Jumat, 07 Oktober 2011

PULAU UJUANG: Ula Gerang dan Karang Nan Badarai

CATATAN BAGIAN PERTAMA “SEKALI BERDAYUNG, TIGA PULAU TERKUNJUNGI” 04-10-2011

PULAU UJUANG adalah nama pemberian orang kelaut (para nelayan). Terletak di depan antara Pantai Karan Aua dan Sunua, Pariaman. Merupakan satu dari tiga pulau yang nyaris berdekatan letaknya yakni dengan Pulau Tangah dan Pulau Anso Duo. Pulau Ujuang tidak banyak dikunjungi masyarakat umum kecuali satu dua nelayan menjadikannya sebagai persinggahan sebelum dan sesudah melaut. Kadangkala tidak jauh di salah satu sisi pulau, kapal-kapal bagan menjadikan lokasi bersauh, setelah bongkar muatan ke Pantai Karan Aur, sebelum kembali melaut. Sebagaimana biasanya bagan akan berlindung dari hantaman angin dan ombak di belakang pulau, jika cuaca sedang tak bersahabat. Pada saat berkunjung ke Pulau Ujuang, hanya ada satu bagan yang bersauh, tidak jauh dari pulau.


Saya berangkat dari Pantai Gandoriah pukul 8.40 WIB dengan biduak (perahu) bercadik, bermesin berkekuatan 5 pk. Perjalanan ini hanya suatu kebetulan saja dan tidak direncanakan sama sekali sehingga, tidak ada persiapan apa-apa. Misalnya saja membawa makanan dan minuman dan camera yang memadai untuk mendokumentasikan. Soalnya selain memiliki hobi melakukan perjalanan, saya juga memiliki hasrat yang besar di dalam hal pemotretan. Tiada salahnya jika mengatakan perjalanan ini adalah perjalanan yang spontan saja. Saya diajak oleh Kak Saad dan Lelen, dua teman nelayan yang akan berangkat untuk “manjalo” (menjala) ikan di sekitar pulau. Keduanya memang sering pergi manjalo ikan ke ketiga pulau yang disebutkan diatas.


Terus terang, saya sendiri sudah lama memiliki keinginan untuk mengunjungi pulau-pulau kecil di depan pantai itu. Namun selalu saja belum mendapatkan waktu yang tepat. Ketika ditawari untuk pergi saat itu, saya menolak. Persoalannya sekali lagi, karena tidak memiliki persiapan. Keduanya mendesak mengajak saya, membuat saya akhirnya “memenuhi” juga tawaran yang amat menarik itu. Cuaca sangat bagus. Laut hanya membuat alunan dan tidak memiliki arus yang kuat. Tidak seperti beberapa pekan sebelumnya, cuaca dan laut sangatmengkhawatirkan. Sangat mudah berubah-rubah. Kata orang laut, lagi musim perkisaran. Angin dari Selatan sangat jahat tapi kenyataannya lebih jahat cuaca yang tidak menentu.


Tujuan pertama adalah Pulau Anso Duo. Kami tidak merapat ke dermaga tetapi langsung ke bagian sisi Utara pulau, setentang bangunan “Surau Katik Sangko” yang beberapa waktu lalu dibangun Pemerintah Kota Pariaman. Baru saja selesai menambatkan biduak, Lelen sudah lebih duluan menyisir pantai. Saat itu pasang baru akan turun. Sekali menebar jalanya, langsung saja mendapat banyak ikan “nyiua” mirip ikan bawal. Maka terisilah sepertiga karung yang sudah disediakan untuk mengumpulkan hasil tangkap. Kami hanya sebentar di Pulau Anso dan bergegas menuju Pulau Ujuang. Melewati begitu saja Pulau Tangah. Kegembiraan terpancar di wajah Kak Saad dan Lelen. Soalnya, baru saja menebar jala, sudah menghasilkan cukup banyak ikan.

Sampai merapat di Pulau Ujuang aman-aman saja. Kami melabuhkan biduak ke bibir pantai di sisi Utara pulau. Sisi Utara Pulau Ujuang agak melengkung membentuk seperti teluk walau bukan teluk. Saat itu tidak berombak hanya berupa alun yang lunak. Bagian ke tepi air pasirnya sangat bersih dan airnya sangat jernih. Suasana sangat tenang, seakan jauh dari kehidupan. Padahal dari sini Pantai Pariaman masih kelihatan. Terutama pucuk-pucuk tanaman dan petak-petak bangunan sepanjang pantai. Baru saja melompat turun, Kak Saad memberitahu bahwa ada “Ula Gerang.” Aku melongok ke arah yang ditunjukkan Kak Saad yakni di sisi kanan biduak, di dalam air yang jernih sang ular meliuk-liuk. Panjangnya satu meter lebih. Sebesar lengan. Berwarna seperti zebra cross, hitam dan putih.


Ada apa dengan Ula(r) Gerang? Sudah lama aku mendengar nama Ula Gerang. Nama yang sangat spesifik bagiku. Suatu nama yang sangat sastra, sangat puitis. Soalnya di dalam pantun-pantun Indang (kesenian tradisional Pariaman) namanya sering terselip. Termasuk dalam bait-bait lagu Minang ada yang menyebutkan nama Ula Gerang. Bahkan salah satu lagu gamad menjadikannya sebagai symbol yakni “Ula Gerang Mati Dibunuah.” Kali inilah aku menyaksikan sendiri Ula Gerang itu. Ula Gerang bagi para orang kelaut atau nelayan di pesisir pantai ranah Minang sudah diketahui turun temurun. Soalnya Ula Gerang adalah ular laut yang paling berbahaya dibandingkan ular-ular lain. Dia memiliki bisa yang mematikan.


Naik agak ke atas dari menambatkan biduak, wah… ternyata langsung melihat serakan sampah-sampah bermacam-macam. Salah satunya bungkus plastic dan botol-botol minuman kemasan. Sampah-sampah itu jelas berasal dari kawasan pantai, yang dibuang masyarakat ke laut, lalu dihempaskan ombak ke Pulau Ujuang. Sampah-sampah itu sangat mengotori sudut pulau yang menghadap ke pantai, arah Timur pulau. Saya terus menyisir pantai sisi Timur melewati serakan sampah itu menuju arah Selatannya. Pantai pulau membentuk tebing digerus ombak yang keras. Aku memilih berjalan di ujung ombak tempat menghempas. Semakin arah Selatan pulau, banyak terserak karang-karang membentuk seperti kerikil. Karang-karang nan badarai (yang berserpihan). Menurut teman nelayan, itu adalah karang-karang yang hancur dibawa ombak, karena praktek pengeboman karang oleh mereka yang tidak bertanggungjawab dalam mencari ikan.


Abrasi pulau bukanlah hal yang mencengangkan. Pemandangan ini juga terjadi di Pulau Ujuang. Ada pohon-pohon yang tersisa tumbang ke laut. Memang pulau dikungkung oleh hamparan karang, bagaikan tapak lebar tapi saat pasang naik, ombak akan mudah mencapai pulau. Pasirnya sungguh bersih jika tidak dipenuhi sampah. Buktinya, arah selatan pulau sedikit memiliki pantai, walau tidak luas, sangat menyenangkan untuk dapat mengelilinginya. Cuma sayang, jika dibandingkan dengan dua pulau lainnya Pulau Tangah dan Pulau Anso Duo, Pulau Ujuang tampaknya sangat sedikit pohon kelapanya. Begitu juga pohon-pohon lainnya. Memang bersemak belukar tapi jika pepohonan kelapa dan pohon-pohon lainnya kurang, tentu akan mempercepat kerusakan pulau ini. Akibatnya tentu akan berpengaruh besar bagi kawasan pantai sepanjang pesisir Pariaman sendiri. (abrar-khairul-ikhirma-04-10-2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar