata oleh Mohd Khair Ngadiron, Pengarah Urusan/ Ketua Pegawai Eksekutif ITBM
Pengenalan oleh Mohamad Saleeh Rahamad, Presiden PENA

Puisi dan Jiwa Merdeka, Zawawi Imron – Indonesia
Puisi Suara Diri atau Suara Masyarakat, Muhammad Lutfi Ishak – Malaysia
Suara Penyair Suara Masyarakat, Ahmadun Yosi Herfanda, Indonesia
Merenung Kembali Puisi: Untuk Diri atau Untuk Masyarakat, Sa’eda Buang, Singapura
Puisi Siber di Brunei Darussalam: Satu Pembicaraan, Haji Mohamad bin Rajap, Brunei Darussalam

Penyair dan Kebebasan Ekspresi, Malim Ghozali Pk, Malaysia
The Filipino Poets an a History of Pain, Shirley O Lua, Filipina
Poet and Freedom of Expression, Oum Suphany, Kamboja
Konflik Penyair: Keluar Pintu Lama Masuk Pintu Baru, Hamed Ismail, Singapura

Contemporary Burmese Poets and Society, Han Lynn, Myanmar
The Responsibility of the Poet to Society, Pensupa Sukkata, Thailand
Peranan Penyajak dalam Masyarakat, Lim Swee Tin, Malaysia
Tanggungjawab Penyair dalam Masyarakat, Rukmi Wisnu Wardani, Indonesia

Selain kertas kerja dan makalah Temu Penyair Asean 2016, buku Puisi Wadah Suara Kemanusiaan ini juga menyatukan kertas kerja dan makalah Temu Penyair Asean 2015 tahun sebelumnya, yang menjadi pertemuan pertama, ke dalam kandungan isi buku yang sama.
Keanekaragaman  sebagai Kenyataan dan Ilham/ Diversity as Reality and Inspiration, Muhammad Haji Salleh, Malaysia

Melawan dengan Peluru Kata: Tanggapan Penyair Nusantara tentang Peperangan dan Ketidakadilan dari Jendela Retorik, Lim Kim Hui, Malaysia
Ketidakadilan, Perang dan Puisi, Free Hearty, Indonesia
Antidote for a Quarrel Bot Peak Brampi (The Seven Poetic Words Rhyme), KimPichpinun, Kamboja

Poetry and the Social Issue of Language, Rebecca T Anonuevo, Filipina
Social Engagement in the Poetry of New Generations Burmese Poests, Maung Day, Myanmar
Suara Kemanusiaan Penyair Melayu Singapura, Isa Kamari, Singapura

Peranan Penyair: Mengekalkan Puisi Supaya “Tak Lekang Dek Panas, Tak Lekok dek Hujan,” Haji Jawawi Haji Ahmad, Brunei Darussalam
Peranan Penyair: Pengalaman Tasikmalaya, Acep Zamzam Noor, Indonesia
Pandangan Sekilas Peranan Penyair dan Kesusasteraan Kita, Rasiah Halil, Singapura.

Buku Puisi Wadah Suara Kemanusiaan, baik cover, tata letak dan kualitas cetaknya dikerjakan dengan baik. Dilengkapi biodata penulis yang terhimpun dan disempurnakan sebagai standard sebuah buku yang dapat dijadikan sebagai bahan rujukan dengan indeks. Buku ini aku dapatkan, pada saat menjadi Peserta Temu Penyair Asean 2016, Kuala Lumpur – Malaysia.

abrar khairul ikhirma
abrarkhairul2014@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar