Minggu, 23 Oktober 2011

“Sang Penjaga” Sumur Nelayan

Lebaran lalu di akhir bulan Agustus dan awal September 2011, aku tidak memiliki agenda untuk bepergian kemanapun. Barangkali karena tak ada yang istimewa.Tentu saja oleh berbagai alasan juga. Akhirnya, aku memilih berlebaran di daerah kawasan pantai yakni Pantai Gandoriah. Pantai yang berdekatan dengan lokasi pasar, setasiun kereta, pemukiman dan perkantoran. Termasuk tidak begitu jauh dari “rumah singgah” tempatku bermukim pabila sampai di kota ini.


Dalam suasana lebaran itu, aku memilih dari pagi sampai malam hanya “nangkring” di pangkalan Kelompok Nelayan Putra Bahari, Pantai Gandoriah. Aku sudah banyak mengenal teman-teman nelayan di sini. Selain itu di seberang jalannya terdapat warung kopi yang pelanggannya juga adalah para nelayan. Hal itulah yang membuatku bertambah betah untuk “nangkring” berlama-lama di sini. Di bawah kerimbunan pohon waru dan ketaping yang ditanam sepanjang pantai.


Di hari ketiga setelah lebaran, aku menyediakan diri sebagai relawan “penjaga sumur pak nelayan.” Sumur itu difungsikan untuk umum buat buang air kecil dan untuk mandi airtawar setelah mandi-mandi air laut. Ternyata banyak yang merasa terbantu dengan adanya sumur itu. Tak keberatan untuk memberikan sumbangan lebih. Padahal untuk kencing Rp.1000 per-orang dan mandi Rp.2000 per-orang. Sukarela dari pagi sampai sore untuk “menunggui” sumur itu selama sepekan. Tidak sekadar menerima uang saja bahkan acap menimbakan air untuk memandikan anak-anak pengunjung. Sampai akhir masa lebaran terkumpul uang sebanyak Rp.1.460.000,-


Sekitar akhir tahun 2010 lalu, diprakarsai sejumlah anggota kelompok nelayan, membuat sumur airtawar mengatasi kesulitan mereka mandi pabila pulang dari melaut. Sebelumnya satu dua hanya menumpang mandi di sumur-sumur penduduk sekitar. Tak jarang pula mereka lebih memilih pulang, karena sumur sering dipakai pemiliknya. Pendirian sumur murni dibiayai dan dikerjakan bersama-sama saat mereka lagi tidak melaut. Lokasi tidak jauh dari bawah pohon waru dan ketaping, arah ke pantai, dimana biasanya biduak-biduak mereka parkir sebelum dan sesudah melaut.

Meskipun kawasan ini sudah dijadikan sebagai objek wisata oleh pemerintah, dua kelompok nelayan tetap bertahan menjadikan pantai ini sebagai pangkalan mereka pergi-pulang dari melaut. Pagi hari sejumlah kapal-kapal penangkap ikan jenis bagan bersauh tidak jauh dari pantai, membongkar hasil tangkapannya. Begitu juga, biduak –perahu—bercadik berjejer, hanya berjarak beberapa ratus meter ke arah selatan dari pentas utama pertunjukan lokasi wisata pantai ini.


Sejak sumur itu dibangun, nelayan tidak sulit lagi untuk mandi sepulang melaut. Terutama yang pulang lebih awal dapat segera mandi tanpa harus pulang dulu ke rumah mereka atau menumpang di sumur penduduk. Sebab mereka harus menunggu teman-teman mereka yang belum pulang, terkadang menunggu sampai pkl.21-22 wib malam. Menurun dan menaikkan biduak dari laut tidak bisa dilakukan sendiri. Memerlukan bantuan tenaga beberapa orang. Itulah solidaritas nelayan. Jika membantu orang lain, mereka pasti akan dibantu pula. Begitu sebaliknya.


Kondisi sumur yang dipagar seadanya selama ini dengan spanduk, kurang enak juga dipandang mata jika ada keramaian, terutama bagi pengunjung yang makan-makan di sekitar sumur, Niang Edy, Jomiang, Jang Pagai, Syaf dan beberapa nelayan lainnya secara spontan menggunakan momentum “keramaian lebaran” mendapatkan dana awali untuk biaya pemagaran. Dilihat pemakaian sumur di hari pertama dan kedua lebaran banyak yang menggunakan untuk mandi. Barulah di hari ketiga lebaran (1/9/11) dipasang tenda penutup, dan dipungut sumbangan.


Pada 5 Oktober 2011 Niang Edy dan kawan-kawan nelayan akhirnya secara gotong-royong membangun pagar sekeliling sumur dengan dana awal hasil di hari lebaran lalu. Tambahan biaya pun mengalir secara pribadi dari mereka yang sehari-hari di pantai itu. Baik nelayan, pemilik bagan, teman-teman nelayan yang suka mampir di pangkalan Kelompok Nelayan Putra Bahari. Pembangunan yang mereka lakukan sampai-sampai diberitakan di Suratkabar Harian Singgalang (13 Okt 2011).


Di hari biasa dan hari libur sumur yang dibangun nelayan ini sangat penting peranannya mendukung keberadaan objek wisata. Selama ini tidak dipungut biaya sama sekali untuk mandi. Nelayan menyadari kesulitan pengunjung atas minimnya fasilitas umum di objek wisata ini. Mereka membolehkan sumur digunakan meski seringkali banyak pengunjung meninggalkan sampah sembarangan di sekitar sumur. Sampah kemasan shampoo, sabun, pempers bayi bahkan bekas kemasan makanan. (abrar khairul ikhirma-23-10-11)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar