Senin, 04 Desember 2017

ASMIRA SUHADIS DARI SIJANGKANG

Asmira Suhadis, penulis script film wanita yang dimiliki Malaysia. Pernah menjadi wartawan. Kini mencampungi dunia kepenyairan.



ASMIRA SUHADIS - ABRAR KHAIRUL IKHIRMA
SEPTEMBER 2017


Aku lebih mengenal aktifitasnya, setelah kembali dari acara Anugerah Puisi Dunia Numera 2014 yang diadakan di DBP Kuala Lumpur. Semenjak ia bergabung dalam list-pertemanan media social fesbookku. Beliau terlihat rajin menulis status dan memposting foto sampai hari ini.

“Pengenalan” terhadap Asmira selama ini hanya sebatas “mengenal” lewat menyimak dan melihat status dan postingannya yang hadir di beranda fbku. Belum pernah berkomunikasi dan berdiskusi, perihal persekitaran dunia kreatif kepenulisan dan lain hal.

Mungkin aku orang yang tidak biasa memanggil seseorang perempuan dengan “Mama,” sehingga ada hal bagiku “penghambat” untuk dapat berkomunikasi dengan baik dengannya. Asmira Suhadis di kalangan yang mengenalnya, memiliki panggilan akrab “Mama Asmira.”

Asmira Suhadis dilahirkan di Sijangkang, Selangor, Malaysia, pada 18 Mei 1961. Ia menjalani kegiatan sebagai penulis bebas dalam berbagai genre kepenulisan. Puisi, syair, script, lirik lagu. Beliau pernah bertugas menjadi tenaga jurnalis, menjadi wartawan untuk majalah dan media tabloid.



ASMIRA SUHADIS
KLCC SURIA - 2014


Asmira memulai masa kepenulisannya menulis cerita pendek untuk “Utusan Pelajar,” dan cerpen-cerpen remaja di tahun 1980-an. Ia memiliki pergaulan berbagai kalangan, salah satunya ia merasa senang mengenal “kaum peribumi.” Kaum dari masyarakat asli.

Beliau memenangi penulisan script TV, Misi di FINAS pada tahun 2003. Kemudian script yang ditulisnya itu diangkat menjadi drama seri di RTM (Radio Tv Malaysia). Menulis tentang perjuangan kaum Samai, untuk drama khas kemerdekaan RTM, Bah Tilot. Kemudian digarap menjadi drama musical.

Kesuksesan kepenulisannya di penulisan script, Asmira pernah memenangkan di beberapa pertandingan menulis script drama, documenter terbitan FINAS, semenjak tahun 2003-2008.

Menulis script documenter kaum Kadazandusun dalam: Agup Batu Tuluq, masyarakat Iban dalam Sureng Head Hunter dan Wetan untuk masyarakat Jawa. Aku Budak Bateq adalah waktu pertamakali usahanya mendekati kaum ini.



ABRAR KHAIRUL IKHIRMA
ASMIRA SUHADIS
AHMAD TAUFIQ
SISMI KUALA LUMPUR 2017


Selepas tahun 2014, saat menghadiri Malam Akrab Puisi Asean 2016 di Rumah Pena Kuala Lumpur, aku sempat berpapasan dengan Asmira Suhadis yang hendak pulang lebih awal. Aku menyapa dan menyalaminya. Tidak ada percakapan lain. Aku kira dia tidak ingat denganku, karena pertemuan yang mendadak itu.

Disela-sela acara Seminar Internasional Sastera Melayu Islam 2017, di Dewan Al Ghazali Masjid Abdul Rahman bin Auf, Puchong, Kuala Lumpur, kami bertemu untuk ketiga kalinya.  Kami hanya saling menyapa dan sejenak meluangkan waktu untuk berfoto. Tidak ada percakapan banyak.

Terlihat kondisi kesehatan beliau menurun dibandingkan dengan tahun 2014 silam. Tetapi semangatnya masih terlihat bercahaya untuk dapat berbaur dengan masyarakat kesenian. Termasuk “kesetiaannya” untuk menuliskan tentang apa saja yang ditemui dan dirasakannya dengan “keterlatihannya” dalam hal menulis. Didukung dengan adanya kemudahan mempublikasikan tulisan di media social.



SANTAI NUMERA 2014
KENANGAN DI KLCC SURIA 2014 KUALA LUMPUR
TERSEREMPAK DALAM SATU FRAME


Akupun dapat merekam Asmira Suhadis tampil membacakan puisi yang ditulisnya dalam rangkaian acara seminar yang kami ikuti. Hasil rekaman video itu pun telah aku posting di youtube, sebagai documenter agar setiap orang dapat menyaksikannya.

Sampai saat ini Asmira Suhadis tanpa henti terus berkarya. Dia rajin hadir di pelbagai peristiwa sastra dan membacakan puisi-puisinya. Termasuk mempublikasikan karya puisinya di media social. Dimana dunia puisi ini kian diakrabinya sebagai media berekspresi suara jiwanya (*) copyright: abrar khairul ikhirma  

1 komentar: