Jumat, 21 Oktober 2011

Ke Surau Mudiak Padang

AKU datang tidak pada waktu yang tepat. Cuaca menjelang tengah hari tadi 19/10/11 di Tandikek kurang bersahabat. Di langit mendung membuat tirai dengan matahari sehingga, cahaya kelihatan memburam. Otomatis ada nuansa pemotretan dengan kapasitas camera sangat terbatas, menjadi suatu ancaman. Kualitas gambar bertambah kurang bagus. Apa boleh buat. Aku sudah berada di Tandikek di dalam keadaan begitu.


Beberapa kali ke Tandikek sampai ke Cumanak, baik saat hangat-hangatnya penanganan bencana Gempa 30 September 2009, maupun setelah bencana berlalu melewati hitungan tahun. Namun tak sempat aku untuk mampir melihat bangunan Surau Mudiak Padang, yang tidak jauh dari Balai Nagari Tandikek.


Surau Mudiak Padang adalah salah satu surau tua. Surau yang memiliki arti penting dalam syiar keagamaan di daerah ini. Terletak di tengah areal persawahan dan serasa dekat saja, dikepung oleh latar pemandangan Gunuang Tigo dan Gunuang Singgalang. Udara yang sejuk dan tanah yang subur, menjadi ikatan lain memberikan semangat pertanian bagi penduduk setempat untuk bercocok-tanam. Demikian juga spirit spiritual yang kental.


Arsitektur bangunan dan usianya sungguh membuat aku menganggap bangunan ini penting diselamatkan. Bahkan kalau memungkinkan, pemerintah dan masyarakat menjadikan radius tertentu di kawasan sekitar areal surau, menjadi lahan pertanian heritage. Lahan yang tidak boleh dibangun tapi didorong agar setiap tahun untuk digarap menanam padi atau palawija. Tentu saja dilindungi undang-undang dan kesepakatan penuh dari segala unsure terutama masyarakat nagari setempat.

Bagi masyarakat Pariaman arah “lawuik” di daratan rendah atau ke arah barat dari Nagari Tandikek, menyebut Nagari Tandikek dengan “Mudiak Padang.” Ada yang berpendapat, konon nama Mudiak Padang mereka katakan tersebab masyarakat yang bermukim di daratan rendah, daerahnya Tandikek berposisi atau terletak setelah Nagari Padang Sago. Posisi demikian mereka sebut adalah “mudiak” atau ke “atasnya.” Jadi Mudiak Padang adalah daerah mudiak dari Padang Sago. Kini secara administrative pemerintahan, Nagari Tandikek masuk dalam wilayah Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padangpariaman.


Seingatku, Surau Mudiak Padang adalah tempat “pengajian” sejak dulu-dulunya, tempat orang-orang yang ingin memperdalam ilmu dan kehidupan keagamaan Islam. Surau ini juga memiliki peranan besar dalam masa perjuangan melawan penjajahan. Surau Mudiak Padang (konon) didirikan Syech Muhammad Yatim. Makamnya terletak tidak berapa jauh dari surau, tepatnya ke arah lawuik atau arah baratnya. Tetapi aku tadi tidak sempat untuk melihat langsung ke makam beliau.


Surau Mudiak Padang di waktu Gempa 30 September 2009 lalu mengalami kerusakan serius. Konon surau ini telah dijadikan sebagai Cagar Budaya oleh pemerintah. Tadi saat aku mengunjungi, sedang berjalan renovasi surau. Tampaknya memang dilakukan renovasi dikembalikan sebagaimana aslinya. Mudah-mudahan tidak menyimpang seperti dijumpai di bangunan-bangunan surau, contohnya bangunan Surau Kuraitaji di wilayah Pariaman Selatan, Kota Pariaman yang saya lihat, sangat jauh dari bentuk asli sebelum terkena gempa.


Begitu juga, amat disayangkan, bangunan Surau Mudiak Padang di depannya terhalang bangunan yang sama sekali merusak keberadaan arsitektur yakni bangunan untuk pesantren ??? Kalau memang Surau Mudiak Padang merupakan cagar budaya, semestinya bangunan itu dipindahkan ke lokasi lain yang masih berkait dengan surau tapi tidak merusak keberadaan surau itu sendiri. (abrar khairul ikhirma-19-10-2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar