Rabu, 29 November 2017

DARI HUDAN HIDAYAT

Buku Puisi Pemenang Anugerah Tokoh Patria Numera 2017, Abrar Khairul (Putu) Ikhirma.




Stilistik-sunyi
Linguistik sepi

“waktu ashar
kukirimkan jantungku
dengan hati tiada terbelah
padamu kehidupan
kembara”

Abrar Khairul (Putu) Ikhirma, teman yang unik dan sangat menyenangkan ini - mungkin 'menjengkelkan' bagi mereka yang belum mengenalnya dengan baik - tapi bagiku ia sangat menyenangkan, adalah Tokoh Patria Numera 2017.

Saya baru pertama kali ini berjumpa dengan buku puisinya, langsung terpesona. Mula-mula ia merawat bahasa Melayu dengan cara menghidupkan, ke dalam tema, tokoh-tokoh penyair di daerahnya, tapi lebih dari itu cara ia berpuisi itu sendiri.

Sunyinya benar-benar datang dari keadaan yang ia alami, bukan yang ia bayangkan. Kita tidak menjagokan sepi, tapi manakala hakikat kehidupan ini memang sunyi, dari setiap degup yang kita rasakan, maka tahulah kita bahwa sepi memang mesti dikelola oleh penyair agar hidup yang senyap ini terasa lebih menekan. Menekan ke/di dalam bahasa.

Tekanan yang dibaca oleh ilmu sebagai daya bahasa. Membuat saat kita membacanya, kita pun mengalami daya bahasa itu, dilibatkan oleh si puisi ke dalam sepi yang ia kisahkan itu.

Masih adakah suatu sepi di atas senyap ini, saat seseorang aku-saya mula-mula membelah dirinya, jadi aku-lirik dan di dalam kedudukannya sebagai aku-imaginatif ini ia kuasa untuk mengelola ada secara apa saja termasuk adanya kenyataan dirinya yang kini telah menjadi kenyataan aku-citra.

Abrar Khairul Ikhirma membuat "kehadiran"(nya) dalam buku puisi Hang Tikam Tuah Kenang, seperti ini. Puisi dibawa ke arah pribadi, individual, tapi "jantung melayu" sang penyair yang menuntun ia berpuisi, bukan jantung yang lain. Seolah-olah ia 'mengoreksi' para penyair, dengan membubuhkan waktu mengenangNya. "waktu ashar", kata Abrar Khairul Ikhirma akan kejadian yang ia kisahkan dalam "kehadiran".

Ada apa dengan "waktu ashar"? Rupanya ia dipilih karena keadaan adalah tepian - malam hendak menjelang, pagi siang sudah usai. Adalah waktu darurat bagi manusia. "waktu kembara" kalau istilah Abrar Khairul Ikhirma, bahwa kembara dimulai saat setelah waktu Ashar.

Apa yang abstrak menjadi konkret, pada saat yang sama yang konkret itu jadi abstrak lagi. Dalam istilah bentuk inilah jukstaposisi ke jukstapose. Bahasa itu memang aneh kalau kita hayati dalam kedudukannya sebagai pengertian, aneh ia pandai membubarkan kenyataan menjadi kenyataan ada yang tak dapat kita pegang, tapi ia kita kenali. "kehidupan", misalnya, kenyataan yang tak berbadan tapi tubuh kita dimuatkan ke dalam badan kehidupan ini. Berlakulah tubuh nyata kita menjadi tubuh nyata citra karena si aku, yang nyata itu, mengirimkannya kepada si dia adalah "kehidupan", yang tak nyata itu.

Kenyataannya begitu luas sehingga kata dasar hidup yang diikat kedua ujungnya lewat ke dan an pada dasarnya adalah ruang bagi waktu untuk menghilangkan tubuh nyata si aku. Apa yang kita sebut sunyi kini bermain di satuan kata, di bahasa, tempat bagi Abrar Khairul Ikhirma mengeola "kehidupan", dengan si aku di dalamnya. Si aku yang bermain pembelahan, lewat kegiatan tangan yang nyata tapi dada yang telah diambil oleh "kehidupan" - ia menjadi kabur lagi: mana tubuhnya? Tapi si tangan itu begitu meyakinkan membelah dirinya.

Membelah diri dan muncul dengan, inilah buah kreasi si tangan, jantung yang diambilnya dari dalam tubuh dan kini dikirimkannya ke kehidupan. Kejadiannya di waktu ashar, waktu perpindahan yang menjadi isyarat bagi kembara. Dengan cara begini linguistik saya sedang menempuh realisme dalam bahasa, bahwa satuan-satuan pengertian dikembalikan lagi ke dalam kalimat sebagai struktur, tapi linguistik ini rupanya mengada dalam stilistik yang akan menghasilkan permainan bahasa mengatasi tubuhnya sendiri. Ia kini beyond bahasa, karena si puisi melakukan "kembara" melalui dirinya.

[Ditulis oleh HUDAN HIDAYAT, penerima Tokoh Persuratan Dunia Numera 2017]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar