Tampilkan postingan dengan label Palamak Kaji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Palamak Kaji. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 November 2017

DARI HUDAN HIDAYAT

Buku Puisi Pemenang Anugerah Tokoh Patria Numera 2017, Abrar Khairul (Putu) Ikhirma.




Stilistik-sunyi
Linguistik sepi

“waktu ashar
kukirimkan jantungku
dengan hati tiada terbelah
padamu kehidupan
kembara”

Abrar Khairul (Putu) Ikhirma, teman yang unik dan sangat menyenangkan ini - mungkin 'menjengkelkan' bagi mereka yang belum mengenalnya dengan baik - tapi bagiku ia sangat menyenangkan, adalah Tokoh Patria Numera 2017.

Saya baru pertama kali ini berjumpa dengan buku puisinya, langsung terpesona. Mula-mula ia merawat bahasa Melayu dengan cara menghidupkan, ke dalam tema, tokoh-tokoh penyair di daerahnya, tapi lebih dari itu cara ia berpuisi itu sendiri.

Sunyinya benar-benar datang dari keadaan yang ia alami, bukan yang ia bayangkan. Kita tidak menjagokan sepi, tapi manakala hakikat kehidupan ini memang sunyi, dari setiap degup yang kita rasakan, maka tahulah kita bahwa sepi memang mesti dikelola oleh penyair agar hidup yang senyap ini terasa lebih menekan. Menekan ke/di dalam bahasa.

Tekanan yang dibaca oleh ilmu sebagai daya bahasa. Membuat saat kita membacanya, kita pun mengalami daya bahasa itu, dilibatkan oleh si puisi ke dalam sepi yang ia kisahkan itu.

Masih adakah suatu sepi di atas senyap ini, saat seseorang aku-saya mula-mula membelah dirinya, jadi aku-lirik dan di dalam kedudukannya sebagai aku-imaginatif ini ia kuasa untuk mengelola ada secara apa saja termasuk adanya kenyataan dirinya yang kini telah menjadi kenyataan aku-citra.

Abrar Khairul Ikhirma membuat "kehadiran"(nya) dalam buku puisi Hang Tikam Tuah Kenang, seperti ini. Puisi dibawa ke arah pribadi, individual, tapi "jantung melayu" sang penyair yang menuntun ia berpuisi, bukan jantung yang lain. Seolah-olah ia 'mengoreksi' para penyair, dengan membubuhkan waktu mengenangNya. "waktu ashar", kata Abrar Khairul Ikhirma akan kejadian yang ia kisahkan dalam "kehadiran".

Ada apa dengan "waktu ashar"? Rupanya ia dipilih karena keadaan adalah tepian - malam hendak menjelang, pagi siang sudah usai. Adalah waktu darurat bagi manusia. "waktu kembara" kalau istilah Abrar Khairul Ikhirma, bahwa kembara dimulai saat setelah waktu Ashar.

Apa yang abstrak menjadi konkret, pada saat yang sama yang konkret itu jadi abstrak lagi. Dalam istilah bentuk inilah jukstaposisi ke jukstapose. Bahasa itu memang aneh kalau kita hayati dalam kedudukannya sebagai pengertian, aneh ia pandai membubarkan kenyataan menjadi kenyataan ada yang tak dapat kita pegang, tapi ia kita kenali. "kehidupan", misalnya, kenyataan yang tak berbadan tapi tubuh kita dimuatkan ke dalam badan kehidupan ini. Berlakulah tubuh nyata kita menjadi tubuh nyata citra karena si aku, yang nyata itu, mengirimkannya kepada si dia adalah "kehidupan", yang tak nyata itu.

Kenyataannya begitu luas sehingga kata dasar hidup yang diikat kedua ujungnya lewat ke dan an pada dasarnya adalah ruang bagi waktu untuk menghilangkan tubuh nyata si aku. Apa yang kita sebut sunyi kini bermain di satuan kata, di bahasa, tempat bagi Abrar Khairul Ikhirma mengeola "kehidupan", dengan si aku di dalamnya. Si aku yang bermain pembelahan, lewat kegiatan tangan yang nyata tapi dada yang telah diambil oleh "kehidupan" - ia menjadi kabur lagi: mana tubuhnya? Tapi si tangan itu begitu meyakinkan membelah dirinya.

Membelah diri dan muncul dengan, inilah buah kreasi si tangan, jantung yang diambilnya dari dalam tubuh dan kini dikirimkannya ke kehidupan. Kejadiannya di waktu ashar, waktu perpindahan yang menjadi isyarat bagi kembara. Dengan cara begini linguistik saya sedang menempuh realisme dalam bahasa, bahwa satuan-satuan pengertian dikembalikan lagi ke dalam kalimat sebagai struktur, tapi linguistik ini rupanya mengada dalam stilistik yang akan menghasilkan permainan bahasa mengatasi tubuhnya sendiri. Ia kini beyond bahasa, karena si puisi melakukan "kembara" melalui dirinya.

[Ditulis oleh HUDAN HIDAYAT, penerima Tokoh Persuratan Dunia Numera 2017]

Minggu, 12 November 2017

CERITA TULUS DARI DIDING

Satu eksemplar terakhir, “Hang Tikam Tuah Kenang,” buku kumpulan puisiku yang kubawa ke Kuala Lumpur, kuberikan kepada Diding Tulus.




“Terimakasih, kang,” sambut Diding Tulus menerima pemberianku, dalam bilik yang sama 1305, Summit Signature Hotel, Puchong, Kuala Lumpur, sepulang dari penutupan resmi “Seminar Internasional Sastera Melayu Islam,” yang diselenggarakan di atas kapal motor “Kelah” di Cruise Tasik, Putrajaya.

Buku tipis seadanya itu, dicermatinya seketika yang berada di tangannya. Secara spontan ia berkata, “Insyaallah, aku akan baca puisi-puisi Akang ini, terimakasih…,”

Meluncurlah perkataan yang lainnya kepadaku, perihal “kesederhanaan” buku yang diterimanya yaitu “keberanianku” memilih jalan jilid buku hanya dengan “hacter” atau biasanya di Indonesia dikenali “diklip.”

Sebelum popular tampilan buku-buku sastra sejak beberapa tahun terakhir ini dengan teknis jilid lem panas (menggunakan mesin), jilid sederhana (manual) dengan hacter sudah biasa dikenali pada dunia percetakan. Digunakan untuk buku dengan jumlah halaman tidak banyak. Jika buku tebal, umumnya dilakukan dengan jilid “jahit” dan “lem.”

Ketika aku sampaikan kepada Diding perihal, aku tidak begitu tertarik untuk semacam itu kepada buku-buku “setebal tembok.” Maksudnya buku tebal setebal batu bata. Dengan halaman yang sangat banyak. Alasanku, selain membutuhkan cost produksi lebih, mungkin akan lebih banyak tidak bermanfaat. Ada dua hal kerugian harus ditanggungkan. Pertama cost produksi yang umumnya tidak “pulang modal.” Kedua, diragukan apakah buku itu “sanggup” melawan “kemalasan” seseorang untuk “menyediakan” dirinya membaca “sepenuhnya,” isi buku itu.

Benar ada orang “gila” untuk membaca. Setebal apapun sebuah buku akan ditelannya habis-habis. Sampai yang bersangkutan mampu menahan “kencingnya” meskipun sudah waktunya pergi ke toilet.

Berapa orang gila semacam itu? Kita sadar, ada banyak diantara kita hari ini, melampaui jumlahnya dari orang gila itu, dibesarkan turun temurun tidak dalam budaya membaca. Kita lebih banyak hidup di tataran “membaca” lisan dan mendengar perkataan. Tidak membaca tulisan. Mungkinkah ada banyak orang bisa seketika melihat buku setebal tembok, berubah diri dari tidak biasa membaca menjadi membaca?

Setahuku sejak masa dahulu, yang sering dihembus-hembuskan ---terutama dari kalangan sastra sendiri--- itu, diingat banyak orang, apalagi bila lewat di depan perpustakaan ialah adanya tulisan semboyan, “buku adalah jendela dunia.”

Kita sadar. Di sekeliling kita hari ini, ada banyak rumah ditemui dengan jendela hanya tertutup. Penghuninya pada pergi. Hampir-hampir jendela itu tak pernah dibuka. Jendela secara fisik itu saja sudah fenomenal. Apalagi memiliki, membuka dan membaca sebuah buku? Termasuk di internet melalui media social. Untuk postingan dengan jumlah kata yang “sepanjang tali beruk” tidak semua orang hendak membacanya. Kecuali sekadar basa basi mengklik “like.” Itupun dalam jumlah terbatas.

Kemudian Diding bercerita, ada banyak orang selama ini membuatnya merasa terheran-heran. Pasalnya ia sering dengar perkara, puisi orang itu belum cukup banyak jumlahnya untuk membuat buku. Buku tebal perlu banyak puisi. Karenanya, orang itu sibuk menulis puisi untuk bisa satu buku diterbitkan. “Heran ya kang, apa memang ada ketentuan jumlah puisi dalam satu buku?” gumam Diding.

Senang juga mendengar perkataan Diding. Senang, karena aku menemukan orang yang memiliki pandangan sama “menggelitik” dalam perkara “kemeriahan” penerbitan buku, terutama buku-buku puisi ramai diterbitkan dimana-mana saat beberapa tahun terakhir ini. Tebal. Dijilid lem panas.

Diding Tulus, begitu nama lengkapnya dikatakannya kepadaku. Seorang teman baru kukenal. Karena sama-sama “menyertai” acara sama, Seminar Internasional Sastera Melayu Islam, yang diselenggarakan Persatuan Sasterawan Numera Malaysia, 28-30 September 2017 di Masjid Abdul Rahman bin Auf, Kuala Lumpur. Kami berdua ditempatkan satu bilik di bilik nomor 1305.

Diding menetap di Kota Bandung. Ia merupakan “orang Sunda.” Kesehariannya menggeluti usaha di dunia percetakan. Bergaul dengan kalangan kesenian. Kehadirannya di Kuala Lumpur adalah pengalaman pertamanya keluar negeri. Diakuinya atas dorongan Hudan Hidayat, seorang yang kini mengasuh halaman grup fb, “Sastra Maya,” di media internet. Ia datang bersama Hudan.

“Saya tidak penyair, tidak sastrawan, saya suka saja sama sastra dan bergaul dengan orang sastra,” tutur Diding diantara percakapannya denganku.

“Lebih baik begitu,” jawabku, “Daripada mengaku sebagai sastrawan.” Kujelaskan kepada Diding pandanganku terhadap “kehadirannya” di sastra. Kini banyak “bermunculan” diantara yang memang menekuni kesastraan, para “sastrawan rasa penerbit.” Lebih giat “menguruskan” penerbitan buku-buku, tidak giat berkarya sastra. 

Kesan ini terlihat di banyak penerbitan antologi. Sebagai tanda sebagai sastrawan, ia sertakan satu dua puisinya, kalau tidak “memasangkan” kata pengantar, sedikitnya endorsemen di bagian cover belakang setiap buku. Tentu lebih tersebab dia yang menguruskan buku itu.

Apapun alasannya, tidak ada salahnya hadir atau mengikuti kegiatan berbagai berbau sastra. Setiap acara tentu memiliki suasana berbeda. Meramaikan pertumbuhan dan perkembangan sastra. Maka jauh lebih baik kamu tegaskan kehadiranmu di sastra dengan jelas, sebagai seorang “penggiat buku” ketimbang “menyerupai” sastrawan tapi hanya bergiat demi “usaha” menerbitkan buku. Meskipun dalam usaha kecil-kecilan (*) copyright: abrar khairul ikhirma

Rabu, 01 November 2017

MENGINGATKANKU KEPADANYA

Ada banyak soal di dalam hidup ini pada akhirnya harus dilupakan diantara yang terlupakan. Sebahagian orang mungkin akan selalu mengingatnya, meskipun tidak hal indah dan menyenangkan. Tapi banyak pula membiarkannya terkubur jauh tanpa harus diziarahi lagi.




Menjelang waktu subuh, aku sudah terpancang di KLIA2. Airport tempat aku kembali ke tanah airku dari Kuala Lumpur, Malaysia, menuju Bandara Internasional Minangkabau, Indonesia. Walau pun cara ini tidak berkenan bagiku, aku harus terima sebagai suatu kenyataan. Suka tak suka adalah pernak-pernik perjalanan.

Paling tak kusukai dalam apapun hal ialah tergesa-gesa atau terburu-buru. Jika dibiasakan hanya akan menjadi perilaku merugikan. Ketergesaan senantiasa dekat dengan perkara hilang control, ada benda tertinggal, ada pesan tak sampai, bukan tidak mungkin dapat menciderai atau membahayakan keselamatan.

Penerbanganku tidak waktu pagi. Siang yang sudah mendekati waktu sore hari pkl.15.45 waktu Malaysia. Aku tak hendak ambil resiko terlambat berada di airport maka, aku ikut bersama rombongan pertama dihantarkan dari hotel ke airport.  Keluar dari hotel pkl.04.00 dinihari. Bus datang, langsung berangkat.




Padahal kembali di hotel sudah malam, selesai penutupan resmi acara yang kuhadiri. Aku memutuskan memilih trip pertama ke airport, karena trip kedua pkl. 12.00 siang. Akibatnya, aku tidak dapat istirahat tidur dan juga kehilangan breakfeast disediakan hotel. Harus “menggelandang” dulu mulai sebelum subuh sampai petang hari di airport seorang diri.

Kembali di hotel sudah malam, tidak tidur karena takut ditinggalkan, tidak minum pagi, padahal checkout dari hotel setahuku biasanya pada pkl.13.00, hanya tersebab jadual bus yang disediakan pada waktu pkl.04.00 dinihari dan pkl.12.00 siang. Aku menggerutu sendiri. Sesuatu yang sudah dinikmati dengan menyenangkan, rupanya ada hal tak membuat nyaman. Apa boleh buat. Terima sajalah. Hibur diriku.

Aku mungkin seorang orang kampung yang tidak modern. Sebetapapun terlengkap dan mewahnya suatu bandara pernah aku jejaki, tetap saja kurasakan tidak menjadi tempat yang menyenangkan. Tempat santai tidak pernah ditempatkan pada lokasi yang tepat. Kursi selalu jumlahnya terbatas. Toilet letaknya pada titik yang tak mudah ditemui. Alasanya untuk keamanan.




Meskipun aku bukan seorang yang suka shooping, terasa bagiku, airport kini terkesan dikonsep “menggiring” orang untuk berbelanja dan makan minum di kedai dan café sambil menunggu jadual keberangkatan. Kalau hanya menunggu saja dan tidak ingin makan minum di café, ya, pandai-pandailah menikmati kursi yang sudah disediakan walau tidak di lokasi yang nyaman.

Dalam waktu yang panjang, terasa membosankan, aku tidak juga menemukan dimana ada tempat di airport megah ini lokasi merokok. Hari sudah semakin siang. Setelah puas berpindah-pindah ruangan akhirnya aku putuskan untuk turun dari ruang tunggu di lantai 3 ke lantai 2. Kemudian berkeliling bahkan berjalan bolak balik diantara keramaian pengguna jasa penerbangan.

Di salah satu lorong diantara kiri kanan counter-counter cheking ticket, ada atraksi pertunjukan kesenian tari. Orang terlihat berkerumun. Ramai juga. Suara music berupa rekaman tidak dimainkan sebagai music hidup terdengar jelas, diantara hilir mudik orang melintasi lorong pintu keberangkatan antar bangsa.

Jadilah aku salah seorang yang menonton atraksi tari itu. Penari-penari muda. Hanya laki-laki. Tidak terlihat ada yang berjenis wanita. Tari itu, menurutku sudah tari yang bersifat kontemporer tapi berdasarkan tari tradisionil. Sifatnya lebih dirancang ditujukan untuk hiburan. Karenanya, para penari memakai kostum yang lebih menyolok warna. Warna segar dan ceria.

Aku tak terlalu focus mengamati atau menikmati pertunjukan semacam itu. Sebagai tak ada pilihan ya sudah setidaknya pengisi waktu dalam menunggu. Aku lebih memperhatikan songkok yang ada di kepala para penarinya. Warna kuning terang, berbulu-bulu.  

Dalam hatiku, bila mereka sudah selesai menari, aku ingin meminjam songkok atau tanjak Melayunya barang sejenak untuk sekadar berfoto. Aku yakin, mereka pasti membolehkan. Nyatanya, keinginan itu tidak terwujud. Karena aku mengurungkan niatku.

Kegiatan seperti yang kutemukan di airport Klia2 itu, salah satu upaya memperkenalkan suatu daerah dengan potensi kesenian dan budayanya. Tentu tujuan yang utama terhadap perlancongan atau kepariwisataan. Seiring dengan kemudahan lalulintas manusia dari satu daerah ke daerah lain, dari satu Negara ke Negara lain. Yang dimungkinkan dengan hubungan keserumpunan atau pun keterkaitan diplomatic.




Menyaksikan pertunjukan tarinya, aku segera saja merasa akrab, karena tidak jauh berbeda dengan unsure-unsur kesenian leluhurku Ranah Minang. Tari yang bermula dari gerak-gerak silat, distilisasi ke dalam gerak dengan rangkaian komposisi. 

Tidak salah kemudian, sewaktu sudah berada di ruang tunggu untuk masuk pesawat, aku bertemu seorang orang kampungku yang berkunjung dari Melaka, satu pesawat kembali ke Indonesia mengatakan, “Tadi uda lihat kan, pertunjukan tari di lobi keberangkatan itu adalah randai,” katanya padaku.

Antraksi tari tersebut adalah suguhan promosi pelancongan yang digiatkan dari Negeri Kelantan. Salah satu negeri dalam Negara Malaysia.

Walau pun aku belum berkesempatan melancong ke negeri itu, setidaknya dengan peristiwa kecil di airport Klia2 ini, menjelang meninggalkan semenanjung Malaysia, aku seperti diingatkan kembali pada seseorang. Kami pernah berjumpa dan saling mengenal sesaat di Kuala Lumpur. Beberapa tahun silam. Dia berasal dari Negeri Kelantan. Kini entah dimana.

Kueja tulisan yang dituliskan di counter promo itu; “I Love Kelantan # Kelantan di hati.” @ copyright: abrar khairul ikhirma

Sabtu, 28 Oktober 2017

DOEA ORANG SENIMAN DARI PADANG

Foto ini ditemukan di wall fesbook salah satu dari kedua orang seniman asal Sumatera Barat ini. Telah menginspirasiku untuk menulis perihal keduanya, dengan style penulisan sebelum masa dianjurkan penggunaan EYD (Ejaan yang Disempurnakan) dalam Bahasa Indonesia.




Jang satoe bernama toean Ilhamdi Sulaiman​, jang biasa bagi orang tahoen 1980-an di Taman Budaya Padang seboet sebagai Boyke Sulaiman. Jang satoe lagi bernama toean Muhammad Ibrahim Ilyas.

Baiklah.... akoe hendak mencuba menoeliskan sedikit penoetoeran kisah setentang kedoea-doea orang ini.

Kedoea-doea daripada toean-toean ini pada masa dahoeloenja, berbilang antara tahoen separo 1970 sampai akhir 1980-an, jaitoe masa-masa berdjaya soeasana kehidoepan berkesenian di Soematera Barat, adalah terseboet sebagai anak panggoeng ataoe boleh joega dikatakan anak teater, jaitu pemain teater.

Bermoela kedoeanja semasa bersekolah soedah soeka kesenian. Selain beladjar di sekolah kedoeanja djuga tercatat memulapertama berkesenian dari kelompok Bumi Teater Padang, asoehan teaterawan Wisran Hadi, dimana saat itoe antara lain masih ada penyair Hamid Jabar, teaterawan A Alinde, pelukis Herisman Is, penyair Upita Agustine, toeroet sebagai daripada pengasoeh.

Sesoedah itoe kedoea-doeanja membelah diri. Tidak kerana kedoeanja orang berilmoe tetapi maksoednja, kedoeanya akhirnya keloear dari kelompok kesenian jang terbesar saat itoe ada di Soematera Barat.

Toean Ilhamdi Sulaiman beralias Boyke Sulaiman membentoek sendiri kelompok bernama Bojo Group Padang bersama Junaidi Usman. Kedoeanya pandai berteater, djoega bersastra, bernyanyi-musik dan berpantomime. Kira-kira djang pernah berteater, bersastra dan bermusik di Sanggar Bojo, djang akoe ingat, terseboetlah Aidil Usman yang kini bergiat menjadi penata artistik berbagai pertoenjoekan di Jakarta, Utjok Chalifendri (Padang), Rahmat Mulia Nasution (Jakarta) dan Indra Sakti Nauli (Padang), semasa ini bergiat di doenia media poeblik.

Selain di Bojo Grup toean Ilhamdi djoega daripada itoe seorang “pendekar” di Teater Proklamator Universitas Bung Hatta Padang, yang dibentoek semasa ia menjadi seorang mahasiswa. Laloe setelah menjadi seorang sarjana, toean Ilhamdi hijrah ke Kota Bengkoeloe, dimana kota terseboet pada dahulu semasa zaman sebeloem kemerdekaan terseboet bernama sebagai Bengcoolen. 

Toean Ilhamdi berhjirah oleh karena bekerja sebagai pegawai negeri di Taman Budaya Bengkulu. Jaitu ia pun membentoek Teater Alam Bengkulu. Menjadi soetradara dan mengajar peladjar-peladjar bermain teater.

Kini toean Ilhamdi diketahui liwat media socialnja, telah bergiat menjadi seoerang pemonolog. Bermain sebatang kara kemana-mana toejoean.

Adapoen djoega toean Muhammad Ibrahim Ilyas, dirinya terseboet ikoet teaterawan A Alin De, sesoedah keloear dari Bumi Teater Padang, kemoedian membentoek Sanggar Dayung-dayung Padang. Berkoeboe di Taman Budaya Padang.

Pada waktoe Pertemuan Teater 1982 se Indonesia di Taman Ismail Marzuki Jakarta, djang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta, toean djang satoe ini mendapat poejian terbaik, teroentoek aktor terbaik daripada toean goeroe djang termashur, dramawan dan penyair WS Rendra. Poejian kehormatan itoepoen tercatat dalam boekoe oerang hebat Indonesia itu, WS Rendra: Mempertimbangkan Tradisi.

Kemoedian daripada sesoedah berdjalannya waktoe, Muhammad Ibrahim Ilyas mengasoeh Sanggar Pasamayan bersama toean aktor Asbon Budinnan Haza, toean pelukis Asri Rosdi, toean penyiar radio Fuaddy Chaidir Rosha, toean seniman rupa-rupa Abrar Khairul Ikhirma.

Oleh sebab penghidoepan daripada masing-masing, semoeanya tercerai berai beroesaha dalam mencari penghidoepan dikemoedian harinja. Sekarang ini Muhammad Ibrahim Ilyas mendirikan Teater Imaji di Padang. Sambil bergiat menoelis naskah-naskah drama. 

Baroe-baroe ini, toean Muhammad Ibrahim Ilyas terpilih sebagai penerima Anugerah Sastra 2017 Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Republik Indonesia, untuk bukunja berjoedoel, “Dalam Tubuh Waktu,” memoeat 3 naskah drama, diterbitkan Penerbit Arifha Padang.

Djoega beliaoe dalam tahoen terakhir ini, prodoektif menoelis poeisi. Teroendang bermacam-macam perhelatan kesenian di berbagai tempat. Beliaoe oerang jang pada masa sekarang ini boleh diseboet sebagai penyair soematera barat terkemoeka. Boekoe-bokoenya poen soedah poela diterbitkan.

Begitoelah toelisan ini saja boeat sebenar-benarnya. Keh keh keh (*) copyright: abrar khairul ikhirma

Minggu, 24 September 2017

ESEI RINDU MUARA BENGKULU

Sungai Bengkulu, alirannya jauh ke hulu. Alirannya melintasi pusat kota dan pemukiman. Dengan adanya sebuah jembatan yang dibangun, lintasan dari sarana jalan pesisir pantai, kawasan muara sungai mudah dicapai setiap orang, bila hendak menatap alam yang lapang. Memandang dari salahsatu sisi Samudera Hindia.




BUNGA LIAR, bunga semak-belukar di tepi sungai, sedang bermekaran. Warnanya yang merah sungguh indah diantara kehijauan. Warna merah jambu. Mengingatkan perlambang cinta memabukkan, api asmara yang bergelora.

Saat ini lagi musin angin tenggara. Bagi nelayan dan mereka yang mengandalkan hidup di laut, ini adalah musim dengan cuaca yang buruk. Penangkap-penangkap ikan yang bermukim di pesisir pantai Bengkulu, enggan turun melaut. Kalaupun ada dengan keberanian, sering pulang ke pelabuhan dengan tangan hampa.

Aku menikmati bunga rumput dan bunga semak belukar di kawasan muara. Tumbuh di salah satu sisi sungai yang ke darat. Tidakkah ini suatu pemandangan yang indah tanpa harus dipungut bayaran? Kekayaan alam kita, yang bagi banyak orang seringkali dimusnahkan karena tak ada aturan dan kesadaran.




INI PAGI berikutnya. Aku kembali berada di ujung aliran Sungai Bengkulu. Alirannya tenang. Seakan tak ada arus mendorong dari hulu, untuk menyesak dengan cepat, melepas diri ke laut, melalui pintu muara sungai.

Dengan ketenangan itu, justru menimbulkan suatu bayangan misteri bagi mereka yang bukan penduduk setempat. Tapi kawasan ini sendiri masih dalam keadaan baik. Belum ada bangunan-bangunan menyesak, manusia-manusia yang bermukim berebut tanah tanpa ada lahan tersisa.

Sebuah kapal tonda terlihat bagiku. Kapal yang tampaknya baru saja selesai dibuat dan diturunkan ke dalam air. Selain itu, tak ada kapal atau perahu berada sejauh mata memandang dalam muara sungai. Agak ke hulu, mendekat arah ke jembatan beton, beberapa tahun lalu, saat aku mendatangi tempat ini, ramai masyarakat melakukan penambangan batu bara dari dalam sungai.

Di beberapa titik saat menyusuri tepian sungai ujung muara ini, aku masih melihat ada karung-karung di dalam semak belukar, berisi batu bara. Lalu berserakan batu bara yang tidak berupa bongkahan, menyatu dengan tanah. Mengubah lokasinya menjadi hitam.

Deru mesin dan biduk-biduk penambang batubara tak terdengar. Yang ada hanya sunyi. Pekerja-pekerja tambang pun tak terlihat pada pagi ini. Kawasan ini menjadi sepi manusia. Kecuali kendaraan yang melintas dan sepeda motor dengan deru knalpotnya yang menyakitkan.

Aku tak memiliki keberanian, karena hanya sendirian untuk mendekati tepi sungai lebih dekat lagi. Aku hanya mengitari pandangan dari badan jalan yang beraspal di sisi tepi sungai.




DIPERKIRAKAN ada lebih kurang 200 meter, sisi sungai arah laut, tidaklah merupakan bantaran sungai di ujung muara ini. Hanya terbentuk dari sendimentasi, membuat aliran sungai terlebih dahulu menyisir laut, sebelum akhirnya keluar dari pintu muara.

Lebar pasir yang sudah membentuk berupa tanggul itu, hanya kira-kira 10-15 meter saja dari sungai dan laut. Bentukan di ujung muara yang masih alami dan tidak dirusak dengan betonisasi, dimana banyak muara sungai dalam beberapa tahun ini, dijadikan tempat menggelontorkan uang Negara dengan alas an normalisasi sungai. Menghabiskan dana Negara dan merusak bentukan alam yang berubah-rubah.

Kita tak mengetahui, sampai berapa lama Muara Sungai Bengkulu ini dapat bertahan dengan muara sungai yang natural. Tanpa harus disentuh proyek dan betonisasi yang menjemukan.




ALAM yang lapang. Pandangan mata tak bertumbuk. Cahaya matahari bebas menyinarinya dengan kehangatan. Apa yang lebih dari anugerah alam kedamaian, diperuntukkan untuk manusia dan kehidupannya dari Yang Maha Kuasa?

Ini adalah pagi berikutnya, setelah pagi-pagi sebelumnya. Aku berada di sini, di kawasan ujung Sungai Bengkulu, kawasan muara sungai. Sendiri.

Setelah puas melemparkan pandang ke arah laut seakan menjauh itu, memandang arah daratan dari tepian sungai. Alam yang lapang. Bersih tak ada bangunan yang kerap muncul menjadi dinding. Pada umumnya dapat dilihat di berbagai tempat, view-view yang seharusnya dapat dinikmati oleh banyak orang, sudah dirampok manusia dan bangunan. Memperlihatkan penataan kota yang tak memiliki konsep yang jelas dan kebijakan kepemimpinan tak berpihak pada lingkungan hidup. Sehingga tiap hal menjadi raja dan pembenaran.

Di sini, antara laut dan sungai memiliki sekat, sebuah jalan penghubung membatasi dengan daratan. Menurut keterangan, kawasan muara sungai ini, disebut juga daerah yang termasuk Pasar Bengkulu. Tidak jauh dari pusat kota (*)

Bengkulu 2017 - Copyright: abrar khairul ikhirma

Minggu, 03 September 2017

MAKSUD HATI KE PUNCAK GUNUNG JERAI

Gunung Jerai. Nama indah dan melekat dalam ingatan. Aku tak mengetahui apakah artinya Jerai dalam bahasa setempat. Tidak tahu arti nama tidaklah mengurangi hasrat untuk menulisnya perihal kunjunganku pada gunung yang terdapat di Negeri Kedah Darul Aman, di utara Malaysia ini.




Berangkat dari Sintok-Kedah dengan dua tujuan. Mula berangkat cuaca sungguh mendebarkan hati, seakan tak sempurna menikmati sepanjang jalan dan sampai tujuan dalam situasi hujan. Aku pun merasa sia-sia tak dapat memotret, mendokumentasikan apa yang kutemui.

Kiranya separoh jalan hari hujan menjadi terang. Bahkan cahayanya terasa panas terik. Membuat rasa panas melekat ke tubuh. Benar juga kata pepatah, jangan disangka hujan sampai petang, di tengah hari, hari jadi panas garang.




Gunung Jerai dikunjungi setelah berkunjung ke Lembah Bujang. Jaraknya berjauhan. Tapi sarana jalan yang menghubungkan dalam keadaan baik. Sehingga jarak tempuh yang jauh dapat dipersingkat. Lembah Bujang terletak di pegunungan, di dalam perkebunan sawit, dimana ditetapkan sebagai kawasan Museum Arkeologi.

Gunung Jerai dikenal juga oleh masyarakat Kedah sebagai Puncak Kedah. Gunung setinggi 2.107 meter ini terletak diantara daerah Kuala Muda dengan Yan, Kedah Darul Aman. Daerah-daerah sepanjang pesisiran Selat Melaka.

Gunung Jerai sendiri menjulur sampai ke daerah yang dinamakan sebagai Tanjung Jaga yang berada di pinggir laut Selat Melaka. Bagi pelaut yang melalui selat, sejak berabad-abad silam, menjadikan Gunung Jerai sebagai penanda sebagai persinggahan. Pintu masuk bagi para pedagang yang datang dari luar Kedah melalui laut.




Menurut pengarang wanita Malaysia dari Kedah, Puan Amelia Hashim, yang berbaik hati mengantarkanku, mengatakan, perkampungan penduduk yang berada di kaki Gunung Jerai dikaitkan dengan mitos Raja Bersiong. Namun aku tak minta diceritakan bagaimana mitos itu. Mungkin lain waktu akan kucari sendiri pada literature yang ada.

Mungkin karena situasi tidak menguntungkan dalam perjalanan, aku merasa kesulitan untuk mendapatkan posisi dari mana dapat menemukan hasil foto Gunung Jerai yang menarik bagiku. Yang menyenangkan diantara persawahan, pohon-pohon dan petak-petak rumah sepanjang jalan, ketika melewati daerah Yan, Gunung Jerai selalu dapat terlihat jelas, panjang membujur.

Daerah Yan disebutkan, penduduknya mayoritas keturunan berasal dari Aceh, Pulau Sumatera, Indonesia. Sepanjang jalan tidak banyak aku melihat bangunan rumah-rumah tua. Hanya areal persawahan dan petak-petak pertokoan.



Menurut catatan sejarah, orang Aceh mula-mula hijrah ke Kampung Yan ini terjadi dalam kurun waktu 1888 hingga 1925.

Kala itu, di Aceh sedang berkecamuk perang dengan penjajah Belanda. 

Sejak itu komunitas masyarakat Aceh terus berkembang, sehingga terbentuk sebuah komunitas sendiri yang sekarang kita kenal sebagai ‘kampung Aceh’

Masyarakat Aceh yang telah lama bermukim di Kampung Yan itu antara lain berasal dari Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Aceh Barat, dan Aceh Timur. Mereka datang ke kampung di Semenanjung Malaka itu pada waktu perang Aceh dengan Belanda. Karena itu pula, kalau kita ke ‘kampung Aceh’ ini, berasa seperti berada di kampung halaman sendiri.

Gunung Jerai ramai diminati kaum muda untuk dikunjungi berolahraga cinta alam. Mereka yang menyenangi tracking biasanya akan naik dari arah utara. Melalui Guar Chempedak, Yan Kecil dan Yan Besar. Tetapi disebutkan alternative yang paling elok itu melalui track atau jalan lama melakukan pendakian yakni melalui daerah Yan Besar.

Dari puncak gunung akan kelihatan permandangan indah negeri Kedah terutama, persawahan yang luas terbentang bak saujana mata memandang.


BERSAMA ANDHYKA NUGRAHA


Dipuncak Gunung Jerai terdapat sebuah batu besar menyerupai sebuah kapal. Penduduk sekitar Gunung Jerai menyebutnya, Batu Kapal. 

Karena menurut legenda turun temurun yang mereka terima, kapal itu menjadi batu karena mendapat “sumpah” atau penyebutan di Indonesia “dikutuk.”

Adalah terjadi karena kapal milik Maharaja Merong Mahawangsa mencoba untuk dapat berlabuh di Pulau Serai, nama Gunung Jerai padamulanya yang konon hanya berbentuk pulau. Karena Sang Kelembai melihat kapal itu, disumpahnya. Hingga kapal menjadi batu.

Sekadar ingin mengetahui saja, ada apa di atas Gunung Jerai? Aku juga menemukan kemudian dalam sejumlah bacaan yang menyebutkan, pada tahun 1884 ada pekerja-pekerja yang melakukan kegiatan memecah batu. Entah ada atau tidak kaitannya dengan adanya sebuah bangunan di puncak gunung ini. Karena bangunan itu disebut-sebut sebagai bangunan penuh misteri. Sekarang bangunan tersebut sudah dimusnahkan, karena di lokasi didirikan “stesen radio.”

Ketika mencapai kaki Gunung Jerai, cuaca agak menggelap. Tampaknya akan turun hujan. Sesekali ada gerimis. Memasuki pelataran seperti sebuah terminal kecil. Yang ada hanya ada dua kendaraan mini bus terparkir. 

Di bahagian pintu masuk terdapat bangunan mushala. Di sisi lain terdapat bangunan pertokoan beberapa petak. Nun di atas bukit bangunan hotel. Di bahagian ceruknya, aku datangi bangunan kecil yang bersih dan dalam keadaan baik. Rupanya pos informasi “pelancongan.” Sayang dalam keadaan tutup. Tidak satu orang pun berada di sekitarnya.



Tak apalah. Tidak mengecewakan. Karena memang tidak bermaksud memerlukan informasi. 

Melihat kedatangan, seseorang menawarkan jasa untuk menjadi penumpang mini busnya, untuk mengantarkan kami ke puncak Gunung Jerai. 

Ternyata beliau adalah penyedia jasa bagi pengunjung. Dia tahu kami datang dengan kendaraan sendiri tapi memang ada banyak orang, lebih memilih memarkir mobil di tempat itu, lalu menggunakan jasa khusus mini bus wisata.

Saat kedatangan tepat di kaki Gunung Jerai itu, tidak ramai. Benar-benar sepi. Boleh dikata hanya kami bertiga saja. Karena cuaca aku sudah mendua, antara tertarik atau tidak untuk dapat sampai ke puncak gunung. Sampai pun di puncak, aku malah hanya sekadar sampai, tidak dapat memotret sebagai suatu kesenanganku. Hasil-hasil potret dengan camera pocket akan mengecewakan, dengan hanya 16.1 mp apalah dayanya.

Daripada mencarter mini bus itu untuk bertiga, lebih baik tunggu penumpang lainnya. Mungkin tersebab sudah sore dan tidak dalam masa libur, penumpang lain tak ada yang datang. Lama juga aku menikmati suasana sepi kaki penggunungan bersantai. Jadilah kemudian, tanggal 7 September 2016, maksud hati sampai ke puncak Gunung Jerai, apadaya kabut kian menebal seperti hujan akan turun deras. Hingga akhirnya bergegas untuk kembali ke Sintok (*) copyright: abrar khairul ikhirma

Minggu, 27 Agustus 2017

QASWA PUN BERHENTI MELANGKAH

Masjid Nabawi atau disebut dengan Al-Masjid an-Nabawi, adalah masjid yang didirikan langsung oleh Nabi Muhammad. Terletak di pusat kota Madinah, Arab Saudi. Tercatat sebagai masjid ketiga mula pertama dibangun dalam sejarah Islam.




Kini Masjid Nabawi menjadi salah satu masjid terbesar di dunia. Merupakan menjadi tempat paling suci kedua dalam agama Islam, setelah Masjidil Haram di Mekkah. Setiap hari dari berbagai belahan dunia, umat Islam terus berdatangan untuk mengunjunginya tak putus-putusnya. Menjadi dambaan umat Muslim di seluruh dunia ingin mendatanginya untuk beribadah, walau sekali dalam hidupnya.

Setiap aku memasuki salah satu pintu halaman Masjid Nabawi, perasaan tenang selalu menjalari segenap tubuhku seketika. Dalam udara siang yang sejuk atau pun waktu malam dengan udara yang dingin bagiku, pikiran dan hatiku menjadi hangat melafazkan Allahummasali’alaMuhammad dan Allahua’bar berulangkali.

Masjid ini berada dibawah perlindungan dan pengawasan Penjaga Dua Tanah Suci. Berada tepat di tengah-tengah kota Madinah, dengan beberapa hotel dan pasar-pasar yang mengelilinginya. Masjid Nabawi menjadi tujuan utama para jamaah Haji ataupun Umrah. Karena di Masjid Nabawi ini terdapat makam Nabi Muhammad.

Awalnya, masjid ini berukuran sekitar 50 m × 50 m, dengan tinggi atap sekitar 3,5 m. Rasulullah turut membangunnya dengan tangannya sendiri, bersama-sama dengan para shahabat dan kaum muslimin. Tembok di keempat sisi masjid ini terbuat dari batu bata dan tanah, sedangkan atapnya dari daun kurma dengan tiang-tiang penopangnya dari batang kurma. Sebagian atapnya dibiarkan terbuka begitu saja. Selama sembilan tahun pertama, masjid ini tanpa penerangan di malam hari. Hanya di waktu Isya, diadakan sedikit penerangan dengan membakar jerami.



BULAN TERLIHAT KECIL DI ATAS MADINAH


Aku tidak sedang mengkhayal atau berangan-angan. Dalam saat berkeliling Masjid Nabawi, aku berhenti pada salah satu sudutnya. Diantara para jamaah yang ramai. Sambil menatap bangunan masjid, aku berusaha menarik ingatanku dari kemegahan bangunan beton saat ini, jauh ke belakang, ke masa-masa dimana Rasulullah masih hidup. Mengira-ngira bentuk bermulanya Masjid Nabawi di zaman kenabian.

Aku pun membayangkan tentu di zaman itu, betapa demikian sulitnya ketersediaan air untuk berwuduk. Angin dan debu pasir dari gurun bahagian kehidupan. Juga terik sinar matahari kala siang, dengan kegelapan di waktu malam. Oh betapa sunyinya suasana malam-malam di zaman itu. Sunyi yang kental untuk berzikir dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

Aku pun teringat akan ayat, “berserakanlah (siang hari) mencari penghidupan di muka bumi, jadikanlah waktu malam masa untuk beristirahat dan gunakanlah separohnya untuk berzikir (mengingat-Nya)”

Pada waktu selesai sholat Isya atau menjelang waktu sholat Subuh, selama di Masjid Nabawi, selalu aku gunakan untuk tidak menutup mataku dan membuka selebar-lebarnya hati dengan pikiran. Sehingga apapun yang terlihat dalam pandangan mata, selalu aku jadikan sebagai tanda penuh hikmah. Melihat tingkah laku orang. Cara masing-masing berada di tempat suci dan cara mereka melaksanakan peribadatannya diantara manusia-manusia lain. Karena di tempat itu tidak dirinya sendiri, juga ada orang lain. Tidak anak, tidak saudaranya, tidak teman, tidak orang sekampung, tidak senegaranya saja tapi sesama muslim dari seluruh dunia.

Di beberapa sudut dan ceruk bangunan Masjid Nabawi yang bersih dan lapang itulah, di bahagian luar masjid, aku selalu melihat setiap selesai sholat Isya atau dinihari menjelang sholat Subuh, ada saja terlihat orang-orang dengan tenang tidur nyenyak tanpa tikar. Wajah mereka hampir tak terlihat, karena pada umumnya kulihat tidur “berkelumun” berbungkus selimut tebal. Seakan-akan udara terbuka yang dingin sudah hal biasa bagi mereka.


IRVAN KHAIRUL ANANDA
KAKAK SULUNGKU KETIKA PAGI DI MASJID NABAWI


Disaat lain, sewaktu membaca literature perihal Masjid Nabawi, aku baru menyadari orang-orang yang tidur di bahagian luar masjid itu kenapa “tidak dilarang.” Bisa jadi pada zaman Rasulullah sendiri tidak melarangnya. Sebab bangunan Masjid Nabawi yang mula didirikan Rasulullah, di salah satu sisinya digunakan sebagai tempat orang-orang fakir-miskin yang tidak memiliki rumah. Kemudian orang-orang ini disebut sebagai ahlussufah atau para penghuni teras masjid.

Nabi sendiri bertempat tinggal di Masjid Nabawi. Bangunan kediamannya melekat pada salah satu sisi masjid. Disebutkan bahwa kediaman Nabi ini tidak seberapa besar dan tidak lebih mewah dari keadaan masjidnya, hanya tentu saja lebih tertutup.

Masjid ini sebenarnya merupakan bekas rumah Nabi Muhammad yang dia tinggali setelah Hijrah (pindah) ke Madinah pada 622 M. Bangunan masjid sebenarnya dibangun tanpa atap. Masjid pada saat itu dijadikan sebagai tempat berkumpulnya masyarakat, majlis, dan sekolah agama. Masjid ini juga merupakan salah satu tempat yang disebutkan namanya dalam Alquran.




Diriwayatkan Nabi Muhammad setelah kedatangannya di Kota Madinah, menemukan lokasi ini sebagai pilihanya mendirikan Masjid Nabawi. Ketika itu Nabi mengendarai seekor unta yang dinamai Qaswa. Qaswa berhenti di tempat yang sekarang dijadikan masjid. Lahan tersebut pemiliknya ialah Sahal dan Suhayl. Bagian dari lahan ini digunakan untuk lahan tempat pengeringan kurma; sedangkan bagian lainnya dijadikan taman pemakaman.

Menolak di sebut "menerima lahan sebagai sebuah pemberian", Nabi membeli lahan tersebut dan memerlukan waktu selama tujuh bulan untuk menyelesaikan konstruksi. Saat itu luasnya 30.5 meter (100 ft) × 35.62 meter (116.9 ft). Atapnya, ditunjang oleh pelepah kurma, terbuat dari tanah liat yang dipukul dan daun-daun kurma. Tingginya mencapai 3.60 meter (11.8 ft). Tiga pintu masjid yaitu Bab al-Rahmah ke selatan, Bab al-Jibril ke barat dan Bab al-Nisa ke timur.

Kini merupakan jantung Masjid Nabawi ialah Raudlah (merujuk pada al-Rawdah al-Mutaharah) dan tempat dimakamkannya Nabi Muhammad, dan dikenalnya dengan nama Kubah Hijau.

Diterima dari Anas bin Malik bahwa Nabi Muhammad bersabda (artinya):"Barangsiapa melakukan salat di mesjidku sebanyak empat puluh kali tanpa luput satu kali salat pun juga, maka akan dicatat kebebasannya dari neraka, kebebasan dari siksa dan terhindarlah ia dari kemunafikan." (Riwayat Ahmad dan Thabrani dengan sanad yang sah).


Setiap memasuki pintu gerbang halaman Masjid Nabawi, aku mengucapkan Assalamualaikum dalam hati. Kuingat kedatangan Nabi ke Madinah dan nama onta kendaraannya yang indah, Qaswa (*) copyright: abrar khairul ikhirma 2017

Selasa, 22 Agustus 2017

SASTRAWAN AHMAD KHAMAL ABDULLAH

Ahmad Khamal Abdullah satu diantara sastrawan terkemuka tanah semenanjung Malaysia, sampai kini tetap berkaryacipta sastra dan mengobarkan semangat berkegiatan kesastraan Nusantara Melayu.




Lengkapnya nama tokoh ini, SN Dato DR Ahmad Khamal Abdullah. Selain bergelar Dato, beliau merupakan Sasterawan Negara ke-11 Malaysia. Sudah malang-melintang di dunia kesastraan di Malaysia maupun diluar negaranya. Tidak pernah lelah menyuarakan, agar bahasa ibu ---Melayu, dibudayakan di tanah air.

Dato seorang yang tidak hanya terpaku berkaryacipta saja, akan tetapi dia memiliki pemikiran kepada masa mendatang. Pada pertumbuhan regenerasi. Terutama dalam memperjuangkan kebudayaan Melayu ke pentas-pentas dunia. Tidaklah heran, dalam perjalanan aktifitasnya, Dato telah menggagas dan menyelenggarakan berbagai peristiwa kesusastraan di Malaysia bertaraf Internasional. Melibatkan sastrawan dari sejumlah Negara di dunia.




Kemala adalah nama pena Ahmad Khamal Abdullah, yang terlahir di Gombak, Selangor, Malaysia, pada 30 Januari 1941. Karya-karya sastranya telah banyak dibukukan dan termuat di berbagai antologi yang diterbitkan. Sastrawan Malaysia berdarah Minangkabau ---Indonesia--- ini, kakeknya berasal dari desa Timbo Abu, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, Indonesia.

‘Ayn, merupakan buku kumpulan puisi masterpiecenya, karena mencitrakan unsure keindahan bahasa dan nilai kesufian serta mistik. Tak mengherankan, berkat kumpulan puisinya ini, telah membawanya untuk terpilih sebagai penerima Anugerah Penulisan Asia Tenggara (S.E.A. Write Awards) dari Kerajaan Thailand tahun 1986. Tahun 2011, Kerajaan Malaysia mengurniainya dengan Anugerah Sastera Negara dan dinobatkan sebagai Sasterawan Negara ke-11. Tahun 2015, Kathak Literary Bangladesh, menetapkan Ahmad Khamal Abdullah sebagai penerima Literary Award 2015.




Dalam beberapa tahun terakhir, Ahmad Khamal Abdullah, bergiat menyelenggarakan berbagai acara kesastraan melalui Persatuan Sasterawan Nusantara Melayu Raya ---Numera, dimana beliau sebagai Presidennya. Menggagas baca puisi, anugerah, seminar bahkan melakukan penerbitan buku. Yang melibatkan sastrawan antar Negara serumpun.





Kiranya, layaklah untuk memberikan ucapan kepada beliau, berkaitan atas kegigihannya dalam perjuangan kesastraan, di waktu yang berbeda, pada empat peristiwa (*) copyright: abrar khairul ikhirma

Senin, 21 Agustus 2017

"SENYAP'" TAMAN BUDAYA BENGKULU

“Apakah nasib sudah berubah menjadi suatu takdir?” Seketika pertanyaan itu terlintas menohok dalam pikiran nakalku, setelah melewati pintu gapura dan memasuki halaman Taman Budaya Bengkulu.




Pertamakali datang ke Taman Budaya Bengkulu sekitar tahun 1992 silam, memenuhi undangan seniman teater Ilhamdi Sulaiman atau juga dikenal sebagai Boyke Sulaiman.

Bagi kami yang beraktifitas berkesenian di Taman Budaya Sumbar, nama Ilhamdi bukanlah nama yang asing. Beliau jebolan Bumi Teater asuhan teaterawan Wisran Hadi. Semasa kuliah adalah salah seorang pendiri kelompok teater Proklamator di Universitas Bung Hatta, Padang. Kemudian membentuk Bojo Group di Taman Budaya. Lalu hijrah ke Bengkulu. Bekerja sebagai pegawai di Taman Budaya Bengkulu. Mendirikan kelompok Teater Alam. Beberapa tahun terakhir ini, dia bersolo karier. Ilhamdi memilih jalan sebagai Monologer setelah menetap di Jakarta.




Kedatanganku ke Bengkulu pertamakali itu bersama teaterawan Sumatera Barat (Sumbar) A. Alin De. Kami berdua diundang untuk menyaksikan pementasan Teater Alam Bengkulu, yang disutradarai Ilhamdi Sulaiman. Dipentaskan di Taman Budaya Bengkulu. Dimana kelompok teater ini beranggotakan orang-orang muda berbakat, berstatus pelajar di sekolah menengah. Malam pementasan, gedung pertunjukan ramai penonton. Tidak mengecewakan.

Yang kuingat waktu itu, pada waktu siang esoknya, berkesempatan sendirian mencapai beberapa titik lokasi dalam areal taman. Arena teater terbuka yang tak terawat. Ada tumbuhan ilalang di sana sini. Lalu lingkungan yang sangat minim dengan tumbuhan. Dalam hatiku saat itu, memang inilah ciri khas yang benar pada Taman Budaya kita dan sarana-sarana kesenian pada umumnya. Tidak terawat dan tidak terurus.

Entah hanya bercanda atau memang begitu adanya, ada seseorang waktu itu yang mengatakan padaku, pada waktu malam hari, di semak belukar di arena Teater Terbuka itu, terlihat serombongan babi liar. Aku menjawabnya dengan bercanda, “Jangan-jangan babi itu juga ingin berbudaya.”

Sudah demikian, ketersediaan lampu penerang pusat kebudayaan itu sudah dapat diterka. Pada malam hari lebih banyak gelap gulita. Apalagi kalau kegiatan kesenian tidak pernah dilangsungkan setiap saat. Kita pun tahu, pada umumnya, pertunjukan-pertunjukan kesenian diselenggarakan pada malam hari.

Untuk Taman Budaya Bengkulu, menurutku saja pada situasi di tahun 1992 itu, hanya Gedung Pertunjukan yang terletak di bahagian depan itu sajalah yang menjadi “harta” sebagai fasilitas bagi mereka yang ingin menyelenggarakan pertunjukan kesenian. Gedung itu mungkin masih belum terlalu lama dibangun, sehingga kelihatannya masih baik-baik saja. Walaupun ada di beberapa bahagian mengalami kerusakan.


KUNJUNGAN TAHUN 2013


Pada beberapa petang hari, kami yang menginap di salahsatu rumah di Tanah Tumbuh, berjalan kaki ke Jalan Padang Harapan dimana Taman Budaya Bengkulu berada. Maksud kami waktu itu, ingin ada suasana seperti biasanya seniman di Taman Budaya Padang, bersantai pada satu tempat dalam kompleks Taman Budaya. Berkumpul dan bercakap-cakap apa saja sesama seniman, baik senior maupun junior.

Lokasi yang kami pilih yakni tak jauh dari (kini) pintu gapura, sebelah kanan.  Ada tanah ditumbuhi rumput, tampaknya sengaja ditinggikan semacam tanggul pembatas dengan tanah kosong. Sebelahnya lagi halaman Gedung Pertunjukan. Di atas berupa tanggul tanah itu, ditanam beberapa batang pohon bunga tanjung. Kelihatannya antara hidup dan mati. Tingginya kurang dari 3 meter. Di sanalah kami bercengkrama dan berdiskusi lepas bersama keluarga Teater Alam.

Pada kesempatan berkunjung ke Kota Bengkulu tahun 2013, suatu siang, aku sengaja untuk “menjenguk” Taman Budaya Bengkulu. Hanya sekadar melihat-lihat saja. Suasananya tidak jauh beda. Dalam Gedung Pertunjukan terlihat ada kegiatan persiapan acara kesenian. Aku berjalan-jalan melewati jalan yang ada hingga mampir ke bangunan berupa kantor.

Ada 2 pegawai sedang bercakap-cakap. Aku perkenalkan diri. Serta merta, aku melihat sebuah foto terpajang di dinding. Maka aku katakan bahwa orang yang sedang bermain alat music keyboard di foto itu, adalah temanku. “Namanya Iskandar.” Semasa di Taman Budaya Padang, Iskandar adalah seorang pemain teater, merupakan actor pada pementasan Teater Padang pimpinan Hardian Radjab. Kedua pegawai itu membenarkan orang yang kumaksudkan. Menjelaskan bahwa temanku itu sudah wafat. “Ya,” kataku, “Aku sudah mengetahuinya.”

Sewaktu akan meninggalkan Taman Budaya, dalam kunjungan yang singkat itu, aku seperti awal kedatangan tadi sejenak menatap tanaman bunga tanjung tak jauh dari gapura, sudah membentuk diri menjadi pohon.

Daunnya rapat dan hijau. Tanggul yang dulu itu tak terlihat di bawahnya. Tidak berapa beda tingginya dibandingkan dengan halaman Gedung Pertunjukan. Sejumlah daun-daun keringnya, berserakan di sana-sini.
Dalam kesempatan berada di Kota Bengkulu tahun ini (2017), salah satu agendaku berkunjung ke Taman Budaya Bengkulu. Tidak salah kemudian, yang pertama ingin kulihat yakni barisan pohon bunga tanjung. Kini pohon itu sudah besar, daunnya sangat rindang kala panas terik kedatanganku menjelang waktu sholat Zhuhur.

Yang kudapati Taman Budaya dalam keadaan senyap. Pintu gapura tertutup. Hanya pintu kecil yang terbuka. Di depan gapura berdiri dua pedagang gerobak. Penjual air tebu dan pedagang rokok. Aku minta izin untuk masuk. Berjalan ke dalam. Tidak ada siapa-siapa. Mulanya, aku berharap ada seniman-seniman terlihat latihan atau tengah bersantai bercakap-cakap di salah satu sudutnya. Tidak ada.

Selain senyap, kondisi Gedung Pertunjukan semakin terlihat bagaikan sebuah gudang yang tak terpakai. Halamannya tidak bersih. Nun di ujung sana, bangunan kosong. Tak terlihat ada orang. Semula aku akan melangkah lebih jauh ke dalam. Akan tetapi sesampai di tengah halaman, aku berbalik. Lalu sejenak melangkah berteduh di bawah pohon bunga tanjung.




Di bawah pohon itu kini, ada dibuat bangku yang dilekatkan dengan lingkar pohon. Tidak dalam keadaan bersih, seakan tempat itu merindukan sapu lidi. Daun-daun kering berserakan di sana sini.

Mungkinkah keadaan serupa ini adalah sudah nasib Taman Budaya kita di daerah-daerah di seluruh Indonesia, yang ditakdirkan semakin mengalami kehancuran karena otonomi yang “diagungkan” ?. Karena silih berganti Kepala Daerah dan pemimpin-pemimpin yang tak memiliki “perhatian” dan latar belakang budaya ? Apalagi Taman Budaya tidaklah sebuah instansi pemerintah “pencetak uang” seperti instansi lain yang menghasilkan “proyek.”


Kemanakah para seniman ? Sungguh sayang, di bawah kerindangan pohon bunga tanjung yang semakin membesar ini tanpa seniman! (*) copyright: abrar khairul ikhirma, agt.2017

Minggu, 20 Agustus 2017

SYARIFUDDIN ARIFIN: BANDARA SATU TUJUAN

18 tahun tak pernah bertemu, berkomunikasi pun tidak. 2 tahun terakhirnya terhubung dengan fb, media social. Setelah delapanbelas tahun yang berlalu, akhirnya kami bertemu pertamakali di Bandara Internasional Minangkabau, satu flight menuju satu tujuan: Kuala Lumpur, Malaysia.


BANDARA INTERNASIONAL MINANGKABAU


Yang kuingat di tahun 1980-an silam, dalam situasi Sanggar Pasamayan Padang, berserakan suratkabar, majalah, buku, brosur dan kertas di sana sini. Spanduk-spanduk bekas. Sampah. Puntung-puntung rokok. Pemandangan sehari-hari, kumuh, lembab, nyamuk bergentayangan. Tidak hanya malam, juga siang hari. Makanan kami sehari-hari di sanggar itu dengan selera sama, membaca dan mengumpulkan berbagai bahan bacaan.

Sanggar itu memanfaatkan bangunan bekas stand pameran industry, sisa dari areal Padang Fair tahun 1970-an, terletak di bahagian depan sudut arah utara Taman Budaya Padang, membelakang Jalan Diponegoro, berdampingan dengan Jalan Pancasila. Itulah rumahku Sanggar Pasamayan, rumah kami berlima; actor dan penggiat seni Asbon Budinan Haza,teaterawan dan penyair Muhammad Ibrahim Ilyas, pelukis dan penyair Asri Rosdi,penyiar Fuaddy Chaidir Rosha dan aku.

Diantara harta di rumah (sanggar) kami yang berserakan itulah, aku menemukan buku tipis “Ngarai,” kumpulan puisi Syarifuddin Arifin. Kumpulan yang diterbitkan Kolase Kliq Jakarta tersebut, memuat sejumlah puisi pendek-pendek. Tepatnya puisi-puisi spontan, lugas dan dengan kata pilihan.

Mungkin itulah pertamakali, aku benar-benar membaca karyanya dengan intens. Karena berdasarkan puisi-puisi pada kumpulan Ngarai itu pula, aku dapat menyimpulkan bahwa style kepenulisan puisinya adalah pada puisi pendek. Sehingga ketika menemukan sejumlah puisinya sekarang, yang sempat kubaca, terasa tidak menemukan “dirinya.” Kekuatannya pada puisi pendek, karenanya menurutku ia “gagap” pada puisi naratif dan balada.

Syarifuddin Arifin. Aku dan sebahagian besar mereka yang mengenalnya di tahun 1980-an memanggilnya dengan Da If.  Tidak asing bagiku. Mula mengenal namanya di halaman Remaja Minggu Ini (RMI) asuhan penyair Rusli Marzuki Saria, suratkabar Harian Haluan. Koran tertua di Sumatera yang didirikan A. Kasoema. Berkantor di Jalan Damar, Kota Padang, Sumatera Barat.  

Syarifuddin Arifin pada masa tahun 1980-an salah seorang penulis RMI yang aktif. Dimasa itu suhu kreatifitas di Sumatera Barat mempublikasikan karya di media cetak sangat kompetitif. Satu halaman suratkabar disediakan satu kali sepekan, terasa sesak menampung karya penulis. Tumpukan naskah cerpen, puisi dan artikel memenuhi meja redaktur di kantor redaksi. Suatu kebanggaan, kalau tulisan berhasil “mengalahkan” karya yang lainnya belum diterbitkan. Aku pun pernah tercatat sebagai salah seorang penulis di RMI tersebut.

Sejak aku “bermukim” di Taman Budaya Padang ---kemudian berubah nama menjadi Taman Budaya Sumatera Barat--- setahuku, meskipun Syarifuddin Arifin pernah menerbitkan kumpulan puisinya, pada masa itu terbilang langka penulis bukunya diterbitkan, namanya malah lebih dikenal sebagai cerpenis, tidak sebagai penyair.

Dia memang rajin untuk menulis cerita pendek dan mempublikasikannya ke suratkabar. Bahkan beberapa cerpennya pernah memenangkan sayembara. Diantara cerpen-cerpen itu, dikumpulkan  dalam buku dan sudah diterbitkan. Kumpulan cerita pendeknya, Bermula Dari Debu, diterbitkan pada tahun 1986. Kemudian di tahun 1989, buku kumpulan cerpen keduanya berjudul Gamang, diterbitkan. Seingatku, buku kumpulan cerpen Gamang ini, pernah dihadiahkannya untukku. Aku pun sempat menulis sedikit catatan perihal bukunya ini, untuk dipublikasikan di suratkabar terbitan Padang.

Di tahun 1980-an sampai separuh awal tahun 1990-an, kami sering bertemu walau pun tidak dalam kegiatan berkesenian. Aku bermukim di Taman Budaya Padang dan Syarifuddin Arifin sehari-hari bekerja sebagai pegawai di instansi pemerintah tersebut. Walau pun tidak rutin, namun diantara hari-hari kehidupan di pusat kesenian itu, ada saja momen yang membuat kami bertemu. Tentu saja kalau tidak saat sama-sama menikmati kopi di kedai kopi, sudah pasti lagi duduk-duduk di bawah batang flamboyant tua, dimana hampir setiap hari aku menjadi “penghuni” setia bawah pohon itu. Ada atau tidak ada teman. Tidak dihitung siang atau pun malam. Bertahun-tahun lamanya.

Aku mengenal Syarifuddin Arifin dengan saudara-saudaranya. Untuk satu masa, kemudian aku pernah sangat dekat dengan kakak sulungnya, wartawan, penyair dan penggiat teater, Sjafrial Arifin. Kurang dari satu tahun, aku bersamanya “berumah” di kamar 116 Inna Muara Hotel Padang. Tetapi hubunganku dengan kakak sulungnya “berjarak” kemudian hari, tersebab aku tak berminat untuk bergabung dengan kegiatannya di kesenian. Juga dengan kakaknya yang lain, Bachrum Rony Arifin, pernah sama-sama bekerja di perusahaan suratkabar yang sama. Saat aku “merantau” hidup di Jakarta, aku pun pernah “bermukim” satu masa di rumah adiknya, Zulkarnaini Arifin, yang juga seorang wartawan.

Syarifuddin Arifin, lahir di Jakarta, 1 Juni 1956. Berpendidikan STKIP Sumbar, Akademi Ilmu Komunikasi (AIK) Padang. Mengikuti Lokakarya Penulisan Cerpen (1981) oleh Majalah Sastra Horison & Majalah Kebudayaan Basis. Tulisannya dipublikasikan di berbagai media cetak (majalah dan Koran) Jakarta dan Padang. Salah seorang penggiat Bengkel Sastra Indonesia (BSI) Jakarta, 1980-an. Pernah di kelompok Bumi Padang, asuhan Wisran Hadi. Mengasuh dan menjadi sutradara di Teater Jenjang dan Teater Flamboyan, Padang. Mendirikan Sanggar Penulisan MASA Padang (1984).


AHMAD TAUFIQ, A'YAT KHALILI, TERATAI ABADI
SYARIFUDDIN ARIFIN, POUL NANGGANG & AKU.
PENYAIR INDONESIA DAN MALAYSIA
2014


21 Maret 2014 perjumpaan kami setelah 18 tahun di pintu masuk chek-in Bandara Internasional Minangkabau, Sumatera Barat, Indonesia. Aku dan Syarifuddin Arifin akan terbang dengan pesawat yang sama menuju Kuala Lumpur, dengan tujuan yang sama, menghadiri Anugerah Puisi Dunia Numera, 21-24 Maret 2014 di Dewan Bahasa Pustaka Kuala Lumpur. Kami berdua “terpilih” menerima anugerah diantara sejumlah penyair Malaysia, Indonesia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam, Belgia, Swedia dan Rusia.

“Mana puisi Arkhi, Padang Sepanjang Jalan itu,” tiba-tiba saja Syarifuddin Arifin bertanya padaku, saat berjalan menuju pintu boardingpass. Padahal, kami tidak sedang bercakap-cakap mengenai puisi. Mengapa dia menanyakan tiba-tiba ? Mengapa dia menanyakan puisi panjangku itu ? “Puisi itu kan sudah wak bukukan dalam kumpulan puisi, Sajak Penyair 15 Ribu,” kataku, “Kenapa memang?” kataku balik bertanya. “Ambo sukolah jo puisi Arkhi tu…,” aku Syarifuddin, dia menyukai karya puisiku yang ditanyakannya itu. Aku hanya merasa aneh saja, tidak tahu apa maksud di balik semua hal itu.

Di pesawat terbang, kami duduk berdampingan. Dalam penerbangan menuju Kuala Lumpur, aku berikan kepada Syarifuddin Arifin, dua eks buku sederhanaku. Satu buku kumpulan puisi berjudul, Antara Bukik Punai. Satu lagi, berjudul Izinkan Aku Bicara, buku berkait dengan penerimaan Anugerah Puisi Dunia Numera 2014 yang sengaja aku tulis, susun dan diterbitkan.

Selama berada di Kuala Lumpur, kami menginap di Jeumpa d’Ramo di kawasan Bangsar. Sekamar bertiga, aku, Syarifuddin Arifin dan Ahmad Taufiq. Syarifuddin menghadiahkan aku buku kumpulan puisinya, Maling Kondang, terbitan Teras Budaya Jakarta tahun 2012.

Selama berada di Kuala Lumpur, aku dan Syarifuddin Arifin seperti mengulang kembali kebiasaanku “berteater spontan.” Apalagi dengan kehadiran penyair Ahmad Taufiq dari Jember dan A’yat Khalili dari Madura, Jawa Timur, Indonesia, yang kemudian kukenal. Keduanya “segera” saja menjadi “media” sebagai pengantar “celotehanku” berolok-olok seputar kurenah orang sastra dan karya sastra. Tak kusadari apakah orang suka mendengarnya atau tidak. Aku tiada sadar, keasyikan saja dengan dunia ekspresiku, meluapkan “cimeehku” dengan suaraku yang keras, macam orang bertengkar.

Bisa jadi, hal semacam itu bangkit kembali dalam suasana yang tepat. Bagi Syarifuddin Arifin styleku demikian tidaklah hal baru. Ketika semua orang (seniman) sudah meninggalkan Taman Budaya Padang, dimana hampir sepanjang hari pusat kesenian di tengah kota itu, seakan berubah menjadi komplek pekuburan. Aku tetap “bertahan” sendirian hidup di sanggar, di sepetak bangunan lapuk sudut bahagian depan Taman Budaya. Kesendirian diantara kesunyian dan rasa lapar.

Di masa-masa situasi Taman Budaya itu, setiap petang hari aku selalu dikunjungi uni Nita Indrawati Arifin, seorang penulis dan kemudian menjadi wartawati. Terkadang Nita datang bersama penulis Indrawati In. Di depan sanggar, di bawah langit terbuka, ada saja yang menjadi topic percakapan kami. Biasanya yang selalu datang adalah Syarifuddin Arifin. Tekhnik munculnya, dengan nada berseloroh berhiba-hiba agar Nita bersedia membelikan minuman kopi setengah (cangkir kecil) dan setengah bungkus rokok. Setelah itu ada saja olok-olok dan kata-kata satire diantara kami.


DI LCCT KINI KLIA2 KUALA LUMPUR, MALAYSIA


Petang hari di depan “sarangku” itu adalah hari-hari keakrabanku dengan Syarifuddin Arifin. Aku selalu menyebut dia, orang-orang yang “mengintai” kedatangan Nita ke tempatku. Nita sendiri memang “dewa penyelamat” bagi sejumlah orang pada masa itu. Dia selalu luluh hatinya, jika kami belum makan, minum dan merokok. Seringkali dia menjadi donator bagi kami serupa itu. Tidak terbalas jasanya sampai kini.

Sekali-kali turut bergabung teaterawan Muhammad Ibrahim Ilyas, penyair Ade Soekma dan Zal Lambok ---Rizal Buyung. Yang jelas, hampir setiap petang ada-ada saja yang “menjenguk” ke sarangku. Tak terbilang apakah seniman junior atau seniman senior. Seakan-akan aku “penjaga kuburan” yang harus ditemui. Jika aku tak ada di bawah pohon flamboyant ---tak jauh dari pintu gerbang--- duduk bertapa, mereka pasti menuju bahagian sudut Taman Budaya, menemukan dimana sarangku.

Jika sampai kini banyak orang mengenal Syarifuddin Arifin tapi dapat dipastikan hanya kami bertiga ---aku, Muhammad Ibrahim Ilyas dan Nita Indrawati Arifin--- saja yang tetap mengingat hal spesifik darinya. Kami memanggilnya dengan “Da If” tapi jika sudah berseloroh terkadang dengan panggilan akrab kami sebut dengan “Pudin.” Sebab kenapa ??? Ada saja di masa lalu itu, saat di hadapan kami sewaktu-waktu ia akan berkata sendiri dengan keluguannya, “Pudin…. Pudin…., kajadialah ang ko.”


Entah bermaksud mengatakan kepada kami atau hanya  gumamannya pada dirinya sendiri, akan jadi apakah dia (*) copyright: abrar khairul ikhirma, agustus 2017