Tampilkan postingan dengan label SurAu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SurAu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Juli 2018

Masjid Al-Ashar Kota Sorong

Selama berada di Kota Sorong, Papua Barat, setiap pergi dan pulang, selalu melintasi ruas jalan utama dua jalur, dimana bangunan Masjid Al-Ashar selalu terpandang.




Masjid Al Ashar berdiri di salah satu sisi jalan utama, yang menjadi jalur penting di Kota Sorong. Masjid ini berada di samping Kantor Polisi Resort Kota Sorong dan dikenal sebagai Masjid Al-Ashar Polresta Sorong.

Masjid ini berada di areal dataran pinggir sungai kecil. Secara lokasi letak bangunan antara bangunan Polresta dan masjid berundakan oleh situasi kontur tanah. Yang menarik sekilas bagi yang lalu lalang di jalan raya ketika meliwati masjid ini ialah bentuk menaranya sebagai penanda masjid yang khas.

Sayang, selama berada di Kota Sorong, dalam perjalanan timur Indonesia, aku tidak memiliki kesempatan untuk bersholat di Masjid Al Ashar ini @ abrar khairul ikhirma 2018

Sabtu, 11 November 2017

MASJID NEGARA DI KUALA LUMPUR

Masjid Negara ialah masjid utama di Malaysia, terletak di Kuala Lumpur. Masjid ini dibangun pada tahun 1963. Diresmikan 27 Agustus 1965.




Setelah puas berkeliling dan menikmati makan siang yang penuh keakraban di Muzium Kesenian Islam Malaysia, akhirnya sampailah ke waktu untuk bersholat zhuhur. Kunjungan selanjutnya peserta “Seminar Internasional Sastera Melayu Islam 2017” yang diselenggarakan Persatuan Sasterawan Numera Malaysia di Kuala Lumpur, ialah ke Masjid Negara Malaysia.

Masjid Negara berada di kawasan strategis pusat kota Kuala Lumpur. Berhadapan dengan Stesen Keretapi Malaysia, berdampingan Bangunan Daya Bumi, Pos Besar Malaysia, Muzium Kesenian Islam, Taman Burung Kuala Lumpur dan Taman Tasik Perdana.

Terletak di kawasan seluas 13 ha. Dapat menampung 15.000 orang jemaah. Menjadi salah satu icon Kuala Lumpur. Masjid ini merupakan lambang keagungan Islam sebagai agama resmi di Malaysia. Menjadi tonggak sejarah bagi Negara Malaysia. Karena masjid dibangun di masa awal Malaysia terbentuk. Melambangkan semangat perpaduan dan toleransi. Memiliki 7 pintu masuk.




Dari Muzium Kesenian Islam Malaysia, aku berjalan kaki menuju Masjid Negara. Udara siang tidak terlalu panas. Melangkah di jalan setapak yang disediakan, terasa dapat menikmati tiap jengkal yang dilalui. Suasana nyaman lebih terasa. Karena jauh dari keramaian lalu lintas kendaraan dan manusia. Tanaman pelindung pun memberi kerindangan. Kebersihan sangat terjaga dengan baik.

Sekilas mendekati kawasan masjid, langsung saja tertumbuk pandangan kepada menara Masjid Negara. Menara itu berbentuk roket. Konon tingginya ada 245 kaki. Dirancang mengingatkan sebuah payung yang sedang kuncup. Disebut sebagai lambang kesetiaan. Mengingatkan kepada bentuk payung Diraja.

Ketika mencapai salah satu sisi Masjid Negara, aku yang menyukai bangunan-bangunan lama dan bangunan dengan arsitektur penuh citarasa seni, mendapatkan pemandangan yang menarik pada bangunan di seberang jalan. Bangunan itu urusan agama di wilayah persekutuan.




Dari tepi pagar Masjid Negara, kunikmati lagi seni bangunan Masjid Negara yang menurut catatan kudapatkan, melibatkan 3 orang arsitek yakni Hisham Albakri, Howard Ashley dan Dato Baharuddin Kassim. Dengan melakukan perbandingan dengan masjid-masjid di India, Pakistan, Turki, Arab Saudi, Republik Arab Bersatu dan Spanyol.

Selesai berwuduk, aku pun menaiki tangga untuk mencapai lantai pertama. Arsitekturnya menawarkan suasana luas dan lapang. Saat kedatangan, terlihat sejumlah pekerja tengah sedang melakukan perawatan masjid. Di sisi terbuka, ada kolam. Airnya terlihat tidak jernih. Pekerja tengah memasang lampu hias di beberapa bahagian sisi kolam.

Aku memilih masuk ke dalam masjid, ke ruang sholat, melalui salah satu pintu di bahagian depan. Kedatanganku tidak pada waktu sholat berjamaah. Sehingga aku memilih bahagian depan bersisian dengan dinding ruangan. Lalu melaksanakan sholat zhuhur.

Selesai sholat, aku mengitari pandanganku ke sekeliling ruangan. Ada beberapa orang selain diriku di dalamnya. Mengingat kedatanganku bersama rombongan, aku tak hendak menyusahkan terlalu lama terpisah dari rombongan. Sekeluar dari dalam ruang utama masjid, aku bertemu Dr. Phaosan Jehwaee, pengajar di University Fatoni, Patani, Thailand Selatan, yang sama-sama satu rombongan pelancongan peserta seminar. Ia juga akan sholat.

Sendirian aku menyempatkan diri melakukan pemotretan beberapa momen. Mumpung sudah berkunjung ke Masjid Negara ini.

Selepas menuruni anak tangga, kembali hendak mencapai halaman, di tempat aku mengambil sepatuku, aku berkenalan seseorang. Ia sangat senang mendengar aku adalah datang dari Indonesia. Kami bercakap-cakap sekilas . Keakraban islami.




Menurut sisi lain sejarah pembangunan Masjid Negara ini, idenya muncul sebelum hari kemerdekaan Malaysia. “Sebuah majlis yang dahulunya dikenali sebagai Majlis Kerja Persekutuan memutuskan untuk mendirikan sebuah masjid sebagai tanda penghargaan kepada bekas Perdana Menteri, Tunku Abdul Rahman Putra Al-Haj, terhadap jasa-jasanya kepada rakyat. Selepas mencapai kemerdekaan, Majlis Raja-Raja memperkenankan projek tersebut. Bagaimanapun, Tunku tidak mahu masjid dinamakan sempena namanya, tetapi sebaliknya mencadangkan ia dinamakan Masjid Negara”.(Wikipedia).

Tercatat sebagai Imam Besar pertama Masjid Negara Haji Ghazali Abdullah (1965). Sejak dibangun, tahun 1987 bangunan Masjid Negara mengalami penyesuaian secara menyeluruh. Atap semula kusam kini bergemerlapan dengan jubin hijau dan biru. Memiliki jalan bawah tanah menyambungkan National Mosque dengan Stesyen Kerata Api, sepanjang Jalan Sultan Hishamuddin. Berhampiran dengan masjid terdapat Makam Pahlawan, tempat dimakamkan beberapa ahli politik Malaysia (*) copyright: abrar khairul ikhirma - 2017

Rabu, 25 Oktober 2017

MASJID ABDUL RAHMAN BIN AUF KUALA LUMPUR

Terletak di Jalan Puchong. Satu diantara sarana ibadah terdapat dalam kota Kuala Lumpur, Malaysia. Pengerusinya, Sasterawan Negara Malaysia ke 11, Dato’ Dr. Ahmad Khamal Abdullah, dikenal dengan nama penanya dalam khazanah sastera nusantara sebagai Kemala.




Masjid Abdul Rahman bin Auf ini, 28-30 September 2017, menjadi tempat dipusatkannya acara, “Seminar Internasional Sastera Melayu Islam,” (SISMI) yang terselenggara dengan sukses, sebagai suatu peristiwa sastra Melayu nusantara antar bangsa tahun ini.

Sastrawan, Akademisi, Seniman dan Pemerhati dari Malaysia, Indonesia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam dan Bangladesh, bersatu padu mengikuti pembentangan kertas kerja, mengaktualisasikan semangat kesastraan Melayu yang berlandaskan keislaman.




Di masjid ini telah tercatat sebagai salah satu titik pengembangan kesastraan Melayu dewasa ini di Malaysia, terutama di Kuala Lumpur, dimana lewat peristiwa sastra SISMI telah berhasil mempertemukan sejumlah pemikiran, penelusuran dan kesimpulan terhadap sumbangan situasi sastra Melayu dalam arus globalisasi.

Acara yang diselenggarakan atas kerjasama Persatuan Sasterawan Numera Malaysia dengan Masjid Abdul Rahman bin Auf Kuala Lumpur ini, selain sukses mengadakan seminar sastra, juga telah ikut menjadi tempat momentum Penobatan Tokoh Numera 2017, peluncuran buku kreatif dan non kreatif sastra serta pembacaan puisi oleh para penyair nusantara dan pertunjukan nasyid dan music kreatif.

Masjid Abdul Rahman bin Auf tidak hanya memiliki ruang utama untuk ibadah, juga memiliki fasilitas lainnya, yaitu ruang pertemuan sekaligus bisa digunakan untuk seminar, pertunjukan dan pameran. Dewan Al Ghazali, telah menjadi saksi keberlangsungan peristiwa sastra. Sebelum SISMI, sudah beberapakali kegiatan kesastraan juga pernah diselenggarakan  di sini.




Aku beruntung dapat mengenal satu diantara masjid yang ada di kota metropolitan Kuala Lumpur ini. Karenanya, selama mengikuti SISMI dapat melaksanakan sholat Zhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya di sini. Setiap waktu sholat, ruangan utama senantiasa terlihat selalu ramai jamaah.

Arsitektur moderen bangunan dan desain tata ruangnya, aku kira tidak ada hal yang luarbiasa pada Masjid Abdul Rahman bin Auf ini. Biasa-biasa saja. Hanya saja, hal utama penekanan bangunan di atas areal tanah dimana merupakan kawasan masjid berdiri terkesan ingin “menawarkan” unsure keluasan atau kelapangan. Karena itu terkesan “terbuka” untuk digunakan oleh mereka untuk beribadah.

Suatu hal membahagiakan, aku berkesempatan untuk ikut bersholat Jum’at di masjid ini. Pada saat hari Jum’at jumlah jamaah bersholat berlipat ganda. Jamaah memenuhi kiri kanan teras terbuka ruang utama ibadah. Walau pun dalam keadaan ramai, ibadah tetap dalam suasana yang tentram. Meskipun masjid berada di salah satu sisi jalan raya Puchong yang ramai lalulintasnya.

Sarana untuk berwuduk dan toilet bersih. Areal parkir kendaraan memadai. Diluar depan masjid dibangun sarana public berupa halte bus dan sebuah jembatan penyeberangan bagi pejalan kaki untuk melintasi jalan raya.




Salah satu sisi, berdampingan dengan areal parkir kendaraan, di balik pagar masjid, terdapat sebuah kedai makanan dan minuman. Dapat dijadikan untuk bersantai melepas lelah menunggu waktu sholat atau selesai sholat. Atau sejenak menikmati satu titik dari daerah Puchong.

Menghidupkan masjid dengan berbagai kegiatan selain sarana ibadah, termasuk seminar dan kegiatan kesastraan merupakan pengembangan berdampak baik. Patut dipujikan dan menjadi inspiratif bagi masjid di nusantara hendaknya. Memang kegiatan semacam ini tidak dapat diklaim sebagai suatu yang baru, karena di banyak tempat ada masjid-masjid telah lama memulainya sebagai sentra “menghidupkan” nilai-nilai keislaman itu.

Tapi yang pasti, sudah berkali-kali aku membuka google dengan mengetikkan, “Masjid Abdul Rahman bin Auf Kuala Lumpur,” untuk mencari berupa “referensi” mengenai masjid yang terletak dalam wilayah Persekutuan Malaysia ini, aku tak menemui satu tulisan pun mengenai masjid ini. Hanya berupa keterangan “mentah” berupa letak masjid dan beberapa keterangan sangat pendek di Wikipedia.

Dan semoga yang kutuliskan ini, akan menjadi sebuah tulisan sumbangan awal bagi pencari “informasi” tentang Masjid Abdul Rahman bin Auf Kuala Lumpur, yang telah “mencatatkan diri” sebagai tempat dimana peristiwa sastra antar bangsa pernah diselenggarakan, dalam menelisik sastera Melayu nusantara (*) copyright: abrar khairul ikhirma - indonesia

Jumat, 20 Oktober 2017

MASJID PUTRA DI TEPI TASIK

Siang sudah begulir menuju ke petang hari. Perjalanan dari keramaian kota Kuala Lumpur menuju Putrajaya tidaklah melelahkan. Hanya saja tiada dapat melawan rasa kantuk di dalam bus. Saat terjaga dari tidur, bus sudah berada di Putrajaya.




Bus mengitari beberapa ruas jalan. Kemudian menghantarkan ke Taman Botanical. Kerindangan pepohonan di sini menyejukkan. Pepohon ditanam dengan baris yang rapi. Diantaranya dibangun jalan-jalan penghubung. Sayang, aku tidak menikmatinya. Karena tak ada suatu kesan dapat singgah di hatiku. Suatu hal biasa saja dari kawasan “buatan” manusia.

Aku merasa waktu “persinggahan” di kawasan ini “terbuang” sia-sia. Entah untuk apa untuk orang semacamku. Untunglah segera meninggalkan tempat ini “berpindah” ke titik berikutnya dari sejumlah titik destinasi di kawasan Putrajaya.




Hujan baru saja selesai. Gerimis masih tersisa. Cahaya matahari yang buram terlihat menjadi tajam. Sisa air di kaca bus membentuk pandangan mata yang artistic. Segera terlihat olehku sebuah kubah nun di sana dan sebuah menara menjulang ke langit.

Bangunan itu ialah Masjid Putra, sebuah masjid megah di Putrajaya, Malaysia. Pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 1997. Dua tahun kemudian selesai pembangunannya. Di 22 Zulkaedah, 1419 Hijriyah atau 9 Maret 1999 dibuka untuk umum sebagai sarana ibadah.




Kawasan Masjid Putrajaya terletak berdampingan dengan Perdana Putra, Kantor Perdana Menteri Malaysia, tepatnya berada di salah satu sisi dari danau buatan Tasik Putrajaya.

Masjid Putra, kini tidak hanya sebagai sarana beribadah tetapi telah menjelma menjadi destinasi pelancongan relegi di Negeri Tanah Semenanjung. Menjadi salahsatu icon yang dimiliki Malaysia.




Bus yang membawaku mengunjungi Putrajaya, mengitari jalan kawasan Masjid Putra untuk mendapatkan lokasi parkir, seketika dengan spontan, aku segera “menjepret” momen yang terlintas dengan hanya memakai camera pocket 20.1 mp berada di dalam genggamanku.

Inilah empat buah momen yang kudapatkan, 4 buah hasil foto seorang hobi mendokumentasi, tidak seorang fotografer professional dengan alat foto berkapasitas tinggi (*) copyright: abrar khairul ikhirma – putrajaya-malaysia-30-sept-2017

Rabu, 18 Oktober 2017

MASJID HANG TUAH MELAKA

Hari kedua di Melaka, aku dibawa oleh pasangan suami-isteri, Sutan Chairulsyah Abdul Wasli-Lily Siti Multatuliana, jalan-jalan ke Kampung Duyong. Tujuan pertama, ia menghantarkan aku ke sebuah masjid tua yakni, Masjid Duyong.




Kampung Duyong konon merupakan sebuah perkampungan Melayu tertua di Melaka. Karenanya kawasan ini merupakan daerah bersejarah. Kini pelancong yang berdatangan ke Negeri Melaka tak melewatkan kesempatan untuk mendatangi Kampung Duyong.

Aku beruntung diajak untuk pertamakali mendatangi kampung ini. Meskipun Kampung Duyong sudah tidak lagi berwajah kampung. Sudah terjadi pembangunan sesuai dengan perkembangan zaman. Sesuai dengan pertambahan penduduknya. Kini kawasan ini tertata dengan rapi. Bersih dan semua jalan penghubung mudah diakses.

Menurut kisah yang dipercaya, Kampung Duyong keistimewaannya karena pada zaman dahulu merupakan kampung kelahiran Laksamana Hang Tuah yang disebut sebagai Pahlawan Melayu. Hang Tuah dan saudara-saudaranya dibesarkan di sini.

Salah satu “bukti” sampai saat ini terdapat sebuah perigi atau sumur yang dinamakan “Perigi Hang Tuah” di Kampung Duyong. Sumur ini konon digali sendiri oleh Hang Tuah untuk kebutuhan air sehari-hari keluarganya. Sampai kini sumur ini dipelihara sebagai salah satu objek wisata.

Selain perigi Hang Tuah, Masjid Duyong merupakan peninggalan dari masa lalu yang berada di Kampung Duyong. Semula masjid ini hanyalah berupa surau perkampungan Melayu. Tahun 1850 atas prakarsa Wan Chilek, masyarakat bergotong-royong mendirikan tempat ibadah ini.

Sebagaimana umumnya masjid-masjid yang didirikan senantiasa mengikuti seni bangunan masyarakat setempat di mana bangunan masjid berada. Masjid Duyong pun demikian. Memiliki arsitektur berkait erat dengan masyarakat Melayu. Terbuat dari bahan kayu dan bata merah. Atapnya menggunakan campuran genteng dari Cina dan Belanda. Tahun 1967, atap dilakukan penggantian dengan genteng yang baru.

Karena pertambahan dan perkembangan penduduk Kampung Duyong, masjid ini telah dilakukan beberapakali perbaikan dan pengembangan. Sesuai dengan kebutuhan sebagai sarana peribadatan. Salahsatunya pada tahun 1909 dilengkapi dengan pembangunan sebuah menara. Arsitekturnya mengesankan pagoda yang menunjukkan hasil pengaruh seni bangunan Cina.

Karena kunjunganku hanya selintas saja, aku hanya turun dari kendaraan, sekadar melihat-lihat dari luarnya saja. Kemudian memotret masjid sebagai dokumentasi. Karena waktu sholat zhuhur belum masuk, jadinya kesempatan mendatangi masjid ini, hanya sekadar melihat dan mengetahui. Bagiku hal demikian sudah cukup. Meskipun tidak melihat dan bersholat di dalamnya. Yang jelas, aku pernah mendatangi tempat ini.

Masjid Duyong di tahun 1982 pernah terbakar sebahagian bangunannya. Kemudian dilakukan perbaikan dengan tetap mengikuti bentuk yang lama. Masjid Duyong sejak tahun 2010 dinamakan sebagai Masjid Jamek Laksamana Hang Tuah, Kampung Duyong (*) copyright: abrar khairul ikhirma – Melaka – 15 September - 2016

Rabu, 27 September 2017

MASJID PULAI PAYANG

Arsitektur masjid ini menarik perhatianku, dalam perjalanan menyisir Lintas Pantai Barat, dari Kota Padang ke Bengkulu atau sebaliknya.




Dalam perjalanan, aku selalu berburu memotret untuk mendokumentasikan berbagai objek. 

Salahsatunya bangunan masjid yang menurutku sebagai symbol unik. 

Sebab setiap daerah dan tiap bangunan masjid ada yang tidak dibangun seragam tapi memiliki cirri khas budaya setempat yang dipadukan dengan budaya luar.

Aku memang tidak berkesempatan untuk bersholat di masjid ini. Hanya suatu kebetulan saja, aku melihat sewaktu sedang dalam perjalanan melintasi daerah Bengkulu Utara. 

Tepatnya bangunan ini berada di depan sekolah menengah. Di seberang jalannya. Agak jauh dari sisi jalan. Pun terletak di kontur tanah yang agak ketinggian.


Lokasi masjid berada di Pulai Payang, Ipuah,  Kabupaten Muko-Muko, Bengkulu. Tepatnya di km 171 (*) copyright: abrar khairul ikhirma

Minggu, 10 September 2017

UMMIL QURA, MENJELANG RUMAH HAMKA

Sebelum aku mencapai Sungai Batang dan Sigiran, selama itu yang ada dalam anggapan hanyalah Masjid Bayua saja, masjid tua yang ada di tepian Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat ini. Ternyata tidak.




Walau pun dalam banyak kesempatan aku mendatangi kawasan Danau Maninjau, aku belum pernah mencapai Nagari Sungai Batang dan Sigiran. Padahal dua nama daerah itu sangat kukenali karena berkait dengan nama tokoh yang tercatat dalam perjalanan sejarah pengembangan Islam dan kesastraan.

Di Nagari Sungai Batang, adalah kampung kelahiran dan bermakamnya Haji Rasul, ayahanda dari Buya Hamka. Di Sungai Batang juga adalah kampung kelahiran Buya Hamka dan kini rumah kelahirannya dijadikan sebagai Museum Buya Hamka. Ramai dikunjungi wisatawan silih berganti sepanjang tahun.

Sedangkan Sigiran adalah kampung halaman kelahiran Leon Agusta, penyair Indonesia yang dikenali dengan sajak podium dan sajak kamarnya.




Leon Agusta, yang biasa kami panggil abang ini, sampai akhir hayatnya cukup dekat dengan berbagai kalangan, terutama seniman-seniman generasi beberapa tahun terakhir ini. Meskipun beliau menetap di Jakarta, abang Leon secara berkala selalu menyempatkan dirinya untuk pulang kampung. Setiap pulang, beliau selalu menyediakan waktunya berkumpul dengan seniman yang berada di Kota Padang dan sekitarnya.

Ketika pertamakali sendirian hendak mengunjungi Museum Buya Hamka, setelah menempuh jalan dengan pemandangan yang indah dan berkesan bagiku, aku terhenti melihat sebuah bangunan masjid tua, berikut arsitekturnya yang menarik.

Tahulah aku saat itu bahwa selain Masjid Bayua, masih ada masjid tua lagi yang berada di tepian Danau Maninjau ini.

Masjid ini bernama Masjid Ummil Qura, sesuai yang tertulis di atas papan nama yang digantung di salah satu sisi masjid. Terletak sebelum mencapai Museum Hamka. Tepatnya di Desa Bancah, Maninjau. Kebetulan bertemu dengan seorang tua di depan masjid, yang kupastikan beliau adalah penduduk setempat, aku menanyakan apa artinya Ummil Qura. Kata bapak itu, Ummil Qura adalah bahasa Arap. Artinya Ibu Negeri atau Pusat Nagari.




Bangunan masjid sungguh unik. Apalagi dibandingkan dengan masa kini, bangunan baru masjid dimana-mana arsitekturnya berbau Timur Tengah. Atap Masjid Ummil Qura tersusun empat tingkat, tampak seperti pagoda. Di atasnya masih ada 2 tingkat lainnya yang berbentuk payung. Di ujung atap yang berbentuk seperti payung tersebut terdapat bulatan–bulatan seperti tusuk sate dengan hiasan berbentuk bulan sabit.

Ciri khas masjid atau pun surau dari masa lalu di berbagai tempat di Ranah Minangkabau, masjid dan surau selalu memiliki kolam, berisi ikan peliharaan. Membuktikan fungsi masjid tidak hanya sekadar tempat beribadah tapi merupakan aktivitas masyarakat, mandi, mencuci dan mengambil kebutuhan air bersih.

Masjid Ummil Qura dibangun pada tahun 1907. Sampai kini masih tetap digunakan untuk kegiatan keagamaan bagi masyarakat. Bangunan masjid  masih sama seperti saat dibangun. Masih terawat dengan baik (*) copyright: abrar khairul ikhirma

Kamis, 07 September 2017

RUPANYA MASJID CAGAR BUDAYA

Ketika melintasi jalan Lintas Pantai Barat, Padang-Bengkulu, yang menghubungkan dua provinsi di Pulau Sumatera, aku yang sudah terlanjur melintasi sebuah bangunan saat berkendaraan segera mendadak berhenti. Kemudian berbalik arah.




Peristiwa itu terjadi tahun 2013 silam, berkunjung ke Bengkulu.

Aku mendatangi bangunan yang semula terlihat sekilas. Bangunannya bagiku klasik dan unik. Telah menarik hatiku untuk mendokumentasikan ke dalam sebentuk foto digital.

Aku selalu memanfaatkan dalam setiap kesempatan perjalanan, untuk mendokumentasikan objek yang kuanggap menarik dan ada nilai-nilai budayanya. Baik bangunan ataupun landscape, manusia, hewan dan tanaman.

Pada saat memotret, di lokasi tak ada orang yang dapat aku mintakan informasi mengenai bangunan. Tapi aku meyakini, bangunan yang kulihat adalah kalau bukan masjid, tentulah berupa surau tempat mengaji.

Sekilas melihat bentuknya, bangunan tentu sudah termasuk berusia tua. Bangunan kayu. Karena dalam keadaan tertutup, aku tak memiliki kesempatan untuk menjenguk ke dalam. Jadi tak mendapat gambaran bagaimana struktur dalam dan berapa tiang yang menyangga bangunan.

Bentuk atap penutup memiliki khas tersendiri. Mengingatkan khas atap Masjid Jamik Kota Bengkulu yang dirancang oleh Bung Karno, Presiden RI Pertama sebelum kemerdekaan, saat merenovasi masjid yang kini sudah ditetapkan sebagai bangunan sejarah yang dilindungi pemerintah.

Pada kesempatan tahun 2017 mengunjungi Bengkulu, barulah aku mengetahui bahwa ternyata bangunan yang dulu pernah kupotret fotonya, merupakan bangunan masjid yang termasuk sebagai cagar budaya.

Masjid ini mulanya bernama  Masjid Muhammadyah al-Ikhlas. Didirikan oleh tokoh-tokoh agama yang ada di Desa Padang Betuah, dimana bangunan masjid ini berada. Tokoh tersebut antara lain menurut informasi adalah H.Mansyur, sekaligus imam pertama, H.Hanafiah, H.Hakim, H.Kamarudin, H.Yusuf dan H.Ishak. Pendirian dilakukan secara bersama-sama dengan masyarakat.

Masjid Cagar Budaya ini berdiri di atas tanah wakaf H.Hanafiah dan H.Hakim di Desa Padang Betuah termasuk dalam kecamatan Pondok Kelapa, Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu. Dilintasi jalan Lintas Pantai Barat dimana bangunan masjid berada di salah satu sisinya. Bangunan yang terlihat saat ini, dulunya hanyalah beratapkan daun rumbia (daun tanaman sagu), berdinding pelupuh (Bambu)

Semoga bangunan masjid ini dapat dipelihara. Selain bentuk yang artistic juga merupakan symbol identitas masyarakat, agama dan budayanya sebagai kekayaan bangsa (*) copyright: abrar khairul ikhirma - bengkulu


Sabtu, 02 September 2017

MASJID ISTIQOMAH PASAR PANTAI BENGKULU

Ketika melintasi jalan gang kecil, diantara rumah penduduk, dari arah Pantai Malabro, Kota Bengkulu, menuju simpang empat Jalan Pendakian, mataku segera bertumbuk pada sebuah kotak terletak di teras sebuah bangunan. Kotak berbentuk “bagonjong” sebagaimana biasa diletakkan di pintu masuk di acara pesta perkawinan Orang Minang.




Esoknya, kembali berjalan kaki dari arah yang sama. Kembali kujenguk ke teras dimana kemarin kulihat kotak “bagonjong” itu berada, apakah masih di sana atau tidak. Ternyata tidak ada. Yang menarik bagiku yakni tulisan di kotak itu tertulis “Kotak Amal.”

Belum sekalipun aku melihat ada tulisan demikian setiap menghadiri pesta-pesta pernikahan “Orang Minang,” meskipun diketahui kotak itu biasanya diperuntukkan bagi setiap tamu pesta perkawinan, memasukkan uang dalam amplop kepada pihak penyelenggara pesta, sebagai pengganti kado atau hadiah untuk penganten.

Pada hari yang lain, aku pun mengambil jalan pintas berjalan kaki dari arah berlawanan. Dari arah Pasar Pantai menuju ke arah pantai. Seketika terbaca olehku tulisan di bagian atas bangunan, ternyata bangunan dalam gang itu semula aku sangka adalah rumah rupanya adalah bangunan masjid.

Masjid Istiqomah tampaknya bangunannya baru saja selesai dibangun. Terlihat bersih dengan bentuk bangunan minimalis. Jika melintas di jalan depan Pasar Pantai atau jalan pinggir pantai, bangunannya tak terlihat. Karena lokasi bangunan ini terletak diantara bangunan rumah-rumah penduduk di dalam gang kecil yang menjadi perlintasan dari Pasar Pantai ke Pantai Malabro atau sebaliknya.



Lokasi Masjid Istiqomah terbilang dekat dengan Benteng Fort Marlborough. Dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Melintasi bangunan-bangunan lama pecinan yang pada umumnya seperti “tak ada penghuninya.”

Letak masjid ini hanya kira-kira seratus meter saja dari rumah tempat menginapku di Kelurahan Malabro, Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu. Berdekatan dengan bangunan Masjid Al-Hasyim Malabro yang langsung berhadapan dengan Pasar Pantai. Salahsatu Pasar yang ramai sejak Subuh sampai pagi.

Sayang sekali, selama berada di Kota Bengkulu, aku tak berkesempatan untuk bersholat di Masjid Istiqomah Pasar Pantai Malabro (“) copyright: abrar khairul ikhirma    

Senin, 28 Agustus 2017

MASJID MUTTAQIEN BENGKULU

Masjid Agung Muttaqien, salah satu masjid Muhammadyah ini, berada di Kota Bengkulu.




Masjid Muttaqien terletak di ujung Jalan Pendakian, yang bersisian dengan Pasar Kampung, tidak beberapa meter dari Monumen Thomass Parr dan benteng Fort Marlborough, peninggalan Inggris. Juga tidak jauh dari lapangan terbuka Menara Pemantau Tsunami dan kediaman resmi Gubernur Bengkulu.

Walaupun tidak terlihat menonjol, Masjid Muttaqien berlokasi di lokasi yang sangat strategis. Selain berada di pusat Kota Lama Bengkulu, memiliki jalan akses yang mudah untuk dicapai. Baik dari arah pemukiman dari Malabro, kawasan pantai, kawasan pasar, perkantoran maupun dari lapangan terbuka.

Selama berada di Kota Bengkulu, aku tidak sempat untuk bersholat di masjid ini. Tapi tidak terhitung kalinya melewatinya. Karena aku lebih memilih untuk bersholat di Masjid Jamik atau Masjid Bung Karno di ujung Jalan Soeprapto, meskipun aku harus menempuh lebih kurang 10 menit dari rumah tempatku menginap di Malabro (*) copyright: abrar khairul ikhirma - 2017 

Selasa, 15 Agustus 2017

MASJID AL-HASYIM MALABRO

Masjid Al-Hasyim salah satu masjid yang berada tidak jauh dari kawasan benteng peninggalan Inggris, Fort Marlborough. Tepatnya berada di depan Pasar Pantai Malabro, pasar yang dikenal dengan aktifitas pagi hari di Kota Bengkulu.




Selama berada di Kota Bengkulu,  setiap hari aku mendatangi masjid ini untuk bersholat Ashar dan Maghrib. Karena lokasi masjid hanya lebih kurang berjarak 100 meter dari rumah tempatku menginap di Malabro, kecamatan Teluk Segara.

Malabro selain kawasan pasar, di masa lalu adalah bahagian dari kawasan pecinan yang berdampingan dengan Benteng Marlborough. Kemudian setelah lapis pemukiman pecinan yang ditandai dengan jejeran bangunan-bangunan pertokoan, bangunan lama sisa masa lampau Kota Bengkulu, arah selatannya penuh dengan rumah-rumah penduduk yang padat.

Masjid Al Hasyim kini sudah bangunan baru. Pembangunannya masih terus berjalan. Kini dalam tahap finishing. Bangunannya sangat strategis sebagai sarana ibadah bagi masyarakat setempat, termasuk bagi pedagang dan pengunjung Pasar Pantai di seberang jalannya.

Dari sisi kanan masjid, terdapat sebuah gang kecil, sebagai jalan penghubung ke jalan pinggir pantai. Dimana kawasan Pantai Malabro adalah kawasan teluk, tempat calang ---perahu--- nelayan berlabuh.

Pada hari Jum’at pekan pertama berada di Kota Bengkulu, aku bersholat Jum’at di Masjid Al Hasyim Malabro ini. Pembaca khotbah Jum’at naik ke mimbar memegang tongkat sampai khotbah berakhir.


Terlihat dari luar biasa saja bangunan masjid ini. Bahagian dalamnya, meskipun belum selesai finishingnya terasa sangat luas. Apalagi pabila nanti sudah selesai interior dan fasilitas pendukung lainnya, akan lebih nyaman melaksanakan ibadah (*)

Sabtu, 12 Agustus 2017

INGAT BUNG KARNO, MASJID JAMIK BENGKULU

Tanggal 4 Agustus 2017, hari membahagiakanku, sebagai warganegara Republik Indonesia dan seorang muslim, di hari menjelang tigabelas hari lagi perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2017.




Pada hari “istimewa” ini, aku berkesempatan bersholat Jum’at di Masjid Jamik, Kota Bengkulu. Sholat Jum’at pertamakali bagiku di masjid ini, sepanjang beberapakali berkunjung ke Bengkulu selama ini.  Masjid ini merupakan “jejak sejarah” hasil karya arsitek Ir. Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia, semasa “dibuang” ke Bengkulu (1938-1942), dalam masa Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia.

Hari Jum’at bagiku merupakan hari “istimewa” setiap pekan. Keistimewaan itu terasa semakin istimewa, selain dapat melaksanakan ibadah, aku juga “disentakkan” kepada rasa kebangsaan. Apalagi dalam situasi di berbagai lini, beberapa tahun terakhir ini, semua orang “mengaku” cinta kepada bangsa dan Negara, sementara pada realitasnya dalam anggapanku sangat bertolak-belakang.




Melupakan sejarah, tidak memiliki rasa syukur dan tidak memelihara “semangat” persatuan. Saling menyalahkan dan saling menyebut “perbuatannya” demi kebenaran.

Masjid Jamik Kota Bengkulu menghadap ke Jalan Protokol, Soeprapto. Terletak di tengah persimpangan tiga jalan utama dalam kota. Bangunannya memiliki cirri khas tersendiri. Sehingga Masjid Jamik tidak hanya kini berfungsi sebagai sarana ibadah tetapi sudah menjadi symbol dari identitas kota. Bangunan ini merupakan renovasi Bung Karno dari bangunan masjid lama. Dimana Bung Karno memadukan sejumlah unsure budaya local.




Jujur saja…, setiap mendatangi masjid ini, aku selalu merasakan rasa nasionalisme itu dengan semangat regelius. Ingatan kepada Bung Karno pun terasa “hangat,” karena aku selalu menempatkan “hal baik” di atas hal-hal yang “dianggap” mengurangi keberadaannya. Bung Karno adalah tokoh fenomenal tetapi ada banyak perbuatan yang pernah dilakukannya, kita “nikmati” tanpa “menghargainya” dengan rasa penghormatan.

Kedatanganku ke Bengkulu kali ini, dengan masa cukup panjang. Sehingga hampir setiap waktu sholat Zhuhur, setelah berkeliling seputaran Kota Bengkulu, senantiasa segera aku mendatangi Masjid Jamik. Dimana Masjid Jamik ada banyak orang menyebutnya dengan nama Masjid Bung Karno.




Dari rumah tempatku menginap di kawasan pantai Malabro, hanya butuh lebih kurang 10 menit dengan kendaraan sepeda motor mendatangi Masjid Jamik. Sehingga kesempatan untuk dapat bersholat Jum’at kali ini, suatu hal yang membahagiakanku.

Kapasitas bangunan tidaklah terlalu besar. Namun terasa nyaman. Fasilitas tempat wuduk, areal parkir dan tempat berehat sangat memadai. Bangunan Masjid Jamik terkesan sangat terpelihara. Meskipun berada di persimpangan tiga jalan utama, namun tidaklah terasa bising oleh lalulintas kendaraan. Suasana senyap dan hening, masih dapat dinikmati bila berada dalam masjid.

Masjid Jamik memiliki mimbar permanen, dengan 2 kubah kecil bertingkap di bagian puncaknya. Masjid ini tetap mempertahankan tradisi, seperti masjid dan surau di masa lalu yakni masih memiliki bedug sebagai penanda masuknya waktu sholat. Beduk yang terbuat dari pohon kayu, dilobangi dan diberi kulit sapi. Setiap waktu sholat garin masjid akan memukul bedug dengan pukulan khas.


MASJID JAMIK DI MASA LALU (Foto: Documentasi)


Ada yang selalu aku perhatikan selama tiap bersholat Zhuhur di Masjid Jamik ini, setiap selesai sholat, selalu ramai yang datang ke masjid ini. Rasanya tidak pernah sepi dengan orang-orang yang ingin melaksanakan sholat selain sholat berjamaah.

Pengalaman lain yang menarik bagiku, semenjak pulang menunaikan ibadah Umroh, aku seringkali memasang sorban di kepalaku. Sewaktu bersholat di Masjid Jamik, ada sesama muslim yang datang bersholat mengira aku anggota dari “kelompok jamaah.” Setelah kujawab tidak, akupun sekilas bercerita perihal kebiasaan “baruku” sepulang dari Umroh. Kemudian kusebutkan bahwa “kakekku” adalah seorang Muhammadyah (*)

Selasa, 11 Juli 2017

JUM'AT DI MASJID AL MASHUN KOTA MEDAN

Setiap datang ke Kota Medan, Sumatera Utara, aku selalu menyempatkan diri mendatangi Masjid Raya Al Mashun yang dikenal sebagai Masjid Raya Kota Medan. Salah satu masjid tertua di Indonesia, memiliki sejarah dan arsitektur yang menarik sebagai identitas Kota Medan.




Masjid Al Mashun, satu diantara jejak sejarah dari peninggalan kerajaan Kesultanan Deli, yang masih terpelihara dengan baik sampai sekarang. Kesultanan Deli merupakan satu diantara kerajaan Melayu di nusantara. Bangunannya berarsitektur khas Timur Tengah, India dan Spanyol. Berbentuk segi delapan, dengan di bagian selatan, timur, utara dan baratnya, memiliki sayap. Dibangun pada awal abad 19 yakni tahun 1906 dan selesai tahun 1909.

Aku pertamakali mengenal dan mendatangi Masjid Al Mashun ini, pada pertengahan tahun 1970-an, saat kedatangan ke Kota Medan dibawa Pamanku. Selama di Kota Medan, kami tinggal di Gang Keluarga di Jalan Sisingamangaraja Kota Medan. Karena jarak masjid dengan rumah kami terbilang dekat, kami sering bersholat ke masjid raya.

JA Tingdeman, sang arsitek merancang masjid ini dengan denah simetris segi delapan dalam corak bangunan campuran Maroko, Eropa, Melayu dan Timur Tengah. Denah yang persegi delapan ini menghasilkan ruang bagian dalam yang unik tidak seperti masjid-masjid kebanyakan. Empat penjuru masjid masing-masing diberi beranda dengan atap tinggi berkubah warna hitam, melengkapi kubah utama di atap bangunan utama masjid. Masing-masing beranda dilengkapi dengan pintu utama dan tangga hubung antara pelataran dengan lantai utama masjid yang ditinggikan, kecuali bangunan beranda di sisi mihrab.

Pada masa pertengahan tahun 1970-an itu, aku sudah terpikat dengan arsitektur Masjid Raya Al Mashun. Sangat menarik perhatianku. Tersimpan dalam ingatan. Pun merasakan aura kesakralan yang relegius. Suasana, tiap aksentuasi dan pada semua sudutnya tidak luput dari pengamatanku.




Masjid memiliki gang. Gang-gangnya terdapat deretan jendela-jendela tidak berdaun. Berbentuk lengkungan-lengkungan yang berdiri di atas balok. Baik beranda maupun jendela-jendela lengkung itu mengingatkan desain bangunan kerajaan-kerajaan Islam di Spanyol pada Abad Pertengahan. Aku selalu merasa tertegun di salah satu jendelanya, bila aku tengah melangkah perlahan melalui gang masjid. Memandang ke halaman. Selalu menyerap pengalaman batin yang membuatku merasa nyaman.

Bila berada di dalam masjid, akan terlihat pilar yang kokoh. Karena di bagian dalam masjid, terdapat delapan pilar utama berdiameter 0,60 m. Pilar menjulang tinggi, menyangga kubah utama pada bagian tengah. Tentu saja pandangan akan bertumbuk ke bahagian paling depan yakni ke arah terdapat mihrab. Mihrab Masjid Al Mashun terbuat dari marmer dengan atap kubah runcing.

Ketika berada di bahagian luar masjid, kita dapat memandang keanggunan masjid tiada puasnya. Karena akan terlihat di antara bangunan di sekelilingnya, sebuah bangunan tua yang spesifik dengan kubahnya. Kubah Masjid Al Mashun menurut seni arsitektur mengikuti model Turki, dengan bentuk yang patah-patah bersegi delapan. Kubah utama dikelilingi empat kubah lain di atas masing-masing beranda, dengan ukuran yang lebih kecil. Bentuk kubahnya mengingatkan kita pada Masjid Raya Banda Aceh.

Barulah pada pertengahan tahun 2012 aku kembali menjejak Kota Medan. Tentu saja kembali menikam jejak masa silam, dari rumah Gang Keluarga di Jalan Sisingamangaraja dan berakhir di Masjid Al Mashun. Berjalan kaki di antara deretan pertokoan, yang sungguh jauh lebih ramai dibandingkan dengan tahun-tahun yang silam. Terakhir mendatangi Kota Medan tahun 1985 saat diundang sebagai peninjau pada Pertemuan Penulis Muda Sumatera Utara di Taman Budaya Sumatera Utara.

Kedatangan kembali tahun 2012 ke Masjid Al Mashun, Masjid Raya Kota Medan, di hari Jum’at. Hari yang baik. Entah bagaimana kebahagiaan hati saat memasuki gerbang masjid yang berbentuk bujur sangkar beratap datar. Segera terlihat oleh pandanganku menara masjid yang berhiaskan percampuran antara seni arsitektur Mesir, Iran dan Arab.




Masjid Al Mashun atau Masjid Raya Kota Medan, dibangun oleh Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam ketika memimpin Kesultanan Deli. Pembangunan dimulai pada 21 Agustus 1906 (1 Rajab 1324 H). Keseluruhan pembangunan rampung pada tanggal 10 September 1909 (25 Sya‘ban 1329 H) sekaligus digunakan, dengan ditandai pelaksanaan sholat Jum’at pertama di masjid ini.

Konon keseluruhan pembangunannya menghabiskan dana sebesar satu juta Gulden. Sultan memang sengaja membangun masjid kerajaan ini dengan megah, karena menurut prinsipnya hal itu lebih utama ketimbang kemegahan istananya sendiri, Istana Maimun. Pendanaan pembangunan masjid ini ditanggung sendiri oleh Sultan, namun konon Tjong A Fie, tokoh kota Medan dari etnis Tionghoa yang sezaman dengan Sultan Ma’mun Al Rasyid turut berkontribusi mendanai pembangunan masjid ini.

Suasana bersholat Jum’at di Masjid Al Mashun bagiku mendatangkan kebahagiaan tersendiri. Sebelum sholat, aku menyempatkan diri berkeliling bangunan masjid. Menikmati keindahan arsitektur dan keterawatan bangunannya. Ada banyak orang kujumpai di berbagai sudutnya. Hampir-hampir tak sepi untuk menikmati suasana ketentramannya. Apalagi di waktu siang, dengan panas matahari menyengat, berada di masjid jauh lebih terasa sejuk.

Secara keseluruhan bangunan masjid ini sangat saling melengkapi. Fungsi atau pun aksentuasi keindahan bangunan. Bangunan masjidnya terbagi menjadi ruang utama, tempat wudhu, gerbang masuk dan menara. Ruang utama, tempat sholat, berbentuk segi delapan tidak sama sisi. Pada sisi berhadapan lebih kecil, terdapat ‘beranda’ serambi kecil yang menempel dan menjorok keluar. Jendela-jendela yang mengelilingi pintu beranda terbuat dari kayu dengan kaca-kaca patri yang sangat berharga, sisa peninggalan Art Nouveau periode 1890-1914, yang dipadu dengan kesenian Islam.

Seluruh ornamentasi di dalam masjid baik di dinding, plafon, tiang-tiang, dan permukaan lengkungan yang kaya dengan hiasan bunga dan tumbuh-tumbuhan. di depan masing-masing beranda terdapat tangga. Kemudian, segi delapan tadi, pada bagian luarnya tampil dengan empat gang pada keempat sisinya, yang mengelilingi ruang sholat utama.

Rupa-rupanya, sejak kembali menjejak Kota Medan tahun 2012 itu, tidak berhenti begitu saja. Tahun 2013 aku kembali ke Kota Medan. Untuk beberapa hari aku dapat bersholat di Masjid Al Mashun. Termasuk juga pada tahun 2015 maupun 2017 ini.




Rasanya tidak ada yang berubah. Suasananya semakin ramai di waktu-waktu sholat. Selalu saja diluar waktu sholat, menjumpai pengunjung silih berganti di halaman masjid, mengabadikan keindahan arsitektur yang sudah menjadi kekayaan budaya. Termasuk salah satu jejak sejarah perkembangan agama Islam di Tanah Melayu.

Masjid Raya Al Mashun menurut catatan, padamulanya dirancang oleh arsitek Belanda Van Erp yang juga merancang Istana Maimun, namun kemudian prosesnya dikerjakan oleh JA Tingdeman. Van Erp ketika itu dipanggil ke pulau Jawa oleh pemerintah Hindia Belanda untuk bergabung dalam proses restorasi candi Borobudur di Jawa Tengah. Sebagian bahan bangunan diimpor antara lain: marmer untuk dekorasi diimpor dari Italia, Jerman dan kaca patri dari Cina dan lampu gantung langsung dari Perancis.


@abrar khairul ikhirma --- data dikutip dari Wikipedia.

Jumat, 19 Mei 2017

MASJID AS-SYAKIRIN KAMPUNG SINGKIR LAUT

Hari sudah berangkat siang. Kami baru saja selesai meninggalkan beberapa kilometer perhentian pertama kami, untuk menikmati makan siang, di sebuah kedai makan pinggir jalan. Kami pun melanjutkan perjalanan yang bermula dari Sintok, Negeri Kedah, dengan tujuan ke Lembah Bujang dan Gunung Jerai.




Mengingat waktu sholat zhuhur, akhirnya perjalanan dihentikan sejenak. Kami berhenti di sebuah Masjid yang kami temui yakni Masjid As-Syakirin, yang terletak di Kampung Singkir Laut, Bedong, Negeri Kedah Darul Aman, negeri yang terletak di utara Malaysia.

Kedatangan kami yang tidak di awal waktu sholat, hingga kami tidak dapat ikut bersholat jamaah. Suasana masjid sepi. Tidak ada kegiatan yang terlihat di masjid maupun sekitarnya. Lokasi masjid terletak di tepi jalan raya yang juga tidak ramai kendaraan.

Saat kami memasuki halaman masjid, tidak seorang pun orang yang terlihat. Toilet dan tempat berwudhuk terletak di salah satu sisi masjid. Air yang tersedia tidak jernih. Namun memang hanya itulah yang ada dan dipakai, kami pun ikut menggunakannya.

Posisi lantai masjid ditinggikan dari permukaan tanah. Untuk mencapai teras masjid, kami menaiki anak tangga. Rupanya masjid dalam keadaan terkunci, sehingga kami tidak dapat bersholat dalam masjid. Kami memaklumi hal itu dapat terjadi. Sudah hal biasa ditemui di berbagai tempat yang rawan dan masjidnya tidak memiliki petugas memadai untuk terbuka sepanjang waktu. Namun hal itu tidak membuat kami merasakan kesukaran. Karena di bahagian luar masjid terbentang karpet yang bersih dan dapat melaksanakan sholat.

Udara yang panas saat perjalanan ini, membuat kami berkeringat dan mata menjadi silau. Sebelum melanjutkan perjalanan, sebagaimana kebiasaan dalam perjalanan, aku senantiasa mendokumentasikan tempat-tempat yang kusinggahi dan kulalui, termasuk dapat melaksanakan sholat di Masjid As-Syakirin, di Kampung Singkir Laut ini. (*)

abrar khairul ikhirma
singkir laut – bedong - kedah

09 september 2016

Rabu, 08 Maret 2017

MASJID BUKIT KAYU HITAM, SENYAP PERBATASAN



Waktu untuk bersholat Ashar masih ada. Mendatangi Masjid Bukit Kayu Hitam, terletak di atas areal kontur tanah ketinggian. Arsitektur masjid dengan areal yang lapang, terasa simple dan sederhana tanpa menghilangkan kesan kesakralan.



Pepohonan di sekitar masjid sangat membantu kerindangannya meredam udara yang panas. Terasa sejuk dan nyaman. Termasuk suasana senyapnya. Pekarangan masjid terlihat bersih. Areal parkir yang terdapat di bahagian depan masjid, sangat memadai menampung banyak kendaraan dan cukup luas untuk sarana ibadah.

Masjid Bukit Kayu Hitam, salah satu masjid di Negeri Kedah, Malaysia, terletak dekat perbatasan Malaysia dengan Thailand. Lebih kurang 1 km dari pintu perbatasan antar kedua negeri. 

Saat kedatangan ke masjid ini, tak seorang pun terjumpai di sini. Dari halaman aku memasuki bahagian teras masjid. Lapang dan lantainya bersih. Aku meneruskan ke bahagian tangga depan pintu masuk masjid. Di bahagian ujung tangga yang tak beberapa jumlah anak tangganya, tersusun sandal jepit yang bisa digunakan untuk pergi berwuduk. Lebih dari sepuluh pasang.

Aku sudah membuka sepatu sejak awal, saat akan menjejak teras masjid. Walau pun dalam keadaan senyap dan tak ada orang, aku sama sekali tidak merasa sangsi untuk kehilangan akan sepatu, yang aku letakkan di salah satu bahagian anak tangga masjid.

Setelah memasangkan sepasang sandal yang tersedia, aku berjalan menuju salah satu sisi masjid, ke tempat toilet. Antara bangunan utama masjid dengan tempat toilet, bangunannya terpisah dan dihubungkan dengan koridor, kira-kira 15 meter dari tangga masjid. Ada beberapa kamar atau bilik. Airnya tidak begitu jernih. Toiletnya bersih.

Sebagaimana pada umumnya masjid-masjid di ranah Minang (Sumatera Barat-Indonesia), negeri leluhurku, di Masjid Bukit Kayu Hitam ini, kutemui hampir sama yakni tempat berwuduk berada berdampingan dengan bangunan utama masjid. Tepatnya bersisian dengan anak tangga di bahagian depan. Tempat wuduk terbuka untuk kaum lelaki. Beratap dan tak berdinding. Sebuah bak air dengan sejumlah gayung plastic tersedia.

Semula aku hendak bersholat saja di lantai teras masjid, karena aku perhatikan lantainya bersih. Pintu masuk ke dalam masjid pun dalam keadaan tertutup. Saat aku dekati pintu masuk, terbaca di depan pintu, “pabila masuk dan keluar pintu ditutup,” tersebab dalam masjid berpendingin.

Pintu masuk ke dalam masjid berupa pintu geser. Memang, pintu tersebut tertutup tapi rupanya tidak dikunci, hanya ditutup karena dalam ruangan berpendingin untuk kenyamanan yang bersholat. Aku juga tak menemui orang lain selain diriku dalam masjid. Dalam masjid terasa lapang. Karpet untuk bersholat terbentang bersih dan lembut.  Suasana senyap setidaknya membuat suasana beribadah terasa khusu’ (*)

abrar khairul ikhirma
Negeri Kedah – Malaysia
09 September 2016