Jumat, 06 Januari 2017

JEJAK MASALALU BUNG KARNO DI MASJID JAMIK BENGKULU



Masjid Jamik Bengkulu berdiri di jantung Kota Bengkulu, yakni di Jalan Letjen Soeprapto, Kelurahan Pengantungan, Kecamatan Gading Cempaka, Bengkulu. Sebelumnya masjid dibangun di kelurahan Kampung Bajak, Bengkulu dekat dengan pemakaman Sentot Ali Basya, teman seperjuangan Pangeran Diponegoro yang dibuang Belanda ke Bengkulu. Kemudian pada awal abad ke-18 masjid dipindahkan ke lokasi sekarang. Bangunan awal berbentuk sangat sederhana, yakni terbuat dari kayu, beratapkan daun rumbia, dan keadaan lantai yang sederhana.




Pada abad ke-20 masyarakat ingin melakukan perbaikan masjid. Keinginan tersebut bersamaan dengan dibuangnya Bung Karno beserta keluarganya ke Bengkulu pada tahun 1930. Pada saat itulah Bung Karno membantu masyarakat dalam merancang perbaikan masjid. Sebagai arsitek, Bung Karno tetap mempertahankan semua bangunan lama. Seperti dinding yang hanya meninggikan 2 meter dan lantai yang ditinggikan 30 cm. 

Adapun yang dirancang oleh Bung Karno adalah bagian atap dan tiang-tiang masjid. Atap masjid berbentuk tumpang tiga, dimana atap tingkat dua dan tiga berbentuk limasan kerucut dengan celah pada pertengahan atap. Kemudian pada beberapa bangunan ditambahkan tiang-tiang yang diberi ukiran (pahatan) berbentuk sulur-suluran pada bagian atas.



Halaman Masjid Jamik Bengkulu berbentuk segitiga dan diberi pagar besi dengan pilar pasangan batu. Pintu pagar berdaun dua terbuat dari besi. Masjid terdiri atas tiga bangunan yang saling menyatu, yakni serambi, ruang utama, dan tempat wudhu. Bangunan serambi berdenah persegi panjang berada di bagian depan. Serambi merupakan bangunan tambahan seiring bertambahnya jemaah sholat. Lantai serambi terbuat dari ubin teraso putih, sedangkan dindingnya terbuat dari tembok dan diatasnya diberi teralis besi.

Pintu serambi berjumlah dua terbuat dari teralis besi. Di setiap sudut serambi terdapat pilar yang berdiri di atas dinding tembok serambi. Diantara tiga pilar yang ada, hanya ada satu pilar yang diberi hiasan sulur-suluran warna emas. Bangunan serambi ditopang oleh dua buah tiang yang berbentuk segi delapan, dimana bagian atasnya terdapat profil dari kayu yang berbentuk list. Bagian depan serambi berdiri lima buah tiang pilar yang dibuat dari pasangan batu. Adapun bagian plafon serambi terbuat dari kayu lapis, sedang atap serambi terbuat dari genteng berbentuk limasan.



Di belakang bangunan serambi terdapat ruangan utama yang berdenah persegi. Lantainya terbuat dari flour yang ditutupi dengan karpet hijau. Pintu masuk ruang utama berjumlah tiga dan setiap pintu berdaun dua, terbuat dari kayu yang dikombinasikan dengan kaca. Di ambang pintu terdapat hiasan kaligrafi ayat Al-Qur’an. Ruang utama ditopang oleh lima buah tiang yang terbuat dari pasangan batu, tiga buah diantaranya berada di tengah berhiaskan sulur-suluran pada bagian atasnya. Di samping kiri dan kanan ruang utama terdapat selasar yang memiliki tiga buah pintu berdaun dua. Pada bagian atas pilar pintunya berhiaskan sulur-suluran.

Pada sisi barat dalam ruang utama terdapat mihrab yang memiliki sebuah pintu ke tempat penyimpanan al-Qur’an dan memiliki jendela berteralis besi. Sebelah kiri dan kanan mihrab bagian depan berdiri pilar hiasan yang bagian atasnya berbentuk segitiga dan bertuliskan kaligrafi. Adapun mimbar masjid berada tepat di sebelah kanan mihrab, terbuat dari pasangan batu yang diberi dua buah kubah seng alumunium.




Mimbar memiliki empat buah anak tangga, dimana anak tangga kelima berfungsi sebagai tempat duduk khatib. Sedangkan di bagian belakang mihrab terdapat ruangan yang difungsikan sebagai tempat penyimpanan al-Qur’an dan tempat pengurus masjid. Atap masjid ini berbentuk tumpang tiga, dimana pada atap pertama dan kedua terdapat celah sirkulasi udara. Atap terbuat dari seng alumunium dan puncaknya memiliki mustaka yang berbentuk seperti payung yang menguncup.




Bangunan lain yang berada di kompleks Masjid Jamik Bengkulu adalah tempat wudhu berdenah persegi panjang dengan fondasi dari batu karang dan dindingnya dari pasangan batu. Bagian atap tempat wudhu dibuat tidak terlalu tinggi dan menyatu dengan atap selasar. Penutup atap terbuat dari seng dengan mustaka di bagian puncaknya. Dinding tempat wudhu tidak menyatu dengan atap. Diantara keduanya terdapt celah yang berfungsi sebagai ventilasi. Untuk memasuki tempat wudhu ini dapat melalui enam pintu yang ada di ruangan kecil tersebut.

Sumber: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1999). Masjid Kuno Indonesia. Jakarta: Proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Pusat.
Foto: Abrar Khairul Ikhirma (2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar