Selasa, 21 November 2017

"WALIKOTA SASTRA" BANJARBARU

Sulit untuk menemukan “pemimpin” di Indonesia berpihak kepada “budaya” dalam masa kepemimpinannya. Kalau sekadar hanya “retorika” misi-visi, hampir semua calon dan pemimpin pasti menulis dan menyebutkannya. Tidak lengkap kalau tidak mencantumkan perihal budaya menjelang “terpilih.”




SEKELUAR dari lobby Summit Signature Hotel di kawasan Jalan Puchong, bersama teman sebilik yang baru kukenal, Diding Tulus (dari Bandung), langsung dihampiri Hudan Hidayat (dari Jakarta), yang juga baru kukenali, mengajakku untuk minum, menunggu keberangkatan menuju tempat pembukaan acara Seminar Internasional Sastera Melayu Islam yang kami hadiri dari Indonesia.

Aku menerima tawaran itu, maklumlah selama ini kami hanya saling kenal nama saja melalui media social dan belum pernah berjumpa. Kami bertiga memasuki restaurant dan café yang terletak berdampingan dengan lobby hotel. Saat mencari meja yang akan kami gunakan, nyatanya, tokoh penyair gurindam dari Kalimantan Selatan, Iberamsyah Barbary mengajak bergabung di mejanya saja. Di meja itu sudah ada beberapa orang lebih dulu berkumpul.

Kami pun turut bergabung pada meja makan panjang yang sama. Alasannya, untuk saling mengakrabkan hubungan sesama orang kesenian. Sama-sama datang ke Kuala Lumpur menghadiri acara yang sama, yang diselenggarakan Numera Malaysia dan Masjid Abdul Rahman bin Auf Kuala Lumpur.

Iberamsyah berjarak beberapa kursi dari dudukku, diantara mula percakapan saat itu, menyebutkanku sebagai Tokoh Patria Numera 2017 yang akan dinobatkan. Ucapannya itu terkesan bagiku ditujukan kepada “seseorang” di hadapan kami. Orang tersebut bersebelahan denganku. Orang yang berulangkali menawarkan kami semua untuk memesan makanan dan minuman. Akhirnya hanya minum “teh tarik” saja tanpa makanan sepetang itu. Karena aku terikut berbasa-basi.

Aku hanya mendengarkan percakapan saja. Topik pembicaraan perihal potensi dan kegiatan kesenian yang tengah berlangsung di Kota Banjarbaru. Bukan aku tidak tertarik terlibat pembicaraan, akan tetapi susasana diriku di tempat semacam ini, seringkali tidak mampu membuatku merasa santai. Ditambah lagi orang-orang di hadapanku baru berjumpa dan belum sepenuhnya aku “kenali.”




Baru seteguk teh tarik kuminum, akhirnya bersama Hudan, memohon diri untuk duduk diluar, di meja-meja yang berada di teras depan restaurant dan café hotel. Petang hari menjelang maghrib. Tujuanku bersantai merokok. Bersama Hudan Hidayat. Topik pembicaraan tidak jauh dari persoalan sastra. Terutama perihal “Numera” dan teman-teman sastra.

Baru beberapa menit saja turut pula bergabung penyair dan pengajar Siamir Marulafau dari Medan, Sumatera Utara dan monologer Nuyang Jaimee asal Jakarta. Akan terbentuk suatu percakapan lepas, datang pulalah Iberamsyah Barbary, Sirajul Huda dan dua orang lagi turut bergabung. Maka meja kecil di hadapanku menjadi “sesak” tapi “menjelma” suatu peristiwa kecil yang menyenangkan saat itu.

Bagi kami kalangan seniman di Sumatera Barat, terutama dalam rentang tahun 1970 sampai 1990-an, hal serupa ini sudah menjadi hal biasa. Sudah tradisi terjadi begitu saja setiap acara kegiatan kesenian dan budaya diselenggarakan. Kami menyebutnya sebagai “acara maota-ota.” Suatu percakapan dan diskusi lepas oleh beberapa orang terjadi secara situasinal dan spontan.

Kelebihannya dari maota-ota demikian, semua yang ada adalah “bintang.” Tak ada yang menjadi tokoh menonjol atau pusat pembicaraan dan perhatian. Tidak pula ada sifat ingin menguasai pembicaraan. Setiap orang memiliki hak bicara sepanjang berada dalam “lingkaran.” Leluhur kami menyebutnya suasana semacam ini, “bakisa di lapiak nan salai.”

Satu sama lain memiliki pembicaraan kreatif menghidupkan suasana. Biasanya diantara yang ada saat itu, satu orang sendirinya memposisikan dirinya sebagai “janang.” Dalam hal forum resmi disebut sebagai “moderator” tapi tidak hanya sekadar berperan sebagai moderator saja, namun kerap juga “biang keladi” terjadinya intensitas percakapan dinamik.

Tak ada senioritas atau pun junioritas terjadi sehingga, pembicaraan mengalir begitu saja. Tak jarang memunculkan ide-ide bahkan kritik pedas atau pun candaria tawa. Karenanya di berbagai kegiatan acara-acara kesenian dan kebudayaan, peristiwa semacam ini seringkali disebutkan, momen “acara maota” itulah acara “sesungguhnya” dari acara yang mereka hadiri. Sebab kesimpulan dan keputusan acara resmi, seringkali malah “terlahir” dari hal semacam yang tidak resmi itu.

Pada waktu singkat menjelang maghrib, di selingkar meja di hadapan, duduk di kursi bersebelahan denganku, seorang yang datang bersama rombongan penyair Iberamsyah Barbary, terpancar keramahan yang familiar. Sehingga dengan singkat, ia pun menjadi titik perhatian kami semuanya. Sejenak, aku pun teringat, jauh sebelum kedatangan ke Kuala Lumpur, pernah membaca status fb Iberamsyah yang ditujukan kepada SN Dato’ Dr Ahmad Khamal Abdullah selaku pengerusi acara, mengabarkan kepastian ia dengan beberapa teman sastra akan datang bersama Walikota Banjarbaru.




Walau pun sejumlah pertanyaan diajukan oleh Nuyang Jaimee dan Hudan Hidayat kepada “seseorang” ini dalam percakapan lepas itu, setiap kali menjawab pertanyaan entah kenapa ia “seakan”  selalu “tertuju” kepadaku.  Diantara itulah, aku tersadar bahwa yang berada di sebelahku merupakan Walikota Banjarbaru. Patutlah ia memberikan gambaran sekitar perkembangan kegiatan seniman dan kesenian yang terjadi di Banjarbaru. Termasuk upaya menggerakkan potensi budaya, disertai usaha kerajinan masyarakat berbasiskan budaya.

Waktu percakapan sekejap itu, aku dapat memberikan penilaian kepada Sang Walikota, ia memang memiliki harapan besar bagi kemajuan di daerahnya. Dari cara ia mempresentasikan saat itu, aku dapat menyimpulkan, ia tidak hanya seorang Penjabat, tidak hanya seorang personal pemerintahan saja tapi seorang personal menguasai “masalah” yang sedang “dibicarakan.” Menunjukkan intelektual personality dan kecintaan kepada seni dan budaya.

Kehadiran seorang tokoh pemimpin pemerintahan daerah, Drs. H. Nadjmi Adhani, M.Si, dari Indonesia, pada peristiwa sastera oleh Numera di Kuala Lumpur ini, setidaknya patut dicatat suatu hal berharga memberi “pencerahan” terhadap pandanganku di atas. 

Nadjmi Adhani, Walikota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, khusus datang dari Indonesia, mengikuti “Seminar Internasional Sastera Melayu Islam.” Diikuti sastrawan, akademisi, pemerhati, dari Malaysia, Indonesia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam dan Bangladesh.

Selain menjadi peserta seminar, Nadjmi Adhani dari awal mula, sudah diberitahu panitia seminar dan Numera, diberikan kehormatan untuk memasangkan “tanjak” (songkok kehormatan budaya Melayu) menandai penobatanku sebagai Tokoh Patria Numera 2017, satu dari empat tokoh yang dinobatkan di Dewan Al-Ghazali, Masjid Abdul Rahman Bin Auf, Kuala Lumpur, pada malam 29 September 2017.

Drs. H. Nadjmi Adhani, M.Si (lahir di Banjarmasin, 27 September 1969) adalah walikota Banjarbaru yang menjabat pada periode 2016 hingga 2021, ia menggantikan walikota sebelumnya Ruzaidin Noor. Terpilih sebagai Walikota pada pilkada 2015, berpasangan dengan Darmawan Jaya Setiawan.

Sudah tidak rahasia lagi, penjabat-penjabat pemerintahan, pabila keluar dari daerah kerjanya, mengikuti acara-acara serupa ini, biasanya hanya “suka setor wajah.” Apalagi pada acara seni dan budaya. Momentum acara diluar daerah kerjanya yang dihadirinya hanya menjadi alat sebagai alasan untuk menggunakan masa “melancong.” Di waktu pembukaan acara dia hadir. Sesudah itu menghilang. Yang terlihat mengikuti acara hanya stafnya. Penjabat itu baru terlihat lagi di acara penutupan.

Sepanjang rangkaian acara seminar, Walikota Banjarbaru ini terlihat mengikuti dengan baik. Sayang aku tidak memiliki kesempatan untuk melakukan percakapan lebih jauh dengannya. Namun sikapnya pada saat kehadirannya, ia adalah seorang yang familiar. Akan bersemangat pabila bercerita perihal budaya dan potensi Banjarbaru.

Selepas acara penobatan Tokoh Numera 2017, ketika acara malam kedua berakhir, aku dan Walikota berjumpa di pintu keluar Dewan Al Ghazali untuk kembali ke hotel. Kami saling menyapa dan berfoto. Esoknya sebelum peserta seminar berangkat melakukan pelancongan ke beberapa destinasi di Kuala Lumpur, Walikota Nadjmi, kembali berjumpa di depan lobby hotel. Kami berbicara singkat dan saling mengucapkan salam. Dia menyampaikan ucapan maaf, karena lebih awal untuk kembali.

Saat menulis tulisan catatan ini, aku mencoba merangkai kembali perihal “perjumpaanku” dengan Nadjmi Adhani, Walikota Banjarbaru. Tersadarlah aku, bahwa selama acara itu aku sesungguhnya tetap dengan kebiasaanku yakni “tak pernah memikirkannya.” Kehadiranku saat itu tak obahnya sebuah alat rekam saja. Setiap yang terlihat dan terdengar terekam begitu saja. Tersadar atau tidak. Setelah berlalu, barulah aku melihat dan mendengar rekaman itu kembali.

Jadi “seseorang” yang bertemu satu meja di restaurant & caffe hotel hari pertama itu, adalah seorang Walikota. Aku mengira teman-teman peserta dari Kalimantan saat itu terjumpa “orang kampungnya.” Tidak tahu bahwa yang duduk di sampingku adalah Walikota.

Selang berapa waktu setelah itu pada petanghari yang sama, aku pindah duduk di teras depan. Duduk bersama Hudan Hidayat dan teman-teman. Datang rombongan Iberamsyah turut bergabung. Diantaranya yang duduk di sebelahku. Tapi setelah akan berakhir percakapan, baru terlintas dibenakku, orang itu adalah Nadjmi Adhani Walikota Banjarbaru.

Walaupun saat itu sekilas aku mengetahui Nadjmi adalah seorang Walikota tapi, aku tidak terpikir bahwa orang yang sama inilah sebelumnya, tadinya duduk semeja di dalam restaurant dan caffe hotel. Termasuk tidak pula sadar bahwa dialah yang akan didaulat memasangkan tanjak dan menyerahkan plakat penobatanku sebagai Tokoh Patria Numera 2017 malam esoknya.




Cilakanya lagi, pada waktu malam esoknya, Malam Penobatan Tokoh Numera 2017, aku juga tidak pernah terpikirkan bahwa Numera Malaysia memberikan kehormatan kepada Nadjmi memasangkan tanjak menandai penobatanku. Aku baru mengetahui, karena sudah sama-sama berada di atas pentas yang sama di waktu penobatanku.

Bahkan sampai rangkaian acara berakhir, sama sekali tak terpikirkan bagiku rangkaian dari tiga momentum “pertemuanku” dengan Walikota Banjarbaru itu. Seakan-akan tidak berkait. Padahal satu sama lain memiliki keterhubungan tak tersadari.

Hakikatnya, aku ingin menuliskan ini, karena selama ini, aku telah dipenuhi oleh perilaku “penjabat” yang tidak memiliki “respek” kepada aktifitas kesenian dan kebudayaan. Baik langsung maupun tidak langsung. Sehingga membentuk diriku secara alamiah “protect” kepada “retorika penjabat.”

Sedang pada waktu singkat ---yang belum tentu dapat membuat kesimpulan pada personality--- aku telah “bersimpati” kepada Nadjmi Adhani, karena sepanjang kehadirannya di rangkaian acara seminar sastra, “tidak tampil” sebagai seorang penjabat tapi “menyatu” menjadi lebur dalam suasana sastra di dalam kesastraan.

Tidak hanya Walikota Banjarbaru saja yang mendapat kehormatan dalam peristiwa sastra internasional ini tetapi, acara Seminar Internasional Sastera Melayu Islam 2017 di Kuala Lumpur ini juga mendapat kehormatan “menuliskan sejarah.” Yang luput dari perhatian banyak orang. Dimana ada seorang Walikota dari Indonesia bersedia hadir dan menjadi “orang sastra.” (*) copyright: abrar khairul ikhirma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar