Tampilkan postingan dengan label kapalo-JAMBA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kapalo-JAMBA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Desember 2017

HUJAN - AIRMATA SEMPORNA

Gagasan atau ide tidak hanya tersimpan dalam angan-angan. Kini menetas, sayapnya telah keluar dari kepompong. Sanggupkah ia terbang?




Nazeka Kanasidena, mencetuskan satu ide dari sebuah status media social fesbook di wall pribadinya. Status itu membuka ruang kepada masyarakat pertemanan akunnya, untuk dapat berpartisipasi, sukarela, tidak sayembara, tidak berharap “imbalan” kecuali berupa kesan apresiasi, melalui “kotak” comentar di bawah status yang dipostingnya, medio akhir tahun 2017.

Nazeka, memberikan sebuah tajuk, “Antara Hujan dan Airmata.” Status bernada “jemputan” itu kiranya mendapatkan tanggapan baik. Tajuk demikian “ditanggapi” di kotak comentar. Silih berganti comentar berdatangan berupa puisi terupdate dari berbagai pemilik akun fb, terutama dari Malaysia.

Sepintas, demikian mudah “memancing” seseorang (pemilik akun fb) untuk dapat menuliskan hal puitis sesuai tajuk yang dikemukakan di media sosial. Tidak. Dibutuhkan luasnya pertemanan dan persamaan pandangan mewujudkan sebuah ide yang dikemukakan. Masyarakat media social terdiri dari berbagai lapisan dan latarbelakang tidak sama.

Padahal yang semacam itu, jauh lebih sulit daripada sekadar ber “say” dan “helo,” ataupun mengklik “like.” Seperti kebiasaan paling mudah dilakukan dalam pertemanan dunia fb, sebagai satu “bentuk” penanda kehadiran “keterhubungan” atau pun “penunjuk” bahwa apa yang ditulis dan diposting seseorang tidak dianggap “angin lalu.”

Kesulitan yang dimaksudkan ialah, bagaimana “menggiring” kesadaran kreatif, intuisi dan ide, dari banyak orang, agar menuju titik yang sama yakni, “berhalatuju” kepada perihal “hujan dan airmata.”

Itupun bila dicermati tidak pula langsung mengarah pada “hujan” dan “airmata” karena ada satu kata memulakannya yaitu, “antara.” Dapat diartikan, ada wilayah atau ada ruang yang “terdapat, menghubungkan, menjadi jarak, membatasi” keduanya. Tepatnya bersifat “makna,” dia ada tapi tak terlihat, tak terlihat tapi disadari suatu kenyataan.

Pada wilayah seni kreatif sastra, itulah sisi-sisi yang seringkali “disentuh” oleh sastrawan untuk dipresentasikan kepada kepenulisannya. Terlihat sederhana tapi adalah hal luarbiasa. Luarbiasa tapi dapat disederhanakannya.

Sastrawan yang (dimaksudkan) memahami kedudukan sastra dan mengikuti pergulatan kreatif dalam “membahasakan” suatu karya. Wilayah yang tidak semua orang dapat “meraihnya,” tidak semua orang yang tahu dapat “menjangkaunya.” Keluasan pandangan, kepiawaian berbahasa, ketekunan menjinakkan inspirasi, sungguh suatu hal menentukan pada sebuah karya serupa itu.

Meminta memasuki “wilayah” antara keduanya, tidak semua orang mungkin dapat “mencapainya” ataupun “menjelajahi” hingga kemudian “menuliskannya” dengan baik. Tidak verbal. Tidak sekadar sebuah potret. Tidak hanya berupa barisan kata datar dan hambar.

Sama seperti gambaran umum ketika dikatakan antara “hitam” dan “putih.” Diantaranya “dipahami” sebagai suatu bahagian filosofi merupakan wilayah “abu-abu.” Wilayah sulit diterka tapi mengandung dinamika kreatif setiap orang untuk mempelajarinya, membuat kesimpulan dan memahaminya.

Dalam bahasa politik praktis, “abu-abu” ialah wilayah yang tak dapat “dikuasai” namun ada kemungkinan “dipengaruhi.” Ditanggapi hanya akan menghabiskan enersi. Diabaikan “berbahaya” jika tidak diwaspadai. Sebab “sesuatu” dapat terjadi. Diluar perhitungan, sulit diprediksi.

Dalam kehidupan social manusia dikenal istilah “ya” dan “tidak.” Ketika seseorang menggunakan comitmen dirinya antara ya dan tidak, disimpulkan orang tersebut adalah manusia ragu, manusia penuh kebimbangan. Tidak memiliki pendirian diri. Mudah menjadi ya. Tidak sukar untuk tidak. Hakikatnya, tidak dapat mengambil suatu keputusan. Setuju atau menolak.

Sedangkan pada tataran kepenulisan sastra, daerah abu-abu, merupakan tantangan kreatif “menterjemahkan” hingga “menuliskannya,” dalam mencapai karya-karya sastra “membukakan mata” dan “mencerdaskan” pembacanya, untuk mendorong menjadikannya sebagai salahsatu sumber “inspiratif” bagi banyak orang.




Zubir Osman, adalah nama Nazeka Kanasidena. Putra kelahiran dari Pulau Omadai, Semporna, Sabah, Malaysia, 21 April 1970. Diketahui beliau adalah seorang cikgu/guru sekolah formal. Selain bekerja sebagai tenaga pendidik, ia “berkesinambungan” memposting karya-karya fotonya di wall media sosialnya.

Objek fotonya sebahagian besar menggambarkan “kehidupan” kepulauan dan kawasan pesisir pantai. Baik alam maupun manusianya. Karya-karya berunsurkan fotografienya “melintasi” beranda fb saya. Memulakan saya “mengenal” seorang Zubir Osman yang kemudian merubah nama akun fbnya dengan Nazeka Kanasidena.

Secara periodic, selain karya foto, Nazeka selalu menyertai dengan teks tulisan. Terutama berkaitan perihal sejarah dan budaya “orang laut.” Saya akui tidak semua tulisan yang pernah dipostingnya saya baca. Selain saya mengalami “masalah” membaca, juga tidak memiliki waktu sepenuhnya untuk “membaca.” Karenanya saya lebih “memperhatikan” karya-karya fotonya dari sudut artistic dan pemilihan objek.

Setelah menerima permintaan pertemanan dari Nazeka, akun fbnya masuk ke dalam list-pertemanan fb-saya, sejak itu setidaknya, saya “mengenal” pergulatannya dalam merespon perjalanan sejarah, budaya dan “kedukaannya” menyaksikan, sekaligus merasakan “peristiwa” demi peristiwa, leluhur, manusia dan tanah air “digerus zaman.”

Kemudian kami bertemu pertamakali sama-sama menghadiri “Temu Penyair Asean 2016” di Kuala Lumpur. Ia menghadiahkan buku kumpulan puisi pertamanya, “Iltizam,” (namanya dicantumkan pada buku, Zubir Osman) terbitan ITBM-Pena, 2015. Terbaca di belakang cover depan, tertulis; “…aku harus jadi sang pemula, demi margaku, pengembara benua.”

Ketika Nazeka Kanasidena atau Zubir Osman membentangkan idenya “menjemput” masyarakat (teman-teman) media social untuk menuliskan puisi “Antara Hujan dan Airmata,” saya “memakluminya” sebagai suatu “tindakan” menghidupkan dunia kreatif sastra.

Termakluminya mengingat perhatian Nazeka kepada hal sejarah dan budaya, termasuk merekam dinamika di sekelilingnya selama ini, wajar dia tergerak hati mencetuskan ide, untuk bersama menulis perihal Hujan dan Airmata. Tidak mungkin seseorang “berani” memiliki perhatian kepada hal-hal esensial tanpa didasari oleh “basic” yang kuat.

Ramai beberapa tahun ini “menggunakan” media social untuk “berhimpun” tapi “keramaian” itu “megah” dan “gagah” hanya lebih banyak bersifat “kehebohan” dan sekelas “pesta.” Saya kira, Nazeka tidak berada di sana. Mensiasati perkembangan teknologi internet, menjadi “wadah” atau “taman” untuk “membahasakan” persoalan universal manusia terhadap dua hal yakni Hujan dan Airmata.

Secara harfiah, hujan penunjuk kepada alam. Membawa symbol kesuburan. Airmata bahagian “khas” dari perasaan, keterharuan, kesedihan dan rasa sakit. Sewaktu-waktu dialami oleh semua manusia, termasuk makhluk lainnya.

Hujan dan airmata dapat dilihat secara berbeda. Sendiri-sendiri. Tetapi pabila dua kata itu dirangkaikan, membawa pada alam tafsir yang lebih luas lagi. Karenanya sanggupkah terungkap di dalam larik-larik puisi yang “dihantarkan” di kotak comen status Nazeka?

Ramainya tanggapan, ditandai dengan kehadiran puisi-puisi yang ditulis dan dimasukkan ke dalam kotak comen, bagi saya, itu sebuah perhatian luarbiasa. Membuktikan antara keduanya, baik hujan dan airmata adalah bahagian dari “kodrat” hidup tak terpisahkan. Hal tidak asing lagi dan erat pada kehidupan masing-masing personal si pengirim puisi.

Setelah dipublish di ruang media public media social, akan dikemanakan puisi-puisi itu?

Setiap puisi tidak terbuang dan tersia-sia. Sebagai sebuah karya, puisi itu setidaknya sudah ada yang membacanya lebih dari satu orang. Termasuk Nazeka sendiri pun, selain mengcopy, ia pun juga memberikan pandangan singkat terhadap puisi. Bahkan juga perbualan singkat, saling berkomunikasi dua arah.

Nazeka Kanasidena tidak “berjanji” tetapi ia pun tak ingin sampai hanya dipublish di media social saja. Puisi-puisi itu akan diupayakannya lahir ke dalam sebentuk buku antologi. Di awal mula status pengantar idenya, Nazeka pun telah “membayangkan” pabila ada “keberkatan” ia akan membawa serta puisi-puisi yang dikirimkan keluar dari fesbook dan menjelmakan sebuah buku antologi.

Menjelang tidur disuatu malam, di bulan November, sebagai perintang-rintang hari, saya merancang sebuah cover, “sumbangan” pabila buku “impian” itu akan berwujud. Desainnya belumlah finish. Langsung diposting. Tujuan utama hanya sebagai “penyemangat” dalam meramaikan kiriman puisi. Karena tidak request daripada Nazeka, hanya partisipasi dari saya, desain tersebut tidaklah mengikat. Tidak “meminta” agar sayalah “tukang” buat cover. Tidak pula “berharap” desain saya digunakan sebagai cover.

Dari satu rancang cover, akhirnya menjadi tiga desain. Tidak hanya Nazeka “terkesima” tapi sejumlah pengirim puisi di status Nazeka menyambut baik rancang cover yang saya rancang. Syukurlah. Tetapi pabila ada yang lebih baik, datang dari pihak lain, saya bersetuju. Itu jauh lebih elok. Saya menyukai memberikan “laluan” kepada orang.

Adapun terhadap “rancangan” menghimpunkan puisi-puisi ke sebentuk buku antologi puisi, sesungguhnya lagi “trend” pada dunia sastra. Baik di Indonesia maupun di Malaysia. Terutama sejak adanya “kemudahan” menghubungkan satu sama lain melalui media social. 

Judul dan tajuknya diakui tidak ada yang tidak “gagah” dan tidak “cantik.” Semuanya gagah dan cantik. Tetapi apakah gagah dan cantik suatu “jaminan” bahwa isi yang terkandung pada setiap buku, merupakan karya-karya berkualitas dan “bernilai” sastra” (?) Entahlah.




Dengan ramainya puisi berdatangan ke kotak comentar status Nazeka, apakah otomatis puisi-puisi itu termuat ke dalam buku antologi?

Pertanyaan ini bagi saya tidak bermaksud “menyalakan” yang satu dan “memadamkan” yang lain. Dunia buku sekarang ini berkembang pesat diterbitkan. Sementara seiringkah kepesatan kemajuan penerbitan dengan kualitas isi buku dan buku itu sendiri memang jatuh ke tangan orang “membutuhkan.” Membutuhkan bahan bacaan (?). Biasanya yang butuh, sudah pasti “membeli” dan bersedia “menyimpan” dengan baik. Menjadi referensi kelak kemudian hari.

Jika jawaban tidak ada “keharusan” setiap puisi disertakan ke dalam buku, berarti isi buku merupakan kandungan puisi-puisi yang telah melewati “tahap” seleksi. Tahap seleksi pun perlu dipertanyakan. Menurut kualitas puisi? Menurut nama seseorang yang menulis puisi? Ataukah menurut dari mana asalnya atau keterhubungannya?

Kemudian juga ketebalan buku yang ditentukan jumlah halaman. Biasanya apabila berupa antologi, seringkali terlihat adalah buku tebal. Ada 1000 penulis. 1000 puisinya “dipaksa” masuk ke dalam satu buku. Ada banyak buku-buku semacam ini terbit, lebih bersifat tidak sebagai himpunan puisi terpilih tapi “terjebak” menjadi buku dokumentasi puisi dari “beramai-ramai” orang dan “beramai-ramai” daerah atau Negara. Kualitasnya? Entahlah.

Oleh sebab itulah, begitu pentingnya criteria dan aturan-aturan, demi mencapai suatu maksud. Sepanjang hanya “mengikuti” apa yang sudah berlangsung selama ini, serupa dengan apa yang telah dikerjakan atau dibuat orang, tanpa ada suatu “sikap” yang jelas, cenderung yang “dihasilkan” menjadi “biasa-biasa” saja. Akan tinggal dengan gagah dan cantiknya saja. Seketika terlihat, sesudah itu mungkin terlupa. Sebab akan ada yang lebih gagah dan cantik lagi menggantikannya silih berganti.

Saya sengaja tidak menulis “Sabah” di judul tulisan ini tetapi “Semporna.” Semporna merupakan bahagian dari Negeri Sabah, Malaysia. Semporna daerah asal Nazeka Kanasidena yang memulakan ide untuk menulis puisi bertajuk “Antara Hujan dan Airmata.”

Dari Semporna itulah Nazeka, sedang menghulurkan tangannya berisi “wadah sastra,” antaranya untuk “menampung” turunnya Hujan dari langit, berderainya Airmata dari dua kelopak mata “kreatif.” Semporna “menulis” sejarah sastra (*)

Abrar Khairul Ikhirma – rangkayoputubasa@gmail.com - From Indonesia with Love

Selasa, 21 November 2017

"WALIKOTA SASTRA" BANJARBARU

Sulit untuk menemukan “pemimpin” di Indonesia berpihak kepada “budaya” dalam masa kepemimpinannya. Kalau sekadar hanya “retorika” misi-visi, hampir semua calon dan pemimpin pasti menulis dan menyebutkannya. Tidak lengkap kalau tidak mencantumkan perihal budaya menjelang “terpilih.”




SEKELUAR dari lobby Summit Signature Hotel di kawasan Jalan Puchong, bersama teman sebilik yang baru kukenal, Diding Tulus (dari Bandung), langsung dihampiri Hudan Hidayat (dari Jakarta), yang juga baru kukenali, mengajakku untuk minum, menunggu keberangkatan menuju tempat pembukaan acara Seminar Internasional Sastera Melayu Islam yang kami hadiri dari Indonesia.

Aku menerima tawaran itu, maklumlah selama ini kami hanya saling kenal nama saja melalui media social dan belum pernah berjumpa. Kami bertiga memasuki restaurant dan café yang terletak berdampingan dengan lobby hotel. Saat mencari meja yang akan kami gunakan, nyatanya, tokoh penyair gurindam dari Kalimantan Selatan, Iberamsyah Barbary mengajak bergabung di mejanya saja. Di meja itu sudah ada beberapa orang lebih dulu berkumpul.

Kami pun turut bergabung pada meja makan panjang yang sama. Alasannya, untuk saling mengakrabkan hubungan sesama orang kesenian. Sama-sama datang ke Kuala Lumpur menghadiri acara yang sama, yang diselenggarakan Numera Malaysia dan Masjid Abdul Rahman bin Auf Kuala Lumpur.

Iberamsyah berjarak beberapa kursi dari dudukku, diantara mula percakapan saat itu, menyebutkanku sebagai Tokoh Patria Numera 2017 yang akan dinobatkan. Ucapannya itu terkesan bagiku ditujukan kepada “seseorang” di hadapan kami. Orang tersebut bersebelahan denganku. Orang yang berulangkali menawarkan kami semua untuk memesan makanan dan minuman. Akhirnya hanya minum “teh tarik” saja tanpa makanan sepetang itu. Karena aku terikut berbasa-basi.

Aku hanya mendengarkan percakapan saja. Topik pembicaraan perihal potensi dan kegiatan kesenian yang tengah berlangsung di Kota Banjarbaru. Bukan aku tidak tertarik terlibat pembicaraan, akan tetapi susasana diriku di tempat semacam ini, seringkali tidak mampu membuatku merasa santai. Ditambah lagi orang-orang di hadapanku baru berjumpa dan belum sepenuhnya aku “kenali.”




Baru seteguk teh tarik kuminum, akhirnya bersama Hudan, memohon diri untuk duduk diluar, di meja-meja yang berada di teras depan restaurant dan café hotel. Petang hari menjelang maghrib. Tujuanku bersantai merokok. Bersama Hudan Hidayat. Topik pembicaraan tidak jauh dari persoalan sastra. Terutama perihal “Numera” dan teman-teman sastra.

Baru beberapa menit saja turut pula bergabung penyair dan pengajar Siamir Marulafau dari Medan, Sumatera Utara dan monologer Nuyang Jaimee asal Jakarta. Akan terbentuk suatu percakapan lepas, datang pulalah Iberamsyah Barbary, Sirajul Huda dan dua orang lagi turut bergabung. Maka meja kecil di hadapanku menjadi “sesak” tapi “menjelma” suatu peristiwa kecil yang menyenangkan saat itu.

Bagi kami kalangan seniman di Sumatera Barat, terutama dalam rentang tahun 1970 sampai 1990-an, hal serupa ini sudah menjadi hal biasa. Sudah tradisi terjadi begitu saja setiap acara kegiatan kesenian dan budaya diselenggarakan. Kami menyebutnya sebagai “acara maota-ota.” Suatu percakapan dan diskusi lepas oleh beberapa orang terjadi secara situasinal dan spontan.

Kelebihannya dari maota-ota demikian, semua yang ada adalah “bintang.” Tak ada yang menjadi tokoh menonjol atau pusat pembicaraan dan perhatian. Tidak pula ada sifat ingin menguasai pembicaraan. Setiap orang memiliki hak bicara sepanjang berada dalam “lingkaran.” Leluhur kami menyebutnya suasana semacam ini, “bakisa di lapiak nan salai.”

Satu sama lain memiliki pembicaraan kreatif menghidupkan suasana. Biasanya diantara yang ada saat itu, satu orang sendirinya memposisikan dirinya sebagai “janang.” Dalam hal forum resmi disebut sebagai “moderator” tapi tidak hanya sekadar berperan sebagai moderator saja, namun kerap juga “biang keladi” terjadinya intensitas percakapan dinamik.

Tak ada senioritas atau pun junioritas terjadi sehingga, pembicaraan mengalir begitu saja. Tak jarang memunculkan ide-ide bahkan kritik pedas atau pun candaria tawa. Karenanya di berbagai kegiatan acara-acara kesenian dan kebudayaan, peristiwa semacam ini seringkali disebutkan, momen “acara maota” itulah acara “sesungguhnya” dari acara yang mereka hadiri. Sebab kesimpulan dan keputusan acara resmi, seringkali malah “terlahir” dari hal semacam yang tidak resmi itu.

Pada waktu singkat menjelang maghrib, di selingkar meja di hadapan, duduk di kursi bersebelahan denganku, seorang yang datang bersama rombongan penyair Iberamsyah Barbary, terpancar keramahan yang familiar. Sehingga dengan singkat, ia pun menjadi titik perhatian kami semuanya. Sejenak, aku pun teringat, jauh sebelum kedatangan ke Kuala Lumpur, pernah membaca status fb Iberamsyah yang ditujukan kepada SN Dato’ Dr Ahmad Khamal Abdullah selaku pengerusi acara, mengabarkan kepastian ia dengan beberapa teman sastra akan datang bersama Walikota Banjarbaru.




Walau pun sejumlah pertanyaan diajukan oleh Nuyang Jaimee dan Hudan Hidayat kepada “seseorang” ini dalam percakapan lepas itu, setiap kali menjawab pertanyaan entah kenapa ia “seakan”  selalu “tertuju” kepadaku.  Diantara itulah, aku tersadar bahwa yang berada di sebelahku merupakan Walikota Banjarbaru. Patutlah ia memberikan gambaran sekitar perkembangan kegiatan seniman dan kesenian yang terjadi di Banjarbaru. Termasuk upaya menggerakkan potensi budaya, disertai usaha kerajinan masyarakat berbasiskan budaya.

Waktu percakapan sekejap itu, aku dapat memberikan penilaian kepada Sang Walikota, ia memang memiliki harapan besar bagi kemajuan di daerahnya. Dari cara ia mempresentasikan saat itu, aku dapat menyimpulkan, ia tidak hanya seorang Penjabat, tidak hanya seorang personal pemerintahan saja tapi seorang personal menguasai “masalah” yang sedang “dibicarakan.” Menunjukkan intelektual personality dan kecintaan kepada seni dan budaya.

Kehadiran seorang tokoh pemimpin pemerintahan daerah, Drs. H. Nadjmi Adhani, M.Si, dari Indonesia, pada peristiwa sastera oleh Numera di Kuala Lumpur ini, setidaknya patut dicatat suatu hal berharga memberi “pencerahan” terhadap pandanganku di atas. 

Nadjmi Adhani, Walikota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, khusus datang dari Indonesia, mengikuti “Seminar Internasional Sastera Melayu Islam.” Diikuti sastrawan, akademisi, pemerhati, dari Malaysia, Indonesia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam dan Bangladesh.

Selain menjadi peserta seminar, Nadjmi Adhani dari awal mula, sudah diberitahu panitia seminar dan Numera, diberikan kehormatan untuk memasangkan “tanjak” (songkok kehormatan budaya Melayu) menandai penobatanku sebagai Tokoh Patria Numera 2017, satu dari empat tokoh yang dinobatkan di Dewan Al-Ghazali, Masjid Abdul Rahman Bin Auf, Kuala Lumpur, pada malam 29 September 2017.

Drs. H. Nadjmi Adhani, M.Si (lahir di Banjarmasin, 27 September 1969) adalah walikota Banjarbaru yang menjabat pada periode 2016 hingga 2021, ia menggantikan walikota sebelumnya Ruzaidin Noor. Terpilih sebagai Walikota pada pilkada 2015, berpasangan dengan Darmawan Jaya Setiawan.

Sudah tidak rahasia lagi, penjabat-penjabat pemerintahan, pabila keluar dari daerah kerjanya, mengikuti acara-acara serupa ini, biasanya hanya “suka setor wajah.” Apalagi pada acara seni dan budaya. Momentum acara diluar daerah kerjanya yang dihadirinya hanya menjadi alat sebagai alasan untuk menggunakan masa “melancong.” Di waktu pembukaan acara dia hadir. Sesudah itu menghilang. Yang terlihat mengikuti acara hanya stafnya. Penjabat itu baru terlihat lagi di acara penutupan.

Sepanjang rangkaian acara seminar, Walikota Banjarbaru ini terlihat mengikuti dengan baik. Sayang aku tidak memiliki kesempatan untuk melakukan percakapan lebih jauh dengannya. Namun sikapnya pada saat kehadirannya, ia adalah seorang yang familiar. Akan bersemangat pabila bercerita perihal budaya dan potensi Banjarbaru.

Selepas acara penobatan Tokoh Numera 2017, ketika acara malam kedua berakhir, aku dan Walikota berjumpa di pintu keluar Dewan Al Ghazali untuk kembali ke hotel. Kami saling menyapa dan berfoto. Esoknya sebelum peserta seminar berangkat melakukan pelancongan ke beberapa destinasi di Kuala Lumpur, Walikota Nadjmi, kembali berjumpa di depan lobby hotel. Kami berbicara singkat dan saling mengucapkan salam. Dia menyampaikan ucapan maaf, karena lebih awal untuk kembali.

Saat menulis tulisan catatan ini, aku mencoba merangkai kembali perihal “perjumpaanku” dengan Nadjmi Adhani, Walikota Banjarbaru. Tersadarlah aku, bahwa selama acara itu aku sesungguhnya tetap dengan kebiasaanku yakni “tak pernah memikirkannya.” Kehadiranku saat itu tak obahnya sebuah alat rekam saja. Setiap yang terlihat dan terdengar terekam begitu saja. Tersadar atau tidak. Setelah berlalu, barulah aku melihat dan mendengar rekaman itu kembali.

Jadi “seseorang” yang bertemu satu meja di restaurant & caffe hotel hari pertama itu, adalah seorang Walikota. Aku mengira teman-teman peserta dari Kalimantan saat itu terjumpa “orang kampungnya.” Tidak tahu bahwa yang duduk di sampingku adalah Walikota.

Selang berapa waktu setelah itu pada petanghari yang sama, aku pindah duduk di teras depan. Duduk bersama Hudan Hidayat dan teman-teman. Datang rombongan Iberamsyah turut bergabung. Diantaranya yang duduk di sebelahku. Tapi setelah akan berakhir percakapan, baru terlintas dibenakku, orang itu adalah Nadjmi Adhani Walikota Banjarbaru.

Walaupun saat itu sekilas aku mengetahui Nadjmi adalah seorang Walikota tapi, aku tidak terpikir bahwa orang yang sama inilah sebelumnya, tadinya duduk semeja di dalam restaurant dan caffe hotel. Termasuk tidak pula sadar bahwa dialah yang akan didaulat memasangkan tanjak dan menyerahkan plakat penobatanku sebagai Tokoh Patria Numera 2017 malam esoknya.




Cilakanya lagi, pada waktu malam esoknya, Malam Penobatan Tokoh Numera 2017, aku juga tidak pernah terpikirkan bahwa Numera Malaysia memberikan kehormatan kepada Nadjmi memasangkan tanjak menandai penobatanku. Aku baru mengetahui, karena sudah sama-sama berada di atas pentas yang sama di waktu penobatanku.

Bahkan sampai rangkaian acara berakhir, sama sekali tak terpikirkan bagiku rangkaian dari tiga momentum “pertemuanku” dengan Walikota Banjarbaru itu. Seakan-akan tidak berkait. Padahal satu sama lain memiliki keterhubungan tak tersadari.

Hakikatnya, aku ingin menuliskan ini, karena selama ini, aku telah dipenuhi oleh perilaku “penjabat” yang tidak memiliki “respek” kepada aktifitas kesenian dan kebudayaan. Baik langsung maupun tidak langsung. Sehingga membentuk diriku secara alamiah “protect” kepada “retorika penjabat.”

Sedang pada waktu singkat ---yang belum tentu dapat membuat kesimpulan pada personality--- aku telah “bersimpati” kepada Nadjmi Adhani, karena sepanjang kehadirannya di rangkaian acara seminar sastra, “tidak tampil” sebagai seorang penjabat tapi “menyatu” menjadi lebur dalam suasana sastra di dalam kesastraan.

Tidak hanya Walikota Banjarbaru saja yang mendapat kehormatan dalam peristiwa sastra internasional ini tetapi, acara Seminar Internasional Sastera Melayu Islam 2017 di Kuala Lumpur ini juga mendapat kehormatan “menuliskan sejarah.” Yang luput dari perhatian banyak orang. Dimana ada seorang Walikota dari Indonesia bersedia hadir dan menjadi “orang sastra.” (*) copyright: abrar khairul ikhirma

Selasa, 14 November 2017

KAIN CINDAI PANJANG TUJUAH

Sejumlah puisi-puisi yang ditulis dan terinspirasi dari menghadiri “Anugerah Puisi Dunia Numera 2014,” di Kuala Lumpur, Malaysia, awal tahun 2014, disaat kabut asap kebakaran hutan di Sumatera mencapai tanah semenanjung.




Akhirnya, aku mengambil keputusan untuk pergi ke Kuala Lumpur, setelah ingin bertahan tidak akan pergi. Sejak akhir tahun 1990-an, aku sudah “menghilangkan diriku” dari pelbagai acara-acara kesenian. Termasuk mulai menghentikan mempublikasikan tulisanku ke media suratkabar. Aku memilih hidup “dalam kegelapan,” menghindar diri bertemu teman-teman dan tak ingin diketahui keseharianku sebagai “Pangeran Kegelapan.”

Puisiku “Hang: Kekal di Selat Melaka,” terpilih menjadi salah satu puisi yang mendapat Anugerah Puisi Dunia Numera 2014. Selain puisi itu, 2 puisi lainnya, “Puteri Hijau” dan “Tumpak nan Sembilan” termuat ke dalam buku Antologi Puisi “Risalah Melayu Nun Serumpun,” yang diterbitkan Persatuan Sasterawan Numera Malaysia sebagai penyelenggara peristiwa sastra tersebut.

Aku tidaklah seorang pendekar. Juga bukan seorang jagoan berkelahi. Aku hanya orang biasa yang menyukai dunia kepenulisan. Karenanya “kehadiranku” tak kuingini dengan hanya “tangan kosong,” seperti banyak kutemui para pendekar dan jagoan “tangan kosong,” di berbagai peristiwa kesenian.

Setiap seusai acara kesenian yang diikutinya, baik memang “murni” diundang hadir karena kapasitas diri dan karyanya maupun sebagaimana tradisi sekarang ini yakni “minta” sendiri agar diundang penyelenggara acara, biasanya pulang tidak “menghasilkan” apa-apa kecuali, hanya menambahkan satu baris dalam daftar riwayat hidupnya bahwa telah pernah diundang acara “bergengsi.” Sebagai bentuk penjelasan kepada orang lain, dirinya adalah pendekar atau jagoan di dunianya.

Karena pendekar atau jagoan itulah (barangkali) makanya mereka tangan kosong. Sepulang dari setiap acara, hanya membawa “sejumlah file foto digital” rekaman dirinya dan “sejumlah buku” pemberian atau hasil tukar menukar. Tak akan “ditemukan” sebuah tulisan artikel yang ditulisnya “bercerita” sesuai dengan “sudut pandangnya” perihal peristiwa yang dihadirinya. Atau sekurang-kurangnya berupa postingan foto yang disertai catatan pendek perihal acara (tidak dirinya pribadi) di akun media sosialnya.

Begitulah umumnya penulis yang menghadiri acara penulis. Atau kini lebih popular disebutkan sebagai sastrawan dan acara sastra. Penulis yang tidak “tergerak” hatinya untuk menulis meskipun penulis.

Tulisan berupa artikel dapat dikirimkan ke berbagai media atau setidak-tidaknya diposting melalui blog pribadi atau media social lainnya di internet. Atau lebih praktis berupa catatan 2 – 3 paragraf di media fesbook dan semacamnya. 

Tetapi tidak banyak menggunakan media tersebut sebagai “bentuk” dari kehadiran di pelbagai peristiwa. Bentuk meramaikan publikasi informasi. Bentuk menunjukkan tanggungjawab moral eksistensi diri. Di abad kemudahan teknologi informasi oleh setiap orang. Apalagi bagi seorang penulis yang kreatif.

Jika ada 100 orang penulis menghadiri acara sastra, ada 80 orang diantaranya tergerak hatinya menulis catatan topic acara yang dihadirinya, kemudian mempublikasikannya ke berbagai media mainstream atau pun media social. 

Itu artinya ada 80 orang “memperlihatkan” kemampuannya menulis dan ada 80 tulisan tersebar yang dapat dibaca dan diketahui oleh khalayak ramai perihal sastra, selain hanya dirinya sendiri dan teman-temannya saja. Ada 80 orang yang tidak menjadikan dirinya hanya sebagai “benalu” tapi “ikut” membesarkan “peristiwa” yang dihadirinya.

Sayang, hanya sedikit diantara para pendekar dan jagoan tangan kosong di rimba kepenulisan kita dewasa ini, menggunakan “senjatanya” dengan “baik” untuk menulis “peristiwa sastra” sekembali dari peristiwa sastra itu sendiri. Mereka itu memang tidak pendekar atau jagoan tangan kosong tapi ia menulis. Dengan tulisannya apapun kualitas dan kepentingannya, membuktikan dirinya adalah memang penulis!

Aku senang menulis. Aku suka menuliskan hal-hal yang aku lihat, aku pikirkan, juga apa yang aku rasakan. Aku tidak seorang pendekar atau pun jagoan. Aku hanya seorang penulis.

Adanya teknologi internet, adanya media social, tanpa menyita waktu, ada banyak kemudahan dan simple dapat dilakukan menuliskan catatan-catatan singkat untuk dibagikan, memberikan apresiasi pada masyarakat, selain hanya foto-foto diri sendiri.

Aku pun menulis beberapa tulisan, kemudian “kusimpan-publikasikan” di blog pribadiku, selain berbagai postingan lompatan spontanitas di media social akun fesbookku sendiri, perihal peristiwa Anugerah Puisi Dunia Numera 2014 yang akan kuhadiri. Ternyata tulisan-tulisan itu tiada tersadari cukup untuk dikumpulkan dalam bentuk sebuah buku kecil sederhana. Akupun editing, mengatur tata letaknya, merancang cover dan mencetaknya menjadi buku.

Tenggat waktu yang singkat aku telah menghasilkan sebuah buku berupa catatan kebudayaan berjudul, “Izinkanlah Aku Bicara” (2014). Sejumlah dari buku ini kubawa serta ke Kuala Lumpur, bersama satu kumpulan puisiku, “Antara Bukik Punai” (2008).

Kedua buku itu telah menjadi “buah tangan.” Kehadiranku tidak sebagai pendekar atau jagoan “tangan kosong.” Tidak hanya sekadar “menerima” hadiah tapi “kukembalikan” dalam bentuk lain. Walau pun aku sadar, dalam konteks itu, aku tidaklah seorang yang “diutamakan.” Tidak memiliki beban moral yang tinggi. Tetapi bagiku, semampuku, kepada diriku dalam hal apapun, disitulah aku “mempertaruhkan” itikad kepenulisan yang kupilih.

Berbekal sebuah camera pocket 20.1 mp tanpa memiliki ponsel pintar dan laptop, aku mengikuti peristiwa sastra itu. Dari awal sampai akhir acara, aku “gunakan” alat sederhana yang kumiliki semaksimal mungkin, untuk merekam berbagai momen yang tidak hanya objeknya “diriku” sendiri.

Walau pun saat itu, aku belum memiliki sebuah personal computer atau pun laptop, sepulang dari Kuala Lumpur, di waktu-waktu senggang, aku gunakan waktuku menumpang bekerja menggunakan personal computer teman-temanku. Foto-foto dapat kuedit. Pergi ke kedai internet memposting. Berbagi informasi dan berbagi momen foto bagi yang membutuhkannya.

Sebuah buku catatan kebudayaan, foto-foto di album fb-ku, 9 video pendek documenter di youtube, sejumlah tulisan di blog pribadiku, itulah yang “kuhasilkan” dari momen peristiwa yang kuhadiri, meskipun bukan kewajiban yang dibebankan kepadaku. Tersebab aku penulis. Tidak karena orang lain. Tidak karena hadiah. Tidak karena honor. Juga tidak karena adanya hubungan “kedekatan.”

Sampai hari ini, masih ada sejumlah topic berkait peristiwa sastra itu yang belum sempat kutulis. Itu tetap akan kutulis nantinya untuk blog. Pun ada sebuah buku yang masih terbengkalai aku susun. Nanti ada waktu, tetap akan kuselesaikan. Walau waktu telah berlalu dari tahun 2014.

Begitu juga terhadap buku kumpulan puisiku ini, adalah puisi-puisi yang kutulis dan terinspirasi sejak mula menjejak kota Kuala Lumpur menghadiri Anugerah Puisi Dunia Numera 2014, sampai aku kembali ke tanah air.

Sebagai penulis, aku bentangkan Kain Cindai Panjang Tujuah
Bacalah.

Abrar khairul ikhirma
November 2015

Judul: Kain Cindai Panjang Tujuah
Buku: Kumpulan Puisi
Penulis: Abrar Khairul Ikhirma
Penerbit: Cati Bilang Pandai
Cetakan Pertama: 2015
Halaman: 60

Kandungan Isi:

TITIAN KATA – BANGSAR – PANDANGAN PERTAMA – HANG: KEKAL DI SELAT MELAKA – SEBUAH ANALISIS AKRAB – PUTERI HIJAU – TUMPAK NAN SEMBILAN – DBP – KAIN CINDAI PANJANG TUJUAH – KUALA LUMPUR 2014 – LEMBAH BERTIMAH – SENJA DI MELAKA – CINDERELLA MELAKA – SANG PENEROKA – BANDARAYA – YAP AH LOY – JEUMPA D’ RAMO – KHATIJAH SIDEK – GURINDAM 13 – BUKIT BINTANG – BERLAYAR DI HUTAN BETON – TERBAWA MIMPI – GAGAK HITAM – RIWAYAT PERTEMUAN – LEPAS TANGKAI - BIOGRAFIE

Senin, 16 Oktober 2017

CINDAI BERTUAH NUMERA

“Walau mahal tapi tidak bisa dibeli. Murah pun tak dapat diminta.” Mamangan orang Minangkabau untuk menjelaskan pada sesuatu yang “bernilai” tinggi.




Selepas turun dari pentas dan podium Dewan Al-Ghazali, Masjid Abdul Rahman bin Auf, Kuala Lumpur, selesai penobatanku sebagai Tokoh Patria Numera 2017, ditandai pemasangan tanjak Melayu dan penyerahan plakat oleh Walikota Banjarbaru Kalimantan Selatan, Drs. Nadjmi Adhani, M.Si, yang mendapatkan kehormatan di malam Penobatan Tokoh Numera itu, aku kembali ke tempat dudukku semula.

Aku duduk satu meja bersama penyair dan akademisi, Dr. Ahmad Taufik, dari Universitas Jember, salah seorang pembentang kertas kerja dalam Seminar Internasional Sastera Melayu (SISMI) yang diselenggarakan Persatuan Sasterawan Numera Malaysia dan Masjid Abdul Rahman bin Auf Kuala Lumpur, 28-30 September 2017.

Sambil mengikuti acara Malam Penobatan yang masih berlangsung di panggung, aku didatangi Dr. Fazilah Husin. Sang Doktor itu menyalamiku sambil mengucapkan tahniah, sementara di pangkuannya terlihat dua buah kantong plastic.

Satu diantaranya ia berikan padaku sambil berkata, “Ini ada dua pic. Satu hadiah untukmu dan satu lagi untukku. Ada yang menghadiahkan tapi ia tak ingin disebutkan namanya.”

Aku mengucapkan terimakasih kepada Sang Doktor yang sudi menghantarkan hadiah itu ke mejaku dan berharap menyampaikan terimakasihku pula kepada “seseorang” yang tak hendak aku ketahui namanya itu. Alhamdulillah. Sambutan yang sangat bernilai terhadapku, semoga keikhlasan selalu dilimpahkan pada setiap langkah yang dilakukan. Terimakasih.

Padahal jauh sebelumnya, Dr Fazilah Husin jugalah yang memberitahukanku, untuk dapat menjadi narasumber, ketika team kerja liputan “Bernama Televisyen Chanel” Malaysia, mewawancaraiku sempena peristiwa Seminar Internasional Sastera Melayu dan Penobatan Tokoh Numera 2017.

Dr Fazilah Husin, selain ikutserta memudahkan keberlangsungan acara seminar dan penobatan, ia sendiri tampil di acara ini sebagai salah seorang pembentang kertas kerja, di sesi lain ia menjadi moderator, sekaligus juga tampil membacakan puisi bersama para penyair nusantara dari Negara-negara peserta seminar pada sesi baca puisi.

Bahkan Fazilah senang hati ikut mendampingi peserta yang datang dari luar Negara “melancong,” sampai pada malam penutupan di Cruise Tasik, Putra Jaya. Padahal tentulah ia telah “merelakan” tinggalkan pekerjaannya yang lain, termasuk urusan keluarganya. Patut diapresiasi.

Semula aku mengira bingkisan hadiah yang disampaikan lewat tangan Fazilah Husin merupakan sebuah baju kemeja. Kiranya sehelai kain. Kain itu dapat digunakan sebagai kain selempang atau selendang. Biasanya dipakai perempuan sebagai pelengkap kostum.

Menurut hematku kain selempang ini, merupakan satu “keluarga” seperti dengan tenunan khas  etnik Batak di Sumatera Utara disebut sebagai Ulos. Atau di Minangkabau dinamakan kain cindai, seperti juga hal yang sama dikenal dalam masyarakat Melayu.

Kain serupa ini tidak hanya dipakai oleh kaum perempuan tetapi juga oleh laki-laki. Biasanya dipakai dalam acara resmi, adat dan kini mulai ramai terlihat di berbagai acara pertunjukan kesenian. Kalangan sastrawan misalnya sebahagian besar memilikinya. Mereka tampil dengan style masing-masing dengan hal unik dan etnik. Gejala menarik pabila ada yang hendak mencermatinya.

DR FAZILAH HUSIN


Kain cindai yang dihadiahkan kepadaku ini tidak merupakan hasil tenunan tradisionil, bukan hasil ketekunan para penenun tradisi yang dikenal sebagai “buatan tangan.” Kain adalah hasil industry tekstil melalui proses mesin pabrikan. Kemudian dipasarkan melalui jaringan perdagangan ke berbagai segmen pasar. Menjadi pakaian sehari-hari, peristiwa kebudayaan, pertunjukan kesenian maupun sebagai cenderamata atau persembahan dan hadiah.

Meskipun buatan pabrik tapi ada hal menggembirakan, ternyata aku mengetahui melalui label yang terdapat di salah satu sudut kain yang diberikan kepadaku, merupakan hasil industry tekstil dari Mumbai, India. Negeri yang sangat hafal namanya bagiku tapi belum pernah kukunjungi.

India. Mengingatkanku kepada tokoh yang kuhormati Mahatma Gandhi. Pejuang tanpa kekerasan. Seterusnya, “negeri yang dilindungi awan,” disebut dalam riwayat Rasulullah, pun disebutkan tempat dimana diturunkannya Hawa ke dunia oleh Allah. 100 tahun kemudian dipertemukan dengan Nabi Adam di Jabbal Rahmah, Padang Arafah, Arab Saudi.

Oleh sebab itulah, aku dapat mengatakan perihal kain “hadiah” pemberian “seseorang” dalam peristiwa sastra dunia selenggaraan Numera Malaysia ini, bagiku seperti disebutkan mamangan orang Minangkabau. Andaikan harganya mahal tapi tidak akan dapat dibeli (dijual). Kalaupun murah (tidak berharga mahal/ kualitasnya rendah) tapi tidak bisa diminta (diberikan).

Apalagi kuketahui, kain ini pun dapat kujadikan sebagai sorban (*) copyright: abrar khairul ikhirma

Kamis, 12 Oktober 2017

TOKOH PATRIA NUMERA 2017 (2)

Jika jalan “pertemanan” itu banyak dipilih untuk mendapatkan eksistensi, aku menempuh jalan berbeda. Tidak obsesif pada apapun seperti dikejar banyak orang dengan “tangan kosong.” Itulah aku. Pangeran Kegelapan. Menjauhkan diri dari keramaian riuh rendah, gegap gempita, “pesta-pesta” yang diselenggarakan dimana-mana.”




Kenyataannya, tidak hanya sekadar menjauh. Aku pun sendiri tahu, dalam rentang waktu panjang di banyak peristiwa, aku adalah seseorang yang “patut disingkirkan” dari perhitungan “berkedok” kualitas, padahal hanya atas dasar suka tidak suka dan kepentingan “politis” belaka. Tidak pada pemikiran dan kedudukan karya.

Aku dianggap seorang yang sombong. Suka mengkritisi “sisi gelap” tata cara berkomunitas dan berkarya. Kesombongan dan konsistensi padahal tidak sama. Namun kenyataannya seringkali difahami sama. Tetapi biarlah semua itu. Aku tidak memerlukan suatu perdebatan. Bagiku perdebatan hanya akan membuang enersi kepada orang yang justru menyukai jalan kepentingan dan ketergantungan untuk menjadikan dirinya ada. 

Pilihanku hanya berkarya. Berkarya tidak oleh sebab “pesanan” atau berharap kemenangan dan uang dari setiap “perlombaan.” Aku menempuh jalan kesenian dengan caraku sendiri, tidak dengan cara orang lain. Walau pun cara mereka itu sudah hal biasa dan dianggap wajar-wajar saja. 

Diperhatikan atau tidak. Dikenal atau tidak, bukan tujuanku. Berkesenianku tidak kupertaruhkan kepada perlombaan, penghargaan atau kepopuleran. Aku berkesenian karena aku memang ingin berkesenian. Tidak oleh sebab orang lain. Tidak juga akibat “kemudahan” yang diberikan perorangan, lembaga maupun institusi. Guruku adalah kehidupan. Leluhurku benar. “Alam takambang jadikan guru.”



SN DATO' DR AHMAD KHAMAL ABDULLAH
ABRAR KHAIRUL IKHIRMA
DRS. NADJMI ADHANI, M.S
KUALA LUMPUR
29 SEPTEMBER 2017i


Pada Anugerah Puisi Dunia Numera 2014, aku “keluar” dari sarangku. Salah satu puisiku terpilih diantara yang banyak. Tetapi aku tahu, puisiku itu “terkesan” dipandang “sebelah mata.” Sudah aku duga seperti dugaanku selama ini pada hal semacam itu. 

Itu sudah resiko dari “pertimbanganku” semula, yang kuanggap kemudian menjadi kenyataan. Apalagi setelah masa berlalu, menyempatkan diri membaca karya lainnya, bersamaan dengan momentum karyaku itu. Lalu merujuk kepada criteria yang dimintakan. Apa kesimpulanku?

Kesimpulanku itu ialah sebagaimana tertanam dalam diriku selama ini. Diluar diri kita tidak selalu terdapat orang bodoh, tidak selalu hanya bertemu dengan orang tidak peduli. Mereka tentu memiliki penilaian pula, melihat sejauhmana antara ukuran yang diberikan dan hasil dipilih sebagai penentuan. Disitulah nama dan kredibilitas diperlihatkan. Konsisten atau tidak akan criteria. Atau ada “hal” lain di baliknya dengan “mengorbankan” objektifitas.

Sebagai Pangeran Kegelapan, bercermin pada satu ketika, pernah membaca dalam satu kata pengantar edisi khusus penerbitan Majalah Berita Mingguan Tempo, Jakarta, ketika dilaksanakan persidangan dalam memilih “10 Tokoh Mengubah Indonesia,” menyadari harus berhati-hati menjatuhkan pilihan. Disebutkan sebagai pentingnya konsisten dan pertanggungjawaban moral yakni resiko, “salah memuji orang, salah membesarkan orang.”

Sejak 2014 itu aku “berdendam” memberikan “lebih” perhatian dalam mengapresiasi kegiatan Numera Malaysia. Terutama melalui media social yang menjadi media informasi dan komunikasi utama selama ini. Tetapi komunikasi personal dengan SN Dato’ Ahmad Khamal Abdullah (Presiden Numera Malaysia) hampir tak pernah ada terjadi di inbox. 

Begitu juga apresiasi, selalu aku tempatkan sewajarnya. Sesuai proporsinya. Tidak “angkek talua” sebagaimana istilah negatif orang kampungku, dimana seseorang “berharap” sesuatu pada seseorang dengan jalan “memuji-memuja-berlebihan.” Itu bukan kepribadianku.



ABRAR KHAIRUL IKHIRMA (INDONESIA)
AMINUR RAHMAN (BANGLADESH)
TAN SRI DATO SERI HAMAD KAMA PIAH (MALAYSIA)
SN DATO' DR AHMAD KHAMAL ABDULLAH (MALAYSIA)
DRS. NADJMI ADHANI, M.Si (INDONESIA)


Dengan segala keotodidakanku, aku merancang pelbagai desain. Menulis tulisan secara sukarela untuk kegiatan Numera sejak ia dirancangkan. Sama sekali tidak ada permintaan dari Pengerusi Numera. Ternyata apa yang kuhasilkan dan posting melalui akun media sosialku, terus menerus berkenan bagi Numera. Jika mau “mencermatinya” dengan jujur, setidaknya, aku telah ikut “mewarnai” identitas, memberikan “pupuk” tanda petik pada ide dan pemikiran.

Kalau pun sebahagian besar rancangan desain itu digunakan oleh Numera, aku mempersilahkan. Tidak bermaksud berharap imbalan. Menurutku, itu satu bukti bahwa aku konsisten “mendukung” pada apa yang dicetuskan Numera. Dengan cara itulah dukunganku. Selama satu tahun (terutama untuk Seminar Internasional Sastera Melayu Islam 2017) gencar berpublikasi.

Padahal aku sendiri sejak semula tidak berkeinginan menjadi peserta. Karenanya aku tidak meregistrasi diri pada pihak penyelenggara. Nyatanya, ada juga jemputan untuk datang ke Kuala Lumpur mensyuarat persiapan acara, waktunya pun tidak sesuai dengan kegiatanku. Pada saat yang sama, “ada hal” sejak ayahandaku wafat. Memberatkanku untuk berpergian meninggalkan kotaku. Kemudian disaat berikutnya aku dalam persiapan berangkat melaksanakan ibadah Umroh ke Tanah Suci.

Alat untuk mengakses internetku rusak sejak sebelum sidang media sampai sekarang. Beberapa hari setelah Sidang Media Penobatan Tokoh Numera, 21 September 2017, barulah mengetahui aku terpilih sebagai Tokoh Patria 2017.



SEBAHAGIAN PESERTA SISMI17
MALAM PENOBATAN TOKOH DUNIA NUMERA 2017


Kukira hatiku sudah “bebal” menjadi batu. Pikiran terkunci oleh aplikasi yang sulit diformat ulang. Sudah terang benderang secara resmi dinyatakan, salah seorang yang akan dinobatkan sebagai tokoh, namun diriku tak jua “melahirkan” kegembiraan dan “kebanggaan.” Aku hanya merasa biasa dan tetap tak merasa ada “sesuatu” yang istimewa terjadi pada diriku. Demi Allah. Rasa itu sampai ke detik penobatan. Bahkan setelah penobatan.

Yang “merusuhkan” diriku dengan kabar itu hanyalah aku akan dibuat “sibuk.” Setiap kali untuk “hadir” di acara-acara resmi selalu harus berhadapan dengan diriku sendiri. Cara berpakaian! Berpakaian rapi, bercelana panjang dan bersepatu. Keseharianku tidaklah demikian. 

Pakaian kebesaranku sebagai Pangeran Kegelapan ialah bert-shirt lusuh, celana pendek, bersandal jepit, rambut tak disisir. Santai dan tak formal. Tidur di bangku kedai, di palanta berlantai papan, di sembarang tempat. Tidak di kamar setaraf hotel berbintang, bertarif mahal.

Di situasi semacam ini, aku “dipaksa” harus beli kemeja, celana panjang dan minyak rambut. Aduh. Berkostum demikian diantara orang-orang ramai, ada saja rasa serba salah. Menjadi “kucing jinak.” Penuh “pertimbangan.” Kadang “pengorbanan” dan “berelahati” tidak selalu “menciderai” namun mesti ditempuh dilalui sebagai pengalaman-pengalaman, memperkaya “keterhubungan.” 

Terlepas daripada persoalan yang kuhadapi tersebut, Numera Malaysia sendiri memang patut digarisbawahi, salah satu organisasi pemberi perhatian besar kepada sastra Melayu di nusantara. Sejak mula penubuhannya (pendiriannya) ia langsung masuk ke dalam tataran bertaraf internasional. Antar bangsa, terutama Negara-negara “serumpun.”

Selain “pergerakan” aktifitasnya pada sastra Melayu itu, mengikuti aktifitas Numera sampai sekarang, ada hal terpenting mendorong perhantianku agak lebih. Mungkin hal ini belum (tidak) dilihat sebagai suatu yang serius dan patut dihargai. Numera selalu memberi ruang untuk pertumbuhan generasi sastra. Pertumbuhan itu direalisasikan dengan menampilkan personal “muda” untuk naik ke “pentas” kesastraan dengan cara “terhormat.”

Ada banyak forum dan peristiwa sastra diselenggarakan di berbagai tempat tapi mayoritas “wajahnya” itu ke itu saja. Seakan “panggung” terhormat hanya dikuasai oleh senioritas. Sedangkan kalangan sastrawan, akademisi dan pemerhati “baru” tidak memiliki kesempatan untuk “bicara.” 

Numera telah “mendobrak” segala “keangkuhan” yang diciptakan itu. Dengan berani membukakan “pintu” kesempatan bagi kalangan baru untuk tampil ke depan. Hasilnya tidaklah mengecewakan. Telah memberikan “angin segar” bagi kehidupan sastra di nusantara.

Bagiku Numera tidak hanya sebagai motivator tapi juga fasilitator untuk melakukan perubahan dengan berlandaskan kepada budaya Melayu. Bahasa dan sastra. Jika kemudian ada yang melihat Numera menyikapi isyu-isyu global dan berjuang “keras” menegakkukuh bahasa Melayu di tanah Melayu, patut pula diapresiasi tanpa mengesampingkannya. 

Namun “sokonganku” turutserta kepada kegiatan Numera lebih tersebab bersetuju kepada hakikat nilai-nilai “pertumbuhan, perkembangan dan pelestarian” terhadap regenerasi budaya Melayu. Tidak kepada yang kuanggap hanya menghabiskan enersi memasuki “permainan global.” 




Aku bersetuju dan menyokong, membuat setiap gerakan menghadapi situasi “kerusakan” yang terjadi pada masyarakat nusantara dan dunia global. Dimana kedudukan ekonomi, politik dan perdagangan kian dirasakan menjauh dari kebudayaan, merusak simpul-simpul ikatan tatanan social dan tradisi. Hanya saja, “aku tidak akan ikut bersama” dengan bentuk-bentuk “perlawanan” seperti umumnya “dikobarkan” dimana-mana di berbagai belahan bumi. 

Aku akan sependapat, kalau menghadapi “keprihatinan” dengan jalan “mengoreksi” diri sendiri serta “memperbaiki” persiapan generasi. Sebab, aku lebih mengacu kepada mamangan orang negeri Minangkabau, leluhurku, “sasek di ujuang jalan, baliak ka pangka jalan.” 

Masyarakat kita harus “disadarkan” terlalu banyak terjebak kepada hal “menyesatkan.” Karenanya mulailah dengan sederhana “menelisik, memandang, mempelajari, memahami dan menjadikan” kebudayaan dari warisan leluhur di negeri leluhur sendiri, untuk memperbaiki ketentraman “kehidupan” dunia. Beradat dan beradab. 

Kehidupan kini sudah terasa sesak dengan pemimpin dan tokoh-tokoh penuh intrik dan politik. Dunia membutuhkan perkawinan yang beradab, persetubuhan halal, kehamilan sehat, melahirkan alamiah, mengasuh bayi dengan proses, memberikan pendidikan bertanggungjawab, menciptakan pengajaran bermoral sesuai dan berimbang. Supaya nanti yang ada di depan kita adalah manusia, pemimpin, tokoh dan masyarakat; berotot kawat keimanan relegius, bertulang baja berkebudayaan, berotak kecerdasan ilmu pengetahuan, “membangun” dengan ilmu teknologi tetapi memiliki “hati nurani.”

Kehadiran seorang tokoh pemimpin pemerintahan daerah, Drs. H. Nadjmi Adhani, M.Si, pada peristiwa sastera oleh Numera ini, setidaknya patut dicatat suatu hal berharga memberi “pencerahan” terhadap pandanganku di atas.

Nadjmi Adhani, Walikota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, khusus datang dari Indonesia, mengikuti “Seminar Internasional Sastera Melayu Islam.” Diikuti sastrawan, akademisi, pemerhati, dari Malaysia, Indonesia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam dan Bangladesh.

Selain menjadi peserta, Nadjmi Adhani dari awal mula, sudah diberitahu panitia seminar dan Numera, diberikan kehormatan untuk memasangkan “tanjak” (songkok kehormatan budaya Melayu) menandai penobatanku sebagai Tokoh Patria Numera 2017, satu dari empat tokoh yang dinobatkan di Dewan Al-Ghazali, Masjid Abdul Rahman Bin Auf, Kuala Lumpur, pada malam 29 September 2017.

Penobatanku ini sebagai Tokoh Patria 2017, dipilih karena dinilai “salah seorang” telah memberikan dedikasi, berkarya, apresiasi dan motivasi, memartabatkan sastera Melayu dalam beberapa tahun terakhir ini.

Sebelum keberangkatan menuju Kuala Lumpur, Presiden Numera, memberitahu agar keempat tokoh Numera menyiapkan pidato maksimal 10 menit. Aku “ingkar” tak dapat menulis pidato sampai pada detik penobatan. Karena tak tahu apa yang harus kusampaikan.



ABRAR KHAIRUL IKHIRMA
PIDATO PENOBATAN TOKOH PATRIA NUMERA 2017


Tiba pada giliranku maju ke podium selesai penobatan, aku pun berpidato melalui mikrofon. Walau pun spontanitas seketika itu saja, setidaknya kali ini rasanya masih dapat kutuliskan kira-kira hal inilah yang kusampaikan;

“Ada banyak orang mengambil perhatian besar kepada kegiatan-kegiatan Numera selama ini, sejak Numera ditubuhkan (didirikan), disadari atau tidak. Merekalah yang patut menerima penghargaan ini. Semoga di lain masa, orang-orang itu juga mendapatkan penghargaan yang sama dan jauh lebih baik dari apa yang saya peroleh kali ini. Amin.

Tanpa mengurangi rasa hormat pada Numera, saya kira, saya belumlah patut menerima penghargaan ini, karena sayalah seharusnya berkewajiban mengucapkan terimakasih kepada Numera. Karena Numera telah membangunkan sebuah jembatan untuk saya, pertamakali, menjejak tanah semenanjung Melayu ini.

Kepada yang berhormat Numera Malaysia, teman-teman sastra Malaysia, teman-teman sastra senusantara, pada hari ini dengan sukacita saya terima penobatan sebagai Tokoh Patria Numera 2017, semoga tidak menjadikan saya sebagai manusia yang sombong.

Kau tak akan mengerti
Bagaimana kesepianku
Menghadapi kemerdekaan
Tanpa cinta

Kau tak akan mengerti
Bagaimana lukaku
Karena cinta telah sembunyikan
Pisaunya

Membayangkan wajahmu adalah siksa
Kesepian adalah kecemasan dan ketakutan
Kau racun bagi darahku

Bila aku kangen
Aku bagai tungku tanpa api.

Sajak Kangen, W.S. Rendra. Terimakasih.”

Turun dari podium selesai pidato, aku menuju ke salahsatu kursi diantara hadirin. Aku tak ingat apakah ada tepuk tangan atau ucapan selamat untukku. Aku hanya tahu, diliputi rasa heran kepada diriku sendiri. Kemudian, Dato’ Ahmad Khamal Abdullah menyerahkan amplop berisi uang, penyertaan dari penobatan. Aku menerimanya tapi aku tak akan menggunakan uang itu untuk kebutuhan pribadiku. Uang itu akan kukembalikan lagi kepada sastra.

Insyaallah untuk biaya menerbitkan buku, berjudul, “Jembatan Emas Sastra Nusantara: Numera,” yang sudah mulai kutulis sejak awal tahun 2017, jauh sebelum dipilih untuk dinobatkan sebagai Tokoh Patria Numera (*) copyright: abrar khairul ikhirma – kuala lumpur – padang – sept – okt - 2017

Rabu, 11 Oktober 2017

TOKOH PATRIA NUMERA 2017 (1)

Aku adalah “Pangeran Kegelapan.” Selalu menempatkan diriku jauh di belakang layar. Aku merasa tentram karenanya. Biarlah apa-apa yang kuhasilkan (karya) saja, terlihat dan diketahui orang, kalau memang patut dilihat dan diketahui.




Menjadi Pangeran Kegelapan, berarti aku harus menemukan resiko dianggap tidak seorang yang penting dan sudah biasa untuk dilupakan. Tidak dikenal atau terkenal (populer). Tetapi aku tak pernah berkecil hati setentang perihal itu. Tidak juga merasa jauh tertinggal dengan yang lainnya, walau tidak mendapat tempat dan menjadi topik pembicaraan.

Aku tidak tertarik mengikutsertakan karyaku pada berbagai penilaian yang diadakan selama ini. Tidak pula hendak mengirimkan identitas ketika ada yang melakukan penyusunan daftar, leksikon, direktori atau apalah namanya, mencantumkan nama dan karya, atas nama skala daerah, regional maupun nasional.

Jadi jangan berharap akan menemukan namaku dalam buku-buku semacam itu. Atau keterangan mengenai karyaku. Kalau kemudian ada juga tersua, berarti adalah hal luarbiasa. Diluar dugaanku sendiri.

Yang dilakukan perorangan, kelompok atau institusi itu selama ini adalah pekerjaan baik. Pendataan itu diperlukan dalam memetakan. Aku sangat menyetujuinya. Karena dapat menjadikannya sebagai bahan rujukan bagi suatu zaman yang membutuhkannya. 

Setuju tapi bukan berarti aku harus ada di dalamnya.




Apa sebab?

Kita senantiasa telah memiliki budaya “berkarat” yang tidak boleh diganggugugat. Kebudayaan itu ialah kebanggaan dan kegembiraan. Sehingga dua hal itu telah menyatu di berbagai kegiatan dan keputusan. Membutakan pandangan terhadap selektifitas, akurasi dan mendekatkan diri kepada “kepentingan-kepentingan” personal dan kelompok pada hampir setiap penyusunannya. Itulah “penyakit” yang dipelihara sampai kini turun temurun dalam “nilai-menilai” menyatakan “ukuran” pada seseorang dan karya. 

Biarlah mereka saja berlari ke tengah dunia terang benderang “berebutan.” Memperlihatkan dirinya. Aku tetap dengan caraku sendiri, mengukir kegelapan tanpa harus berdiri di depan. Menempatkan diriku pada tempat yang seukuranku saja, tiada harus “menggadaikan” martabat dunia dan diri di tempat yang tidak tepat.

Tidak pula harus memenangkan berbagai perlombaan, mendapatkan berbagai penghargaan atau ikut kepada rombongan yang “mengkultuskan” dirinya tanpa objektifitas. Hanya untuk dapat dikatakan seniman, sasterawan, penyair atau label-label kesenian yang agung itu.

Ukuran yang seringkali dijadikan sebagai ukuran, seakan kata terakhir bagi banyak orang sebagai pencapaian. Sedang bagiku, ukuran tersebut adalah sesuatu yang relative. Tulisan dimuat di Majalah Horison, di media-media nasional, buku diterbitkan oleh penerbit ini itu, atau serba luar negeri, serba internasional, tidaklah bagiku suatu yang obsesif selama ini. 

Kalau memang sastra akan tetap saja sastra. Tidak perlu pula semua orang harus mengakuinya, karena tidak semua orang pula membacanya.




Boleh jadi orang beranggapan, aku seorang yang tak memiliki keberanian untuk membuktikan apakah karyaku dapat lolos dari media semacam itu. Tidak apa-apa dikatakan tidak berani. Aku tidak merasa terhina oleh hal itu. Andaikan semua orang hanya berani, siapa pula yang akan merasa sebaliknya?

Tantangan bagiku bukanlah yang demikian. Tantangan yang lebih realistis ialah, apakah karya yang ditulis memang benar-benar dibaca oleh banyak orang, lalu menghasilkan uang dalam memperbaiki hidup karenanya? Atau dapatkah memberikan pencerahan kepada orang lain, selain hanya sekadar bahan bacaan belaka?

Kalau hanya sekadar gagah-gagahan, sekadar keberhasilan semacam itu, sekadar mendapat nama, sekadar dapat uang, lebih baik aku memilih jalan, “sekadar pekerjaan perintang-rintang hari, sambil berdiang nasi masak.” Tidak masuk dalam percaturan “tabir gelap” pertemanan, mengemis-ngemis atau menjadi bahagian dari kelompok agar mendapatkan “kesempatan” supaya dibesar-besarkan.




Aku tidak memilih jalan, memperkenalkan diriku sendiri kepada orang ramai. Karena aku tidaklah seorang yang istimewa. Hanya orang biasa-biasa saja. Sejak lama aku lebih menyukai, orang mengenalku terlebih dahulu oleh sebab karyaku sendiri. Sebab itu, aku berusaha untuk dapat kreatif. Tanpa kreatif bagaimana suatu karya akan dapat “dilirik” oleh banyak orang agar dikenali orang. Karenanya, aku tidak menyukai “meniru-niru” karya orang lain atau “menciplaknya,” apalagi “mengekor-ekor” orang “ternama” supaya mendapatkan pengakuan.

Aku percaya bahwa suatu karya yang baik, bersikap yang baik, dengan pemikiran yang baik, konsisten dan bertanggungjawab moral, jauh lebih mulia di hatiku, dibandingkan diriku dikenal oleh banyak orang karena “berusaha” berkenalan dengan setiap orang dan namaku berkibar-kibar setiap angin bertiup, oleh sebab aku selalu rajin memasangkan bendera di setiap tiang yang ada.

Kegigihan dalam mendapatkan eksistensi di tengah zaman serba ingin terkemuka ini, kalau kita mau jujur, betapa ramai yang tersuka berkejaran dan berebut peluang, di berbagai kesempatan, hanya “memperkenalkan” dirinya tapi tidak “karyanya.” Sebab meyakini adab zaman serupa itu, jika tidak berlaku demikian, tidak diperhitungkan orang atau tidak dikenal orang.

Dengan berkejaran, berebut, satu tujuan untuk mendapatkan “pengakuan” sebagai seorang “special.” Dengan pengakuan yang diperoleh, diri akan mendapatkan “label” di lingkungan mereka hidup, di komunitas tempat mereka tumbuh. Karena itu diri merasa “ada,” merasa dengan hal itu beranggapan tidak lagi hanya menjadi “manusia biasa.” Padahal, realitasnya hanya biasa-biasa saja.




Betapa banyak kini “kehadiran” seseorang lebih tersebab karena “keterhubungan” personal, tidak karena kapasitas yang dimiliki. Itulah di balik tabir kehidupan “berkesenian” yang tak pernah dibuka “boroknya.” Bahkan mencari jalan untuk dapat (meminta) diundang atau diabsahkan. Kemudian “membentuk” keberkesanan bahwa ia “diminta” untuk hadir. Ia “diagungkan” karena dipilih. Seakan-akan ia seorang yang patut “diperhitungkan.” Padahal meminta dan diminta berbeda artinya.

Sampai kapankah sisi “gelap” yang sudah tidak rahasia lagi tapi sudah menjadi “rahasia umum” itu terkalahkan oleh mereka yang benar-benar memilih “mereka ada” karena memang “ada” ? Namun sayang, ada banyak hal jika ditelusuri ternyata di banyak peristiwa, unsure “pertemanan” jauh lebih terbaca ketimbang “apa yang diperbuatnya.”

Semasa aku menempatkan diriku sebagai seorang penulis freelance di suratkabar terbitan daerahku, dimana nyaris mulai dari cleaning service sampai owner suratkabar itu sendiri saling kenal dan akrab secara pribadi denganku tapi aku tak hendak tulisanku dimuat suratkabar karena memanfaatkan hubungan pribadi. 

Setiap memberikan tulisan ke redaksi, aku selalu berkata kepada redakturnya“kalau sesuai” silahkan diterbitkan tapi kalau tidak, jangan dimuat. Namun kenyataannya tulisan-tulisanku hampir tak pernah untuk ditolak (*) copyright: abrar khairul ikhirma - foto-foto:ahmad taufiq - jember

BERSAMBUNG

Kamis, 05 Oktober 2017

TOKOH PERSURATAN DUNIA NUMERA 2017

Empat orang sastra dinobatkan sebagai tokoh dengan merujuk kepada karya dan aktifitas serta perhatian mereka kepada dunia kesasteraan Melayu. Jum’at malam 29 September 2017, di Dewan Al-Ghazali, Masjid Abdul Rahman bin Auf, Kuala Lumpur, Malaysia, telah mengukir perjalanan sejarah sastra nusantara.




Persatuan Sasterawan Numera (Nusantara Melayu Raya) Malaysia bersempena dengan Seminar Internasional Sastera Melayu Islam (SISMI17) 2017, sebelum penobatan telah diawali dengan Sidang Media Penobatan Tokoh Dunia Numera 2017, pada 21 September 2017, mengumumkan kepada khalayak ramai nama-nama sastrawan yang akan dinobatkan.

Penobatan dilakukan dengan pemasangan destar khas Melayu di hadapan para undangan dan peserta seminar internasional dari Negara Malaysia, Indonesia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam dan Bangladesh. Dimeriahkan grup music Man Kayan serta Al-Munzir.

Tokoh sastra terpilih yang dipilih Numera Malaysia dinobatkan kali ini ialah:

HUDAN HIDAYAT
dari Indonesia, sebagai Tokoh Persuratan Dunia Numera 2017
IRWAN ABU BAKAR
dari Malaysia, sebagai Tokoh Patria Numera 2017
ABRAR KHAIRUL IKHIRMA
dari Indonesia, sebagai Tokoh Patria Numera 2017
NORAZIMAH ABU BAKAR
dari Malaysia, sebagai Tokoh Srikandi Numera 2017
 
Tan Sri Dato' Seri Hamad Kama Piah bin Che Othman menobatkan Hudan Hidayat. Ketua Pengarah DBP Kuala Lumpur, Datuk Abdul Adzis Abbas menobatkan Irwan Abu Bakar. Walikota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Indonesia, Drs. Hj. Nadjmi Adhani, M.Si, menobatkan Abrar Khairul Ikhirma. Puan Sri Rohani menobatkan Norazimah Abu Bakar.

Penobatan ditandai dengan pemasangan Tanjak, destar khas Melayu kepada Tokoh Persuratan dan Tokoh Patria. Keempat tokoh diberikan trophy yang merupakan suatu tanda penghormatan.

Acara resmi penobatan diawali dengan sambutan Pengerusi SISMI17 yang juga merupakan Presiden Numera Malaysia dan Pengerusi Masjid Abdul Rahman bin Auf, Sasterawan Negara Dato’ Dr. Ahmad Khamal Abdullah. Yang memaparkan perjalanan penyelenggaraan seminar dan sokongan penuh Numera untuk sastra dan budaya Melayu.



HUDAN HIDAYAT


Ketua Pengarah Dewan Bahasa Pustaka (DBP) Kuala Lumpur, Datuk Haji Abdul Adzis Abbas, berkenan hadir sebagai tanda sukacitanya kepada dunia kesastraan. Sehingga dalam kata sambutannya, ia memberikan suatu gambaran terhadap pentingnya sastra dan dunia penerbitan perbukuan, untuk memajukan kecerdasan dalam mendorong masyarakat pembaca.

Tan Sri Dato’ Seri Hamad Kama Piah bin Che Othman, salah seorang yang antusias mendukung kegiatan-kegiatan Numera, mendapatkan kehormatan memberikan Ucapan Penobatan. Dalam sambutannya, ia memberikan pandangan lebih luas terhadap sastra Melayu dan keislaman, dengan merujuk perjalanan sejarah Melayu dan masuknya Islam di nusantara.



IRWAN ABU BAKAR


Numera Malaysia, sejak mula penubuhannya, telah berkali-kali melaksanakan kegiatan kesasteraan bertaraf internasional. Hitung saja mulai dari menerbitkan buku, pembacaan puisi, seminar sampai memberikan reward kepada tokoh-tokoh sastera. Tidak hanya acara diselenggarakan di dalam Negara Malaysia tapi juga di Negara Indonesia seperti di Padang, Jakarta, Bandung dan Jogyakarta. Juga sampai ke Negara Bangladesh.

Sasterawan Negara Dato’ Dr Ahmad Khamal Abdullah, menyebutkan bahwa kegiatan sastera Melayu bertujuan, memartabatkan bahasa, budaya Melayu dan ukhuwah silaturahmi di nusantara untuk dunia.



ABRAR KHAIRUL (PUTU) IKHIRMA


Pertamakali tahun 2014, Numera menobatkan Profesor Dr Abdul Hadi WM (Indonesia), Profesor Madya Dr Victor Pogadev (Russia) dan Dr Shafie Abu Bakar sebagai Tokoh Persuratan Dunia Numera 2014.

Tahun 2015, Numera Malaysia memberikan penghormatan pertamakali kepada 3 orang tokoh, yang sentiasa dari awal mula tak pernah padam untuk memberikan sokongan kepada cita-cita Numera Malaysia dalam menegak-kukuhkan budaya Melayu. Ketiga tokoh yaitu, Tan Sri Mohamad Salim Fatih Din, Tan Sri Hamad Kama Piah Che’ Othman dan Datuk Dr Awang Sariyan sebagai Tokoh Patria Numera 2015.



NORAZIMAH ABU BAKAR


Tahun 2016 Numera kembali menobatkan Tokoh Persuratan Dunia Numera, dimana Aminur Rahman dari Negara Bangladesh terpilih sebagai Tokoh Persuratan Dunia Numera 2016.

Bersamaan dengan penobatan Tokoh Persuratan Dunia Numera 2016, Numera Malaysia untuk kali pertama juga menobatkan Tokoh Srikandi 2016 kepada Sastri Bakry dari Indonesia.





Sejak mula penubuhan Numera Malaysia, tak lepas dari cubaan dan deraan untuk keberjayaannya. Kerana cubaan demi cubaan, deraan demi deraan, Numera sampai tahun ini dapat tegak kukuh dan Berjaya, kerana masih ada mahu personaliti-personaliti berkomitmen menjayakan Melayu dengan semangat keislaman, pada masa diantara tergerus budaya-budaya asing untuk merubuhkan (*)