Tampilkan postingan dengan label PusakO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PusakO. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Agustus 2017

RUMAH GADANG NAN CHEDOH

RUMAH GADANG Tuanku Nan Chedoh di Koto Nan Ampek, Kelurahan Balai Nan Duo, Payakumbuh, Sumatera Barat, yang merupakan aset budaya dan sejarah.




Sebuah rangkiang di halaman dibiarkan melapuk dan sudah dirambati tanaman liar. Sementara di tangga naik pot penghias dibiarkan jatuh dan tergeletak rusak tanpa bunga. Begitupun rumput dibiarkan tumbuh menutup tanah mendekati tapak bangunan.

Di tahun 1990-an rumah ini pernah dijadikan salah satu lokasi shooting sinetron Salah Asoehan –SCTV-- yang disutradarai Ami Priyono, sinetron peraih artistic terbaik di Festival Sinetron Indonesia (FSI) 1984. Sepanjang waktu rumah ini pun sering dikunjungi wisatawan pecinta budaya dan banyak diabadikan para fotografer. 

Tuanku Nan Chedoh,  seorang regent di Luhak 50 Koto.  Regen Limopuluah Koto ini punya sebuah mitos, konon pangkal lidahnya berbulu. Tetap menang berunding dan perintahnya dipatuhi oleh anak buahnya. Konon kabarnya pembesar-pembesar Belanda sering minta pendapatnya.  Rumah peninggalannya ini sarat dengan simbol identitas daerah dan budaya. 

Bangunan Rumah Adat memiliki tiang atau tonggaknya sebanyak 52 buah. 50 tiang menggambarkan Luhak Limopuluah Koto, sedangkan gambaran dua berikutnya kelarasan yang digabung, Koto Piliang dan Bodi Chaniago. Rumah ini adalah rumah yang terluas, terbesar di Kabupaten Limapuluh Koto. Didirikan kira-kira 300 tahun yang lalu. Di samping tertua, terbesar, rumah peninggalan Tuanku Nan Chedoh ini mempunyai perbedaan dari rumah bagonjong / rumah adat yang kebanyakan.


Rumah tua yang bersejarah itu sudah pernah direnovasi oleh pemerintah dan saat kini masih merupakan rumah adat tradisional terbesar di Payakumbuh dan Limopuluah Kota. Direnovasi kira-kira dua puluh tahun yang lalu. Model, tipe, ukiran disamakan dengan asli. Sebagai bukti otentik pekayuan lama yang diukir masih tersimpan dalam di bawah rumah. Menurut informasi Rumah Gadang Regen Tuanku Nan Chedoh ini sampai sekarang, telah dihuni oleh 9 (sembilan) generasi menurut silsilah yang masih lengkap dengan nama-namanya (*) copyright: abrar khairul ikhirma

Rabu, 19 Juli 2017

DASRIL AHMAD

Dasril Ahmad, lahir di Padang, 25 Desember. Menamatkan pendidikan Fakultas Sastra Universitas Bung Hatta, Padang, Sumatera Barat.




Menulis sejak tahun 1976 di berbagai media cetak terbitan Padang dan Jakarta. Tulisan-tulisannya berupa esei, kritik, cerpen, cerita anak-anak, wawancara dan artikel kebudayaan, antara lain dimuat di Harian Haluan, Singgalang, Semangat dan Padang Ekspres (terbitan Padang), Pelita, Berita Buana, Terbit, Swadesi, Merdeka, Suara Karya, Tempo, Mingguan Mutiara dan Majalah Sastra Horison (Jakarta).

Aktif mengikuti berbagai diskusi dan seminar sastra-budaya yang diadakan di Indonesia, antara lain; “Temu Sastrawan dan Kritikus 1984” dan “Forum Puisi Indonesia 1987” di Taman Ismail Marzuki Jakarta. “Pertemuan Bahasa dan Sastra Wilayah Barat,” di Pekanbaru (1986), dan berbagai seminar bahasa, sastra dan budaya di Sumatera Barat.

Menyajikan makalah pada forum, “Temu Kritikus Muda Sumbar-Riau 1986”. Pada “Temu Kritikus Sastra se-Sumatera 1989” dan “Perkembangan Kritik Sastra Indonesia di Sumbar” (1988). Semuanya di Padang.

Dua kumpulan cerita pendeknya yang sudah dibukukan, “Debu” (1986) dan “Ngilu” (1988), diterbitkan oleh Himpunan Mahasiswa Sastra Sumatera Barat (HMSSB) di Padang.

Dasril Ahmad pernah menjabat Sekretaris Umum HMSSB (1985-1990), redaktur tamu pada rubric sajak di ruangan budaya harian Haluan (1991-1992). Selain menulis ia juga pernah menjadi dosen luar biasa di Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol Padang (1988) dan Fakultas Sastra Universitas Bung Hatta (1998-1999).


Juga kerap menjadi juri untuk lomba baca dan menulis puisi yang diadakan oleh berbagai lembaga di Sumatera Barat. Kini, beliau masih tetap menekuni menulis esei dan kritik sastra untuk dipublikasikan di berbagai media cetak dan online (*)

Senin, 29 Mei 2017

BUNG KARNO, RUMAH PENGASINGANMU

Belum terasa lengkap, bila datang ke Kota Bengkulu, tanpa berkunjung ke Rumah Bung Karno, atau lebih tepatnya rumah dimana Bung Karno, Sang Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia, pernah tinggal selama diasingkan oleh Belanda di Bengkulu.




Pada salah satu kesempatan berkunjung ke Bengkulu, aku menyempatkan diri untuk mendatangi yang disebut masyarakat Bengkulu sebagai, Rumah Bung Karno. Selama berada di Kota Bengkulu, aku menginap di daerah Malabro, pemukiman penduduk, yang berdekatan dengan Benteng Marlborough, yang berada di kawasan pesisir Pantai Bengkulu.

Untuk mencapai Rumah Bung Karno dari Malabro terbilang dekat. Karenanya, disuatu siang sambil mengitari Kota Bengkulu, aku menyengajakan diri untuk mendatangi rumah tua, yang sudah dijadikan salah satu museum sejarah, yang dapat dikunjungi oleh masyarakat umum. Situs atau cagar budaya ini, merupakan salah satu “kekayaan” Kota Bengkulu, menjadi identitas yang kuat bahwa Bengkulu merupakan daerah yang bersejarah di dalam peta perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia.




Bung Karno atau Soekarno menjalani hukuman pengasingan sebelumnya diasingkan ke Ende, Flores pada 14 Januari 1934. Beliau di Ende diasingkan selama empat tahun (1934-1938). Kemudian dipindahkan ke Bengkulu.

Saat kedatangan ke Rumah Bung Karno, suasana sepi-sepi saja. Cahaya matahari menerangi Kota Bengkulu, dengan udara yang terbilang panas. Ada pedagang asongan yang berada tak jauh dari pintu masuk. Areal parkirnya terlihat memadai dan bersih.

Begitu juga memasuki halaman yang luas, terlihat terasa lapang. Rumput di halaman dan sejumlah tanaman bunga, tampak terawat. Melihat suasana demikian, menggiring perasaan, di masa lalu Bung Karno tentu merasa nyaman dan menyukai suasana asri dan tenang.




Dalam banyak cerita yang pernah aku baca-baca, di rumah bekas rumah pengasingan Bung Karno ini, terdapat sebuah sumur tua, yang dikabarkan adalah sumur misteri. Sumur yang terdapat magis dan banyak yang mengatakan sebagai sumur yang angker.

Ketika sudah menaiki anak tangga, tepatnya di beranda, disambut oleh petugas yang menyodorkan berupa karcis kunjungan. Sayang karcis itu tidak diberikan, dianya hanya menerima uang yang diberikan. Namun aku tak hendak berdebat perkara itu. Karena hal-hal semacam itu, adalah pernak-pernik yang semestinya perlu dikontrol oleh pihak atasannya. Sehingga tidak merusak keberadaan objek yang didatangi oleh pengunjung yang memiliki latar belakang beragam.

Cukup lama aku berada di Rumah Bung Karno ini. Menikmati suasananya yang tenang. Bangunan tua ini sangat terawat setelah direnovasi. Mulai dari depan sampai bahagian belakang, terlihat bersih. Sayang sumur tua itu, sudah direnovasi. Tidak ada tanda-tanda bahwa itu sebuah sumur tua. Menurut hematku, sumur itu tak mesti diperbaharui, kesan ketuaannya tetaplah dipertahankan.

Rumah berpekarangan luas ini, ditempati oleh Bung Karno dari tahun 1938-1942. Masa-masa di Bengkulu ini, Soekarno memiliki jejak-jejak sejarah penting yang tak dapat dilupakan begitu saja. Selain rumah ini, Soekarno meninggalkan karyanya berupa bangunan Masjid Jami’ dan perjalanan kehidupan pribadinya dengan Bu Fatmawati. Sang Penjahit Bendera Pusaka Sangsaka Merah Putih.




Dalam Rumah Bung Karno ini terdapat sejumlah barang-barang peninggalan Soekarno. Ada ranjang besi yang pernah dipakai Soekarno dan keluarganya, koleksi buku yang mayoritas berbahasa Belanda serta seragam grup tonil Monte Carlo asuhan Soekarno semasa di Bengkulu.

Ada juga foto-foto Soekarno dan keluarganya yang menghiasi hampir seluruh ruangan. Termasuk sebuah sepeda tua yang dipakai Soekarno selama berada di Bengkulu.


Rumah Bung Karno ini terletak di tengah Kota Bengkulu, berada di Jalan Soekarno-Hatta, Kelurahan Anggut Atas, Kecamatan Gading Cempaka. Konon rumah ini adalah milik seorang pedagang Tionghoa yang bernama Lion Bwe Seng, yang disewa oleh orang Belanda untuk menempatkan Soekarno selama diasingkan di Bengkulu (*)

Senin, 22 Mei 2017

KETAM KAYU ZAMAN “SAISUAK”

Alat pertukangan dan alat-alat pertanian zaman lama, tidak banyak orang yang masih menyimpannya, sebagai suatu yang berharga. Ada sebahagian besar masyarakat kita tidak peduli dengan barang-barang semacam itu. Ada yang menjual pada peminat dan lebih banyak dibiarkan hancur atau hilang begitu saja.




Di salah satu bengkel las dalam Kota Pariaman, Sumatera Barat, ketika berkunjung, seperti biasanya terlihat di bengkel berbagai peralatan berserakan begitu saja. Diantaranya, terlihat sebuah peralatan manual sederhana yakni ketam ---katam--- kayu. Alat tukang kayu untuk menghaluskan permukaan kayu yang akan digunakan, agar terlihat rapi, bersih dan mudah dilakukan pengecatan.

Alat ketam kayu tersebut, terbuat dari lempengan besi, kemudian dipadukan dengan kayu yang diserut sebagai alat pegangngan tangan, kemudian pisaunya besi dengan mata yang tajam, lalu berbentuk sekrup seperti berbahan kuningan di bahagian belakangnya, berfungsi untuk mensetel posisi mata pisau ketam, sesuai dengan kebutuhan media yang akan diketam.

Anih Gamstone yang sehari-hari bekerja di bengkelnya, sebahagian besar memperbaiki mesin-mesin biduk nelayan tradisionil setempat, menemukan ketam kayu zaman saisuak ---zaman lama--- ini, secara kebetulan saja.

Ditemukan saat membongkar-bongkar suatu gudang tua. Ketam itu sudah dibalut oleh karat yang sangat tebal, hingga tak jelas bentuk yang sebenarnya. Karena menarik perhatiannya, dia mengetuk-ngetuk “bongkahan” itu hingga terlepas balutannya. Kemudian barulah dia mengetahui bahwa benda tersebut adalah sebuah alat pertukangan kayu, berupa ketam kayu yang digunakan pada zaman dahulu.


Ada sejumlah informasi dari beberapa orang temannya, ketam kayu itu diperkirakan sudah berumur lama. Sayang tak ditemukan buatan Negara mana dan tahun pembuatannya. Boleh jadi alat pertukangan buatan abad 18 dan masa-masa awal abad 19 (*) 

Minggu, 14 Mei 2017

RUMAH BACA CHAIRUL HARUN



MEMBACA di negeri “Orang Bicara” adalah fenomena. Usaha terus menerus mendekatkan orang pada kegemaran, hingga (mudah-mudahan) bisa sebagai kebutuhan kiranya tugas mulia. Terkadang bagaikan sebuah mimpi di alam nyata. Namun kegigihan dari para pecinta kebudayaan terhadap jiwa bangsa tak pernah padam. Selalu tumbuh lalu mati, dan tumbuh lagi. Begitu perulangannya.




10 TAHUN Wafatnya Budayawan dan Sastrawan Indonesia Chairul Harun, yang juga tokoh pers, selain diberikan Penghargaan Budaya dari PERSINDO (Perhimpunan Seniman Indonesia) Sumatera Barat, diketuai Asbon Dudinan Haza, peringatannya juga ditandai dengan dibukanya secara resmi, “Rumah Baca Chairul Harun” di kampung kelahirannya, Kayutanam, Jumat (29/2/2008).

Rumah Baca itu semakin menambah bilangan dari kantung-kantung “tumbuh kembang” kegemaran membaca yang ingin ditradisikan, agar terbentuk keseimbangan akan kesukaan dari sekadar melihat dan mendengar menjadi plus “membaca.” Lokasinya sangat dekat dari pasar rakyat dan berada pada pemukiman masyarakat. Bangunannya menarik dan nyaman sebagai tempat membaca.




Membaca bisa dimaksudkan untuk suatu pengamatan (dari yang tersirat), lisan (melalui oral) atau tulisan. Dari ketiga hal itu, pada umumnya bangsa kita lebih menyukai secara lisan, baru kemudian tulisan, sedikit berjerih payah melalui bahasa pengamatan. Tak setiap orang dapat mencapai tingkatan paling tinggi membaca itu, apalagi kemudian dapat pula “menyimpulkan” sebagai perwujudan dari pemahaman.

Bukan tersebab perkara cerdas atau tidak tetapi berangkat dari kebiasaan, lalu pengalaman, kemudian membudaya. Proses demikian tidak dapat terjadi dalam waktu singkat. Ada waktu, keinginan dan kesempatan terbentuk dari suatu lingkungan yang menciptakannya.

Tradisi tulis baca sebenarnya sudah dimulai sejak lama. Turun temurun. Bisa dipelajari melalui catatan sejarah. Namun tidak semua bangsa di suatu negeri, mempelajari dan membutuhkannya dalam keseharian. Ternyata yang jauh lebih pesat perkembangannya terpakai ialah bahasa lisan.

Dengan munculnya teknologi “tabung kaca” yang disebut televisi, telah membentuk banyak orang semakin gemar untuk melihat dan mendengar saja, dari pada harus berkutat dengan membaca “bacaan.” Keakraban bahasa lisan dan gambar sekaligus, disimpulkan telah melemahkan penjelajahan daya pikir untuk mempertimbangkan sehingga menjadikan pemahaman yang seragam.

Daya tarik yang ditimbulkan sangat luarbiasa. Berkat adanya gambar-gambar atraktif dan permainan bunyi suara, berupa kata-kata menyampaikan “sesuatu” atau sekaligus bunyi musik yang enak didengar dan menyenangkan.

Menghadapi lemahnya daya baca masyarakat, pemerintah pernah sampai perlu mengadakan program suatu gerakan nasional, agar tumbuh gemar membaca dalam masyarakat. Kampanye gencar dilakukan. Sejumlah rumah baca didirikan. Buku-buku dicetak dan perpustakaan besar atau kecil diadakan.

Namun jumlah pengunjung dan pembaca --pada umumnya,-- perbandingannya masih jauh di bawah angka menggembirakan dengan populasi dimana institusi itu ada. Tetapi harus diterima dengan gembira.

Tidak semua bibit unggul ada dalam satu persemaian. Ketika dipindah, ditanam, tumbuh dan dirawat, senantiasa diikuti mati oleh banyak sebab atau tumbuh tapi tak menghasilkan apa-apa. Menghasilkan tapi tak berkualitas.

Itulah tantangan bagi Rumah Baca Chairul Harun. Apa lagi berada di tanah di mana bahasa lisan berkembang sejak dulu. Minangkabau! Petatah petitih, tutur bahasa, disampaikan turun temurun melalui pengucapan yang terekam dalam ingatan, kemudian disampaikan lagi dengan kefasihan.




ADALAH menggembirakan, tatkala akhirnya terwujud dibukanya Rumah Baca itu. Mulanya, isteri pertama almarhum mengutarakan pada saya, bagaimana “menangani” buku-buku di rumah Pasir Putih, Padang. Waktu dibicarakan pada adiknya Syafrizal Harun (Da Zal), ia bukan tidak mau mengurus tapi tak etis kalau mengajukan diri. Akhirnya jalan terbaik saya minta ibu mendengar pendapat anaknya Gombang Nan Cengka di Jakarta yang lebih berhak. Dia tak keberatan.

Usulan saya, dari pada tidak terawat dan bisa lebih “agak” aman, buku-buku milik Chairul Harun bisa diungsikan ke rumah orangtuanya di Kayutanam. Uda Basril Djabar salah satu sahabatnya meminjamkan mobil dan sopirnya. Sehari tuntas. Tetapi perkara baru datang, bagaimana keadaan buku-buku itu selanjutnya?

Saya sendiri “kesulitan” datang ke Kayutanam. Sampai tulisan ini diturunkan ---dipublikasikan di suratkabar Harian Singgalang, Padang--- belum dapat menyaksikan bagaimana keadaannya.

Dari beberapa kali bertemu Uda Zal saya “gosok” terus adiknya. Bahkan saya terlanjur bicara “melankolik” pada Sutan Zaili Asril (almarhum) di suatu percakapan lepas di kantornya di suratkabar Harian Padang Ekspres. Sutan Zaili menawarkan diri, menyediakan salah satu ruang kantornya dan memberikan nama dengan “Kamar Baca Chairul Harun.”

Itupun tak saya tuntaskan. Sampai akhirnya sebagai pelepas “uneg-uneg” saya menulis catatan di Harian Singgalang (15/12/2003) dengan memanfaatkan momentum hari ulang tahunnya suratkabar bersejarah itu ke 35, dimana almarhum Chairul Harun berperan besar semenjak suratkabar tersebut terbit setiap hari dan dirayakan di INS Kayutanam, Desember 2003. Menyoal bagaimana “mendirikan rumah untuk Chairul Harun.” Agar buku-buku itu dapat dimanfaatkan oleh orang-orang berikutnya.

Mendapat kabar Rumah Baca Chairul Harun diresmikan, agaknya, kegembiraan itu bukan hanya milik saya sendiri tetapi, bagi kita semua dan khazanah ilmu pengetahuan dan kebudayaan secara luas. Sebab telah lahir sebuah kantung harapan, dimana nanti bisa menjadi salah satu sumber bagi penelitian mahasiswa,  tempat mengembangkan dunia baca secara dini, atau menghidupkannya dengan sejumlah kegiatan kesenian. Diskusi dan pertunjukan.

Di halaman bangunannya, bisa sewaktu-waktu diselenggarakan kegiatan diskusi, pertunjukan spontanitas atau pun terjadual. Masyarakat sekeliling sebelumnya sudah terbiasa, di sekitar bangunan tersebut sudah berulangkali terselenggara bermacam kegiatan pertunjukan seni, yang diadakan semasa almarhum hidup. Sehingga atmosfir yang nanti dipancarkan Rumah Baca akan memiliki korelasinya saling membutuhkan.

Bila dihitung saja ada 12 bulan dalam setahun, pengelola Rumah Baca cukup tahap pertama menyelenggarakan 4 kegiatan saja dalam setahun. Artinya sekali dalam tiga bulan. Misalnya, berupa Diskusi kecil, peluncuran/bedah buku, baca puisi dan pertunjukkan teater (monolog dan pantomim). Tak perlu kegiatan besar. Yang penting publikasi pada segmen yang tepat. 




TANTANGAN lain agar Rumah Baca tidak hanya sebuah tempat penyimpan buku, lengang, terkunci dan berdebu, diperlukan kerja keras tanpa pamrih. Karena dibutuhkan penjaga, listrik dan biaya lainnya. Diperlukan menarik hati simpatisan untuk mengalirkan donasinya menanggulangi pembiayaan, agar Rumah Baca bisa terkelola dengan baik. Termanfaatkan secara maksimal.

Sudah saatnya, sebagai langkah awal dari pihak-pihak pemerintah dan perusahaan besar swasta di daerah ini dilakukan pendekatan menjadi donatur. Semisal di wilayah Kabupaten Padang Pariaman terdapat, Angkasa Pura pengelola Bandara Internasional Minangkabau di Ketaping, Perusahaan konstruksi, minuman, pengolahan sari kelapa di Kasang, atau lagi air kemasan di Sicincin.

Lebih meluas lagi pada PT Semen Padang atau lembaga dan personal di PKDP dan Gebu Minang. Kemudian bisa dilanjutkan melakukan kontak dengan lembaga-lembaga swadaya yang mendonori kegiatan kemasyarakatan dalam dan luar negeri. Apalagi kinerja jelas dan baik, tentulah akan lebih banyak dukungan atas keberadaan Rumah Baca yang didirikan.

Jika Rumah Baca Chairul Harun dapat melangkah menerobos batas dengan donatur, bisa jadi sebuah pilot project ke depan atas meyakinkan, betapa pentingnya suatu kerjasama mengurus suatu bangsa. Karena di daerah ini, begitu kerap terjadi kegagalan pada apa yang telah dimulai (*)


[Artikel Opini Budaya oleh Abrar Khairul Ikhirma ini pernah dipublikasikan di suratkabar Harian Singgalang, Padang, Maret 2008]

Rabu, 10 Mei 2017

MEREKA PERNAH MENYEBUT NAMAKU



Pada masa yang panjang, semenjak masa sekolah menengah, aku lebih senang dipanggil namaku dengan Arkhi. Akronim dari namaku yang sepanjang tali beruk; Abrar Khairul Ikhirma. Nama yang selalu aku tuliskan pada karya-karya tulisku dengan huruf tanpa capital.




Tetapi perjalanan hidup yang membuatku berpindah-pindah tempat, lingkungan berganti-ganti dan pergaulan yang tak selalu sama, akhirnya sebahagian orang tertentu di berbagai tempat dan lingkungan. memberikan sejumlah “penamaan” kepada diriku.

Termasuk dalam masa terakhir ini, ketika aku “menyentuh” dunia komunikasi media social fesbook, ada yang mengenalku dengan; Putu Ikhirma – Tantejo Gurhano dan Angku Gadang, dan mengangkat diriku sendiri sebagai Pangeran Kegelapan, yang menginspirasi nama blog pribadiku, Hikayat Pangeran Kegelapan.




Inilah nama orang-orang yang pernah kuingat pernah menyebutku:

SI SULI DALANG, orang di kampong kelahiranku, sejak masa anak-anak menyebut dan memanggilku dengan “Ustad Coboy”

Almarhum guru mengaji di Pariaman, SIBOLON, menyebutku, “Pujangga.”

Almarhum sastrawan dan budayawan Indonesia, A.A. NAVIS, menyebutku, “Penulis yang menulis dengan bahasa Indonesia-Minang nan kalamak die je ---yang enak menurutnya saja”

Almarhum sutradara dan actor film Indonesia, AMI PRIYONO, menyebutku “Datuk Hitam.”

BERRY A. BATHSELET, Doktor Etnomusikologi dari Swiss, menyebutku “Hantu Hitam.”

Aktris film Indonesia, MARISSA HAQUE, menyebutku, “Si Padang.”

Sutradara film Indonesia, MT RISJAF, menyebutku, “Si Karikatural.”

Almarhumah koreografer tari dan pendiri Gumarang Sakti Dance Company Indonesia, GUSMIATI SUID, menyebutku, “Anak Chairul” (Harun).

Almarhum mantan Bupati Kabupaten Padang Pariaman, Kolonel ANAS MALIK, menyebutku, “Wartawan Ngenek.” (Wartawan Kecil)

Almarhum penyair Indonesia LEON AGUSTA, menyebutku, “Generasi Terakhir.”

Almarhum “sastrawan lisan” Minang – Sumatera Barat, BAGINDO FAHMI, menyebutku, “Anak Kareh Kapalo”
 
Almarhum mantan wartawan - Ketua PWI Sumatera Barat – anggota DPRD Sumatera Barat – KAMARDI RAIS DATUAK SIMULIE, menyebutku, “Wartawan Cilik.”
 
Majalah Berita Mingguan TEMPO, Jakarta, menyebutku, “Wartawan Pariaman yang Lincah.”

Almarhum wartawan – penyair – sastrawan dan penulis biografie Indonesia, ABRAR YUSRA, menyebutku, “Orang yang harus kutemui.”

Almarhum budayawan dan impresario Sumatera Barat, ROESTAM ANWAR, menyebutku, “Anak tak bernomor.”

Almarhum mantan buruh angkat di Pelabuhan Teluk Bayur, mantan anggota DPRD Kota Padang dan penulis cerita silat, AMRAN SN, menyebutku, “Ubi Parancih” (Ubi Kayu).

Guru besar bidang bahasa dan sastra Indonesia dan daerah Universitas Negeri Padang – Sumatera Barat, penyair dan cerpenis Indonesia, Doktor HARRIS EFFENDI THAHAR, menyebutku, “Kamari masuak.”

Almarhum sekretaris redaksi suratkabar Harian Haluan, Padang, FIRDAUS, menyebutku, “Siluman bukan seniman.”

Teaterawan Sumatera Barat dan pendiri Sanggar Semut Padang, EDI ANWAR, menyebutku, “Anak Ajaib.”

Aktifis kepemudaan dan anggota DPRD Sumatera Barat, RIZANTO ALGAMAR, menyebutku, “ Inyiak.’

Pemain teater, pengasuh Teater Dayung-Dayung Padang dan guru, ERNAWATI A ALIN DE, menyebutku, “Arkhi Samawati.”

Penulis dan wartawati Sumatera Barat FITRI ADONA, menyebutku, “Arkhi Similikiti”

Almarhum pemain teater Sumatera Barat, ASRI ADENAN, menyebutku, “Bujang Salamaik.”

Pelukis Wanita Indonesia, Jakarta, TITIEK SUNARTI DJABARUDDIN, menyebutku, “Akik (kakek) bukan Arkhi.”

Sasterawan Negara ke 11 Malaysia dan Presiden Persatuan Sasterawan Numera-Malaysia, Dato AHMAD KHAMAL ABDULLAH, menyebutku, “Mamak.”

Penulis Sumatera Barat dan pegawai negeri, RINI F. JAMRAH, menyebutku, “Kakak.”

Penyair, Cikgu dan Duta Bahasa Melayu Singapura, ASNIDA DAUD, menyebutku, “Kita jatuh cinta dengan personality individu ini.”

Penulis script film dan penulis karya sastra Malaysia, ASMIRA SUHADIS, menyebutku, “Murai yang selalu membawa khabar benar.”

Insinyur ANIDA KRISSTINI, pegawai negeri Pemerintah Kota Padang, menyebutku, “Basisuruik”

Teaterawan dan monologer Indonesia, ILHAMDI SULAIMAN, menyebutku, “Guru.”

Aktifis wanita di Bantaeng, Sulawesi, YOSI KIFNI CHANIAGO, menyebutku, “Suhu.”

Amak penjual jagung bakar dulu di simpang Purus I, Padang, menyebutku, “Frenkey”

Pengamat Sastra admin Halaman Hudan di media social, HUDAN HIDAYAT, menyebutku, “seseorang  yang saya lihat unik di depan saya, belum saling mendekat (mengenal) kecuali kehadirannya sudah menghuni di sudut hati kita. Unik kawan kita ini, sambil menyisakan ruang misteri yang kita gemari --- siapakah dia, apakah karyanya…,”

Teaterawan dan Penyair Sumatera Utara, PORMAN WILSON MANALU, menyebutku, “Arkhi memang aneh, selalu membuat kita cengar-cengir.”

Di sejumlah tempat yang pernah aku menetap, anak-anak menyebutku, “Opung.”

Sejak tahun 1990-an aku sendiri memproklamirkan diri sebagai, “seniman rupa-rupa,” dengan mencantumkan di akhir setiap tulisanku yang dipublikasikan di media cetak suratkabar terbitan Padang, Sumatera Barat (*)

Rabu, 26 April 2017

MUHAMMAD IBRAHIM ILYAS



Muhammad Ibrahim Ilyas, lahir di Padang, 28 Januari 1963, dan pendidikan akhirnya di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Fakultas Seni Pertunjukan, Jurusan Teater.



Pernah bekerja menjadi redaktur di beberapa penerbitan di Padang, Yogyakarta dan Jakarta, antara tahun 1985-2012.

Pernah mengikuti pertukaran seniman muda Asia ke Saitama Arts Theatre, Jepang, disponsori The Japan Foundations, mengikuti Temu Teater Indonesia (1982, 1986, 1996).

Bergabung dengan Bumi Teater pimpinan Wisran Hadi, sejak 1977, dengan Sanggar Dayung-dayung pimpinan A Alin De, sejak 1979. Salah seorang pendiri Sanggar Semut (1981) dan Sanggar Pasamaian (1981). Kemudian 1993 mendirikan , Teater Imaji.

Memenangi beberapa sayembara penulisan naskah drama dan puisi di Padang, Yogyakarta dan Bandung, antara tahun 1986-1996.

Naskah drama karyanya antara lain: Menggantung di Angin, Cabik, Pekik Sunyi, Dalam Karung, Titik Nol, Dendang Waktu dan Dendang Lain Waktu.

Naskah drama dan puisi karyanya dimuat di dalam sejumlah antologi. 

Puisinya dimuat dalam antologi, Lirik Kemenangan (Taman Budaya Yogyakarta, 1994), Amsal Sebuah Patung (Borobudur Award, 1995), Dampak 70 Kemala (2011), Tuah Tara No Ate (Temu Sastrawan Indonesia, 2011), Ibu Nusantara Ayah Semesta (Gramedia, 2012), Menyirat Cinta Hakiki (Numera, 2012). 

Kumpulan puisi tunggalnya, Ziarah Kemerdekaan (2015) dan Syair dalam Sekam (Arifha, 2016).
Dramanya Cabik dimuat dalam Antologi Napi (Taman Budaya Yogyakarta,1994),Dalam Tubuh Waktu, Tiga Lakon Muhammad Ibrahim Ilyas (Teater Imaji, 2013).

Buku karyanya Hoerijah Adam; Barabah yang Terbang tak Kembali, diterbitkan 1991 dan Poetical Form of Syahrizal (ed) Yogyakarta, 1995.

Tahun 2016, Bram kembali ke Padang setelah 14 tahun di Yogyakarta. Menjabat Sekretariat Dewan Kesenian Sumatera Barat (2007-2010) dan mendirikan Komunitas Pucuk Rebung dan Padang Institut. Teater Imaji tetap berproses sampai sekarang, kegiatannya berkembang dan berubah nama IMAJI, Rumah Drama  dan Penulisan Kreatif (2014).