Tampilkan postingan dengan label KulilianG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KulilianG. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Oktober 2017

RUMAH KAPITAN DARI MEDAN

Tjong A Fie adalah seorang pengusaha, bankir dan kapitan, berasal dari Tiongkok. Sukses membangun bisnis besar dalam bidang perkebunan di Sumatera, Indonesia.




Aku orang yang tak banyak menghabiskan waktuku, membuka-buka google pabila sedang memakai jaringan internet. Aku hanya akan membukanya, pabila ada suatu data ingin kucari saja. Jadi banyak hal sebenarnya aku tidak banyak tahu.

Saat berjalan-jalan dari Masjid Al-Mashun atau dikenali juga sebagai Masjid Raya Medan, menuju arah Medan Walk, aku membaca papan penunjuk jalan, “Rumah Tjong A Fie. Aku bertanya-tanya sendiri, siapakah Tjong A. Fie. Bagiku, nama itu terasa baru. Tapi aku memahami, kalau tidak suatu hal yang penting, tentu tidak akan ada nama itu tercantum dijadikan sebagai petunjuk jalan.

Selama ini yang kutahu hanyalah, cerita-cerita banyak teman bahwa di Kota Medan, ada sebuah jalan ketika sore hari ditutup. Lalu jalan itu dijadikan tempat orang bersantai menikmati makanan dan minuman. Pengelolaannya dinilai sangat baik. Tidak ada iri hati sesame pedagang, ketika di tempatnya orang duduk tapi memesan makanan dari pedagang di sebelahnya.

Jalan itu Jalan Kesawan. Jalan yang tak jauh dari Lapangan Merdeka. Tapi masa aku berkesempatan mendatangi Kota Medan, kisah bersantai di Jalan Kesawan tak kutemui lagi. Kegiatan serupa itu sudah dipindah ke Lapangan Merdeka. Ada yang menamakan Merdeka Walk dan ada banyak orang menyebutnya Medan Walk.

Jalan Kesawan itu mengingatkanku akan nama sebuah bank. Kawasan ini dan sekitarnya sampai kini masih terdapat bangunan tua. Peninggalan dari masa silam Kota Medan yang memang sudah mengalami masa kemajuan sejak lama. Bagiku berada di dalam suatu kawasan kota lama, memberikan suatu kepuasan tersendiri. Aku menyukai arsitekturnya dan suasana zaman lama.

Dilain waktu, barulah aku mengetahui bahwa Tjong A Fie, kelahiran Guangdong 1860. Tjong berhasil membangun bisnis besar dalam bidang perkebunan di Sumatera. Konon lebih dari 10.000 orang dipekerjakannya sebagai karyawan. Karena hal itu, ia dekat dengan para kaum terpandang di Medan, diantara Sultan Deli, Ma’moen Al Rasyid serta penjabat-penjabat colonial Belanda.




Tjong seorang Tionghoa perantauan. Ia datang ke Medan, Hindia Belanda, dalam usia 18 tahun, mengikuti jejak saudaranya. Mereka terlahir dari keluarga sederhana. Ia cerdas dan pandai bergaul tidak hanya di kalangan Tionghoa tapi juga dengan Melayu, Arab, India dan orang Belanda. Tjong menguasai bidang ekonomi dan politik. Dia telah memiliki kerajaan bisnis, perkebunan, pabrik minyak kelapa sawit, pabrik gula, bank dan perusahaan kereta api.

Tjong A Fie belajar berbicara dengan bahasa Melayu yang menjadi bahasa perantara masyarakat di tanah Deli. Tjong A Fie tumbuh menjadi sosok yang tangguh, menjauhi candu, judi, mabuk-mabukan dan pelacuran. Ia menjadi teladan dan menampilkan watak kepemimpinan yang sangat menonjol.

Berjalan kaki disiang hari, di tengah kesibukan Kota Medan terasa suasana menggembirakan. Berjalan di depan pertokoan dan perkantoran. Menelisik bangunan-bangunan tua. Hingga akhirnya, aku menemukan sebuah bangunan dengan memiliki gapura di bahagian depan. Rumah Cina lama. Rumah besar. Inilah yang dimaksudkan dengan Rumah Tjong A Fie.

Segera saja aku menyeberang jalan. Pintu gapuranya terbuka. Halaman yang bersih. Tidak ada yang menjaga pintu masuk. Tempat itu jauh terbalik dengan suasana kesibukan kota. Tempat yang boleh dikatakan senyap. Bangunan besar itu dengan halaman terbilang luas, membuat nyaman untuk bersantai di tempat ini.

Kiranya setelah di dalam, setelah berada di bahagian teras depan yang panjang, tahulah aku bahwa tempat itu merupakan sebuah museum yang terbuka untuk umum. Ada dua orang petugasnya, dua orang perempuan lagi bercakap-cakap di bahagian sudut. Keduanya ramah menyambut kedatanganku. Aku menanyakan beberapa hal. Jawabannya memuaskan.

Kedatanganku tidak untuk sepenuhnya menelusuri bahagian apa saja yang dipamerkan kepada pengunjung. Karenanya, aku sampaikan bahwa kapan-kapan nanti, aku baru akan masuk. Setiap pengunjung dikenakan biaya masuk untuk menanggulangi biaya perawatan yang tinggi oleh pengelolanya.

Walau pun aku berada di Rumah Tjong A Fie berjam-jam, aku hanya duduk-duduk di bangku lama yang ditempatkan di teras bangunan besar itu. Udara siang Kota Medan mulai meniupkan rasa panas, di tempat ini aku merasa sejuk dan tenang.

Tjong A Fie sangat berjasa dalam membangun kota Medan, dimana masih bernama Deli Tua. Beberapa jasanya dalam usaha mengembangkan kota Medan adalah menyumbangkan menara lonceng untuk Gedung Balai Kota Medan yang lama, pembangunan Istana Maimoon, Gereja Uskup Agung Sugiopranoto, Kuil Budha di Brayan, Kuil Hindu untuk warga India, Batavia Bank, Deli Bank, Jembatan Kebajikan yang terletak di Jalan Zainul Arifin serta mendirikan rumah sakit Tionghoa pertama di Medan bernama Tjie On Jie Jan.  Menjadi pelopor industri perkebunan dan transportasi kereta api pertama di Sumatera Utara yakni Deli Spoorweg Maatschappi (DSM), menghubungkan kota Medan dengan pelabuhan Belawan.

Tjong A Fie dikenal dermawan dan sangat dekat dengan masyarakat pribumi dan Tionghoa. Sebagai dermawan, ia banyak menyumbang untuk warga yang kurang mampu. Sangat menghormati warga Muslim, bahkan berperan serta dalam mendirikan tempat ibadah yakni Masjid Raya Al-Mashum dan Masjid Gang Bengkok serta ikut merayakan hari-hari besar keagamaan bersama mereka.

Dalam suasana bersantai di kursi di teras Rumah Tjong A Fie, datanglah serombongan pelancong asing. Ada sekitar 20 orang. Mereka memasuki halaman rumah dengan dipandu guide biro perjalanannya. Hampir semuanya terkagum-kagum menatap dan mendokumentasikan arsitektur bangunan Rumah Tjong A Fie. Rumah ini merupakan bangunan yang didesain multicultural. Memiliki corak gaya arsitektur Tionghoa, Eropa, Melayu dan art-deco saling berpadu.

Bangunan kediaman Tjong A Fie ini terletak di Jalan Ahmad Yani, Kesawan, Medan, yang dibangun pada tahun 1900, saat ini dijadikan sebagai Tjong A Fie Memorial Institute dan dikenal juga dengan nama Rumah Tjong A Fie. Rumah ini dibuka untuk umum pada 18 Juni 2009 untuk memperingati ulang tahun Tjong A Fie yang ke-150.

Di rumah ini, pengunjung bisa mengetahui sejarah kehidupan Tjong A Fie lewat foto-foto, lukisan serta perabotan rumah yang digunakan oleh keluarganya serta mempelajari budaya Melayu-Tionghoa.

Nama Tjong A Fie pernah akan dijadikan sebagai nama sebuah jalan di kota Medan, tapi dibatalkan dan jalan itu menjadi Jalan K.H. Ahmad Dahlan. Karena sifatnya yang dermawan dan toleran tanpa membeda-bedakan bangsa, ras, agama dan asal usul.



Tjong A Fie tidak sekadar pebisnis, diapun diangkat pemerintahan colonial tahun 1911 sebagai "Kapitan Tionghoa" (Majoor der Chineezen) untuk memimpin komunitas Tionghoa di Medan, menggantikan kakaknya, Tjong Yong Hian yang wafat. Dengan rekomendasi Sultan Deli, Tjong A Fie menjadi anggota gemeenteraad (dewan kota) dan cultuurraad (dewan kebudayaan) selain menjabat sebagai penasihat pemerintah Hindia Belanda untuk urusan Tiongkok.

Empat bulan sebelum menghembuskan napas terakhir, Tjong A Fie mewasiatkan seluruh kekayaannya di Sumatera maupun di luar Sumatera kepada Yayasan Toen Moek Tong yang harus didirikan di Medan dan Sungkow pada saat ia wafat. Ia menuliskan permintaanya agar yayasan tersebut memberikan bantuan keuangan kepada pemuda berbakat dan berkelakuan baik dan ingin menyelesaikan pendidikannya, tanpa membedakan kebangsaan. Membantu yang tidak mampu bekerja dengan baik karena cacat serta  para korban bencana alam tanpa memandang kebangsaan dan etnis.

Tjong A Fie tutup usia pada tanggal 4 Februari 1921 karena menderita apopleksia atau pendarahan otak. Seluruh kota Medan turut berduka. Ribuan orang pelayat berdatangan, dari kota Medan, Sumatera Timur, Aceh, Padang, Penang, Malaya, Singapura dan Pulau Jawa. Prosesi Pemakaman Tjong A Fie berlangsung dengan megah sesuai dengan tradisi dan jabatannya (*) bahan dari Rumah Tjong A Fie dan Wikipedia.

Kamis, 19 Oktober 2017

DI BATAM KITA KE BARELANG

Jembatan yang dibangun semasa Habibie “memancang kawasan bebas” Otorita Batam, kini telah menjadi icon. Tak berbilang lagi, setiap hari terus saja mengalir orang-orang mendatangi Jembatan Barelang. Ada banyak ragam cerita terukir perihalnya.




“Di Batam kita ke Barelang,” mungkin hampir senada begitu yang akan diucapkan orang-orang yang berkesempatan pertamakali mendatangi Pulau Batam.

Pulau Batam dirintis BJ Habibie di era Orde Baru dengan konsep sebagai kawasan perdagangan bebas. Kawasan internasional yang dimiliki Indonesia. Karenanya saat itu kawasan ini dikenali sebagai Otorita Batam yang dibawah kendali suatu badan khusus. Dalam wilayah Provinsi Riau.

Kini Pulau Batam termasuk di dalam wilayah Provinsi Riau Kepulauan. Kawasan yang mencakup pulau-pulau di Selat Melaka dan Samudera Cina Selatan. Namun nasibnya, sejak Habibie menjadi menteri dan kemudian terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia, konsep yang sudah dipancangkan Habibie tidak dilihat sebagai suatu yang “menjanjikan.”




Banyak orang yang pernah mengandalkan hidup dalam pesatnya perdagangan di semasa berstatus otorita, kini mengatakan bahwa Batam kehilangan cahayanya yang bersinar terang. 

Tidak lagi menjadi titik tujuan sebahagian besar bagi banyak tenaga kerja. Tidak lagi menjadi kiblat transaksi perdagangan.

Pun sepertinya kini permukaan pulau menjadi rebutan untuk dibangun ini dan itu, terkesan mencabik-cabik konsep yang diimpikan Habibie sebagai kawasan industry dan perdagangan. Dan memang dibutuhkan bagi Indonesia dalam menyamai peranan Singapura. Apalagi Kepulauan Batam jauh lebih memungkinkan memiliki ketersediaan untuk pelabuhan dan aktifitas industry perdagangan.




Kedatanganku pertamakali di Batam, kuakui saja, salah satunya aku ingin mencapai Jembatan Barelang. Rasanya ke Batam tak mencapai jembatan itu, serasa tak diakui bahwa pernah ke Batam.

Apalagi di zaman penuh selfie, penuh kemudahan teknologi untuk berfoto, merekam tempat-tempat pernah dikunjungi. Tak sesulit di masa lalu. Dimana berfoto suatu hal yang “mahal.”

Jembatan Barelang adalah singkatan dari BAtam, REmpang dan gaLANG. Jembatan ini menghubungkan pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang dan Pulau Galang Baru. Ada yang menyebutnya dengan nama Jembatan Habibie atau Jembatan Satu.

Tetapi nama Jembatan Barelang lebih popular bagi masyarakat daripada nama jembatan yang sebenarnya bernama Jembatan Fisabilillah.




Aku sudah lebih dari tiga kali mendatangi Jembatan Barelang sejak tahun 2013 silam pertamakali mendatangi Pulau Batam. 

Bagiku sarana jembatan ini memang luarbiasa besar manfaatnya. Tidak hanya sekadar menjadi icon Batam. 

Namun dapat menyatukan sejumlah pulau lain selain Pulau Batam sendiri.

Pemandangan yang didapat bila berada di atas jembatan ini, dimanapun titik berdiri, alam yang luas seakan kita merasa menjadi kecil. Tidak berarti apa-apa. Bahkan kecemasan dan rasa gamang sangat terasa, pabila memandangkan pandangan ke sekeliling. Terutama ke bawah. Pada laut yang menjadi perantara pulau dengan pulau.

Jembatan Barelang dibangun Habibie adalah jembatan berteknologi tinggi. Konon melibatkan ratusan insinyur Indonesia tanpa adanya campur tangan dari luar negeri. Menjadi satu bahagian terpenting adanya Trans Barelang sepanjang 54 kilometer. Memakan biaya anggaran Otorita Batam tak kurang dari Rp 400 miliar. Pembangunannya berlangsung selama enam tahun. Dari tahun 1992 sampai tahun 1998. Jembatan Barelang atau Jembatan I selesai pembangunannya tahun 1997.




Tidak hanya waktu siang bahkan pada malam hari ramai dikunjungi jembatan ini. 

Menurut cerita-cerita, ada banyak kisah hal-hal mistis yang terjadi pada pengunjung saat berada di jembatan. 

Bahkan ada pula yang menjadikannya lokasi taruhan yang dapat mengorbankan nyawa. Tapi entahlah. 

Jembatan Barelang tidak hanya satu. Rangkaian Trans Barelang ini terdiri dari enam buah jembatan. Keenamnya telah memiliki nama sendiri. Jembatan Tengku Fisabilillah (Jembatan I), jembatan yang panjang. Jembatan Nara Singa (Jembatan II). Jembatan Raja Ali Haji (Jembatan III). Jembatan Sultan Zainal Abidin (Jembatan IV). Jembatan Tuanku Tambusai (Jembatan V) dan Jembatan Raja Kecik (Jembatan VI).

Pabila datang ke Batam, walaupun sudah berkali-kali mendatangi Jembatan Barelang, aku sampai hari ini tetap merasa kawasan ini masih tetap menjadi daya tarik untukku. Karenanya, aku masih tetap ingin mendatangi. Menikmati pemandangan alam yang luas terbentang (*) copyright: abrar khairul ikhirma

Sabtu, 14 Oktober 2017

PULAU KECIL DI SUNGAI SUCI

Di sepanjang pantai pesisiran Provinsi Bengkulu, di sejumlah titik yang terjadi abrasi oleh Samudera Hindia, telah memunculkan pulau-pulau kecil di dekat pantai. Pantai Sungai Suci yang hanya lebih kurang 15 km dari pusat Kota Bengkulu, memiliki sebuah pulau kecil yang menarik.




Kata suci dari nama yang lekat untuk nama pantai ini, adalah magnet pertama untukku mendatanginya. Cuaca cerah dengan sinar matahari yang memadai pabila melakukan pemotretan. Segera saja aku bergerak ke arah utara dari pusat kota. Melalui jalan lintas pantai barat yang menghubungkan Kota Bengkulu dengan Kota Padang.

Masyarakat kini sudah mengetahui bahwa kawasan Pantai Sungai Suci merupakan objek wisata. Pantainya memang terlihat masih alami. Belum terlihat kehadiran beton. Baik sebagai penahan ombak ataupun kehadiran bangunan yang merusak pemandangan.

Yang ada hanya jejeran sejumlah pondok masyarakat yang berkedai minuman dan makanan. Bangunan pondok berbahan kayu dan beratapkan daun rumbia. Tidak berdinding. Tidak dijadikan tempat usaha sekaligus rumah kediaman si pemilik kedai. Seperti umumnya di banyak objek wisata, dimana kedai berubah fungsi di dalam kawasan objek wisata hingga menjadi pemukiman. Padahal hal tersebut hanya akan mendatangkan persoalan tersendiri, dilemma dan merusak keberadaan objek wisata.




Pantai Sungai Suci terletak di Desa Pasar Pedati, Kecamatan Pondok Kelapa, Bengkulu Tengah. Terbentang sebagai daerah pesisiran lebih kurang sekitar 25 km. Meskipun dikenal sebagai Sungai Suci, tak ditemukan sungai di tempat ini. Hanya satu aliran air dari sedikit areal rawa yang bermuara ke laut.

Tak jauh dari aliran air ke laut ini, kita sedikit mendaki kontur tanah pinggir laut, maka sampailah kita pada pemandangan alam, berupa terbentuknya sebuah pulau yang berdekatan dengan daratan. Bentukan pulau kecil ini, akibat abrasi Samudera Hindia sepanjang musim.

Pada saat pagi hari berada di kawasan ini, kami hanya menjumpai sepasang suami isteri yang sudah berusia tua di salah satu kedai pondok yang menghadap ke Pulau Kecil. Mereka adalah penduduk setempat yang berjualan makanan dan minuman. Menurutnya, pengunjung akan ada pada petang hari. Akan ramai pada hari Sabtu dan Minggu.




Menurut ibu itu, pada hari lebaran Iedhul Fitri waktu lalu, pengunjung Pantai Suci sangat ramai. Umumnya wisatawan yang datang dari luarkota Bengkulu. Pada hari-hari tertentu terkadang datang wisatawan yang dihantar biro perjalanan dari luar daerah.

Kawasan ini selain daerah pemukiman penduduk juga adalah tanah kebun. Terlihat tanaman-tanaman sawit. Agar pengunjung dapat mencapai pulau di depan pantai, para pedagang setempatlah kabarnya membangun sebuah jembatan gantung. Setiap pengunjung yang menggunakan fasilitas jembatan, dimintakan “sumbangannya.”




Kini di sekitar Pantai Suci selain tempat bersantai, juga sebahagian orang menjadikannya sebagai lokasi memancing dan mencari batu akik (*) copyright: abrar khairul ikhirma

Selasa, 26 September 2017

KE RUMAH BUNG KARNO

Rumah tua yang tak terlalu besar. Tapi menyimpan jalan sejarah bagi Bung Karno dan bangsa Indonesia menjelang Kemerdekaan Negara Republik Indonesia, 1938-1942. Tokoh Sang Proklamator mendiami rumah ini, selama masa “pengasingan” oleh penjajah yang berkuasa.




Tahun 2013 lalu aku sudah pernah mengunjungi Rumah Bung Karno, yang terletak di Anggut, Kota Bengkulu. Pada kedatanganku di Bengkulu tahun 2017 ini, aku kembali menyempatkan diri untuk singgah. Setelah seperti biasanya aku setiap hari selama berada di Kota Bengkulu berkeliling menikmati suasana kota dari kota daerah perkebunan sejak masa lalu.

Aku tidaklah sebagaimana banyak orang mengagumi Bung Karno. Aku hanya satu diantara bangsa Indonesia yang selama ini menikmati kemerdekaan negaraku, menghormati Sang Proklamator yang telah berjasa banyak untuk banyak orang dikemudian harinya.




Tidak pun Bung Karno menyerukan untuk jangan melupakan sejarah, menghormati jasa para pahlawan, menurutku, mengingat dan menghormati jasa orang adalah penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Tanpa hal semacam itu, kita tak pernah akan peduli kepada hal-hal diluar diri kita. Sebab kita sendiri tak pernah sadar, tanpa pengorbanan dan jasa para pendahulu, kita belum tentu menghirup udara kemerdekaan.

Menjelang waktu siang, dari Simpang Lima, aku memasuki Jalan Soekarno-Hatta di kawasan Anggut, dalam Kota Bengkulu. Kawasan Anggut dikenali juga sebagai kawasan dari Persada Bung Karno. Di Anggut selain Rumah Bung Karno juga terdapat beberapa jejak sejarah. Salahsatunya Makam Inggris. Makam tua orang-orang Inggris semasa Bengkulu diduduki colonial Inggris.

Kini terlihat di sepanjang sisi jalan yang terletak di depan Rumah Bung Karno, sudah ramai kedai berjualan cenderamata. Tampaknya dimasa mendatang kawasan ini jika berkembang, akan menjadi kawasan yang bersinergi. Antara bangunan rumah bersejarah dengan kawasan cenderamata bagi setiap mereka yang berkunjung ke Kota Bengkulu.




Rumah Bung Karno memiliki halaman depan yang luas. Begitu juga halaman belakang yang lapang. Seperti rumah-rumah di masa dahulu dibangun untuk kenyamanan dan ketentraman. Di rumah ini sejumlah barang-barang peninggalan Bung Karno disimpan. Termasuk juga sejumlah kostum atau pakaian untuk bermain drama. Dimana Bung Karno selama di Bengkulu mendirikan kelompok drama.

Sebelum rumah ini akhirnya dijadikan sebagai cagar budaya oleh pemerintah, banyak masyarakat mengenal sumurnya di Rumah Bung Karno, sebagai sumur yang angker. Ada juga disebut air sumurnya dapat menyembuhkan penyakit. Yang jelas banyak orang tak berani untuk datang atau pun mengambil air dari sumur tua di belakang Rumah Bung Karno. Sayang sumur ini direnovasi, sehingga “kesan lama” menjadi hilang (*) copyright: abrar khairul ikhirma

Minggu, 17 September 2017

DI BALIK “TANAH’ TABOT IMAM

Mengunjungi Kota Bengkulu bagiku, juga ingin melihat-lihat beberapa tempat yang berkait dengan keberadaan tradisi Tabot. Di Pariaman Sumatera Barat namanya Tabuik, di Bengkulu namanya Tabot. Keduanya memiliki perbedaan bentuk.




Tahun 2013 bersengaja diri mendatangi tempat ini. Tempat Pengambilan Tanah Tabot Imam. Kali ini adalah kali kedua. Lokasi titik terpenting dalam penyelenggaraan Tabot di Bengkulu ini, terletak masih dalam Kota Bengkulu, arah ke Pantai Panjang.

Lokasinya memang terlihat terhormat. Karena memang diperuntukkan secara khusus sebagai kawasan tradisi sakral. Dipagar agar tak dimasuki sembarang orang. Disatukan dengan areal penginapan yang berada di atas perbukitan di belakangnya.

Karena dipagar dan tidak ada juru kunci yang dapat diminta izin masuk, aku hanya sekadar mengintip-intip saja dari luar pagar. Melalui gapura yang terletak menghadap jalan raya pusat kota menuju ke arah Pelabuhan Pulau Baai.

Tempat ini adalah tempat “mengambil tanah” salah satu prosesi awal melaksanakan tradisi Tabot, oleh keluarga Tabot Imam. Sembilan kelompok Tabot Imam Senggolo, pada 1 Muharam akan mengambil tanah yang dikeramatkan di Kelurahan Anggut Bawah, Ratu Samban, Kota Bengkulu ini.

Keluarga pewaris Tabot mengambil dua kumpalan tanah dari dua lokasi. Merupakan prosesi yang menggambarkan bahwa manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah.

Tradisi Tabot Bengkulu merupakan tradisi turun temurun dan masih tetap dilaksanakan sampai saat ini, setiap bulan Muharram di Kota Bengkulu. Tradisi Tabot adalah mengenang kisah kepahlawan dan kematian cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib, dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid, di Padang Karbala, pada 10 Muharram 61 Hijriah (681 M).




Penyelenggaraan atau pun yang berkait dengan Tabot di Bengkulu, tampaknya pemerintah daerahnya memberikan perhatian. Salah satunya melakukan “mempermanenkan” titik-titik penting yang berkaitan dengan prosesinya. Semisal lokasi untuk mengambil tanah atau pun “Padang Karbla” nya.

Begitu pula konon kabarnya meskipun pemerintah menjadikan sebagai event pariwisata, namun sisi adat budaya masih tetap terjaga. Tidak saling merusak. Karena di Bengkulu sudah terbentuk sebuah kelembagaan Komunitas Kerukunan Tabut (KKT) Bengcoolen. Dimana berhimpun 17 Kelompok Keluarga Pewaris Tabut Sakral. Terdiri, Sembilan kelompok Tabut Syech Burhanuddin Imam Senggolo dan delapan kelompok Tabut Bansal.




Walau pun sudah beberapakali mendatangi Bengkulu, aku belum memiliki kesempatan mengikuti pelaksanaan Tabot. Ingin rasanya ikut merasakan bagaimana suasana pelaksanaan sebuah tradisi di zaman sekarang, setelah melampaui zaman padamulanya dilaksanakan para nenekmoyang di masa dahulu.

Mudah-mudahan di waktu lain, saat berada di Bengkulu, di waktu yang tepat dilaksanakan prosesi Tabot ini.

Disebutkan bahwa istilah Tabut berasal dari kata Arab, secara harfiah berarti “kotak kayu” atau “peti.” Dilaksanakan Tabuik di Pariaman dan Tabot Bengkulu, berdasarkan hitungan kalender Islam, setiap 1 – 10 Muharram (*) copyright: abrar khairul ikhirma

Jumat, 15 September 2017

BERLABUH DI PULAU BAAI

Setiap datang ke Bengkulu, aku selalu ingin berkunjung ke Pelabuhan Pulau Baai. Walaupun sudah beberapakali, aku selalu merasa belum sepenuhnya dapat menikmati pemandangan dan suasananya. Seakan masih ada yang mesti kudapati di kawasan ini.




Pelabuhan Pulau Baai berada sekitar 20 km dari pusat Kota Bengkulu. Merupakan pelabuhan pantai barat di selatan Pulau Sumatera. Pelabuhan ini konon merupakan pelabuhan alam yang luas. Tidak berupa teluk dengan hanya bentuk melengkung tapi berbentuk sebuah danau dengan pintu menghadap ke Samudera Hindia.

Kapal ferry yang melayani Bengkulu-Pulau Enggano, memiliki dermaganya dalam kawasan Pelabuhan Baai. Berdampingan dengan dermaga bongkar muat kapal-kapal besi bertonase, kapal barang dengan peti kemas.
Sebuah jalan menghubungkan Kota Bengkulu menuju daerah Teluk Sepang melintasi Pelabuhan Pulau Baai. Dengan sebuah jembatan, dimana di sekitar jembatan ini, dijadikan sebagai kawasan pelabuhan kapal-kapal nelayan. Kapal tonda dan biduk nelayan yang disebut sebagai calang.




Dari atas jembatan pabila kita melihat ke arah daratan, terlihat dalam bahagian kawasan pelabuhan, berupa hutan bakau yang luas. Semoga saja pemerintah dapat terus melindungi hutan bakau ini. Tentulah hutan bakau ini patut dilindungi sebagai hutan penyangga kawasan pesisiran menjaga keseimbangan alam.

Pelabuhan Pulau Baai memiliki spesifiknya tersendiri setelah Pelabuhan Teluk Bayur (Sumatera Barat) yang dipopulerkan melalui lagu Minang. Pembangunannya dilakukan dimasa Ir Azwar Anas menjadi Menteri Perhubungan. Dipujikan sebagai pelabuhan alam terbaik. Diresmikan sebagai pelabuhan oleh Presiden Soeharto pada tahun 1984.




Seperti biasanya, aku lebih suka memasuki pelabuhan kapal-kapal ikan. Di Pelabuhan Pulau Baai ini dijadikan pelabuhan bagi kapal-kapal bagan. Kapal penangkap ikan. Jika ada kapal ikan bongkar muatan, pelabuhan ikan akan ramai oleh para pedagang ikan. Biasanya berlangsung pada pagi hari. Selepas itu pelabuhan ikan hanya tinggal dalam kesunyian.

Kita hanya akan menemui beberapa orang saja di sana sini sedang bercakap-cakap atau bahkan lagi tiduran diantara peti-peti ikan.




Jika hari mendekati petang, di dermaga pelabuhan ikan, terlihat orang sengaja datang untuk memancing ikan. Karena dalam pelabuhan yang airnya juga merupakan air laut, hidup ikan-ikan laut. Jika cuaca musim gelombang tinggi di Samudera Hindia, hempasan ombaknya juga akan masuk ke dalam pelabuhan. Sedang di hari biasanya, permukaan air hanya tenang bagaikan danau (*) copyright: abrar khairul ikhirma

Sabtu, 09 September 2017

TEH TALUA DI PENDAKIAN

Orang Pariaman yang bepergian keluar daerahnya, pada umumnya bagi laki-laki yang biasa minum di kedai kopi (minum), selalu akan mencari tahu adakah kedai orang Piaman terdekat dari tempat mereka menginap.



SUASANA MALAM JALAN PENDAKIAN KOTA BENGKULU


Tidak jauh dari rumah tempatku menginap. Dapat dicapai dengan berjalan kaki. Malam selepas sholat Isya, berdua kami menuju Jalan Pendakian. Jalan kecil yang terletak bersisian dengan Pasar Kampung, tepatnya bertumbuk nantinya ke Monumen Thomass Parr, pusat Kota Lama Kota Bengkulu.

Baik siang atau pun malam, Jalan Pendakian tidaklah merupakan jalan yang ramai dilalui kendaraan, meskipun merupakan jalan lintasan dari kawasan pasar dan benteng Fort Marlborough ke arah pantai di Malabro. Panjang ruas jalan pun tidaklah terlalu panjang. Karena jarak pusat keramaian dengan pantai sangatlah dekat.

Waktu siang saja tidak ramai. Apalagi pada malam hari nyaris Jalan Pendakian tak ada kehidupan. Andaikan tak ada sebuah kedai minum yang buka hingga larut malam, sudah dipastikan benar-benar jalan ini menjadi satu lorong kota yang menakutkan.


TEH TALUA


Untunglah ada sebuah kedai minum. Kedai minum seperti ini, kedai-kedai yang serupa terdapat di daerah Pariaman jika malam hari. Dimana para lelaki minum dan menghota sampai larut. Sebuah ruang public untuk saling berkomunikasi dan bersantai. Yang datang silih berganti umumnya adalah mereka yang sudah saling mengenal. Padahal tidak tertutup untuk menerima pengunjung baru.

Tahun 2013 silam, aku sudah pernah dibawa saudaraku untuk minum di kedai ini. Waktunya tetap sama, selepas sholat Isya, karena masih belum ingin untuk tidur. Bagi saudaraku tempat dan pemilik kedai tidaklah asing baginya. Sudah saling mengenal. Karena dia pernah menetap di kota ini. Kedai ini merupakan salah satu tempatnya berhabis waktu sebelum tidur.

Beberapakali menikmati minum di sini, aku selalu duduk di bahagian luar kedai. Maksudnya di meja-meja yang diletakkan di bahagian teras depan. Teras depan ini merupakan rangkaian jalan pejalan kaki di depan kedai dulunya. Tak lebih hanya seluas 2 meter. Konsep bangunan lama pada umumnya di kawasan pecinan lama. Bangunan kedai terdiri, tempat berjualan di bahagian bawah dan di tingkat atas tempat tinggal (rumah) pemilik. Sekarang dikenal dengan istilah Ruko (Rumah Toko).

Tidak ada penerangan kala malam di Jalan Pendakian. Jalan tidak gelap. Hanya mengandalkan biasan cahaya lampu dari bangunan kiri kanan jalan. Hanya satu ini saja kedai yang buka di malam hari. Suasananya sangat tenang. Untuk penyuka duduk bersantai tanpa hiruk pikuk kendaraan memang inilah tempatnya, salah satu alternative bila berada di Kota Bengkulu.

Aku memang tidaklah seorang yang gemar minum teh talua, minuman khas laki-laki Piaman. Tetapi aku bukan berarti tidak menyukainya. Mendapatkan rasa teh talua yang “lamak” atau maksudnya enak tidaklah mudah. Apalagi berada di rantau orang. Setiap datang ke sini, ke kedai minuman ini, aku tidak memilih minumanku biasanya, kopi yang hangat tapi memesan teh talua. Karena di kedai ini memang menyediakan minuman itu.
Kedatangan kali ini ke kedai minum di Pendakian ini, walau pun meja-meja di emperan tak sepenuhnya terisi pengunjung, aku memilih untuk duduk di dalam kedai. Pada kedatangan sebelumnya kami hanya duduk di bahagian meja emperan. Belum pernah duduk di bahagian dalam.



GAMBAR OBJEK TEMPOE DOELOE BENGKULU
TERGANTUNG DI DINDING KEDAI


Tahulah aku bahwa kedai ini patut diapresiasi. Di dinding dalam kedai tergantung reproduksi foto-foto Bengkulu zaman dulu. Jumlahnya tidak banyak. Hanya beberapa buah saja. Kesediaan pemilik kedai untuk memasang demikian itu saja, sudah luarbiasa. Tidak banyak tempat bersantai di Kota Bengkulu yang melihat “pemajangan” gambar lama adalah suatu daya tarik.

Reproduksi gambar lama itu, tampaknya sudah lama. Bingkainya pun seadanya dan lapisan pengamannya tidaklah kaca. Sehingga tertimpa cahaya lampu, terlihat ada pantulan.

Objek gambar yang dipasang di dinding sebagai penghias itu, kawasan pelabuhan boom. Dulunya berada di laut depan Benteng Fort Marlborough. Kini sudah tak ditemukan lagi. Karena kawasan ini sudah mendangkal dan ditimbun, lalu dibangun pemerintah sebagai fasilitas ruang terbuka.

Objek Monumen Thomass Parr, entah tahun berapa direkam foto. Sudut-sudut benteng Fort Marlborough. Yang uniknya dan dapat masih dikenali ada satu foto terpajang ialah foto lama Jalan Pendakian. Tampaknya diambil dari ketinggian Jalan Pendakian di bahagian seberang Pasar Kampung, tepatnya dari sudut Masjid Al-Muttaqien saat ini (*) copyright: abrar khairul ikhirma

Rabu, 30 Agustus 2017

JEJAK VIETNAM DI PULAU GALANG

Tiga kali sudah aku mengunjungi bekas kamp pengungsi Vietnam di Pulau Galang, Riau Kepulauan. Dengan tahun yang berbeda. Dengan kesenyapan yang sama.




Dibandingkan dengan nama-nama pulau di Riau Kepulauan, Pulau Galang adalah nama pulau yang paling melekat dalam ingatanku. Karena pada paruh akhir tahun 1970-an berita Perang Vietnam dan pengungsi Vietnam hampir selalu menjadi berita utama Koran-koran daerah maupun nasional di Indonesia. Sebagai “penggila” pembaca berita suratkabar daerah dan nasional masa itu, berita “hangat” itupun sendirinya tak terlewatkan untuk kubaca.

Sungguh pun punya perhatian pada berita yang “mengharu-biru” itu, aku sendiri sejak masa itu tak pernah “bermimpi” untuk suatu hari dapat menjejak Pulau Galang. Namun perjalanan hidup memang sulit diduga dan diperkirakan. Tahun 2013 aku menjejak pertamakali Pulau Batam. Pulau Batam pernah popular sebagai kawasan perdagangan bebas dan industri semasa berstatus otorita. Dimasa-masa itu dari berbagai daerah di Indonesia, banyak orang berdatangan ke Pulau Batam “mengadu nasib” bekerja dan berdagang.

Pulau Batam di “tangan” BJ Habibie, yang menjadi Kepala Otorita Batam, sekaligus dikenal sebagai konseptornya, telah menyatukan tiga pulau berdekatan Pulau Batam, Pulau Rempang dan Pulau Galang hingga, menjadi satu kesatuan. Ditandai dengan dibangunnya Jembatan Barelang (Batam-Rempang-Galang). Sampai kini merupakan icon. Tempat “wajib” dikunjungi bagi mereka yang pertamakali menjejak Pulau Batam.



KAPAL YANG  DIGUNAKAN PENGUNGSI VIETNAM KE INDONESIA


Selama berada di Kota Batam, aku mengunjungi sejumlah tempat. Salahsatunya berkesempatan mendatangi “Kampung Vietnam,” sebutan masyarakat Batam untuk menyebut nama lokasi bekas camp pengungsi dari Negara Vietnam.

Memang jaraknya dari Kota Batam terasa sangat jauh dan melelahkan. Namun bagi yang menyukai perjalanan keluar kota, adalah suatu mengasyikkan. Dalam perjalanan kita akan disuguhkan pemandangan teluk dari ketiga pulau, lalu perbukitan batu dan tanah merah. Pepohonan tidak banyak tumbuh di sana sini, sehingga udara terasa panas.

Dari jalan raya yang menghubungkan Kota Batam sampai ke ujung Pulau Galang, Kampung Vietnam  hanya sejarak lebih kurang sekitar 60 meter. Dari pintu gerbang kita sudah disambut dengan kerindangan pepohonan. Udara pun terasa sejuk.

19 April 1975 pecah perang saudara di Vietnam. Perang berlangsung panjang dan kejam. Ribuan warganegara Vietnam berusaha menyelamatkan diri dari keadaan yang terjadi di negaranya. Sejak itu ribuan pengungsi meninggalkan negaranya, menuju Negara-negara yang dapat menerima “pengungsiannya.”
Pengungsi Vietnam menyelamatkan diri dari kekejaman tentara komunis Vietkong, banyak memilih keluar negaranya melalui jalan laut. Dengan kapal dan perahu mengharungi Lautan Cina Selatan, dengan berisi pengungsi melebihi kapasitas kapal dan perahu.




Tidak sedikit kapal dan perahu pengungsi dalam pelayaran mereka mengalami kerusakan, bahkan hilang tenggelam begitu saja. Ada jatuh sakit dan mati kelaparan, kehabisan air dan makanan. Diantaranya yang selamat setelah mengharungi samudera selama satu bulan, gelombang pertama pengungsi Vietnam mencapai Pulau Natuna, Kepulauan Riau, Indonesia, 21 Mei 1975. Berjumlah 75 orang menggunakan satu buah perahu kayu.

Gelombang pengungsi Vietnam ini semakin lama semakin banyak, tersebab Perang Vietnam kian berkecamuk. Kehadiran pengungsi Vietnam ini akhirnya menjadi “masalah” di sejumlah negara tetangga Vietnam, yaitu Malaysia, Thailand dan Indonesia. Perserikatan Bangsa-Bangsapun kemudian turun tangan. Organisasi PBB yang mengurusi pengungsi UNHCR mengadakan rapat beberapa negara di Bangkok. Menetapkan satu pulau di Indonesia dijadikan tempat pengungsian.

Pulau Galang seluas 250 ha di tahun 1970-an relative kosong. 80 ha digunakan sebagai camp pengungsi. Pengungsi Vietnam ini disebut juga sebagai “Manusia Perahu,” sudah tersebar di berbagai lokasi, akhirnya disatukan di Pulau Galang, hingga tercatat sebanyak 250 ribu jiwa. Biaya makan pengungsi, pendidikan dan kesehatan dibiayai oleh PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa).

Memasuki kawasan bekas camp Pengungsi Vietnam, seperti melakukan safary alam. Tidak banyak lagi bangunan yang dapat dilihat. Banyak yang sudah terlanjur hancur. Yang ada kini semak belukar dan pohon-pohon tanaman tumbuh subur. Konon tanaman tersebut, dulunya ditanam oleh para pengungsi, selama berada di pengungsian.



DI DEPAN VIHARA DI KAMPUNG VIETNAM MASIH TERAWAT
BERSAMA RAFQI CHANIAGO YANG MENETAP DI KOTA BATAM
KAMI PERNAH SAMA-SAMA BEKERJA DULU DI SURATKABAR
HARIAN SINGGALANG PADANG


Mungkin agak terlambat keputusan pemerintah untuk menjadikan Kampung Vietnam ini sebagai satu destinasi yang dibuka untuk wisatawan. Ketika asset yang ditinggal satu persatu “hilang lenyap” barulah keinginan datang. Sejumlah bangunan yang letaknya terpisah-pisah segera “diselamatkan.”

Sebuah museum yang dapat “menuntun” pengunjung ke masa pengungsian di camp ini pun didirikan. Dilengkapi sebuah kandang rusa tak seberapa jarak dari lokasi museum, sebagai daya tarik didirikan. Rusa-rusa ini sudah berkembang biak. Berdampingan dengan sebuah kapal yang digunakan pengungsi dari negaranya masuk ke Indonesia.

Kampung Vietnam ini dulunya cukup lengkap fasilitasnya. Selain fasilitas barak-barak pengungsi, terdapat juga rumah sakit, sekolah, rumah ibadah berbagai agama, pemakaman umum, termasuk sebuah penjara untuk yang melakukan kejahatan.

Kawasan ini dulunya tertutup bagi orang luar, kecuali fasilitas rumah sakit di mana masyarakat umum bisa menggunakan fasilitas tersebut secara gratis. Tempat ini dalam penjagaan TNI Polri, diawasi secara ketat oleh PBB.

Camp Pengungsi Vietnam tahun 1996 akhirnya ditutup. Setelah 16 tahun sejak mula kedatangan mereka di Pulau Galang. PBB memulangkan pengungsi ke tanah air mereka setelah perang berakhir.

Tiga tahun berturut-turut, aku berkesempatan mendatangi Kampung Vietnam bekas camp pengungsi Vietnam ini, 2013-2014-2015, hanya terlihat bangunan ibadah yang cukup terawat sampai kini, karena pemeluk agamanya ada yang memanfaatkan sebagai tempat ibadah.

Sedangkan bangunan-bangunan lainnya, sungguh menyedihkan. Semestinya bangunan tersebut harus tetap dirawat, apalagi sudah dijadikan suatu destinasi bagi wisatawan ke Kota Batam. Terutama bagi warga Vietnam yang ingin melihat jejak “kelam” sejarah bangsanya di masa lalu (*) copyright: abrar khairul ikhirma.

Selasa, 29 Agustus 2017

SUNGAI SUCI SUDAH KERING

1 Agustus 2017, tidaklah suatu penanggalan keramat. Tapi pada tanggal itulah, untuk pertamakali aku mendatangi Sungai Suci. Arah utara dari pusat Kota Bengkulu.




Beberapakali berada di Kota Bengkulu tapi tak ada kesempatan ke Sungai Suci. Nama Sungai Suci sudah lama menjadi agenda. Tentu saja tersebab ada kata “Suci” pada nama daerahnya, tidak pada kata “sungai” dimana kata suci dilekatkan.

Tidak mungkin nama itu ada begitu saja. Sudah pasti memiliki keterkaitan pada peristiwa atau suatu hal spesifik pada tempat, daerah atau pun menyangkut orang di masa lalu. Sehingga disebut dan diceritakan turun temurun pada kehidupan keseharian masyarakat setempat.

Daerah Sungai Suci adalah salah satu kawasan pantai dari Samudera Hindia, di bahagian selatan pantai barat Pulau Sumatera. Terletak di Desa Pasar Pedati, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah. Tidak sulit untuk dicapai bagi yang berkeinginan mendatangi tempat ini untuk bersantai menikmati waktu libur.

Kawasan ini sudah lama banyak dikunjungi orang, hingga “dijadikan” sebagai salah satu objek wisata daerah. Dari pusat Kota Bengkulu hanya sejarak 15 km dan dari Bandara Fatmawati Soekarno, lebih kurang sekitar 25 km.

Dari jalan raya Bengkulu – Padang, ada sekitar 500 meter jalan menuju lokasi kea rah pantai. Melalui pemukiman penduduk dan tanah kebun mereka. Karena tidak ramai, serasa memasuki daerah kampong dan kebun. Udara terasa sejuk. Pemandangan hijau dengan pohon tanaman. Kiri kanan jalan kecil yang dapat dilalui kendaraan roda empat.

Jauh sebelum kedatanganku hari ini ke Sungai Suci, pada berbagai kesempatan berbeda, aku pernah bertanya perihal Sungai Suci pada sejumlah orang yang sudah lama bermukim di Bengkulu. Diantaranya ada hanya kenal sekadar nama tapi belum pernah mendatangi tempat ini. Mereka bercerita bahwa konon dulunya, ada orang-orang meyakini air sungai di tempat itu dianggap suci. Digunakan sebagai obat untuk si sakit sebagai jalan penyembuhan. Karena hal itu dinamakan Sungai Suci.




Boleh percaya, boleh tidak. Namanya juga kepercayaan orang pada masa dahulu. Aku sampai pada titik yang disebut dan kutemukan hari ini di kawasan pantai Sungai Suci. Daerah pesisiran yang selalu terancam oleh gelombang abrasi Samudera Hindia ke daratan.

Tempat ini semasa booming batu akik, menjadi lokasi orang mencari batu-batu yang dapat diasah dan dijadikan sebagai batu permata.

Aku tak menemukan sungai sebagaimana yang disebutkan sebagai sungai. Hanya sebuah saluran air dari daratan, bermuara ke laut. Tidak lebar. Hanya beberapa meter saja. Karenanya aku menyebutnya hanya sebagai saluran air. Bisa jadi di masa lalu memang merupakan sebuah sungai, jauh lebih lebar dengan ukuran yang terpandang olehku ini. Sebab namanya alam dan perubahannya memungkinkan untuk terjadi.

Uniknya, di depan air yang bermuara ke laut, terlihat sebuah batu besar sebagai penghalang ombak, hingga tak memasuki muara. Posisinya secara alamiah, dapat dikatakan suatu yang artistic. Sementara kiri kanan saluran itu kini, sudah diberi batu-batu yang didatangkan dari tempat lain untuk pengaman dari serangan abrasi oleh pemerintah.

Hanya beberapa meter saja dari mulut muara, terdapat sebuah jembatan kecil. Jembatan ini merupakan rangkaian dari sarana jalan penghubung dari jalan raya Bengkulu-Padang menuju pantai ini. Jalan yang sudah diaspal. Berdiri dari jembatan kecil tak lebih 5-6 meter ini, memandang ke arah bahagian hulunya, sebuah lekukan kontur tanah rawa. Tumbuh belukar tanaman sagu yang rimbun.




Bila aku memperhatikan sekeliling, mulai dari jalan raya sampai ke daerah pantai, dalam tanah-tanah kebun milik masyarakat itu, sangat banyak terlihat tanaman kelapa sawit. Apalagi jika ditelusuri sepanjang aliran air ini sampai ke hulunya, kiri kanannya tak jauh beda. Mayoritas tanaman adalah kelapa sawit.

Kita sadar atau tidak, yang jelas dalam berbagai ulasan menyangkut keterjagaan lingkungan bahwa tanaman kelapa sawit adalah tanaman yang hidup “menghisap” ketersediaan simpanan air di dalam tanah atau tanah rawa. Tidak suatu hal yang ganjil lagi saat ini, di berbagai daerah yang selama ini terdapat kawasan tanaman sawit, telah berdampak mengeringkan sumber-sumber air. Padahal air merupakan kehidupan.


Hal yang aku saksikan saat berada di Sungai Suci ini, setidaknya pabila kita sadar dan pemegang kebijakan (beritikad) benar ingin memelihara daerahnya, sudah mesti merobah konsep perkebunan dan pertanian ramah lingkungan.  Seperti Sungai Suci ini semakin kering, telah hilang “kesuciannya.” (*) copyright: abrar khairul ikhirma - 2017

Jumat, 25 Agustus 2017

HAJI RASUL DARI TEPIAN MANINJAU

Dr. Haji Abdul Karim Amrullah dijuluki sebagai Haji Rasul, adalah ulama terkemuka sekaligus reformis Islam di Indonesia. Ia juga merupakan pendiri Sumatera Thawalib, sekolah Islam modern pertama di Indonesia. Ia bersama Abdullah Ahmad menjadi orang Indonesia terawal yang memperoleh gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar, di Kairo, Mesir.




Aku kira sejak 5 tahun terakhir ini, tak dapat kuhitung kalinya telah sering “singgah” sekadar “menjenguk” makam ayahanda dari Buya Hamka ini. Diantara mereka-mereka yang silih berganti pernah mendatangi tempat ini dan tepian Danau Maninjau.

Semata-mata kunjungan yang aku lakukan karena senang saja. Selama ini aku sangat menyukai mendatangi tempat-tempat “orang bersejarah” dan tempat-tempat “bersejarah.” Seperti yang kusempatkan berkunjung ke Makam Haji Rasul, setiap kali aku berada di Maninjau atau hanya sekadar melintas tepian Danau Maninjau, Kabupaten Agam, dari Bukittinggi – Pariaman atau sebaliknya.

Apalagi sejak lama, aku sudah mengetahui lewat bacaan perihal Haji Rasul dan kisah-kisah anaknya yang termashur yakni Buya Hamka. Mereka adalah orang-orang yang hebat di zamannya. Telah berbuat banyak dalam melakukan pengembangan intelektual dan keagamaan. Tidak hanya untuk Minangkabau tetapi untuk kepentingan dunia Islam di Tanah Air dan dunia.

Abdul Karim Amrullah lahir dengan nama Muhammad Rasul di Nagari Sungai Batang, Maninjau, Agam, Sumatera Barat, 10 Februari 1879 bertepatan dengan 17 Syafar 1296 Hijriah. Pada masa kecilnya, beliau diberi nama Muhammad Rasul, namun setelah menunaikan ibadah haji, namanya diganti menjadi Abdul Karim Amrullah. Beliau juga dikenal dengan panggilan Inyiak De-er (Dr.), karena pada tahun 1926 beliau mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar di Mesir dalam bidang agama. Ayahnya bernama Syekh Amrullah atau Tuanku Kisai atau dalam beberapa literatur sering ditulis dengan Syekh Amrullah Tuanku Kisa-i, seorang guru tarekat Naqsyabandiyah di Maninjau.




Daerah tepian Danau Maninjau sungguh memikat hatiku. Dibandingkan dengan Danau Singkarak, aku lebih menyukai dalam banyak kesempatan menyusuri tepian Danau Maninjau. 

Ketika pertamakali aku mencoba menelusuri jalan menuju Sungai Batang, waktu itulah aku melihat tempat “bersemayam” Haji Rasul, ayahanda dari Hamka ini.

Makam Haji Rasul ini terletak di pinggir jalan Pasar Maninjau – Sungai Batang. Di sekitar makam berdampingan dengan rumah keluarganya. Hal ini ada baiknya, sehingga lingkungan makam terlihat terawat dengan baik.

Aku menyukai tempat ini. Suasananya sangat tenang, damai dan pandangan pun langsung bisa mengarah ke danau. Hanya berjarak beberapa meter saja dari makam dengan tepian danau. Sehingga hempasan alun danau terdengar sebagai music alam yang harmonis.

Selain berdampingan dengan bangunan rumah keluarga, juga terdapat bangunan kayu yang klasik berupa perpustakaan. Walau pun sudah sejumlah kali kedatanganku ke tempat ini berkunjung, namun kuakui, aku belum sekalipun masuk ke dalam perpustakaan. Belum pernah mengetahui buku-buku apa saja yang tersimpan di dalamnya.




Sebenarnya Muhammad Rasul termasuk anak yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal. 

Ia belajar di pendidikan elementer tradisional dan mengaji di surau-surau. 

Sekitar usia 10 tahun, ayahnya menyuruh beliau mengaji Al-Qur`an kepada Muhammad Shalih dan Haji Hud di Tarusan, Pesisir Selatan. 

Setahun kemudian, ia belajar berbagai ilmu agama kepada ayahnya, Syekh Amrullah di Sungai Batang, Maninjau. Pada usianya memasuki 15 tahun ia berangkat ke Mekkah untuk memperdalam ilmu agama atas perintah ayahnya.

Dalam kepergiannya ini, ia tinggal di Mekkah selama lebih kurang 7 tahun (1894-1901) dan selama di sana ia belajar kepada beberapa orang guru, diantaranya adalah Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Taher Jalaluddin, Syekh Muhammad Djamil Djambek (ketiga guru itu berasal dari Bukittinggi, Sumatera Barat), Syekh Abdul Hamid, Syekh Usman Serawak, Syekh Umar Bajened, Syekh Shalih Bafadal, Syekh Hamid Jeddah, Syekh Sa’id Yamani.

Sekembalinya dari Mekkah tahun 1901, ia dinobatkan sebagai seorang ulama muda dengan gelar Syekh Tuanku Nan Mudo, sedangkan ayahnya, Syekh Muhammad Amrullah diberi gelar Syekh Tuanku Nan Tuo dengan suatu upacara. Tuanku Nan Tuo beraliran lama, sedangkan Tuanku Nan Mudo seorang pemuda yang membawa aliran baru.




Pada tahun 1904 ia kembali ke Makkah dan pulang ke kampungnya tahun 1906. Kepergian yang kedua kalinya ini, disuruh ayahnya untuk mengantar adiknya belajar di sana. Namun, kesempatan ini dimanfaatkannya untuk mengajar pada halaqah sendiri di rumah Syekh Muhammad Nur al-Khalidi di Samiyah atas izin dari Ahmad Khatib. Namun demikian, ia sering bertanya kepada gurunya, Syekh Ahmad Khatib mengenai masalah-masalah yang rumit.

Sejak tahun 1911, Haji Rasul yang “memakai” nama menjadi Abdul Karim Amrullah menetap di Padang Panjang dan memimpin pengajian surau Jembatan Besi. Pada tahun 1911-1915 bersama-sama Abdullah Ahmad, mendirikan majalah Al-Munir di Padang. Kemudian, ia juga menerbitkan majalah Al-Munir Al-Manar di Padang Panjang bersama Zainuddin Labay el-Yunusi tahun 1918.

Pada tahun 1925, ia melawat ke Jawa untuk yang kedua kalinya. Di Yogyakarta, ia bertemu dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah, terutama dengan H. Fakhruddin. Pada tahun itu juga ia mendirikan Muhammadiyah di Sungai Batang, Maninjau melalui lembaga Sendi Aman yang didirikan tahun 1925. Lembaga ini berkembang dengan cepat dan sekaligus menjadi basis pertama Muhammadiyah di Minangkabau.

Haji Rasul sangat aktif dalam gerakan pembaharuan Islam. Sistem sekolah reformis Muslim yang melahirkan Persatuan Muslim Indonesia atau PERMI. Ia juga aktif menentang komunisme serta intervensi yang dilakukan Belanda dalam hal pendidikan.





Haji Rasul atau Abdul Karim Amrullah meninggal dunia pada 2 Juni 1945 di Jakarta. Beliau dimakamkan di Kecamatan Tanjung Raya, Jorong  Nagari, Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Pada mulanya makamnya berada di Jakarta dan kemudian dipindahkan ke Maninjau. Di sisi makam beliau  dimakamkan adiknya yang bernama Syech Yusuf Amrullah yang lahir pada tanggal 25 April 1889 dan wafat pada tanggal 19 Oktober 1972.

Salah satu putranya, yaitu Hamka (nama pena dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah). Dikenal banyak orang sebagai ulama besar dan sastrawan Indonesia angkatan Balai Pustaka. (*) bahan data: wikipedia – abrar khairul ikhirma, 2017