Tampilkan postingan dengan label ikan_PIAMAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ikan_PIAMAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Desember 2017

PERADA CINTA ILYA KABLAM

Tiada kehadirannya di SISMI17, mungkinkah aku dapat mengenal nama Ilya Kablam? Sebuah pertanyaan “nakal” terhadir saat menatap compactdisk “Perada Cinta,” himpunan lagu-lagu group music GLP-Malaysia.





Sepulang dari acara penobatanku sebagai Tokoh Patria Numera 2017, sesampai di bilik hotel tempatku menginap, menjenguk isi tas pemberian panitia, saat malam melarut di sudut kota Kuala Lumpur. Isinya tidak banyak. Diantara beberapa buku, plakat, terselip sebuah compactdisk, dengan covernya bersimbolkan hati dengan warna kuning.

Tentu semua peserta Seminar Internasional Sastera Melayu Islam (SISMI) 28-30 September 2017, yang hadir malam penobatan tokoh, di Dewan Al Ghazali, juga mendapatkan compactdisk, seperti juga aku memperolehnya. Peserta seminar berasal dari Malaysia, Indonesia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam dan Bangladesh. Peristiwa Sastra yang diselenggarakan Persatuan Sasterawan Numera Malaysia dengan Masjid Abdul Rahman bin Auf Kuala Lumpur.

Ilya Kablam ialah vokalis Grup Lagu Puisi (GLP) dengan album Perada Cinta. Ia menjadi salah seorang “motor” di balik kesuksesan penyelenggaraan seminar sastra bertaraf internasional, yang dirancang oleh Sasterawan Negara Dato’ Dr. Ahmad Khamal Abdullah, yang telah malang melintang nama penanya “Kemala” tertera pada perjalanan sastera Melayu selama ini.

Sebagai Koordinator Acara, ia memiliki kepribadian yang mudah berkomunikasi kepada semua yang berkait dengan SISMI. Ilya bekerja sebagai Assistant General Manager di Bioapps Sdn Bhd. Pusat Perubatan Universiti Malaya (PPUM) Kuala Lumpur. Merupakan Ahli Jawatankuasa Numera selain sebagai Setiausaha Eksekutif Persatuan Aktis e-Sastera Malaysia.

Di bawah label Esastera Records, Ilya Kablam, graduan dari Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM) dan mempunyai Ijazah Sarjana Muda dalam bidang Bahasa & Kesusasteraan Inggeris, bersama GLP, telah menerbitkan dua buah album berjudul, “Perada Cinta” (2014) dan “Dot Dot Dot,” (2016).

Setelah akan berakhir bulan November 2017, barulah aku mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan isi rekaman suara Ilya Kablam dan kawan-kawannya. Mula pertama yang aku perhatikan ialah penampilan dari cover dan penyertaan daripada desain compactdisk Perada Cinta.

Aku mengalami kesulitan, entah bagi orang lain yang “bermata terang.” Sukar untuk membaca teks yang terlampir bersama dengan cover. Pemilihan letter, font teramat kecil. Termasuk memberikan backround atas teks yang keduanya saling “berbunuhan.” Sehingga sulit untuk dibaca, apakah tulisan-tulisan itu isi yang disampaikannya. Termasuk untuk mengetahui nama-nama personil yang terlibat dalam proyek album music Perada Cinta.

Aku tidak tahu, apakah kesukaran itu salah satu sebab yang dapat mempengaruhi “seseorang” untuk mengetahui dan mendengarkan isi rekaman. Mempengaruhi untuk tidak melanjutkan mendengarkannya sebelum untuk menikmati sajian yang dikehendaki sebagai suatu karya music dan lagu, seterusnya puisi.

Bagiku, perihal itu jelas telah mengurangi “minat.” Dimana cover telah “memulakan” untuk tidak membuat “ketertarikan.” Aku tidak tahu, apakah produksi ini merupakan produksi comersial dengan pasar luas. Dan sejauhmana ia dapat diterima pasar industry music rekaman dan meraih kedudukan di pelataran lagu-lagu pop Malaysia?

Untung sekali PC burukku yang sudah ketinggalan generasi memiliki media player. Sehingga aku luangkan waktuku untuk sejenak mendengarkan lagu-lagu dalam album Perada Cinta. Musiknya bagus dan beragam alternative. Karena aku bukanlah “orang music” aku tidak mengetahui ragam music yang disajikan. Bagiku mungkin sebagai pendengar hanyalah berpihak kepada adakah harmonisasi, enak didengar dan menarik.




Vokal Ilya kudengar sangat merdu melantunkan lirik-lirik. Lagu-lagu ini lebih tepat didengar dalam suasana hening malam. Warna vokalnya bening dan lincah. Vocal itu sudah terasah dengan baik, seperti kudengar sepanjang acara SISMI, Ilya menjadi pembawa acara (MC).

Dalam kesasteraan di Malaysia sepanjang kuamati dalam beberapa tahun terakhir ini, ternyata antara karya puisi dan dunia music seringkali “berkahwin” membentuk “kehidupan rumahtangga.” Ada ramai kini mempertunjukkan pada berbagai media ekspresi seni, bagaimana hasil karya tulis didendangkan beriring music.

Di Indonesia pada masa perjalanan industry music rekaman, dikenal nama penyanyi Leo Kristi, Group Bimbo dan Ebiet G. Ade, yang melantunkan nyanyiannya berupa puisi. Nama mereka popular. Memiliki suara khas, music khas dan produk cassetnya “digemari.”

Di pentas-pentas sastra Indonesia diakui ada yang “tampil” dinamakan “musikalisasi.” Tetapi rasanya tetap saja ia merupakan terkesan “tidak dianggap” sastra, lebih kepada “music.” Puisi dianggap lebih “bertuah” pabila dibacakan.

Disaat mendengarkan Perada Cinta, aku teringat, mendengar suara Ilya Kablam sewaktu menjadi pembawa acara di SISMI. Kemudian aku bertanya-tanya sendiri, apakah suara itu suara yang sama pernah kudengar dulu di tahun 2014 di Auditorium DBP ketika menerima Anugerah Puisi Dunia Numera 2014. Suara MC yang “kupuji” karena terasa sejuk “Melayu”nya (*) copyright: abrar khairul ikhirma

Senin, 04 Desember 2017

ASMIRA SUHADIS DARI SIJANGKANG

Asmira Suhadis, penulis script film wanita yang dimiliki Malaysia. Pernah menjadi wartawan. Kini mencampungi dunia kepenyairan.



ASMIRA SUHADIS - ABRAR KHAIRUL IKHIRMA
SEPTEMBER 2017


Aku lebih mengenal aktifitasnya, setelah kembali dari acara Anugerah Puisi Dunia Numera 2014 yang diadakan di DBP Kuala Lumpur. Semenjak ia bergabung dalam list-pertemanan media social fesbookku. Beliau terlihat rajin menulis status dan memposting foto sampai hari ini.

“Pengenalan” terhadap Asmira selama ini hanya sebatas “mengenal” lewat menyimak dan melihat status dan postingannya yang hadir di beranda fbku. Belum pernah berkomunikasi dan berdiskusi, perihal persekitaran dunia kreatif kepenulisan dan lain hal.

Mungkin aku orang yang tidak biasa memanggil seseorang perempuan dengan “Mama,” sehingga ada hal bagiku “penghambat” untuk dapat berkomunikasi dengan baik dengannya. Asmira Suhadis di kalangan yang mengenalnya, memiliki panggilan akrab “Mama Asmira.”

Asmira Suhadis dilahirkan di Sijangkang, Selangor, Malaysia, pada 18 Mei 1961. Ia menjalani kegiatan sebagai penulis bebas dalam berbagai genre kepenulisan. Puisi, syair, script, lirik lagu. Beliau pernah bertugas menjadi tenaga jurnalis, menjadi wartawan untuk majalah dan media tabloid.



ASMIRA SUHADIS
KLCC SURIA - 2014


Asmira memulai masa kepenulisannya menulis cerita pendek untuk “Utusan Pelajar,” dan cerpen-cerpen remaja di tahun 1980-an. Ia memiliki pergaulan berbagai kalangan, salah satunya ia merasa senang mengenal “kaum peribumi.” Kaum dari masyarakat asli.

Beliau memenangi penulisan script TV, Misi di FINAS pada tahun 2003. Kemudian script yang ditulisnya itu diangkat menjadi drama seri di RTM (Radio Tv Malaysia). Menulis tentang perjuangan kaum Samai, untuk drama khas kemerdekaan RTM, Bah Tilot. Kemudian digarap menjadi drama musical.

Kesuksesan kepenulisannya di penulisan script, Asmira pernah memenangkan di beberapa pertandingan menulis script drama, documenter terbitan FINAS, semenjak tahun 2003-2008.

Menulis script documenter kaum Kadazandusun dalam: Agup Batu Tuluq, masyarakat Iban dalam Sureng Head Hunter dan Wetan untuk masyarakat Jawa. Aku Budak Bateq adalah waktu pertamakali usahanya mendekati kaum ini.



ABRAR KHAIRUL IKHIRMA
ASMIRA SUHADIS
AHMAD TAUFIQ
SISMI KUALA LUMPUR 2017


Selepas tahun 2014, saat menghadiri Malam Akrab Puisi Asean 2016 di Rumah Pena Kuala Lumpur, aku sempat berpapasan dengan Asmira Suhadis yang hendak pulang lebih awal. Aku menyapa dan menyalaminya. Tidak ada percakapan lain. Aku kira dia tidak ingat denganku, karena pertemuan yang mendadak itu.

Disela-sela acara Seminar Internasional Sastera Melayu Islam 2017, di Dewan Al Ghazali Masjid Abdul Rahman bin Auf, Puchong, Kuala Lumpur, kami bertemu untuk ketiga kalinya.  Kami hanya saling menyapa dan sejenak meluangkan waktu untuk berfoto. Tidak ada percakapan banyak.

Terlihat kondisi kesehatan beliau menurun dibandingkan dengan tahun 2014 silam. Tetapi semangatnya masih terlihat bercahaya untuk dapat berbaur dengan masyarakat kesenian. Termasuk “kesetiaannya” untuk menuliskan tentang apa saja yang ditemui dan dirasakannya dengan “keterlatihannya” dalam hal menulis. Didukung dengan adanya kemudahan mempublikasikan tulisan di media social.



SANTAI NUMERA 2014
KENANGAN DI KLCC SURIA 2014 KUALA LUMPUR
TERSEREMPAK DALAM SATU FRAME


Akupun dapat merekam Asmira Suhadis tampil membacakan puisi yang ditulisnya dalam rangkaian acara seminar yang kami ikuti. Hasil rekaman video itu pun telah aku posting di youtube, sebagai documenter agar setiap orang dapat menyaksikannya.

Sampai saat ini Asmira Suhadis tanpa henti terus berkarya. Dia rajin hadir di pelbagai peristiwa sastra dan membacakan puisi-puisinya. Termasuk mempublikasikan karya puisinya di media social. Dimana dunia puisi ini kian diakrabinya sebagai media berekspresi suara jiwanya (*) copyright: abrar khairul ikhirma  

Sabtu, 18 November 2017

KUMPULAN PUISI AHMAD TAUFIQ

“Mengulum Kisah dalam Tubuh yang Terjarah,” buku kumpulan puisi Ahmad Taufiq, penyair dari Jawa Timur, sekaligus salah seorang tenaga pengajar di Universitas Jember.




Buku kumpulan puisi Ahmad Taufiq ini terbit tahun 2016 tapi sampai di tanganku pada bulan September 2017 dari penulisnya sendiri. Itupun tidak di Indonesia tapi di Kuala Lumpur, Malaysia. Karena sama-sama menghadiri, Seminar Internasional Sastera Melayu Islam di Masjid Abdul Rahman bin Auf, Kuala Lumpur.

Pertama mengenal dan bertemu, karena sama-sama menghadiri Anugerah Puisi Dunia Numera 2014. Selepas itu, kami kemudian menjalin komunikasi melalui media social fesbook. Pertemuan kali kedua ini, sama-sama berada di Kuala Lumpur oleh penyelenggara kegiatan sastra yang sama yakni Persatuan Sasterawan Numera Malaysia.

Buku kumpulan puisi Ahmad Taufiq ini berisikan 41 buah puisi. Membagi dalam empat bahagian. Sebagai Adam Akulah Sejarah Tubuhmu yang Terbenam, Mengulum Kisah dalam Tubuh yang Terjarah, Suluh di Semenanjung dan Aku Berlayar dengan Kafan.

Cover buku “mencirikan” buku-buku sastra ini, tampil dengan format standar buku, tertata dengan baik, baik pilihan font judul dan teks isi, kualitas cetak, memberikan kenyamanan bagi pembaca.

Buku juga dilengkapi di bagian cover belakang, menampilkan dua endorsemen, sebagai pemberi gambaran terhadap karya dan penulisnya. Pertama merupakan kutipan dari pertanggungjawaban penilaian Anugerah Puisi Dunia Numera 2014 oleh Ketua Dewan Juri, Sasterawan Negara Dato’ Dr. Ahmad Khamal Abdullah, dimana puisi Ahmad Taufiq menjadi salahsatu puisi penerima anugerah. Kedua dari penyair Yogyakarta, Imam Budhi Santosa.

Judul Buku: Mengulum Kisah dalam Tubuh yang Terjarah
Jenis Buku: Kumpulan Puisi
Penulis: Ahmad Taufiq
Halaman: viii -  62
Cetakan: 2016
Penerbit: Interlude, Yogyakarta

ISBN:  978-602-73873-9-3

Selasa, 17 Oktober 2017

"AISBERG KESIMPULAN" AHMAD MD TAHIR

Dari Singapura, ada “suara” sastra di balik “kemeriahan” pelancongannya. Sejumlah penggiat sastra Melayu tetap dapat melahirkan karya-karya mereka. Salah seorang diantaranya, Ahmad Md Tahir.




“AISBERG KESIMPULAN” merupakan  buku kumpulan puisi kedua dari Ahmad Md Tahir. Sesuai dengan pencantuman kata “kesimpulan” telah mengisyaratkan kepada pembaca buku ini, penulisnya lewat puisi-puisinya “ingin” menyampaikan catatan-catatan dari “realitas” yang dilihat, yang dipikirkan, dirasakan dan dipahaminya.

Buku dengan cover menarik, dengan kualitas cetak dan tata layout rapi ini, memuatkan secara lengkap puisi Ahmad Md Tahir. Selain puisi-puisi yang pernah memenangkan sayembara, mendapatkan penghargaan, juga termuat puisi yang pernah dipublikasikan di media public.

Aisberg Kesimpulan, buku kumpulan puisi setebal 102 halaman ini, disusun dalam empat bahagian. Bahagian Pertama: Anugerah Puisi. Sejumlah puisi Ahmad Md Tahir yang memperoleh penghargaan dari sejumlah tajuk peristiwa sastra. Bahagian Kedua: Belasungkawa Puisi. Sejumlah puisi bertema “wafatnya” beberapa tokoh. Bahagian Ketiga: Dinamika Puisi. Sejumlah puisi yang menanggapi dinamika momen-momen penting, terutama pada perjalanan kesastraan di Singapura.

Bahagian Keempat: Kembara Puisi. Tersusun puisi yang ditulis bertema pengembaraan ke sejumlah tempat dan daerah. Bahagian Kelima: Refleksi Puisi. Bagaimana sang penulis puisi Ahmad Md Tahir menangkap berbagai refleksi peristiwa ke dalam karya sastra berupa puisi.

Dari 3 pemberi endorsemen buku ini, salahseorang diantaranya Dr. Mansuri S.N (Penerima Anugerah Tun Seri Lanang, 1983) menyebutkan, “Perkembangan Ahmad Md Tahir sebagai penyair sejak permulaan ‘cinta perkataan’ menampakkan adanya penerokaan dan pengembaraan jiwanya terhadap tema yang disebut dalam beberapa sajaknya… ternyata penyair tidak berhenti sekadar menggambarkan satu lukisan atau menceritakan sesuatu kisah/peristiwa, tetapi ia juga berupaya mengucapkan pengalaman emosinya juga merenungi penghidupan yang dihayatinya.”

Buku kumpulan puisi Aisberg Kesimpulan ini, aku peroleh dari tangan penyairnya sendiri, menghadiahkannya kepadaku, sama-sama menghadiri peristiwa “Seminar Internasional Sastera Melayu Islam,” di Kuala Lumpur, 28-30 September 2017, yang diselenggarakan Numera Malaysia.

Ahmad Md Tahir atau nama penanya yang lain, T. Ahmad Mohamed, dilahirkan di Paya Lebar, Singapura, 1967.

Menerima pendidikan awal di Sekolah Rendah Mattar; Sekolah Menengah Siglap; dan Sekolah Menengah Teknikal Tanjong Katong, bagi pendidikan pra-University. Kini bertugas sebagai Penganalisis Makmal.
Beliau merupakan salah seorang pengasas Kumpulan Angkatan Muda Sastera (KAMUS) Singapura dan merangkap Setiausaha. Pegawai Perhubungan dan Ketua Unit Puisi Kamus.

Sepintas membaca beberapa puisinya, bila ada waktu nantinya ingin lebih “mendekati” puisinya dan menulis agak sebuah pembicaraan apresiasi sastra terhadap karya Ahmad Md Tahir ini (*) copyright: abrar khairul ikhirma

Judul buku: Aisberg Kesimpulan
Penulis: Ahmad Md Tahir
Penerbit: AAO Singapura
Cetakan:  Pertama 2013

ISBN 978-973-981-07-2123-7

Selasa, 10 Oktober 2017

"BATEQ" ASMIRA SUHADIS

Tidak banyak buku-buku yang ditulis dan diterbitkan perihal “suku terasing” atau mereka yang hidup turun temurun di daerah pedalaman. Jauh dari fasilitas yang dimiliki kehidupan perkotaan atau pun seperti kehidupan masyarakat di daerah yang mudah diakses atau pun mengakses ke dunia luar.




Di Malaysia, masyarakat yang umumnya hidup di pedalaman atau dalam hutan belantara ini dikenal sebagai “orang asli” atau “masyarakat pribumi.”

Di semenanjung Malaysia tercatat ada 18 suku kaum Orang Asli yang terdiri dari 3 kumpulan utama yakni Negrito, Melayu Proto dan Sanoi.

Asmira Suhadis, seorang penggiat penulis bebas berbagai genre kepenulisan, kelahiran Sijangkang, 18 Mei 1961, Selangor, Malaysia, menulis buku, “Aku Budak Bateq.” Sebuah buku yang menawarkan informasi kehidupan masyarakat pedalaman dan mengandung nilai edukatif.

Suku Bateq adalah suku tergolong dari kumpulan Negrito. Masyarakat pribumi kaum Bateq, umumnya bermukim di pinggiran sungai khususnya di negeri Pahang, Terengganu dan Kelantan.

Naluri Asmira menulis buku ini, tentu terdorong karena penulis pernah bekerja sebagai wartawan di penerbitan majalah dan tabloid.

Baik cover maupun isi dicetak di atas kertas lux, berisikan gambar dan teks. Buku yang hanya 24 halaman ini, setidaknya memberikan suatu gambaran terhadap kehidupan Orang Asli di pedalaman Malaysia.

Dengan penyajian penulisan dan gambar fullcolor, tampaknya buku ini sesuai sebagai bahan bacaan kalangan pelajar atau generasi muda. Karena dengan tata bentuk yang ditampilkan buku ini, dapat menjadi daya tarik mereka untuk mengenali kekayaan budaya setempat.

Buku “Aku Budak Bateq” ini “dihadiahkan” penulisnya sendiri Asmira Suhadis, berjumpa saat sama-sama menghadiri, “Seminar Internasional Sastera Melayu Islam 2017” di Masjid Abdul Rahman bin Auf Kuala Lumpur. Merupakan pertemuan kedua dengan penulis wanita Malaysia ini. Pertemuan pertama pada tahun 2014 ketika sama mengikuti kegiatan Numera Malaysia bertajuk, “Anugerah Puisi Dunia Numera 2014.” (*) copyright: abrar khairul ikhirma




Judul buku: Aku Budak Bateq
Penulis: Asmira Suhadis
Pelukis: Sarah Joane Bromley
Jurugambar/Inspirasi: DigitalDome
Artis Grafik: Noorzini Rina Zakaria
Editor: Hasnah Ahmad
Isi: 24 halaman
Cetakan Pertama: November 2013
Penerbit:  Twin Publications and Distributors, Kuala Lumpur
ISBN 978-967-5583-15-5

Sabtu, 16 September 2017

SJAFRIAL ARIFIN, “TANGGA SARAWA DEN”

Sjafrial Arifin dimasa mudanya menggemari dunia music. Ia menyukai memainkan alat music drum tapi kemudian lebih sering bermain gitar dalam kesehariannya kala waktu senggang. Banyak orang mengenalnya sebagai seorang wartawan, padahal di era tahun 1970-an dia bergiat pada dunia sastra dan pernah menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul, “Ombak Purus.”




Untuk satu masa, ketika periodeku menjadi salah seorang seniman lusuh di Kota Padang, aku pernah hidup bersamanya berbulan-bulan di satu kamar Inna Muara Hotel, Padang, mengerjakan proyek sebuah buku berskala nasional, yang menjadi proyek Departemen Dalam Negeri dan Departemen Penerangan. Kamar itu sudah menjadi rumah kami.

Kedekatan yang cukup lama itu, mengherankan adik-adiknya, aku bisa cocok dengan seorang yang "tegas" dan "temperamental." Sebenarnya berurusan dengannya, bagiku tak masalah. Ia tidak suka buku-bukunya dan barang lainnya diganggu, apalagi diambil. Jangankan dipegang, bergeser saja bisa bermasalah tanpa setahu dia. Bisa berdendam seumur hidup.

Konon ada sejumlah orang takut padanya, karena urusan buku. Dicoretnya untuk mendekati "hartanya." Aku orang yang beruntung. Pernah dipercayanya. Aku cukup lama dekat dengannya tanpa ada masalah. Di balik kesan angkuhnya, uda Sjafrial, begitu kami memanggilnya, sebenarnya sangat respek pada orang-orang yang bergiat dan kreatif.



KRITIKUS SASTRA INDONESIA, HB JASSIN BERSAMA
PENYAIR MUDA DARI SUMATERA BARAT
DARMAN MOENIR, HAMID JABBAR DAN SJAFRIAL ARIFIN
DI TAMAN ISMAIL MARZUKI JAKARTA


Dia tak pernah melarang orang membaca buku-buku yang dimilikinya. Tetapi ia sangat tak suka pada orang ketika selesai membaca bukunya, meletakkan sembarangan atau tidak mengembalikan kala meminjamnya. Atau mengembalikan tapi sudah dalam keadaan dicoret-coret, lusuh dan rusak. Perkaranya adalah soal menghargai dan bertanggungjawab. Inilah yang kerap sulit ditemuinya. Sehingga dia diantara teman-temannya dianggap keras. Orang yang sulit untuk dijadikan teman.

Dia memang berharta banyak. Harta itu ialah buku-buku dan bacaan lain tak sekadar buku. Buku intelektual, sastra, jurnalis, budaya, politik, film, bukan main banyak dimilikinya. Sjafrial sejak mudanya salah seorang yang “gila” membaca dan ia mau berhabis uang untuk mendapatkan buku dan bahan bacaan lainnya.

Bukunya sampai berkarung-karung jumlahnya, kala dibawa pulang dari Jakarta ke Padang. Itupun masih banyak yang belum sempat dibawa. Sewaktu kawasan Paseban terbakar dan api dikabarkan lama dapat dipadamkan, aku pernah berkata padanya, jangan-jangan itu gara-gara bukunya tak sempat dibawa pulang. Dia terakhir di Jakarta mengontrak rumah di Paseban.

Aku sudah lama mengenal namanya. Sjafrial Arifin secara rutin mengirimkan berita dari Jakarta untuk suratkabar Harian Singgalang, Padang. Terutama berita seputar artis music dan film. Masa itu ia memang dikenal bergaul dalam kehidupan banyak kalangan music dan film di ibukota.

Mengenal langsung barulah ketika Kemah Seniman yang diadakan BKKNI Sumbar di Ngarai Sianok Bukittinggi tahun 1985. Sjafrial Arifin datang disuatu malam bersama Hasril Chaniago dan teman-teman dari Balai Wartawan Bukittinggi.  Sjafrial terakhir itu adalah wartawan Majalah Zaman, kelompok Majalah Berita Mingguan Tempo Jakarta.

Tahun 1985 itu Sjafrial pulang kampung. Kemudian bekerja di suratkabar Harian Singgalang Padang. Dengan sendirinya, terjadi era pembaharuan tata bentuk wajah serta format isi. Termasuk terjadi gelombang semangat generasi muda di kalangan regenerasi suratkabar daerah tersebut.

Tetapi kemudian akhirnya dia meninggalkan dunia jurnalistik. Panggilan jiwa seninya tetap suatu dunia yang dirasakannya membuatnya lebih nyaman. Disaat masih bekerja di Harian Singgalang ia memulai membangun komunitas Teater Jenjang. Memulai menggarap “La Cum Parsita Night” acara akhir tahun di Hotel Muara Padang. Lalu, Opera si Padang.”

Semasa dunia perteateran lagi tumbuh subur di Taman Ismail Marzuki dan Gelanggang Remaja di Jakarta, Sjafrial Arifin pernah tercatat mendirikan group teater bersama wartawan, penulis dan penyair, A.Chaniago Hr.

Ketika TVRI Pusat datang dari Jakarta menggarap shooting sinema elektronik (sinetron) Siti Noerbaya dan Sengsara Membawa Nikmat, Sjafrial pun diajak serta dalam produksi ini. Pada masa ini sebahagian besar perhatian masyarakat Indonesia “tertuju” tontonannya ke TVRI. Apalagi TVRI mulai memperkenalkan program sinetron. Apalagi Siti Noerbaya dan Sengsara Membawa Nikmat diangkat kisahnya dari karya sastra, yang sudah sangat popular.

Pada film mini seri 20 episode Sengsara Membawa Nikmat, tahun 1991, yang dibintangi oleh Sandy Nayoan dan Desi Ratnasari, Sjafrial kebahagian peran membawa tokoh “Midun” yang ditangkap untuk dijebloskan masuk penjara. Di atas kereta, Sjafrial melepaskan borgol tangan Midun dan mengatakan agar dia tidak lari, “Bisa tangga sarawa den,” katanya. Merupakan pameo sehari-hari orang Minang, jika terjadi sesuatu, akibatnya ibarat celana yang terpasang di tubuh bisa “copot” sebagai suatu resiko yang harus ditanggungkan.



WAWANCARA DRS DASRIL AHMAD DENGAN SJAFRIAL ARIFIN
SEKITAR PEMBERIAN NAMA TAMAN BUDAYA SUMATERA BARAT


Lama kemudian berada di kampung, Sjafrial Arifin akhirnya memutuskan untuk kembali merantau ke Jakarta. Maka hilang pulalah salah satu kantung berkesenian di sudut keramaian Pasar Raya Padang, tepatnya di kawasan Los Baro dekat Blok A. Dimana sejumlah seniman-seniman pernah bergabung di sini antara lain, Sofia Trisni, Hermawan An, Asril Koto, Syarifuddin Arifin dan Padrizas Polong. Sjafrial Arifin pun memutuskan menikah dengan Sofia Trisni, penyair wanita yang muncul di zaman pertengahan tahun 1970-an.

Dia mungkin agak kecil hati padaku, aku tidak mau bergabung dengan sanggar yang didirikannya Teater Jenjang Padang. Mendadak saja tak pernah bertemu dengannya lagi. Setelah aku kembali dengan kesibukanku sendiri. Saat itu ia beraktifkan diri dengan kelompok seninya dan aku dengan kesibukanku pula.

Sampai satu kali, ia kesal padaku, aku tak menyebut nama sanggarnya, di dalam suatu tulisanku sekitar dunia pertunjukan seni di daerah yang dimuat suratkabar terbitan Padang. Aku tak mau berdebat dengannya. Karena tulisan itu sendiri tidak memfokus pada nama-nama group.

Itulah terakhir aku berjumpa dengan Sjafrial Arifin. Sampai ia kembali merantau ke Jakarta.

Kamis 14 Januari 2016, pada pkl 18.00 wib, aku mendapat kabar uda Sjafrial Arifin​, wartawan, penyair dan pendiri Teater Jenjang Padang, wafat di Jakarta. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Beliau kakak dari penyair Syarifuddin Arifin, wartawan Bachrum Rony Arifin dan Zulkarnaini Arifin. Dan Bahar Arifin.
Selamat Jalan Da Cap.

Ombak Purus yang terus terdengar (*) copyright: abrar khairul ikhirma

Kamis, 14 September 2017

BERTEMU DUA TOKOH TABUIK

21 September 2017 ini tepat 1 Muharam, diawali prosesi kegiatan budaya Urang Piaman, Hoyak Tabuik. Tradisi pesisiran sekali setahun di daerah rantau wilayah adat Minangkabau. Tradisi yang sudah berlangsung turun temurun sebagai “Alek Nagari”  bagi daerah budaya Piaman, meliputi Kabupaten Padang Pariaman, Kota Pariaman, Tiku (Kabupaten Agam) dan sebahagian besar Kota Padang, yang kini dijadikan sebagai pesta budaya.



YUSRIZAL SE - FIRMAN ZUKHRI DARAB


Hari puncak dari prosesi Tabuik dinamakan sebagai hari “Bahoyak Tabuik.” Dimana sampai akhir kejayaan Tabuik menyisakan 2 buah Tabuik yakni Tabuik Pasa dan Subarang sampai hari ini. Tabuik yang dibuat oleh anak Nagari Pasa dan anak Nagari V Koto Aia Pampan. Dua wilayah yang berdampingan di dalam Kota Pariaman.

Masyarakat dari berbagai tempat beramai-ramai berdatangan ke pusat Kota Pariaman pada hari puncak. Sehinggalah menjadi suatu pameo bahwa Pariaman akan ramai jika adanya Tabuik.

Dua hari berturut-turut secara kebetulan aku bertemu dengan tokoh Pariaman yang dikenal sebagai “Ketua Tabuik.” Ketua yang “mengurus” terselenggaranya acara budaya tahunan tersebut.

Rupanya 2 hari itu, hari yang baik juga untuk awak. Jum'at dan Sabtu. Baik, karena berjumpa dua orang yang kerap sehari-hari dipanggil dengan “Ketua.”  

Pada 2 hari itu, sama-sama terjadi kebetulan bertemu, sama-sama bertemu dengan 2 orang berbeda usia tetapi sama-sama Ketua, sama-sama berdiskusi dengan topik pembicaraan yang sama mengenai Tabuik, berbeda tempat bertemu tapi kedua-duanya orang yang sama-sama wak kenal secara dekat, pemikiran dan aktifitasnya selama ini di Kota  Pariaman.

Hari Jum'at 5 Mei 2017

Awak bertemu secara kebetulan dengan Da Man, begitu awak memanggilnya Firman Zuhri Darab​, selepas sholat Jum'at, saat makan siang di Kedai Nasi Fandos masakan Cik Ani di Jalan Tabut (Tabuik) Kelurahan Pasia Pariaman.

Pada kesempatan ini, kami bercerita lepas perihal Tabuik dan acara Tabuik. Da Man salah seorang Tokoh Masyarakat Kota Pariaman, yang awak nilai kritis, tegas dan suka bergarah ala khas Urang Piaman marabo (marah) dimana saja. Bagi banyak orang mungkin dia dianggap suka marah, padahal tak banyak memahami sikap intelektualnya. Itu hanya satu caranya dalam membahas suatu topic pembicaraan yang sedang actual saat itu.

Da Man dikenal sebagai Man Wali, hampir selalu hadir di kegiatan sosial masyarakat, terutama di 2 nagari yg berdampingan, Kenagarian Pasa dan Kenagarian V Koto Aia Pampan.

Beliau pernah diangkat menjadi Ketua Tabuik untuk penyelenggaraan tradisi Urang Piaman sekali setahun. Di tahun 2017 ini, dia kembali diminta menjadi Ketua. Dia diangkat bukan ditunjuk oleh pemerintah daerah tapi dipilih "urang dua nagari" karena dianggap dapat berkomunikasi dan menyatukan "tujuan" diselenggarakannya Pesta Budaya Tabuik, antara 2 Nagari dan pemerintah.

Selama menjadi Ketua Tabuik, nyaris acara dapat terselenggara dengan baik. Jika ada insiden, masih terbilang dalam koridor "adaik batabuik." Katanya, hal itu biasa sebagaimana juga sudah jadi pameo Urang Piaman, kalau tak ada “bacakak” acara menjadi dingin. “Bukan batabuik namanya,” katanya.

Da Man dalam kesempatan pembicaraan kami saat itu, menyebutkan bahwa beberapa hari sebelumnya para ninik mamak dan sejumlah tokoh Nagari Pasa dan Nagari V Koto Aia Pampan, sudah melakukan pertemuan dengan pihak Pemko, karena Pemko menanyakan kesiapan dan kesepakatan untuk menyelenggarakan Pesta Budaya Tabuik Piaman 2017, yang jatuhnya dimulai 1 Muharam.

Da Man mengatakan, tak mudah menjadi Ketua. Sudah elok pun mengurus tetap saja kanai upek. Karena diminta untuk menjadi Ketua, perlu menghormati kepercayaan orang. "Baa lai dek cinto ka Nagari" katanya.

Hari Sabtu 6 Mei 2017

Ketika minum siang di Kadai Kopi Af Brimob Pasia, kebetulan bertemu dengan Yusrizal, SE. Saat wak sedang menikmati minum pagi di kedai itu, Yusrizal Rizal​ datang juga untuk minum. Sudah lama kami tak bertemu. Karena aktifitas masing-masing yang berbeda.

Yusrizal adalah aktifis kesenian dan social sejak masa remajanya. Dia pernah dua kali menjadi wakil rakyat di DPRD. Beliau merupakan regenerasi dari Sanggar Paris Pariaman.

Kami duduk semeja. Sudah lama kami tak bertemu dan juga tak pernah berkontak. Seperti biasa setiap bertemu, kami selalu berdiskusi santai sekitar Pariaman, masalah sosial dan kesenian maupun kebudayaan. Berdiskusi dengan tokoh muda Pariaman ini terasa lancar, karena memang beliau memiliki sisi pandang yang memberikan alternatif, baik gagasan maupun pemahaman.

Wak sangat mengenalnya sejak wak masih remaja. Ia seorang yang tegas dalam menentukan sikapnya. Kelak kemudian hari karena kegigihannya, ia belajar pada perkembangan dan karakter manusia, sehingga ia memiliki wawasan yang baik. Termasuk dia pun mempelajari dunia keagamaan secara mendalam. Sehingga berlandaskan itu dia dapat memahami persoalan dan mengambil keputusan pada setiap masalah dengan cepat.

Yusrizal, SE, pernah menjadi Ketua Dewan Kesenian Kota Pariaman, pernah menjadi Anggota DPRD Kota Pariaman, menjadi Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kota Pariaman, salah seorang penggerak Sanggar Paris  Pariaman, sampai saat ini dia sangat banyak mendorong potensi kreatif orang perseorang atau pun kelompok. "Kalau tak dengan sedikit uang ya dibantu dengan ide-ide pengembangan," kata beliau, yang pernah maju menjadi Wakil Walikota Pariaman, pada Pilkada Pariaman sepuluh tahun silam.

Yusrizal yang mudah akrab dengan orang inj, secara kepribadian wak anggap baik, karena mengenalnya sejak masih di zaman Bupati Anas Malik. Beliau suka bergaul dengan orang yang jauh lebih tua dengannya, ia sangat menghormati orang-orang yang memang memiliki pemikiran matang dan beralam luas, demi belajar. Tak keberatan untuk memahami kalangan muda, karena dia tahu semangat orang muda segar dan butuh pendampingan.

Yusrizal oleh banyak orang menyebutnya dengan Zal Kumiah, pernah menjadi salah seorang motor, saat Pemko Pariaman menyatakan tidak mengadakan acara ba-Tabuik, bersama-sama atas nama Anak Nagari menyelenggarakan acara Tabuik tanpa Pemko dan ternyata terselenggara sukses.




Yusrizal juga pernah mendapat kepercayaan menjadi Ketua Tabuik. Saat beliau menjadi ketua inilah kami cetuskan dalam suatu pembicaraan untuk menggagas mendirikan Rumah Tabuik. Saat bertemu Dirjen dari Kementerian Pariwisata yang hadir pada acara Tabuik hal itu disambut baik. Yang kelak Rumah Tabuik itu dibangun di Karan Aua untuk Tabuik Pasa dan disamping Kantor Balaikota untuk Tabuik Subarang.

Penyelenggaraan  Pesta Budaya Tabuik 2008, dianggap berlangsung sukses. Dihadiri Dirjen Pariwisata, Duta Besar Iran, Kepala Daerah dan kalangan penjabat, tokoh-tokoh perantau Minang dan mendapat liputan berbagai media nasional dan internasional. 

Dalam diskusi santai kami di pertemuan yang kebetulan itu, banyak hal kami bahas mengenai dilema penyelenggaraan Tabuik, gagasan-gagasan yang bermunculan dan kami perdebatkan. Semangatnya masih berkobar untuk dapat mewujudkan di tahun-tahun mendatang.

Selain soal Tabuik kami juga memfokus pembicaraan persoalan seputar dunia kesenian dan tentu saja menyangkut pandangan Kota Pariaman masa mendatang. Perihal bagaimana memback-up potensi kalangan muda dengan kegiatan lebih edukatif, sportif dan berwawasan (*) copyright: abrar khairul ikhirma

Senin, 11 September 2017

SIDANG MEDIA PENOBATAN TOKOH DUNIA NUMERA 2017

Pengerusi Persatuan Sasterawan Numera-Malaysia dan Seminar Internasional Sastera Melayu Islam (SISMI17) 2017, mengundang Wakil-Wakil Media Pers, sasterawan, akademisi, pemerhati dan artis, untuk menghadiri Sidang Media Penobatan Tokoh Dunia Numera 2017, pada hari Khamis 21 September 2017, di Balai Imam Bukhari, Masjid Abdul Rahman Bin Auf, Jalan Puchong, Kuala Lumpur. Jam 11 waktu Malaysia.




Persatuan Sasterawan Numera (Nusantara Melayu Raya) Malaysia, sejak mula penubuhannya, telah berkali-kali melaksanakan kegiatan kesasteraan bertaraf internasional. Hitung saja menerbitkan buku, pembacaan puisi, seminar dan memberikan reward kepada tokoh-tokoh sastera. Tidak hanya acara diselenggarakan di dalam Negara Malaysia tapi juga di Negara Indonesia seperti di Padang, Jakarta, Bandung dan Jogyakarta. Juga sampai ke Negara Bangladesh.

Sasterawan Negara Dato’ Dr Ahmad Khamal Abdullah, Presiden Numera Malaysia dan Pengerusi Sismi17 menyebutkan bahwa kegiatan sastera Melayu bertujuan, memartabatkan bahasa, budaya Melayu dan ukhuwah silaturahmi di nusantara untuk dunia.

Numera Malaysia pertamakali tahun 2014 telah menobatkan Profesor Dr Abdul Hadi WM (Indonesia), Profesor Madya Dr Victor Pogadev (Russia) dan Dr Shafie Abu Bakar sebagai Tokoh Persuratan Dunia Numera 2014.

Tahun 2015, Numera Malaysia memberikan penghormatan pertamakali kepada 3 orang tokoh, yang sentiasa dari awal mula tak pernah padam untuk memberikan sokongan kepada cita-cita Numera Malaysia dalam menegak-kukuhkan budaya Melayu. Ketiga tokoh yaitu, Tan Sri Mohamad Salim Fatih Din, Tan Sri Hamad Kama Piah Che’ Othman dan Datuk Dr Awang Sariyan sebagai Tokoh Patria Numera 2015.

Tahun 2016 Numera kembali menobatkan Tokoh Persuratan Dunia Numera, dimana Aminur Rahman dari Negara Bangladesh terpilih sebagai Tokoh Persuratan Dunia Numera 2016.

Bersamaan dengan penobatan Tokoh Persuratan Dunia Numera 2016, Numera Malaysia untuk kali pertama juga menobatkan Tokoh Srikandi 2016 kepada Sastri Bakry dari Indonesia.



SN DATO' DR AHMAD KHAMAL ABDULLAH (KEMALA)
PENGERUSI SEMINAR INTERNASIONAL SASTRA MELAYU ISLAM 2017
PRESIDEN PERSATUAN SASTERAWAN NUMERA MALAYSIA
PENGERUSI MASJID ABDUL RAHMAN BIN AUF KUALA LUMPUR


Sejak mula penubuhan Numera Malaysia, tak lepas dari cubaan dan deraan untuk keberjayaannya. Kerana cubaan demi cubaan, deraan demi deraan, Numera sampai tahun ini dapat tegak kukuh kerana masih ada mahu personaliti-personaliti berkomitmen menjayakan Melayu, pada masa diantara tergerus budaya-budaya asing untuk merubuhkan.

Penuh kegemilangan untuk keberjayaan, pada Sidang Media yang akan diselenggarakan Khamis 21 September 2017, akan disampaikan kepada public nama-nama sesiapa yang terima penghormatan Tokoh Dunia Numera 2017.

Numera Malaysia akan menobatkan satu orang Tokoh Persuratan Dunia Numera 2017. Dua orang Tokoh Patria Numera 2017 dan satu orang Tokoh Srikandi 2017.

Penobatan Tokoh Numera ini adalah bersempena diselenggarakannya acara bertaraf internasional yaitu Seminar Sastera Melayu Islam 2017, pada 28 – 30 September 2017 di Masjid Abdul Rahman Bin Auf, Kuala Lumpur.

Tampil sebagai penyampaian Syarahan Utama Prof. Hudan Hidayat dari Indonesia. Selama dua hari seminar akan membentangkan kertas kerja. Pembentang kertas kerja, Haji Suratman Markasan (Singapura), Dodo Widarda (Indonesia), Dr Haji Morsidi Mohamad (Brunei Darussalam), Dr Phaosan Jahwei (Thailand), Dr Fazilah Husin (Malaysia), Iberamsyah Barbary (Indonesia), Dr Ahmad Taufiq (Indonesia), Dr Norhatie Ab. Rahman (Malaysia), T.Ahmad Mohamed (Singapura), Aminur Rahman (Bangladesh) dan Lily Siti Multatuliana (Indonesia).

Berkaitan dengan acara SISMI17 selain pembentangan kertas kerja, penyair-penyair nusantara dari berbagai Negara akan tampil membacakan puisi. Juga akan melancarkan buku-buku mereka. Acara   diramaikan persembahan dari Grup Muzik Man Kayan dan Grup Muzik Al-Munzir.



I L Y A   K A B L A M
Koordinator SISMI17


Menggiatkan aktiviti sastra juga menyokong kemajuan pelancongan. Di hujung acara dilaksanakan kunjungan beberapa destinasi di Kuala Lumpur yaitu Pasar Seni, Masjid, Muzium, Botanical Garden dan Cruise.

Suatu kehormatan daripada SISMI17, Datuk Seri Raja Nong Chik bin Dato’ Zainal Abidin akan menyampaikan ucapan  sambutannya di masa awal acara dan Ucapan Perasmian oleh Pengarah Jawi, Tuan Haji Abdul Aziz Bin Jusoh.

SISMI17 adalah anjuran Persatuan Sasterawan Numera-Masjid Abdul Rahman bin Auf, disokong DBP (Dewan Bahasa Pustaka) Kuala Lumpur, e-Sastera Malaysia, MRCB dan UMW Malaysia.

Pengerusi SISMI17, SN Dato’ Dr Ahmad Khamal Abdullah, Presiden Numera dan Pengerusi Masjid Abdul Rahman bin Auf Kuala Lumpur. Koordinator SISMI17, Ilya Kablam.

SISMI17 dihadiri sasterawan, akademisi, pemerhati dan artis dari Malaysia, Indonesia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam dan Bangladesh (*) abrar khairul ikhirma - indonesia

Rabu, 06 September 2017

LEGENDA BAND PEMDA PARIAMAN

Mungkin inilah group band satu-satunya milik Pemerintah Daerah (Pemda) yang pernah bertahan dan berkibar 10 tahun. Sukses mendapat tempat di hati masyarakat. Terbukti di zamannya ampuh menggelorakan semangat pembangunan oleh Bupati Anas Malik.




Aku sudah mulai rajin membuat tulisan dan mengirimkan berita-berita daerah ke suratkabar Harian Singgalang Padang. Di kota kelahiranku namaku dikenal banyak orang sebagai “wartawan cilik.” Menjadi wartawan di zaman belum banyak wartawan dan di sebuah penerbitan salahsatu dari 3 suratkabar terkemuka dari Sumatera Barat.

Hampir 10 tahun masa berkibar “Band Pemda” aku selalu mengikuti pertunjukannya ke berbagai tempat. Menyaksikan bagaimana sambutan masyarakat tidak pernah sepi. Selalu dapat menjadi magnet dalam mengumpulkan orang dari mana-mana. Baik pertunjukan malam atau siang, diluar gedung maupun dalam gedung, selalu istilahnya dimasa itu “membludak.” Kebanjiran penonton.

Anas Malik adalah pemimpin daerah yang diminta masyarakat dan wakil rakyat untuk menjadi Bupati di kampung halamannya. Namanya sedang popular secara nasional. Kepemimpinannya dinilai berani dan tegas saat menjadi Kapendam Jaya di ibukota Jakarta. Hampir semua perantau Minang di Jakarta merasa bangga dengan prestasinya.



TATI COBRA (RINA HASTUTI)
MASKUL DAN AYI FANTASI


Walaupun ibukota Jakarta adalah “ladang” bagi perantau Minang, Anas Malik pernah “memarahi” orang kampungnya sendiri yang tidak tertib berdagang. Disaat pembenahan ketertiban para pedagang kaki lima di Jakarta. Anas Malik di era Orde Baru pun dalam tugasnya “turun” meminta seniman WS Rendra membatalkan pertunjukan teaternya di Taman Ismail Marzuki.

Tidak banyak yang tahu, Bupati Kepala Daerah Kabupaten Padang Pariaman ini adalah seorang tentara yang sangat menyukai seni. Ia mau menikmati pertunjukan seni modern bahkan seni tradisionil sampai berjam-jam lamanya.

Diawal kepemimpinannya, ia langsung akrab dengan pelaku-pelaku seni di Pariaman. Menunjuk Mak Etek Laweh membentuk group band, yang kemudian dikenal sebagai Band Pemda Pariaman. Band ini terasa kuat seiring Bupati Anas Malik meminta kepulangan penyanyi Minang legendaries Tiar Ramon dari rantau untuk ikut “membangun” kampung.



EM YUSDAL SANG DRUMMER "ABADI"


Aku mengenal dekat personil yang memperkuat kehadiran group band ini. Serasa sudah menjadi “badunsanak.” Sebab di balik kesuksesan group band ini, rasa persaudaraan itulah yang mengikat satu sama lain. Tak ada merasa lebih hebat. Juga tak ada merasa direndahkan.

Selain uda Tiar Ramon, ada tiga orang lagi namanya juga sudah popular di blantika music pop Minang yakni uda Anas Ben si “Raja KIM,” bang Udin Barantakan sang pencipta lagu dan vokalis cantik Tati Cobra. Keempat personil tersebut, tidak hanya menyanyi di atas pentas tapi sudah tidak asing lagi masuk “dapur rekaman” industry music casset lagu-lagu pop Minang.

Tak kalah piawainya dari Tiar Ramon, Anas Ben, Udin Barantakan dan Tati Cobra, petikan dawai gitar Chairul Yatim dan Nong Zainal Koto, selalu memukau penonton. Chairul Yatim yang akrab dipanggil dengan Uncu Chairul, tak sekadar menguasai alat music gitar. Dia juga seorang vokalis dengan suaranya yang khas. Lagu favouritenya, “Risaulai.” Jika hari larut malam, ia akan menyanyikan lagu-lagu gamad, dengan istilah lagu “tikam tuo.” Begitu pula dengan Nong Zainal, juga sewaktu-waktu tampil menjadi vokalis dengan lagu-lagu “sweet memory,” diantara hentakan dan pukulan simbel drummer terbaik Em Yusdal.



PENONTON KONSER "REUNION BAND PEMDA PARIAMAN 2016"
DI SIMPANG KAMPUANG CINO -- SIMPANG TABUIK
KOTA PARIAMAN 18 AGUSTUS 2016


Em Yusdal yang dikenal sebagai Da Em, seorang pegawai negeri yang tak dapat dipisahkan dengan dunia music, juga selalu kebagian untuk menjadi vokalis. Termasuk Maskul pemegang keyboard “abadi” juga tampil sebagai vokalis. Lengkapnya. Semua personil Band Pemda adalah artis sekaligus juga pemusik. Bersuara terbaik dalam menyanyi, terampil memainkan alat music.

Atas dorongan Bupati Anas Malik dan berkat dukungan group band inilah penyanyi Tiar Ramon berhasil  mengangkat lagu-lagu bernafaskan Indang Piaman. Menyanyikan ke berbagai acara dan daerah, bahkan menghantarkan lagu tersebut ke dapur rekaman industry music pop Minang. Seni tradisi indang yang sampai saat ini masih tetap bertahan, seiring lagu-lagu popnya yang tetap disukai sampai sekarang.

Tiar Ramon, Anas Ben, Udin Barantakan, Mak Etek Laweh dan Sang Motivator Bupati Anas Malik, tokoh-tokoh terbaik Band Pemda yang juga adalah putra terbaik Piaman, sudah menghadap pada Sang Khali’ meninggalkan jejak legenda yang penuh suri tauladan dan inspiratif bagi semua orang.

Adalah pasangan suami isteri, Em Yusdal dan Rina Hastuti bernama popular Tati Cobra, sampai sekarang tetap menyatukan persaudaraan Band Pemda. Walau pun mereka sudah lama tidak lagi menetap di Kota Pariaman, tetapi secara berkala selalu menemuinya. Katanya, “Bagaimanapun kami mencintai Pariaman. Kampung kami kedua yang telah membuat kami ada menjadi orang.”




Era kepemimpinan Bupati Anas Malik (1980-1990) memang era kebangkitan pembaharuan di Pariaman. Teramat sulit untuk dilupakan, terlalu manis untuk dikenangkan. Em Yusdal dan Tati Cobra serta kawan-kawan personil Band Pemda yang masih ada, akhirnya dapat menyelenggarakan conser reunion. Berkat bantuan simpatisan dan personal.

Malam Band Pemda Reunion, 18 Agustus 2016 ini dipersembahkan mengenang Bupati Anas Malik, Mak Etek Laweh, Tiar Ramon, Anas Ben dan Udin Barantakan di hari peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia, Dimeriahkan oleh artis-artis dan pemusik yang pernah bergabung dengan band legendaries.

BAGI PEMBACA YANG INGIN MENONTON CUPLIKAN BAND PEMDA PARIAMAN REUNION 2016, SILAHKAN TONTON 3 EPISODE VIDEOKLIP, BERJUDUL “REUNI BAND PEMDA PARIAMAN 2016” DI YOUTUBE.

Dihadiri para tokoh-tokoh Pariaman, masyarakat dan Walikota Mukhlis Rahman bersama isteri. Sang Walikota di depan penonton menyatakan, betapa bangga dan berkesan, saat pesta pernikahannya dulu, jauh sebelum menjadi Walikota, dihibur Band Pemda yang sedang Berjaya di pentas music Sumatera Barat (*) copyright: abrar khairul ikhirma

Senin, 04 September 2017

“URANG PIAMAN BARALEK” DI BENGKULU

Meskipun “orang perantauan,” keinginan untuk “memakai” budaya tradisi daerah asal, tetap suatu hal yang “dirindukan.” Salah satu contoh melaksanakan budaya “arakan pengantin” ala Pariaman ---daerah Rantau Minang--- melengkapi kemeriahan prosesi adat perkawinan seperti di Kota Bengkulu.




Yang menarik bagiku untuk datang ke Bengkulu kali ini, karena berkaitan dengan pesta perkawinan (baralek). Ingin menyaksikan bagaimana suatu keluarga perantau Pariaman melaksanakan adat perkawinan anggota keluarga mereka di rantau orang.

Untuk daerah Bengkulu, suatu tidak asing lagi bagi Orang Piaman ---sebutan untuk Pariaman--- sebagai wilayah rantaunya. Misalnya di Malabro, Kota Bengkulu, bahagian sepanjang pantai, mayoritas penduduknya berdarah Pariaman dan Pesisir Selatan. Mereka sudah berketurunan. Selain berdagang, kehidupannya mengandalkan potensi laut sebagai nelayan.

Pada umumnya, perantau-perantau yang berada di Bengkulu, sebahagian besar masih memiliki hubungan kuat dengan kampungnya. Baik melalui komunikasi, pertemuan, pulang kampung maupun dari kampung datang ke rantau secara berkesinambungan.

Sementara perantau yang berada di Bengkulu dengan keturunannya, secara alamiah dalam keseharian dapat berasimilasi dengan budaya orang setempat. Baik tata cara sosial dan budaya serta berbahasanya. Prinsip universal Orang Minang, “dima bumi dipijak, di sinan langik dijunjuang.”

Artinya, masyarakat perantau dan keturunannya akan tetap “meninggikan” budaya setempat dimana mereka hidup. Memudahkan keterhubungan sosial. Apalagi kebudayaan kedua daerah ini memiliki hubungan erat dalam wilayah kemelayuan.



BASALAWAIK

Aku tidak mengikuti prosesi dari awal bagaimana tata cara perkawinan ini dilangsungkan. Mulai dari antar keluarga meminang sampai pelaksanaan ijab Kabul pernikahan. Karena aku tidaklah melakukan penelitian untuk pekerjaan ilmiah. Hanya untuk menghadiri pesta perkawinan di pihak keluarga mempelai laki-laki yang berdarah Orang Piaman di Kota Bengkulu. Dimana proses meminang, menikah dan pesta perkawinan di pihak mempelai wanita, sudah berlangsung sebelum kedatanganku ke Bengkulu
.
6 Agustus 2017 adalah hari bahagia keluarga, sanak saudara, kawan karib handai taulan bagi, Bang Awe dan Upik Lebok, nama panggilan pasangan suami isteri yang menyelenggarakan “baralek,”  resepsi pernikahan anak laki-laki sulungnya Wil, yang mempersunting Erin.

Kedua orangtua mempelai pria ini merupakan keturunan Orang Piaman yang menetap di Kota Bengkulu. Bengkulu sudah menjadi kampung halaman mereka, beserta anak-anaknya sejak lahir sampai menikah. Keterkaitannya dengan keluarga di kampung asalnya, Jorong (kini kelurahan) Pasia, Kota Pariaman, tetap terjaga sampai kini. Hingga di hari bahagia ini, semua keluarga besar mereka berdatangan ke Bengkulu.

Tak heranlah sebelum hari pesta ini, bau khas rendang menguap diterbangkan angin di sekitar rumah yang akan mengadakan pesta di Malabro, Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu. Masakan yang disediakan untuk tamu dimasak anggota keluarga yang datang dari kampung. Termasuk “sala lawuak,” kuliner khas Pariaman.

Dalam banyak peristiwa baralek atau pesta perkawinan Orang Minang di rantau, hal serupa itu sudah lazim terjadi. Masakan yang dihidang dengan masakan Minang, yang dimasak sendiri tanpa mengandalkan dari usaha catering. Kegiatan memasak atau mengerjakan persiapan untuk esok pesta ini, adalah mempertahankan tradisi yang dinamakan “patang mangukuih.”



GANDANG TASA PIAMAN

Patang Mangukuih  ---malam hari--- di masa lalu di daerah Pariaman (Kota/Kabupaten) biasanya sanak saudara dan orang kampung beramai-ramai hadir di rumah pesta. Kaum ibu-ibu menyiapkan masakan, kaum laki-laki berjaga dan mengerjakan pondok (kini diganti dengan tenda) untuk tamu. Sedang anak-anak gadis membantu hias menghias (mendekorasi) di atas rumah. Anak-anak bujang hias menghias di bahagian luar, termasuk pondok makan untuk tamu atau pentas hiburan.

Pada pesta di Malabro ini memakai jasa pelaminan dan tenda yang disewa. Semuanya disediakan dan dikerjakan oleh penyedia jasa. Termasuk menyiapkan dekorasi di ruang tamu dan kamar pengantin dalam rumah. Pelaminan sudah dibuat modern. Terkesan “kejawa-jawaan” dengan di latar dipasang “ukiran” bermotif “ngejawa.”

Termasuk bangku duduk kedua pengantin dan kedua pasangan orangtua pengantin. Tetapi pakaian pasangan kedua orangtua dari pengantin, memakai pakaian khas Melayu Bengkulu. Mereka duduk di pelaminan yang sama. mengapit pasangan pengantin yang berpakaian adat Minang.

Sementara di ruang tamu rumah, mulai dari dinding atau pun langit-langit ruangan, terpasang dekorasi seperti biasanya di Minang. Dinding tertutup oleh “tadia” kain bersulam dan langit-langit ruangan bergantung “lidah-lidah” dan “rendo.”

Sebelum acara pesta dimulai, diawali dengan melakukan arakan pengantin. Orang Minang menyebutnya “Maarak Nak Daro jo Marapulai.”

Sekitar pkl. 09.00 wib, kedua pengantin sudah berada di simpang empat Jalan Pendakian, dalam kawasan pecinan, kota lama Kota Bengkulu. Kedua penganten akan diiringi rombongan pihak bako, yakni, keluarga besar di pihak ayah penganten pria. Ikut menyertai kedua orangtua pengantin wanita dalam rombongan.

Arakan diawali dengan membacakan salawat untuk kedua penganten. Tradisi ini di Pariaman masih ada yang mempertahankan dan sebahagian besar tidak melaksanakan lagi. Pembaca salawat berdiri di belakang pasangan penganten. Sebagaimana biasanya, selama pembacaan salawat, semua rombongan akan berhening diri. Sehingga terasa relegiusnya.



MANANTI ANAK DARO JO MARAPULAI

Salawat berakhir, pasangan penganten dan rombongan segera bergerak perlahan ke arah rumah mempelai penganten pria. Berjalan kaki lebih kurang 150 meter.

Arakan diiringi music tradisional Minang gandang tasa Piaman. Dimainkan oleh Azwar & Fandos Group, kelompok seni pembuat Tabuik Piaman dan grup gandang tasa di Kota Pariaman. Terdiri dari Azwar  pemain tasa dan anak gandang, Amaik, Af Brimob, Zul (Pariaman) dan Si Zal (menetap di Bengkulu). Mereka keluarga dari yang mengadakan pesta.
Arakan ini, sepanjang jalan menjadi perhatian ramai. Karena hentakan dinamik gandang tasa yang tak biasa didengar di Bengkulu. Biasanya music setempat adalah music dol, alat beda dan ketukannya pun beda. Apalagi rombongan melalui depan Pasar Pantai Malabro.

Sampai di rumah pesta, pasangan orangtua mempelai pria bersama anggota keluarga, menyambut pasangan kedatangan penganten. Dilakukan penyiraman beras kuning oleh orangtua perempuan penganten pria, kepada kedua penganten, kemudian membawanya untuk naik ke pelaminan (*) copyright: abrar khairul ikhirma - bengkulu

Jumat, 16 Juni 2017

AKU DI BUKU PELUKIS HASSO MORSCHEK

Seingatku, aku pernah menulis review pameran lukisan Pelukis Hasso Morschek dua tulisan, dimuat di dua suratkabar terbitan Padang, Sumatera Barat yakni, suratkabar Harian Singgalang dan Harian Semangat.




Ternyata sejumlah pandanganku, yang kutuliskan pada artikel di suratkabar tersebut, setelah menyaksikan pameran lukisan Pelukis Hasso di Gedung Pameran Taman Budaya Sumbar ---Sumatera Barat--- dikutip dan termuat pada buku sang pelukis berjudul “Hasso, Rajo Sampono nan Putiah” yang disusun oleh Drs Am Yosef Dt. Garang.

Buku yang berisikan gambar-gambar repro dari lukisan Hasso, dicetak full-color. Berikut terdapat sejumlah pandangannya terhadap kepelukisannya dan inspirasi dari lukisan-lukisannya. Juga diikuti pandangan pengamat terhadap karya-karya lukisnya.

Selain terdapat kutipan pendapatku dalam buku Hasso ini, juga ada pendapat dari teaterawan dan pelukis dari Sumbar yakni, A. Alin De.

AM YOSEF DT GARANG


Am Yosef Dt. Garang, penyusun buku lukisan Hasso, merupakan seorang pelukis Sumbar dan menjadi salah seorang guru di SMSR ---Sekolah Menengah Seni Rupa--- Padang. 

Selain pelukis dan seorang guru, dia juga di era tahun 1980-an, aktif menulis artikel perihal kesenirupaan di suratkabar terbitan Padang.

Buku Haso yang terbit pada tahun 1988 ini sesuai dengan daftar keterangan di dalam buku, disumbangkan kepada berbagai Kantor Kedutaan Asing yang berada di Indonesia. 

Lembaga-lembaga kebudayaan dan seni, berbagai kantor redaksi media dan para pengamat seni.

Aku pernah diundang ke rumah dan studionya di Wisma Indah, Ulak Karang, Padang bersama teman penyair dan jurnalis, Prayuda Widyastitu MIA. Pada kesempatan tersebut, selain berdialog dengan Hasso, kami juga melakukan wawancara, yang kemudian dimuat di suratkabar Singgalang. Pada kesempatan yang sama, pelukis Hasso memberikan bukunya kepadaku.

HASSO MORSCHEK


Hasso Morschek, lahir tahun 1938 di Hannover, Jerman. Tahun 1983, merupakan fase baru bagi kehidupan Hasso. Bekerja sebagai seorang ahli untuk proyek Indonesia dari pemerintah Swiss. 

Beliau terpesona oleh kehidupan dan alam Minangkabau ---Sumatera Barat--- dan menuangkannya dalam karya beliau berkali-kali.

Hasso jatuh cinta dan menikahi seorang wanita Minangkabau tahun 1985. Hasso semakin “gila” menuangkan inspirasinya yang diserapnya selama bermukim di Tanah Minang. Ia sangat produktif melukis dan memulai melukis dengan ukuran kanvas yang besar.

Elemen kebudayaan dan kepercayaan dari rumah baru bagi beliau tersebut menjadi bagian penting bagi kehidupannya. Hingga perjalanan dunia melukis kian mendorongnya, untuk melakukan pameran lukisan-lukisannya selama berada di Padang.

Hasso akhirnya terpanggil untuk menuju Pulau Bali. 1996, Hasso meninggalkan Padang, Sumatera Barat, meninggalkan museum kecilnya dan membuat gaya baru dalam senilukis yang disebutnya nihilism, terpengaruh oleh Pulau Bali.

Hasso meninggal dunia tahun 2002 di Bali, oleh penyakit yang cukup misterius. Meninggalkan istrinya, 3 anak dan 2 anak laki-lakinya yang sudah dewasa dari pernikahan pertamanya.

Salah satu anak pelukis Hasso yakni, Sabai Morschek, kelahiran Padang, dikenal sebagai aktris film dan FTV berkebangsaan Indonesia, setelah bermain di film layar lebar pertamanya Sang Dewi, 2007. Sabai yang bersuamikan Ringgo Agus Rahman ini, pada film tersebut meraih penghargaan sebagai “Pendatang Baru Wanita Terpilih” di Festival Film Jakarta, 2007 (*)


@abrar khairul ikhirma