Minggu, 29 Januari 2017

WANITA ASING ITU AKHIRNYA “MARESEK” TABUIK PASA



Tabuik, merupakan tradisi Orang Piaman, masyarakat pesisiran di pantai barat Pulau Sumatera. Acara Tabuik diselenggarakan mengambil momentum bulan Muharam setiap tahun. Perayaan seni tradisi, kegembiraan dan silaturahmi. Dari berbagai tempat orang berdatangan ke Kota Pariaman pada hari puncak Tabuik. Pada momentum itu pulalah Pariaman ramai. Sesudah acara Tabuik usai, daerah ini kembali dengan aktifitas dan suasananya. Tenang. Yang senantiasa digambarkan dengan “lengang.”




Menurut tradisinya tepat pada 10 Muharam Tabuik dipertontonkan dengan atraksi dihoyak dengan iringan music tradisi gandang tasa, Kemudian diakhiri pada saat siang bersambut malam, Tabuik dibuang ke laut Samudera Hindia. 

Pada decade terakhir, Tabuik menyusut menjadi pesta atau alek dua nagari saja. Kenagarian Pasa dan Kenagarian V Koto Aia Pampan. Kini dua nagari ini masuk dalam perubahan wilayah administrative menjadi kelurahan-kelurahan di Pariaman Tengah, Kota Pariaman, Provinsi Sumatera Barat.

Menjelang hari puncak penyelenggaraan acara, dilaksanakan pembuatan Tabuik di kedua nagari. Tempat pembuatan Tabuik ini disebut juga dengan Pondok Tabuik yang berdampingan dengan Daraga Tabuik, pada awalnya kedua lokasi ini bertempat di sekitar Rumah Tabuik yang menjadi rumah Pewaris Tabuik di kedua nagari masing-masing.

Selama pembuatan Tabuik di Pondok Tabuik, semacam yang terjadi pada setiap pembuatan Tabuik Pasa, dari tahun ke tahun, ada saja yang tanpa diminta ikut berpartisipasi membantu pekerjaan “si tukang tabuik” (pekerja yang ditunjuk membuat Tabuik). Mereka yang berdatangan silih berganti ---baik siang, maupun malam--- adalah masyarakat sekitar atau masyarakat luar dari kedua nagari. Selain sekadar melihat proses pengerjaan, diantaranya ada yang ikut membantu dengan sukarela. Itu merupakan kebanggaan tersendiri bagi yang bersukarela.

Keterlibatan masyarakat pengunjung turut serta membantu pekerja pembuat Tabuik, sudah tidak asing selama pembuatan Tabuik Pasa dari tahun ke tahun. Ini menunjukkan peranan keikutsertaan dari semangat gotong-royong yang spontanitas.




Dengan terjadinya regenerasi pembuat Tabuik Pasa, dalam beberapa tahun ini dipercayakan pembuatannya kepada Azwar dan kawan-kawan Fandos Grupnya, Azwar tidak pernah membatasi keterlibatan masyarakat dan pengunjung yang ingin “ikut berkerja” sebagai bentuk partisipasi spontan itu. Bahkan dari awal sampai akhir, masyarakat dan pengunjung tak pernah dibatasi kebebasannya di lokasi pembuatan Tabuik.

Azwar dan kawan-kawan pekerjanya, tidak pernah merasa terganggu dan takut rusak dengan Tabuik yang dikerjakannya. “Bagaimana kami akan melarangnya, kami hanya pembuat, sedang pemiliknya adalah masyarakat. Tidak mungkin masyarakat dan pengunjung datang ke sini untuk merusak milik mereka sendiri. Mereka datang untuk melihat dan timbul keinginannya untuk menyentuhnya bahkan, ada turut membantu membuat hiasan dan memasangkannya,” ujar Azwar Sang Pembuat Tabuik Pasa.

Semacam yang terjadi pada pembuatan Tabuik Pasa tahun 2016, ada seorang “asing” yang sengaja datang mengikuti prosesi. Seorang wanita. Konon untuk penelitiannya. Wanita ini mengikuti dari awal prosesi sampai prosesi berakhir. Hampir selama mengikuti prosesi, wanita ini sebahagian besar menghabiskan waktunya untuk mendatangi pembuatan Tabuik Pasa yang dikerjakan Azwar dan kawan-kawan. Dia betah memperhatikan kegiatan pekerjaan dan hasil-hasil kerja dari hari ke hari. Mungkin karena keterbatasan bahasa, sehingga dialog antar wanita dan para pekerja tidak berlangsung mulus. Lebih kepada bahasa isyarat.




Pada hari terakhir pengerjaan Tabuik, dimana berlangsung pekerjaan finishing, wanita asing ini dari pagi sudah terlihat di pondok pembuatan Tabuik Pasa di Karan Aua. Ia dengan tekun memperhatikan semua aktifitas dan terlihat sangat menikmati suasana kebersamaan. Sampai akhirnya, sang wanita dari Iran ini tak dapat menahan keinginannya. Selama ini hanya berulangkali melihat dan menyentuh, akhirnya ia memberanikan diri turut serta memasangkan hiasan. 

Ekspresinya luarbiasa memancarkan kebahagiaan. Jauh-jauh datang dari negerinya, ia diizinkan untuk turut serta ikut bekerja dalam proses Tabuik Pasa. Wanita itu puas “maresek” ---menyentuh/memegang/memasang---  hiasan Tabuik (*)

abrar khairul ikhirma
abrarkhairul@gmail.com   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar