Selasa, 14 November 2017

KAIN CINDAI PANJANG TUJUAH

Sejumlah puisi-puisi yang ditulis dan terinspirasi dari menghadiri “Anugerah Puisi Dunia Numera 2014,” di Kuala Lumpur, Malaysia, awal tahun 2014, disaat kabut asap kebakaran hutan di Sumatera mencapai tanah semenanjung.




Akhirnya, aku mengambil keputusan untuk pergi ke Kuala Lumpur, setelah ingin bertahan tidak akan pergi. Sejak akhir tahun 1990-an, aku sudah “menghilangkan diriku” dari pelbagai acara-acara kesenian. Termasuk mulai menghentikan mempublikasikan tulisanku ke media suratkabar. Aku memilih hidup “dalam kegelapan,” menghindar diri bertemu teman-teman dan tak ingin diketahui keseharianku sebagai “Pangeran Kegelapan.”

Puisiku “Hang: Kekal di Selat Melaka,” terpilih menjadi salah satu puisi yang mendapat Anugerah Puisi Dunia Numera 2014. Selain puisi itu, 2 puisi lainnya, “Puteri Hijau” dan “Tumpak nan Sembilan” termuat ke dalam buku Antologi Puisi “Risalah Melayu Nun Serumpun,” yang diterbitkan Persatuan Sasterawan Numera Malaysia sebagai penyelenggara peristiwa sastra tersebut.

Aku tidaklah seorang pendekar. Juga bukan seorang jagoan berkelahi. Aku hanya orang biasa yang menyukai dunia kepenulisan. Karenanya “kehadiranku” tak kuingini dengan hanya “tangan kosong,” seperti banyak kutemui para pendekar dan jagoan “tangan kosong,” di berbagai peristiwa kesenian.

Setiap seusai acara kesenian yang diikutinya, baik memang “murni” diundang hadir karena kapasitas diri dan karyanya maupun sebagaimana tradisi sekarang ini yakni “minta” sendiri agar diundang penyelenggara acara, biasanya pulang tidak “menghasilkan” apa-apa kecuali, hanya menambahkan satu baris dalam daftar riwayat hidupnya bahwa telah pernah diundang acara “bergengsi.” Sebagai bentuk penjelasan kepada orang lain, dirinya adalah pendekar atau jagoan di dunianya.

Karena pendekar atau jagoan itulah (barangkali) makanya mereka tangan kosong. Sepulang dari setiap acara, hanya membawa “sejumlah file foto digital” rekaman dirinya dan “sejumlah buku” pemberian atau hasil tukar menukar. Tak akan “ditemukan” sebuah tulisan artikel yang ditulisnya “bercerita” sesuai dengan “sudut pandangnya” perihal peristiwa yang dihadirinya. Atau sekurang-kurangnya berupa postingan foto yang disertai catatan pendek perihal acara (tidak dirinya pribadi) di akun media sosialnya.

Begitulah umumnya penulis yang menghadiri acara penulis. Atau kini lebih popular disebutkan sebagai sastrawan dan acara sastra. Penulis yang tidak “tergerak” hatinya untuk menulis meskipun penulis.

Tulisan berupa artikel dapat dikirimkan ke berbagai media atau setidak-tidaknya diposting melalui blog pribadi atau media social lainnya di internet. Atau lebih praktis berupa catatan 2 – 3 paragraf di media fesbook dan semacamnya. 

Tetapi tidak banyak menggunakan media tersebut sebagai “bentuk” dari kehadiran di pelbagai peristiwa. Bentuk meramaikan publikasi informasi. Bentuk menunjukkan tanggungjawab moral eksistensi diri. Di abad kemudahan teknologi informasi oleh setiap orang. Apalagi bagi seorang penulis yang kreatif.

Jika ada 100 orang penulis menghadiri acara sastra, ada 80 orang diantaranya tergerak hatinya menulis catatan topic acara yang dihadirinya, kemudian mempublikasikannya ke berbagai media mainstream atau pun media social. 

Itu artinya ada 80 orang “memperlihatkan” kemampuannya menulis dan ada 80 tulisan tersebar yang dapat dibaca dan diketahui oleh khalayak ramai perihal sastra, selain hanya dirinya sendiri dan teman-temannya saja. Ada 80 orang yang tidak menjadikan dirinya hanya sebagai “benalu” tapi “ikut” membesarkan “peristiwa” yang dihadirinya.

Sayang, hanya sedikit diantara para pendekar dan jagoan tangan kosong di rimba kepenulisan kita dewasa ini, menggunakan “senjatanya” dengan “baik” untuk menulis “peristiwa sastra” sekembali dari peristiwa sastra itu sendiri. Mereka itu memang tidak pendekar atau jagoan tangan kosong tapi ia menulis. Dengan tulisannya apapun kualitas dan kepentingannya, membuktikan dirinya adalah memang penulis!

Aku senang menulis. Aku suka menuliskan hal-hal yang aku lihat, aku pikirkan, juga apa yang aku rasakan. Aku tidak seorang pendekar atau pun jagoan. Aku hanya seorang penulis.

Adanya teknologi internet, adanya media social, tanpa menyita waktu, ada banyak kemudahan dan simple dapat dilakukan menuliskan catatan-catatan singkat untuk dibagikan, memberikan apresiasi pada masyarakat, selain hanya foto-foto diri sendiri.

Aku pun menulis beberapa tulisan, kemudian “kusimpan-publikasikan” di blog pribadiku, selain berbagai postingan lompatan spontanitas di media social akun fesbookku sendiri, perihal peristiwa Anugerah Puisi Dunia Numera 2014 yang akan kuhadiri. Ternyata tulisan-tulisan itu tiada tersadari cukup untuk dikumpulkan dalam bentuk sebuah buku kecil sederhana. Akupun editing, mengatur tata letaknya, merancang cover dan mencetaknya menjadi buku.

Tenggat waktu yang singkat aku telah menghasilkan sebuah buku berupa catatan kebudayaan berjudul, “Izinkanlah Aku Bicara” (2014). Sejumlah dari buku ini kubawa serta ke Kuala Lumpur, bersama satu kumpulan puisiku, “Antara Bukik Punai” (2008).

Kedua buku itu telah menjadi “buah tangan.” Kehadiranku tidak sebagai pendekar atau jagoan “tangan kosong.” Tidak hanya sekadar “menerima” hadiah tapi “kukembalikan” dalam bentuk lain. Walau pun aku sadar, dalam konteks itu, aku tidaklah seorang yang “diutamakan.” Tidak memiliki beban moral yang tinggi. Tetapi bagiku, semampuku, kepada diriku dalam hal apapun, disitulah aku “mempertaruhkan” itikad kepenulisan yang kupilih.

Berbekal sebuah camera pocket 20.1 mp tanpa memiliki ponsel pintar dan laptop, aku mengikuti peristiwa sastra itu. Dari awal sampai akhir acara, aku “gunakan” alat sederhana yang kumiliki semaksimal mungkin, untuk merekam berbagai momen yang tidak hanya objeknya “diriku” sendiri.

Walau pun saat itu, aku belum memiliki sebuah personal computer atau pun laptop, sepulang dari Kuala Lumpur, di waktu-waktu senggang, aku gunakan waktuku menumpang bekerja menggunakan personal computer teman-temanku. Foto-foto dapat kuedit. Pergi ke kedai internet memposting. Berbagi informasi dan berbagi momen foto bagi yang membutuhkannya.

Sebuah buku catatan kebudayaan, foto-foto di album fb-ku, 9 video pendek documenter di youtube, sejumlah tulisan di blog pribadiku, itulah yang “kuhasilkan” dari momen peristiwa yang kuhadiri, meskipun bukan kewajiban yang dibebankan kepadaku. Tersebab aku penulis. Tidak karena orang lain. Tidak karena hadiah. Tidak karena honor. Juga tidak karena adanya hubungan “kedekatan.”

Sampai hari ini, masih ada sejumlah topic berkait peristiwa sastra itu yang belum sempat kutulis. Itu tetap akan kutulis nantinya untuk blog. Pun ada sebuah buku yang masih terbengkalai aku susun. Nanti ada waktu, tetap akan kuselesaikan. Walau waktu telah berlalu dari tahun 2014.

Begitu juga terhadap buku kumpulan puisiku ini, adalah puisi-puisi yang kutulis dan terinspirasi sejak mula menjejak kota Kuala Lumpur menghadiri Anugerah Puisi Dunia Numera 2014, sampai aku kembali ke tanah air.

Sebagai penulis, aku bentangkan Kain Cindai Panjang Tujuah
Bacalah.

Abrar khairul ikhirma
November 2015

Judul: Kain Cindai Panjang Tujuah
Buku: Kumpulan Puisi
Penulis: Abrar Khairul Ikhirma
Penerbit: Cati Bilang Pandai
Cetakan Pertama: 2015
Halaman: 60

Kandungan Isi:

TITIAN KATA – BANGSAR – PANDANGAN PERTAMA – HANG: KEKAL DI SELAT MELAKA – SEBUAH ANALISIS AKRAB – PUTERI HIJAU – TUMPAK NAN SEMBILAN – DBP – KAIN CINDAI PANJANG TUJUAH – KUALA LUMPUR 2014 – LEMBAH BERTIMAH – SENJA DI MELAKA – CINDERELLA MELAKA – SANG PENEROKA – BANDARAYA – YAP AH LOY – JEUMPA D’ RAMO – KHATIJAH SIDEK – GURINDAM 13 – BUKIT BINTANG – BERLAYAR DI HUTAN BETON – TERBAWA MIMPI – GAGAK HITAM – RIWAYAT PERTEMUAN – LEPAS TANGKAI - BIOGRAFIE

Tidak ada komentar:

Posting Komentar